Anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia menghadapi tantangan besar dalam memahami dan menggunakan teknologi digital. Mereka tumbuh dalam lingkungan dengan akses terbatas terhadap perangkat, internet, dan pendidikan berbasis teknologi. Kondisi ini membuat mereka tertinggal dibandingkan anak anak lain yang memiliki akses lebih luas. Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab persoalan ini melalui program pelatihan literasi digital yang dirancang khusus untuk kebutuhan mereka.
Program ini berlangsung di pusat belajar SB Pandan Jaya di Malaysia. Para peneliti melihat bahwa banyak siswa belum memahami cara menggunakan perangkat digital secara optimal. Mereka juga belum memiliki kesadaran tentang keamanan saat beraktivitas di dunia maya. Berdasarkan kondisi tersebut, tim peneliti menyusun program pelatihan yang tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada etika dan keamanan digital.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Sebanyak 43 siswa berusia antara delapan hingga lima belas tahun mengikuti program ini. Mereka didampingi oleh delapan guru dan tim fasilitator dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Program ini menggunakan pendekatan interaktif yang melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan. Para peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga langsung mencoba menggunakan teknologi melalui berbagai latihan dan simulasi.
Pelaksanaan program dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap awal berfokus pada identifikasi kebutuhan siswa. Tim peneliti mengamati kemampuan dasar mereka dalam menggunakan teknologi dan mencatat kesulitan yang sering muncul. Tahap berikutnya adalah pelatihan intensif yang mencakup pengenalan perangkat digital, cara mencari informasi di internet, serta penggunaan aplikasi pendidikan. Setelah itu, peserta mengikuti tahap pendampingan yang memberikan kesempatan untuk menerapkan keterampilan secara langsung. Tahap terakhir berupa evaluasi untuk mengukur perkembangan kemampuan siswa.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pengetahuan dasar tentang internet meningkat hingga 94 persen. Kemampuan mengoperasikan perangkat digital meningkat sekitar 80 persen. Kesadaran tentang keamanan digital meningkat hingga 113 persen. Selain itu, kemampuan menggunakan aplikasi pendidikan meningkat sebesar 76 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pelatihan yang tepat dapat memberikan dampak besar dalam waktu relatif singkat.
Perubahan ini tidak hanya terlihat dari angka. Para siswa juga menunjukkan peningkatan rasa percaya diri dalam menggunakan teknologi. Banyak dari mereka yang awalnya ragu atau takut mencoba perangkat digital kini menjadi lebih berani dan mandiri. Mereka mulai mampu mencari informasi secara mandiri, menggunakan aplikasi belajar, dan memahami bagaimana melindungi diri dari risiko di dunia digital.
Program ini juga memberikan manfaat bagi para guru. Kemampuan guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran meningkat sekitar 61 persen. Guru menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan perangkat digital dan mampu mengajarkan materi dengan pendekatan yang lebih modern. Mereka juga dapat membimbing siswa dalam menggunakan internet secara aman dan bijak.
Masalah kesenjangan digital yang dialami anak anak migran sebenarnya mencerminkan persoalan yang lebih luas. Banyak kelompok masyarakat dengan keterbatasan ekonomi mengalami kesulitan dalam mengakses teknologi. Akibatnya, mereka memiliki peluang yang lebih kecil untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di era digital. Program seperti ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi kesenjangan tersebut.
Selain meningkatkan keterampilan teknis, program ini juga menanamkan nilai penting tentang etika digital. Siswa belajar untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya. Mereka juga memahami bahaya konten negatif seperti berita palsu, penipuan, dan perundungan daring. Pengetahuan ini sangat penting karena dunia digital tidak hanya menawarkan peluang, tetapi juga risiko.
Metode pembelajaran berbasis praktik menjadi kunci keberhasilan program ini. Siswa belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori. Mereka mencoba berbagai aktivitas digital dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata. Pendekatan ini membuat mereka lebih mudah memahami dan mengingat materi yang diajarkan. Selain itu, metode ini juga membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan.
Tingkat partisipasi siswa yang tinggi menunjukkan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan mereka. Siswa aktif mengikuti setiap sesi dan menunjukkan antusiasme dalam belajar. Hal ini menunjukkan bahwa ketika pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi peserta, hasilnya akan lebih optimal.
Program ini juga menunjukkan pentingnya peran komunitas dalam pendidikan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari lembaga pendidikan, relawan, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi ini membuat program berjalan lebih efektif dan memberikan dampak yang lebih luas. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Ke depan, program seperti ini memiliki potensi untuk dikembangkan di berbagai wilayah lain. Banyak anak anak migran di berbagai negara menghadapi tantangan yang sama. Dengan model pelatihan yang sudah terbukti efektif, program ini dapat menjadi contoh bagi inisiatif serupa di tempat lain. Dukungan dari pemerintah dan organisasi internasional juga dapat membantu memperluas jangkauan program.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut adanya pembelajaran yang berkelanjutan. Keterampilan digital tidak cukup dipelajari sekali saja. Siswa perlu terus mengikuti perkembangan teknologi agar tidak kembali tertinggal. Oleh karena itu, program pelatihan perlu dirancang agar dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Penelitian ini memberikan pesan penting bahwa akses terhadap teknologi harus disertai dengan pendidikan yang tepat. Memberikan perangkat tanpa pengetahuan yang cukup tidak akan memberikan manfaat maksimal. Sebaliknya, pendidikan yang tepat dapat membantu seseorang memanfaatkan teknologi secara produktif dan aman.
Program ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana. Pelatihan literasi digital yang dilakukan di sebuah pusat belajar mampu memberikan dampak besar bagi kehidupan anak anak migran. Mereka yang sebelumnya memiliki keterbatasan kini memiliki peluang untuk berkembang.
Anak-anak tersebut tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga belajar bagaimana memanfaatkannya untuk masa depan mereka. Dengan keterampilan yang mereka miliki, mereka memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Program ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan yang tepat dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Firdaus, Firdaus dkk. 2026. Introduction to Technology and Its Impact on the Indonesian Migrant Children in Malaysia. Jurnal PKM Manajemen Bisnis 6 (1), 316-326.

