Indonesia, dengan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa, terus berupaya memulihkan dan menjaga ekosistem pesisirnya, terutama hutan mangrove, untuk menanggulangi perubahan iklim dan mendukung keberagaman hayati. Salah satu upaya besar adalah proyek restorasi mangrove yang telah berlangsung selama sepuluh tahun di Pulau Flores, yang bertujuan untuk mengevaluasi dampaknya terhadap komposisi flora, fauna, dan kemampuan penyimpanan karbon ekosistem tersebut. Proyek ini mengukur keberhasilan restorasi mangrove di tiga kawasan berbeda, yaitu Bangkoor, Kolisia, dan Talibura, serta menganalisis seberapa besar kontribusi mangrove dalam mendukung keanekaragaman hayati dan penyerapan karbon.
Mangrove memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Mereka tidak hanya melindungi garis pantai dari erosi, tetapi juga menjadi habitat yang kaya untuk berbagai spesies flora dan fauna, serta memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Namun, ekosistem mangrove di Indonesia telah terancam oleh deforestasi, yang terjadi karena konversi lahan untuk perumahan, pertanian, dan kegiatan industri lainnya.
Restorasi mangrove bertujuan untuk memulihkan daerah-daerah yang sebelumnya telah terdegradasi dan mengembalikan fungsinya sebagai penahan abrasi, penyerap karbon, dan penyedia habitat bagi berbagai spesies. Setelah sepuluh tahun dilakukan restorasi di Pulau Flores, penting untuk mengevaluasi apakah upaya ini berhasil mengembalikan keanekaragaman hayati yang ada serta meningkatkan penyimpanan karbon.
Baca juga artikel tentang: Kekayaan Hutan Kalimantan dan Penemuan Spesies Flora Hanguana
Penelitian ini melibatkan survei ekologi di tiga area yang telah dipulihkan: Bangkoor, Kolisia, dan Talibura. Para peneliti mengukur komposisi flora, keanekaragaman spesies satwa, kemampuan penyerapan karbon, serta penyimpanan energi di masing-masing kawasan. Beberapa indikator yang diperhatikan termasuk spesies mangrove yang ada, serta flora dan fauna lainnya yang menjadi bagian dari ekosistem mangrove yang telah dipulihkan.
Pada setiap lokasi, dilakukan pengamatan langsung terhadap spesies yang ada dan diidentifikasi lebih lanjut mengenai kemampuan masing-masing spesies untuk menyerap karbon. Penelitian ini juga mengukur energi yang disimpan oleh mangrove untuk melihat peran mereka dalam menyimpan energi melalui biomassa tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa restorasi mangrove di Pulau Flores telah menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam keberagaman flora dan fauna. Di antara sepuluh spesies mangrove yang ditemukan, beberapa spesies, seperti Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorrhiza, menunjukkan tingkat penyerapan karbon yang luar biasa.
Penyerapan karbon terendah ditemukan pada kawasan Bangkoor, sementara Talibura dan Kolisia menunjukkan tingkat penyerapan karbon yang lebih tinggi, mencapai antara 28.69 hingga 70.02 megagram (Mg) CO2 per hektar. Rhizophora apiculata terbukti memiliki kemampuan terbaik dalam penyerapan karbon, dengan rata-rata 47.37 ± 5.68 kg CO2 per pohon.
Selain penyerapan karbon, hutan mangrove yang dipulihkan juga menunjukkan kemampuan yang besar dalam penyimpanan energi. Bruguiera gymnorrhiza, misalnya, memiliki penyimpanan energi tertinggi, yaitu 645.22 ± 21.65 megajoule (MJ). Ini menunjukkan bahwa mangrove tidak hanya membantu penyerapan karbon tetapi juga berperan dalam stabilitas energi ekosistem melalui biomassa yang dihasilkannya.

Keanekaragaman Hayati yang Meningkat
Dari segi keanekaragaman hayati, restorasi mangrove di Flores juga menunjukkan hasil yang positif. Kolisia dan Talibura memiliki keberagaman fauna yang lebih tinggi dibandingkan dengan Bangkoor, dengan spesies fauna yang lebih banyak ditemukan di area yang telah dipulihkan dengan baik. Fauna yang ditemukan di area ini termasuk berbagai jenis ikan, burung, serta makhluk laut lainnya yang menjadikan mangrove sebagai habitat dan tempat berkembang biak.
Restorasi mangrove telah meningkatkan keragaman spesies, yang menunjukkan bahwa ekosistem yang dipulihkan tidak hanya bermanfaat untuk flora tetapi juga fauna. Spesies yang berkembang biak di dalamnya, baik flora maupun fauna, berfungsi sebagai indikator bahwa ekosistem yang telah dipulihkan ini memiliki kualitas yang baik dan dapat mendukung kehidupan organisme yang bergantung padanya.
Dampak Positif terhadap Perubahan Iklim
Selain meningkatkan keanekaragaman hayati, restorasi mangrove juga memainkan peran penting dalam mitigasi perubahan iklim. Sebagai penyerap karbon yang sangat efisien, hutan mangrove memiliki potensi besar untuk mengurangi jumlah gas rumah kaca di atmosfer, yang merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Dengan penyerapan karbon yang besar, mangrove berperan sebagai salah satu solusi alami untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Restorasi mangrove di Pulau Flores, dengan penyerapan karbon yang tinggi, membuktikan bahwa mangrove dapat memainkan peran krusial dalam mencapai tujuan pengurangan emisi karbon global. Program restorasi yang berkelanjutan ini dapat digunakan sebagai model bagi upaya konservasi mangrove lainnya di seluruh dunia.
Tantangan dan Rekomendasi
Meskipun restorasi mangrove di Flores menunjukkan hasil yang positif, tantangan tetap ada. Salah satu tantangan utama adalah memastikan keberlanjutan restorasi mangrove dalam jangka panjang, mengingat ancaman yang datang dari urbanisasi pesisir, pertanian, dan perubahan iklim yang terus berkembang. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan komunitas lokal dalam upaya pemulihan ini, memastikan bahwa mereka memahami manfaat ekosistem mangrove dan bagaimana cara melestarikannya.
Selain itu, perlu adanya kebijakan yang mendukung konservasi mangrove dan memfasilitasi implementasi program restorasi secara lebih luas di seluruh Indonesia. Melalui kebijakan yang tepat, upaya pelestarian mangrove dapat diterapkan dengan lebih efektif, memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat pesisir.
Restorasi mangrove di Pulau Flores, Indonesia, telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap keanekaragaman hayati, penyerapan karbon, dan penyimpanan energi. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya mangrove dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan ekosistem pesisir. Dengan melibatkan masyarakat lokal dan mendukung kebijakan yang tepat, restorasi mangrove dapat diperluas dan dipertahankan sebagai bagian dari upaya global untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan melestarikan keanekaragaman hayati.
Baca juga artikel tentang: Dari Zaman Es ke Era Pemanasan Global: Pelajaran Berharga bagi Keanekaragaman Flora
REFERENSI:
Wirabuana, Pandu YAP dkk. 2025. Mangroves, fauna compositions and carbon sequestration after ten years restoration on Flores Island, Indonesia. Scientific Reports 15 (1), 4866.

