Bulan Jadi Arena Baru: Sains, Teknologi, dan Perebutan Antara AS dan Tiongkok

Sejak misi Apollo terakhir pada tahun 1972, manusia belum pernah lagi mendarat di Bulan. Setelah itu, arah penelitian dan eksplorasi […]

Sejak misi Apollo terakhir pada tahun 1972, manusia belum pernah lagi mendarat di Bulan. Setelah itu, arah penelitian dan eksplorasi luar angkasa lebih banyak berfokus pada proyek-proyek lain, seperti pembangunan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang menjadi laboratorium mengambang di orbit Bumi, peluncuran teleskop antariksa untuk mengamati alam semesta, serta misi tanpa awak yang dikirim menjelajahi planet lain dan benda-benda langit di tata surya. Dengan kata lain, minat eksplorasi Bulan sempat meredup karena prioritas ilmuwan dan lembaga antariksa tertuju pada tujuan-tujuan baru.

Bukan sekadar untuk mendarat sebentar, melainkan untuk tinggal, meneliti, dan membangun infrastruktur. Bulan dipandang sebagai laboratorium alami untuk fisika, biologi, astronomi, dan bahkan sebagai batu loncatan menuju Mars.

Namun, sekarang perhatian dunia kembali mengarah ke Bulan, tetangga kosmik kita yang paling dekat dengan Bumi. Bulan dianggap sebagai “gerbang” penting untuk masa depan eksplorasi luar angkasa. Dari sana, manusia dapat menguji teknologi baru, memahami bagaimana hidup di lingkungan yang ekstrem, dan bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk misi yang lebih jauh, seperti ke Mars.

Ada beberapa alasan mengapa Bulan kembali menjadi incaran utama, yaitu:

  1. Ilmu Pengetahuan
    • Sisi jauh Bulan terlindung dari gangguan radio Bumi, ideal untuk teleskop radio raksasa.
    • Tanah (regolith) Bulan menyimpan sejarah tata surya, termasuk dampak asteroid miliaran tahun lalu.
  2. Teknologi dan Latihan
    • Bulan adalah tempat aman untuk “uji coba” hidup di luar Bumi sebelum mencoba Mars.
    • Astronot bisa belajar menghadapi radiasi, debu berbahaya, dan siklus siang-malam ekstrem (14 hari siang, 14 hari malam).
  3. Sumber Daya
    • Ada indikasi es air di kawah-kawah kutub, bisa diolah untuk bahan bakar roket dan air minum.
    • Unsur seperti helium-3 berpotensi menjadi bahan bakar fusi masa depan.
  4. Geopolitik
    • Siapa yang pertama kali mendirikan pangkalan atau menancapkan teknologi akan punya posisi tawar tinggi dalam “aturan main” eksplorasi luar angkasa.

Baca juga artikel tentang: Satu Planet, Dua Takdir: Penemuan Menarik dari Alam Semesta

Amerika Serikat: Program Artemis

NASA memimpin program Artemis, dengan ambisi mengirim kembali manusia ke Bulan melalui:

  • Artemis I: uji terbang tak berawak, sudah sukses mengorbit Bulan.
  • Artemis II: rencana membawa kru mengelilingi Bulan.
  • Artemis III: target mendaratkan manusia di kutub selatan Bulan (awal rencana 2024, tapi kini kemungkinan mundur beberapa tahun).

AS juga bekerja sama dengan perusahaan swasta seperti SpaceX (Starship sebagai sistem pendarat) dan Blue Origin, menunjukkan bahwa eksplorasi kali ini bukan hanya proyek negara, tapi juga kolaborasi dengan industri.

Tiongkok: Rencana Long March ke Bulan

Tiongkok dengan program luar angkasanya yang semakin ambisius juga punya target besar:

  • Chang’e Missions: serangkaian misi tak berawak yang sukses membawa sampel tanah Bulan ke Bumi.
  • Stasiun Penelitian Lunar: rencana membuat pangkalan bersama Rusia di permukaan Bulan.
  • Roket Long March baru: dirancang khusus untuk misi berawak ke orbit lunar, dengan target pendaratan sebelum akhir dekade 2030-an.

Meski jadwalnya tidak selalu transparan, konsistensi capaian Tiongkok selama dua dekade terakhir membuat banyak analis percaya mereka punya peluang nyata untuk menyalip AS.

Rencana misi NASA Artemis III untuk mendaratkan astronot di Bulan, mulai dari peluncuran di Bumi, perjalanan ke orbit Bulan, pendaratan, hingga kembali lagi ke Bumi.

Siapa yang Akan “Menang”?

Jika definisinya adalah siapa duluan menginjakkan kaki di Bulan, jawabannya masih terbuka. AS punya pengalaman, teknologi, dan mitra swasta yang kuat, tetapi juga menghadapi banyak penundaan. Tiongkok punya rekam jejak konsisten dan ambisi politik yang besar, tapi masih harus membuktikan kemampuan roket berawak jangka jauh.

Namun, jika “menang” berarti siapa yang bisa membangun infrastruktur jangka panjang, pangkalan penelitian, sistem komunikasi, eksplorasi sumber daya mungkin bukan soal siapa duluan, tapi siapa yang paling tahan lama.

Apa Dampaknya bagi Masa Depan?

  1. Ilmu Pengetahuan
    • Penelitian geologi Bulan akan membuka cerita asal-usul Bumi dan tata surya.
    • Astronomi di sisi jauh Bulan bisa merevolusi pemahaman kita tentang kosmos.
  2. Kolaborasi vs Kompetisi
    • Bisa jadi Bulan menjadi ajang kerja sama internasional, seperti ISS.
    • Tapi juga mungkin jadi arena persaingan, dengan perebutan “zona strategis” di kutub selatan Bulan.
  3. Inspirasi Generasi Baru
    • Sama seperti Apollo dulu memicu gelombang minat STEM (sains, teknologi, teknik, matematika), perlombaan baru ini bisa kembali menginspirasi jutaan anak muda di seluruh dunia.

Perlombaan ke Bulan bukan hanya soal prestise politik atau bendera nasional. Ini tentang membuka babak baru peradaban: menjadikan Bulan laboratorium sains terbesar dan batu loncatan menuju eksplorasi antarbintang.

Siapapun yang “menang” dalam lomba ini, umat manusia tetap akan diuntungkan, karena semakin kita memahami Bulan, semakin dekat kita menuju masa depan sebagai spesies antariksa.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Teriakan Tak Terdengar di Luar Angkasa: Penjelasan Fisika Vakum dan Batas Komunikasi Manusia

REFERENSI:

Freedman, Joshua. 2025. Can Status Competition Save the World? Grafting, Green Energy, and the Climate Crisis. International Organization, 1-36.

Guenther, Mary. 2025. Competing for the Upper Hand in the Ultimate High Ground: The Modern Space Race Between the US and China. progressivepolicy.org: https://scholar.google.com/scholar?hl=en&lr=lang_en&as_sdt=0%2C5&as_ylo=2025&q=The+Race+Back+To+The+Moon%3A+US+Vs+China%2C+Will+What+Happens+Next+Change+The+Future%3F.+&btnG=#d=gs_qabs&t=1759016056475&u=%23p%3DE5ZUtQkbuJoJ diakses pada tanggal 28 September 2025.

Luntz, Stephen. 2025. The Race Back To The Moon: US Vs China, Will What Happens Next Change The Future?. IFLScience: https://www.iflscience.com/the-race-back-to-the-moon-us-vs-china-will-what-happens-next-change-the-future-80810 diakses pada tanggal 28 September 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top