Kritik Terhadap Argumentasi Greenpeace Indonesia Tentang Limbah Nuklir dan PLTN

Kritik Terhadap Argumentasi Greenpeace Indonesia Tentang Limbah Nuklir dan PLTN

Terdeteksinya paparan radiasi di atas dosis normal di Perumahan Batan Indah, Setu, Tangerang Selatan, beberapa waktu yang lalu, memancing histeria di berbagai lapisan masyarakat. Sebagian memang karena tidak paham tentang aspek-aspek kenukliran termasuk radiasi, dan yang seperti ini patut dimaklumi dan diberi pemahaman. Namun, masalah lebih besar adalah dari kalangan anti-nuklir. Khususnya LSM lingkungan seperti Greenpeace.

Sebagai LSM yang memiliki visi untuk menentang perkembangan nuklir [26], Greenpeace tidak ketinggalan pasti akan turut mengomentari penemuan radioaktivitas asing di Perumahan Batan Indah. Benar saja, postingan Instagram Greenpeace Indonesia memuat tulisan yang ujung-ujungnya mengkriminalisasi limbah nuklir dan menolak PLTN [1]. Tidak ada yang baru dari “argumentasi” mereka sejak awal berdiri, hanya halusinasi usang yang diulang-ulang seperti radio rusak. Namun, halusinasi Greenpeace harus dihentikan, supaya masyarakat tidak terus menerus dibodohi.

Berikut adalah “argumentasi” Greenpeace yang sangat menyesatkan, disertai kritikan terhadapnya.

Ditemukannya radiasi nuklir oleh Bapeten di sebuah tanah kosong di dalam kawasan Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, dan serpihan radioaktif dengan kandungan Caesium 137 atau Cs-137, membuktikan bahwa penanganan limbah radioaktif di Indonesia dilakukan secara serampangan, tidak dilakukan dengan semestinya sesuai aturan yang ada, dan sangat membahayakan masyarakat

Pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia semua dilakukan oleh Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN. Semua instansi yang menggunakan sumber radioaktif, entah BATAN sendiri, Bapeten, PT Inuki, hingga berbagai industri dan rumah sakit, ketika sudah selesai menggunakannya, semua wajib dilimbahkan ke PTLR. Praktik ini telah berlangsung puluhan tahun dengan sebagaimana mestinya. Semua dilaksanakan sesuai dengan regulasi perundang-undangan yang berlaku [2].

UU No. 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran, Pasal 23 Ayat 1 menyebutkan, “Pengelolaan limbah radioaktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.” [2] Siapa Badan Pelaksana yang dimaksud dalam UU ini? BATAN, melalui salah satu pusatnya yakni PTLR. Pengelolaan limbah radioaktif telah diatur melalui UU, yang merupakan ketetapan hukum tertinggi ketiga dalam konstitusi Indonesia.

Baca juga: Menguak Mitos Bahaya Limbah Radioaktif

Masih di UU yang sama, Pasal 24 ayat (1) mengatakan, “Penghasil limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang wajib mengumpulkan, mengelompokan; atau mengolah dan menyimpan sementara limbah tersebut sebelum diserahkan kepada Badan Pelaksana, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.” [2] Artinya, yang berkewajiban menyerahkan adalah penghasil limbah. BATAN hanya bertugas menerima dan mengelola.

Dasar hukum pengelolaan limbah radioaktif sudah jelas. BATAN telah melakukan tugasnya dengan konsekuen. Tidak ada industri yang pengawasannya lebih ketat daripada industri nuklir; terdapat pengawas pada tingkat nasional (Bapeten) maupun internasional (IAEA). Kemungkinan penyelewengan dalam proses pengelolaan limbah radioaktif, dengan demikian, diminimalisir sampai pada taraf nyaris tidak ada.

Gambar 1. Tanah terkontaminasi di Perumahan Batan Indah (sumber: BATAN)

Maka, jika ada satu kejadian ditemukannya material radioaktif yang tidak berada di tempat yang seharusnya, lalu kemudian dikatakan pengelolaannya sebagai serampangan, tidak semestinya, tidak sesuai aturan, dan sangat membahayakan masyarakat, pernyataan seperti itu tidak kurang dari penyesatan publik, kebohongan yang nyata, dan tidak memiliki landasan data maupun fakta empiris.

Jelas saja bahwa kejadian di Batan Indah merupakan sebuah keteledoran. Namun, jika kejadian itu dijadikan justifikasi untuk mengatakan bahwa pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia dilaksanakan secara serampangan dan tidak sesuai aturan, sembari mengabaikan sekian banyak limbah lain yang dikelola dengan baik oleh PTLR, maka sesungguhnya Greenpeace sedang berhalusinasi. Sebuah halusinasi yang menyesatkan dan berlawanan dengan amanat UUD untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca juga: Bagaimana Pengelolaan Limbah Radioaktif PLTN?

Harus dilakukan investigasi menyeluruh bagaimana limbah radioaktif tersebut bisa sampai di tengah-tengah perumahan padat penduduk. Selain harus diteliti sejauh apa cemaran radiasi tersebut pada tanah dan tanaman yang ada di lokasi, Cs-137 bersifat mudah teroksidasi dan larut dalam air. Juga apabila Cs-137 berbentuk serbuk, ia akan juga dengan mudah terhirup oleh masyarakat

BATAN telah melakukan dekontaminasi terhadap petak tanah berukuran 10×10 m (100 m2) di samping lapangan voli depan Blok J. Lokasi tersebut adalah lokasi yang tidak ditinggali manusia, bahkan aktivitas manusia pun tidak ada. Per 18 Februari 2020, tingkat radioaktivitas tanah terkontaminasi telah turun hingga 90%, menjadi 7 µSv/jam [3]. Padahal, per 15 Februari 2020, paparan radiasi masih sebesar 98,9 µSv/jam [4]. Artinya, sebagian besar kontaminan sudah berhasil dikeruk pada petak tanah yang kecil tersebut. Apa implikasinya? Kawasan yang terkontaminasi sangat sempit. Bahan kontaminan tidak bermigrasi terlalu jauh.

Cs-137 memang bersifat volatil, mudah mencair dan menguap. Namun, mengingat sempitnya daerah terkontaminasi di Batan Indah, bisa dipastikan bahwa migrasi sumber radioaktif tidak jauh. Apalagi tidak terdeteksi adanya radioaktivitas tambahan di sumber air penduduk sekitar [5]. Fakta yang entah kenapa diabaikan oleh Greenpeace. Sekali lagi, banyak pernyataan-pernyataan yang tidak memiliki landasan dan mengarah ke pseudosains.

Jika migrasi bahan tidak jauh, kemungkinan terserap oleh vegetasi di sekitarnya juga rendah. Lagipula, tidak ada juga yang mengonsumsi vegetasi di sekitar petak terkontaminasi. Hal tersebut tidak sulit dipahami jika paham yang namanya risk assessment. Namun, Greenpeace sepertinya tidak peduli soal risk assessment.

Cs-137 tidak dijual dalam bentuk serbuk. Biasanya dalam bentuk encapsulated bahkan double-encapsulated. Tidak ada relevansinya dengan kasus penemuan di Batan Indah. Pernyataan Michael Connolly dalam technical report-nya menjadi tervalidasi, Greenpeace memiliki tugas untuk sengaja menakut-nakuti publik akan bahaya yang tidak ada [26].

Saat ini tidak ada solusi yang kredibel untuk pembuangan limbah nuklir jangka panjang yang aman. Amerika selama ini menempatkan pembuangan limbah nuklirnya di Carlsbad, New Mexico dengan kedalaman 655 m dibawah permukaan, dan mengajukan Yucca Mountain sebagai tempat penyimpanan berikutnya tetapi mendapatkan begitu banyak tentangan. Tidak hanya reaktor nuklir yang harus benar-benar aman dari kesalahan teknis dan manusia, juga bencana alam; tetapi penyimpanan limbah nuklir juga selalu meninggalkan jejak ketakutan tersendiri

Para nuclear engineer sudah tahu bagaimana membuang limbah radioaktif dengan selamat. Mereka tahu bagaimana membuat kontainer limbah yang memadai dan lokasi repositori yang cukup baik. Limbah radioaktif dari PLTN, jika ini yang dimaksud, dikonversi menjadi gelas borosilikat yang kemudian dimasukkan dalam kontainer yang terdiri dari berlapis-lapis bahan, mulai dari logam hingga beton. Kemudian, limbah ini disimpan dalam repositori abadi [6].

Gambar 2: Penampungan limbah bahan bakar bekas PLTN Connecticut Yankee

Setidaknya ada tujuh lapis pertahanan pada repositori abadi limbah PLTN, sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Bernard L. Cohen [7]. Pertama, ketiadaan air pada lokasi repositori limbah, sehingga korosi bisa dicegah. Kedua, batuan yang tidak larut oleh air. Ketiga, material penyegel tambahan berupa tanah liat, yang telah terbukti mencegah migrasi produk fisi. Keempat, material casing kontainer limbah yang tahan korosi.

Kelima, limbah radioaktif dalam bentuk gelas borosilikat tidak larut oleh air. Keenam, migrasi air tanah dalam menuju permukaan tanah membutuhkan waktu yang sangat lama. Ketujuh, filtrasi dari bebatuan untuk memerangkap limbah yang somehow lolos dari level-level berikutnya.

Baca juga: Mengganti Energi Nuklir dengan Energi Terbarukan Bukanlah Ide Bagus–Setidaknya di Inggris dan Swedia

Cohen juga mengungkapkan rendahnya probabilitas kebocoran kontainer limbah radioaktif dalam menyebabkan korban jiwa. Disebutkan bahwa kematian yang mungkin diakibatkan oleh kebocoran limbah radioaktif adalah 0,0014 kematian dalam 13 juta tahun pertama setelah pembuangan limbah dan 0,0018 kematian dalam jangka waktu tak terhingga [7]. Ini adalah bahasa statistik. Dalam bahasa awam, secara praktis repositori abadi limbah radioaktif tidak dapat menyebabkan kematian akibat kebocoran limbah.

Reaktor nuklir alam di Oklo, secara praktis menjadi bukti sahih efektivitas pengungkungan limbah radioaktif. Sekitar dua milyar tahun lalu, ketika kadar isotop fisil U-235 masih berkisar 3% (saat ini 0,7% karena peluruhan alami), terbentuk reaktor nuklir alami di daerah yang saat ini merupakan bagian dari negara Gabon, Afrika. Kandungan uranium di Oklo ditemukan lebih rendah daripada yang seharusnya, serta ditemukan adanya produk fisi serta elemen transuranik di dekatnya.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar produk fisi penting dan seluruh elemen transuranik tidak bermigrasi terlalu jauh dari lokasi reaksi fisi terjadi [8,9]. Hal ini luar biasa mengesankan, karena selama dua milyar tahun, pergeseran produk fisi dan transuranik tidak signifikan. Dengan teknologi kontainer abad 21, pengungkungan limbah radioaktif secara praktis lebih kuat dan tidak menjadi persoalan. Khususnya ketika produk fisi sudah lenyap dalam 300 tahun dan elemen transuranik yang tersisa tidak bisa larut oleh air.

Ini belum termasuk insinerasi elemen transuranik di reaktor maju, entah reaktor thorium maupun reaktor cepat. Kedua jenis reaktor tersebut dapat ‘menghabisi’ transuranik penyumbang radiotoksisitas limbah radioaktif sembari menghasilkan energi yang bersih, murah, selamat, andal, dan berkelanjutan [10-15].

Pengelolaan ini jauh lebih baik daripada, katakanlah, pengelolaan limbah panel surya dan turbin angin. Limbah panel surya 300x lebih beracun daripada limbah radioaktif karena kontaminasi kadmium, antimoni, dan timbal [16]. Panel surya sulit didaur ulang, dan diperkirakan pada tahun 2050, jumlah limbah panel surya dapat mencapai 78 juta ton [17]. Tanpa ada rencana jelas bagaimana mendaur ulangnya.

Pengelolaan limbah turbin angin tidak lebih mudah, mengingat bahan fiberglass yang digunakan sebagai bahan kincir angin tidak bisa didaur ulang dan akan menimbulkan masalah di masa depan [18]. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050, limbah bilah turbin angin akan mencapai 43 juta ton [19]. Lagi-lagi tanpa ada solusi bagaimana menanganinya, selain ditumpuk begitu saja sembari mengotori lingkungan.

Dibandingkan limbah panel surya dan turbin angin, yang notabene merupakan dua moda pembangkit yang didukung Greenpeace, pengelolaan limbah nuklir jauh lebih canggih, terstruktur, memiliki rencana yang jelas, dan sebagian langkah telah dilaksanakan dengan sukses.

Masalah pengelolaan limbah radioaktif tidak pernah menjadi masalah teknis. Semua masalah yang ada merupakan masalah politis, yang sebagian disumbangkan oleh LSM semacam Greenpeace yang mengambil fakta dari sudut pandang yang sangat sempit dan tidak holistik, dan sekali lagi tidak berpijak pada data-data empiris.

Baca juga: Bagaimana Jika Proyek Energiewende Dialihkan Saja Untuk Energi Nuklir?

Nuklir bukanlah pilihan energi masa depan Indonesia. PLTN adalah investasi berbahaya dan juga sangat mahal. Mengacu pada data Lazard 2019, biaya modal pembangunan PLTN adalah yang tertinggi saat ini dimana secara maksimal dapat menyentuh angka $12.250/kW. Sedangkan energi terbarukan, baik itu angin dan surya telah mencapai grid parity (harga yang sama dengan pembangkit konvensional pemasok sistem grid) di banyak negara di dunia

Paragraf ini merupakan bukti nyata cherry-picking yang dilakukan oleh Greenpeace. Mereka hanya mengutip satu angka yang merupakan anomali bahkan dalam industri nuklir sendiri. Meski memang Greenpeace mengatakan “dapat menyentuh angka,” Greenpeace tidak jujur dengan tidak menyampaikan sisi lain dari rentang tersebut.

PLTN Hinkley Point C (HPC) di Somerset, Inggris Raya, merupakan PLTN termahal di dunia. Nyatanya, overnight cost HPC ‘hanya’ $9.070/kW [20]. Angka ini memang tinggi, tetapi tidak sampai $12.200 sebagaimana disebutkan dalam laporan Lazard [21]. Sementara, PLTN Vogtle yang kemungkinan menjadi basis angka tertinggi di laporan Lazard, merupakan anomali yang khas hanya terjadi di Amerika Serikat dan desain AP1000 [22].

Greenpeace sama sekali mengabaikan bahwa vendor PLTN lain tidak mengalami hal serupa. KEPCO sukses membangun PLTN Shin Kori unit 3 dan 4 dengan overnight cost $2.400/kW [23]. Mengapa bisa rendah? Karena standardisasi desain dan pengalaman pembangunan [24], sehingga KEPCO dapat mereduksi biaya konstruksi dengan baik.

Lagipula, menggunakan overnight cost belaka merupakan penyesatan argumen. Greenpeace sama sekali mengabaikan faktor kapasitas yang menentukan berapa besar harga listrik yang dihasilkan [25]. PLTN mampu mencapai faktor kapasitas 90%, sementara PLTS dan PLTB bisa mencapai 20% di Indonesia saja sudah beruntung. Butuh 4-5x kapasitas terpasang PLTS dan PLTB untuk bisa menyamai luaran listrik dari PLTN.

Greenpeace pun mengabaikan sama sekali akan berapa banyak listrik yang sebenarnya dapat dihasilkan selama usia pakainya. PLTN memiliki usia pakai standar selama 60 tahun, bisa diperpanjang hingga 100 tahun. Sementara, PLTS dan PLTB hanya bisa beroperasi maksimal 30 tahun sebelum harus diganti, itupun kalau tidak rusak terlebih dahulu. Sehingga, butuh 2-3x pembangunan PLTS dan PLTB untuk menyamai usia pakai PLTN.

Total, PLTS dan PLTB butuh biaya 6-8x dari biaya aslinya untuk bisa menyamai luaran listrik PLTN. Artinya, PLTS dan PLTB tidak semurah yang diklaim Greenpeace. Khususnya bahwa angka tersebut mengabaikan sama sekali energy storage dan grid upgrade yang sangat diperlukan untuk bisa menampung energi bayu dan surya. Artinya, banyak additional cost yang tidak diungkapkan sama sekali dengan Greenpeace.

Mengingat mahalnya PLTN merupakan fenomena unik di dunia Barat dan tidak muncul di Asia, tidak ada alasan untuk menganggap fenomena tersebut akan terjadi di Indonesia, jika Indonesia memutuskan untuk go nuclear. Kedatangan PLTN Generasi IV pada dekade 2020-an akan memangkas biaya PLTN lebih rendah dan menjadikan argumentasi Greenpeace tersebut tidak valid.

Sudah seharusnya pemerintah Indonesia mulai berpikir jernih dengan fokus berinvestasi pada energi terbarukan yang lebih aman, murah, bersih, dan bukan PLTU Batubara apalagi PLTN.

Jika Indonesia ingin menjadi negara industri yang maju, salah satu hal yang wajib dipastikan adalah suplai energi yang murah, melimpah, dan andal. Energi terbarukan tidak bisa memenuhi satupun dari kriteria ini. Ketika full-cost diterapkan, energi terbarukan akan menjadi mahal. Tanpa adanya energy storage dan grid upgrade yang mahal, energi terbarukan tidak bisa menghasilkan listrik yang melimpah dan andal. Apa hal seperti ini yang mau ditawarkan pada Indonesia?

Hanya nuklir yang dapat memenuhi kriteria murah, melimpah, dan andal. Ditambah lagi nuklir itu selamat, bersih, dan berkelanjutan. Untuk memenuhi salah satu syarat sebagai negara maju, Indonesia mau tidak mau harus memanfaatkan energi nuklir semaksimal mungkin. Utopia energi terbarukan belum realistis untuk diwujudkan dalam dunia abad 21.

Referensi:

  1. Greenpeace Indonesia. Diakses dari https://www.instagram.com/p/B8u4qmoBgPi/?igshid=16xoq97szaeen
  2. Undang-Undang No. 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran
  3. Paparan Radiasi di Perum Batan Indah Tangsel Turun hingga 90%. Diakses dari https://megapolitan.okezone.com/read/2020/02/18/338/2170242/paparan-radiasi-di-perum-batan-indah-tangsel-turun-hingga-90
  4. BATAN Lakukan Clean Up Daerah Terpapar Radiasi. Diakses dari http://batan.go.id/index.php/id/publikasi-2/pressreleases/6267-batan-lakukan-clean-up-daerah-terpapar-radiasi
  5. Bapeten: Radiasi Nuklir di Serpong Tidak Cemari Air Tanah. Diakses dari https://koran.tempo.co/read/metro/450191/bapeten-radiasi-nuklir-di-serpong-tidak-cemari-air-tanah
  6. R Andika Putra Dwijayanto. Bagaimana Mengelola Limbah Radioaktif PLTN?
  7. R Andika Putra Dwijayanto. Menguak Mitos Bahaya Limbah Radioaktif. Diakses dari https://warstek.com/2018/01/30/mitoslimbah/
  8. Francois Gauthier-Lafaye. “2 billion year old natural analogs or nuclear waste disposal: the natural nuclear fission reactors in Gabon (Africa),” Applied Physics, vol. 3, pp. 839-849, 2002.
  9. R. Hagemann and E. Roth. “Relevance of the Studies of the OKLO Natural Nuclear Reactors to the Storage of Radioactive Wastes,” Radiochimica Acta, vol. 25, pp. 241-247, 1978.
  10. C. Yu et al., “Minor actinide incineration and Th-U breeding in a small FLiNaK Molten Salt Fast Reactor,” Ann. Nucl. Energy, vol. 99, pp. 335–344, 2017.
  11. T. Takeda, “Minor actinides transmutation performance in a fast reactor,” Ann. Nucl. Energy, vol. 95, pp. 48–53, Sep. 2016.
  12. S. Şahin, Ş. Yalçin, K. Yildiz, H. M. Şahin, A. Acir, and N. Şahin, “CANDU reactor as minor actinide/thorium burner with uniform power density in the fuel bundle,” Ann. Nucl. Energy, vol. 35, no. 4, pp. 690–703, 2008.
  13. B. A. Lindley, F. Franceschini, and G. T. Parks, “The closed thorium–transuranic fuel cycle in reduced-moderation PWRs and BWRs,” Ann. Nucl. Energy, vol. 63, pp. 241–254, 2014.
  14. K. Insulander and V. Fhager, “Comparison of Thorium-Plutonium fuel and MOX fuel for PWRs,” in Proceedings of Global 2009, 2009, p. 9449.
  15. H. N. Tran, Y. Kato, P. H. Liem, V. K. Hoang, and S. M. T. Hoang, “Minor Actinide Transmutation in Supercritical-CO2-Cooled and Sodium-Cooled Fast Reactors with Low Burnup Reactivity Swings,” Nucl. Technol., vol. 205, no. 11, pp. 1460–1473, Nov. 2019.
  16. Jemin Desai and Mark Nelson. Are we headed for solar waste crisis? Diakses dari http://environmentalprogress.org/big-news/2017/6/21/are-we-headed-for-a-solar-waste-crisis
  17. Michael Shellenberger. If Solar Panels Are So Clean, Why Do They Produce So Much Toxic Waste? Diakses dari https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/05/23/if-solar-panels-are-so-clean-why-do-they-produce-so-much-toxic-waste/#5fd65602121c
  18. Unfurling The Waste Problem Caused By Wind Energy. Diakses dari https://www.npr.org/2019/09/10/759376113/unfurling-the-waste-problem-caused-by-wind-energy
  19. P. Liu and C. Y. Barlow, “Wind turbine blade waste in 2050,” Waste Management, vol. 62, pp. 229-240, 2017.
  20. Hinkley Point C cost rises by nearly 15%. Diakses dari https://world-nuclear-news.org/Articles/Hinkley-Point-C-cost-rises-by-nearly-15
  21. Lazard’s Levelized Cost of Energy Analysis—version 13.0
  22. Vogtle Electric Generating Plant. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Vogtle_Electric_Generating_Plant
  23. R Andika Putra Dwijayanto. Bagaimana Jika Investasi Energi Terbarukan Dialihkan Ke Energi Nuklir? Diakses dari https://warstek.com/2019/09/07/investasi/
  24. M. Berthelemy and L. E. Rangel, ”Nuclear reactors’ construction costs: The role of lead-time, standardization and technological progress,” Energy Policy, vol. 82, pp. 118-130, 2015.
  25. R Andika Putra Dwijayanto. Meluruskan Salah Kaprah Tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik. Diakses dari https://warstek.com/2018/05/19/pembangkitlistrik/
  26. Connolly, Michael & Connolly, Ronan & Soon, Willie & Moore, Patrick & Connolly, Imelda. (2018). Analysis of Greenpeace’s business model & philosophy: Greenpeace wants a piece of your green.

2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

2019 Menjadi Tahun Terpanas Kedua Sepanjang Empat Dekade

Tahun 2019 tercatat dalam sejarah sebagai tahun terpanas kedua setelah tahun 2016. Fakta tersebut diungkapkan oleh NASA dan NOAA bersamaan dengan dirilisnya laporan mengenai kondisi iklim global tahun 2019.

Kenaikan Temperatur

Dengan menggunakan metode pemodelan iklim dan analisis statistik, para ilmuwan menemukan bahwa tahun 2019 memiliki nilai anomali suhu udara sebesar 0.95°C di atas rata-rata suhu abad ke-20. Anomali suhu udara adalah perbandingan suhu udara pada periode tertentu terhadap periode normal yang ditetapkan. Angka yang didapatkan melalui riset ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pengukuran suhu global sejak tahun 1880 dan hanya terpaut 0.04°C lebih rendah dibandingkan rekor tahun terpanas pada tahun 2016.

Pada skala regional, negara-negara di Eropa Tengah, Asia, Australia, Afrika bagian selatan, Amerika Utara, dan Amerika Selatan bagian timur mengalami kenaikan suhu di atas rata-rata. Meksiko menjalani bulan Agustus paling panasnya pada tahun 2019 dengan nilai anomali suhu udara bulan itu sebesar 3.3°C. Amerika Selatan merasakan tahun 2019 sebagai tahun terpanas kedua dengan nilai anomali sebesar 1.24°C. Suhu udara di Chile menyentuh angka 40°C akibat efek dari gelombang panas yang melanda wilayah tersebut.

Di Perancis, suhu yang terjadi di 9 dari 12 bulan di tahun 2019 berada di atas rata-rata. Benua Afrika juga menobatkan 2019 sebagai tahun terpanas ke-3 dalam 110 tahun terakhir, setelah tahun 2016 dan 2010. Suhu di Israel pada tahun 2019 menyentuh angka 43-45°C. Sementara itu di Australia, suhu rata-rata tahun 2019 merupakan yang terpanas dalam sejarah mereka dengan suhu yang tercatat hingga 40°C.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan analisis anomali suhu udara rata-rata tahunan yang dilakukan oleh Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 2019 juga tercatat sebagai tahun terpanas kedua di Indonesia. Dalam hal ini, BMKG mengambil rata-rata suhu suatu provinsi pada rentang waktu tahun 1981 hingga tahun 2010. Berdasarkan analisis tersebut, tahun 2019 memiliki nilai anomali sebesar 0.58°C atau hanya 0.22°C lebih kecil dibandingkan nilai anomali tahun 2016.

Pada laporan yang sama, diketahui pula bahwa 33 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki nilai anomali suhu udara positif yang berarti terjadi kenaikan suhu terhadap acuan periode normal. Berdasarkan data tersebut, Provinsi Banten memegang rekor sebagai provinsi dengan nilai anomali suhu udara tertinggi pada tahun 2019 dengan angka 1.03°C. Sementara itu, Provinsi Bali tercatat mengalami anomali suhu udara sebesar -0.10°C. Itu artinya suhu udara rata-rata Bali berada pada angka 0.10°C dibawah rata-rata suhu periode normal.

Beda halnya dengan suhu udara, suhu permukaan laut Indonesia khususnya di pantai selatan Jawa dan Sumatera mengalami penurunan setidaknya 0.5°C pada periode Juni-November. Kondisi ini menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan di Indonesia yang turut menjadi penyebab kemarau panjang di pertengahan tahun 2019.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal yang menarik dari kasus ini adalah fakta bahwa lima tahun terakhir adalah lima tahun terpanas dalam sejarah. Selain itu, peningkatan temperatur terjadi saat Matahari mencapai siklus minimum terendah dalam 100 tahun terakhir. Ditambah lagi tidak terjadinya El Nino yang sangat kuat di tahun 2019 (El Nino lemah terjadi di awal tahun 2019). Kondisi ini menandakan bahwa alam bukanlah penyebab utama kerusakan di Bumi.

Sejak tahun 1880, suhu udara di permukaan Bumi terus mengalami tren kenaikan hingga 2°C saat ini. Dilansir dari NASA, suhu yang yang diukur pada era pra-industri bahkan lebih panas sekitar 5.5°C daripada zaman es terakhir seiring dengan efek rumah kaca yang semakin parah. Hal tersebut diperparah dengan emisi gas CO2 yang terus meningkat akibat aktivitas perindustrian, penggunaan kendaraan bermotor, kebakaran hutan, dan lain sebagainya.

Jadi, akankah iklim di tahun 2020 ini semakin bersahabat dengan manusia atau justru manusia sendiri yang semakin tidak bersahabat?

Referensi:

  1. NOAA.gov. (2020, Januari). Global Climate Report – Annual 2019. Diakses pada 18 Januari 2019, dari https://www.ncdc.noaa.gov/sotc/global/201913
  2. NASA.gov. (2020, 15 Januari). NASA, NOAA Analyses Reveal 2019 Second Warmest Year on Record. Diakses pada 18 Januari 2020, dari https://www.nasa.gov/press-release/nasa-noaa-analyses-reveal-2019-second-warmest-year-on-record
  3. BMKG.go.id. Ekstrem Perubahan Iklim. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=ekstrem-perubahan-iklim
  4. ScientificAmerican.com. (2020, 15 Januari). Earth Had Its Second Warmest Year in Recorded History in 2019. Diakses pada 19 Januari 2020, dari https://blogs.scientificamerican.com/eye-of-the-storm/earth-had-its-second-warmest-year-in-recorded-history-in-2019

Dapatkah Iklim Bumi Berubah karena Layanan Streaming Musik?

Layanan Streaming Musik

Layanan Streaming Musik Spotify
Spotify Sebagai Layanan Streaming Musik Yang Sering Digunakan

Di era Internet of Thing seperti saat ini, musik sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal ini dikarenakan musik sendiri dapat digunakan masyarakat dengan cara yang sangat mudah, seperti mengunduh bahkan mendengarkannya melalui internet/aplikasi. Apalagi pada zaman sekarang ini dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dan diiringi dengan pertumbuhan musik yang semakin hari semakin tinggi, musik tidak hanya digemari oleh orang dewasa saja. Namun juga turut digemari oleh seluruh kalangan masyarakat yang tidak dibatasi oleh umur.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2016), 35,5% dari populasi pengguna internet di Indonesia, atau sekitar 46,9 juta orang Indonesia mendengarkan musik secara online [1]

Bagaimana Hobi Mendengarkan Musik secara Online ditinjau dari Perspektif Emisi Karbon?

Berdasarkan studi baru yang berjudul The Cost of Music oleh Universitas Glasglow dan Universitas Oslo  yang terbit pada 8 April 2019 menunjukkan bahwa mendengarkan musik melalui pengunduhan dan layanan streaming memiliki dampak yang “buruk” bagi lingkungan. Hal ini dikarenakan energi yang dibutuhkan untuk streaming dan mengunduh musik digital telah menyebabkan emisi gas rumah kaca (Green House Gas atau GHG) meningkat tajam. Studi ini memperkirakan bahwa konsumsi musik pada tahun 2000 menghasilkan emisi sekitar 157 juta kilogram gas setara gas rumah kaca. Sekarang, jumlah GHG yang dihasilkan oleh energi guna mendengarkan musik layanan streaming diperkirakan berjumlah sekitar 200 dan 350 juta kilogram [2]

Peneliti menggunakan data dari Asosiasi Industri Rekaman Amerika untuk mengambil sampel dari jumlah total lagu yang diputar melalui layanan streaming dan diunduh. Kemudian mengalikannya dengan jumlah listrik yang dibutuhkan untuk mengunduh data sebesar 1 gigabyte. Setiap gigabyte setara dengan jumlah listrik yang dibutuhkan untuk menyalakan satu bola lampu selama satu jam. Peneliti selanjutnya menyelidiki penggunaan sumber bahan bakar dan jumlah jejak karbon yg dihasilkan oleh situs penyedia layanan streaming musik [3]

Dr Kyle Devine, Associate Professor di Musik dari Universitas Oslo melakukan penelitian tentang biaya lingkungan rekaman musik (digital). Dr Kyle mengatakan: “Dari perspektif polusi plastik, secara keseluruhan dalam industri rekaman telah berkurang sejak masa kejayaan vinyl. Karena jumlah plastik yang digunakan untuk membuat rekaman fisik telah turun dari 61 juta kilogram pada tahun 2000-an menjadi sekitar 8 juta kilogram pada tahun 2016. Industri musik memang berhasil mengurangi jumlah penggunaan  plastik, namun peralihan industri musik ke arah digital menimbulkan masalah baru bagi lingkungan. Namun, dari perspektif emisi karbon perpindahan streaming musik (digital) ke perangkat yg terhubung internet menghasilkan emisi karbon yg lebih tinggi” [4]

Jadi Apakah Tidak Boleh Mendengarkan Musik?

Dr Matt Brennan, seorang Peneliti Musik Populer dari Universitas Glasgow, memimpin penelitian tentang perubahan biaya ekonomi dari musik rekaman.  Dr Matt mengatakan: “Maksud dari penelitian ini bukan untuk memberi tahu konsumen bahwa mereka tidak boleh mendengarkan musik, tetapi untuk mendapatkan apresiasi atas perubahan biaya yang terlibat dalam perilaku konsumsi musik. Kami berharap temuan ini dapat mendorong perubahan ke arah pilihan konsumsi dan layanan yang lebih berkelanjutan. Kemudian memberi imbalan pada pencipta musik sambil mengurangi dampak lingkungan.” [2]

Bagaimana Respon Spotify Sebagai Layanan Streaming Musik Terbesar?

Menurut The Rolling Stone, perusahaan raksasa penyedia layanan streaming musik, Spotify berjanji akan berupaya menuju netralitas karbon berdasarkan laporan keberlanjutannya yang diterbitkan pada 2017. Pada tahun 2018, mereka telah mengurangi jejak karbon sebesar 1.500 ton. Kemudian menutup hampir semua pusat data mereka yang kini beralih menggunakan jasa Google Cloud Platform (GCP) [4]

Kyle Devine, profesor dari Universitas Oslo, mengatakan “Tidak berarti Google menggunakan energi yang sepenuhnya terbarukan  atau emisi CO2 lebih rendah”. Karena yg mereka membeli atau berinvestasi dalam energi terbarukan pada tingkat yang sama atau cocok dengan jumlah energi yang mereka gunakan [4]

Beginilah Cara Medengarkan Musik yang Benar

Sharon George, Dosen Ilmu Lingkungan Universitas Keele dan Deirdre McKay ahli Geografi dan Politik Lingkungan, menyarankan suatu metode untuk mendengarkan musik. Metodenya adalah dengan cara membeli album fisik (CD, kaset, dll) yang lebih ramah lingkungan jika mendengarkannya berulang kali. Karena 27 lagu yg diputar berulang kali melalui layanan streaming kemungkinan menggunakan lebih banyak energi daripada energi yang diperlukan untuk memproduksi kepingan disk dan mengunduh musik dari layanan streaming yang didengarkan secara offline dan tentunya dapat mengurangi konsumsi energi [5]

Referensi:

[1] APJII. (2016). Saatnya Jadi Pokok Perhatian Pemerintah dan Industri. Buletin APJII. (Online).

https://apjii.or.id/downfile/file/BULETINAPJIIEDISI05November2016.pdf

[2] Anonim. 2019. Music consumption has unintended economic and environmental costs. (Online). https://www.gla.ac.uk/news/archiveofnews/2019/april/headline_643297_en.html

[3] Lucienne Cros. 2019. Your Favorite Playlist Has A Carbon Footprint. (Online). https://inhabitat.com/your-favorite-playlist-has-a-carbon-footprint/

[4] Blistein. 2019. Is Streaming Music Dangerous to the Environment? One Researcher Is Sounding the Alarm. (Online). https://www.rollingstone.com/music/music-features/environmental-impact-streaming-music-835220/

[5] Georga Sharon & McKay Deidre. 2019. The environmental impact of music: digital, records, CDs analyse. (Online). https://theconversation.com/the-environmental-impact-of-music-digital-records-cds-analysed-10894

Siringmakar 27: Komposit Bioplastik, Kemasan Ramah Lingkungan Untuk Masa Depan

Pemateri: Dr. Mochamad Asrofi (Konsultan Produksi Bioplastik di Green Dot Biopak Ltd, Gujarat, India | Peneliti material biokomposit di Laboratorium Uji Material, Teknik Mesin, Universitas Jember)

Moderator: Abdul Halim, PhD (Founder Warstek)

Diskusi

Pada data penelitian dari Jambeck diatas, mereka melaporkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil plastik terbesar kedua setelah China. Ini membuktikan bahwa Indonesia darurat sampah plastik.

Infografis dari KLHK diatas, menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia tergantung dengan kantong plastik. Bahkan diprediksi 1 (satu) tahun ada 1.758 miliar lembar sampah kantong plastik dari 32.000 gerai. Plastik tersebut merupakan plastik yang tidak bisa didegradasi oleh lingkungan. Hal tersebut sangat berdampak pada lingkungan, utamanya penumpukan sampah yang mengakibatkan banjir. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan beberapa cara sebagai berikut:

  1. Kurangi penggunaan plastik (gunakan 1 kantong dari rumah ketika pergi ke pasar);
  2. Pengelolaan limbah plastik;
  3. Mengubahnya jadi sumber energi; dan
  4. Inovasi dengan menciptakan bioplastik, yaitu plastik dari bahan 100% alam. Dalam bahasan kali ini, kita akan berdiskusi tentang Inovasi Bioplastik (plastik dari bahan 100% bahan alam).

Apa itu ‘Bioplastik’ ?

Bioplastik adalah bahan plastik yang dibuat dari bahan berbasis bio (alam). Contohnya: pati, kitosan, rumput laut, asam poli laktat, protein dan sebagainya. Umumnya, bioplastik sendiri mempunyai kekuatan tarik yang rendah. Jadi, perlu ditambahkan “penguat” untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Penguat pada bioplastik yang umum digunakan adalah serat tanaman, partikel mineral dan jenis bahan ramah lingkungan lainnya. Paduan antara ‘bioplastik’ dan ‘penguat’ dinamakan komposit.

Beberapa contoh bioplastik hasil dari penelitian sebelumnya, seperti berikut.

Inovasi Bioplastik [Lopez dkk., 2015]

Kemasan bioplastik yang berfungsi untuk membungkus buah cherry (buah berwarna merah). Bioplastik tersebut merupakan inovasi dari Lopez dkk.(2015) yang menemukan bioplastik dari pati jagung dengan campuran gliserol dan mineral talc. Sebelumnya, Lopez dkk. di tahun 2013 juga membuat lembaran plastik seperti contoh berikut ini.

Lembaran Plastik [Lopez dkk., 2013]
Komposisi pembuatan plastik tersebut berasal 100% dari bahan alam, yaitu pati jagung dan gliserol. Peneliti lainnya seperti Herrera dkk. (2016) juga menunjukkan inovasi bioplastik dari asam poli laktat dengan gliserol dan kitin, hasil formulasinya secara fisik sebagai berikut.

Lembaran Plastik Pembungkus [Herrera dkk., 2016]

Terlihat dalam foto tersebut jika lembaran plastik dapat digunakan untuk membungkus buah apel. Pati merupakan bahan dasar pembuatan matriks dari bioplastik. Beberapa pati yang banyak kita jumpai di Indonesia seperti: pati singkong, pati jagung, pati gandum, pati sagu, pati bengkuang, pati kentang dan lain sebagainya.

Pembuatan bioplastik dari bahan alam, yaitu pati, menunjukkan kesuksesan. Hal tersebut ditandai dengan sifat biodegradasi bahan yang terkikis terus-menerus seiring berjalannya waktu. Ilustrasi tersebut bisa dilihat pada gambar dibawah ini.

Terlihat pada gambar, jika bioplastik di hari pertama belum menunjukkan perubahan fisik, yaitu berupa pengikisan. Setelah 73 hari, plastik tersebut sudah hancur tidak tersisa. Hal tersebut menunjukkan bahwa plastik dari bahan alam (bioplastik) bersifat ramah lingkungan.

Ada beberapa teknik pembuatan bioplastik, yaitu:

  1. Metode Penuangan Sederhana (Solution Casting)

    Metode ini umumnya dipakai pada skala laboratorium. Proses pembuatannya pun cukup mudah, yaitu dengan cara mencampurkan bahan yang dijadikan Bioplastik, kemudian dituang kedalam cetakan. Ilustrasi metode solution casting dapat dilihat pada gambar berikut.

  2. Metode Kompresi (Compression molding)

    Metode ini dapat diterapkan pada skala laboratorium dan industri. Prinsipnya adalah pemanasan yang diikuti dengan penekanan. Jadi, ketika ada campuran bahan polimer alam yang telah melalui proses gelatinisasi akan ditekan sesuai dengan cetakannya. Ilustrasi tersebut bisa dilihat pada gambar berikut.

  3. Metode Injection molding

    Metode yang juga umum diterapkan pada skala laboratorium maupun industri. Prinsip kerja dari alat ini adalah mencampur bahan bioplastik di dalam hopper yang diteruskan oleh screw extruder serta diikuti pemanasan untuk dilanjutkan proses pencetakan. Ilustrasi proses metode injection molding dapat dilihat pada gambar berikut.

  4. Metode Blow molding

    Metode ini lebih umum diterapkan pada skala industri untuk membuat kantung plastik. Prinsip kerja metode ini bahan bioplastik dicampur dalam suatu mesin blow molding membentuk lembaran plastik.

Dapat disimpulkan jika pembuatan Bioplastik tidaklah susah, hanya saja dibutuhkan bahan alam yang sesuai (compatible) terhadap sifat plastik yang memiliki kekuatan tarik yang tinggi, ketahanan panas yang baik dan tahan terhadap kelembaban.

 

Sesi Tanya-Jawab (Q&A)

  1. Anonim: Q. Dari materi disampaikan bahwa bioplastik dapat terdegradasi karena terkikis. Padahal plastik juga bisa terkikis secara mekanis sehingga menjadi mikroplastik. Dan mikroplastik ini bisa masuk ke sistem pencernaan hewan seperti ikan. Apakah sudah ada riset yang membuktikan bahwa bioplastik dapat terurai secara kimia oleh mikroba sampai secara fisik?.  A. Bioplastik dapat terdegradasi dalam beberapa media seperti tanah, air, udara maupun seperti yang dijelakan oleh penanya salah satunya karena mekanik. Bioplastik itu terbuhat dari bahan alam. jadi aman jikalau sampai temakan oleh hewan karena asalanya dari alam, jadi yang ditekankan disini yaitu bahannya. Selama bahan dari alam, itu aman. Riset yang membuktikan tentang penguraian bioplastik itu sudah ada. Penguraian bioplastik secara biologis seperti pemendaman di dalam tanah dan uji penuaan bioplastik terhadap lingkungan. Cara kerja mikroba itu dengan memakan unsur bahan bioplastik tersebut. Jadi, degradasi dalam hal ini, yaitu secara bio.
  2. Remilda: Q. Bagaimana cara mempopulerkan bioplastik agar bisa digunakan seluruh masyarakat indonesia?. A. Memang penggunaan bioplastik masih kurang populer dibandingkan plastik sintetis. Hal tersebut dikarenakan harga bioplastik yang masih mahal yaitu sekitar 2-3 kali harga plastik sintetis. Cara mempopulerkan bioplastik tentunya harus dibantu dengan kebijakan Pemerintah bahwa ada peraturan yang mengharuskan untuk menggunakan bioplastik.
  3. Anonim: Q1. Apakah memungkinkan jika suatu saat bioplastik ini dapat diproduksi skala industri rumahan? Kalau bisa, apa yang perlu kita persiapkan pada level industri sederhana ini ?. A1. Sangat mungkin di produksi pada skala industri. Bahkan di Indonesia ada 2 pabrik besar yang memproduksi bioplastik dari pati singkong. Kedepannya, berharap ada industri-industri bioplastik rumahan. | Q2. Berapa kilogram ketahanan bioplastik? Dan berapa harga per lembar bioplastik?, apakah lebih mahal atau lebih murah dibandingkan dengan plastik kresek biasa?. A2. Ketahanan bioplastik terhadap apa?, Itu harus diuji sesuai standarnya. Mahal atau murahnya, tentunya plastik sintetis lebih murah dibanding bioplastik, bahkan bisa 2x lipatnya. Masyarakat Indonesia masih belum siap akan hal itu. Jadi, perlu adanya regulasi pemerintah yang membantu dan mengharuskan untuk memakai kantong bioplastik.
  4. Erza: Q. Tadi disebutkan bahwa Bioplastik dibuat dari bahan berbasis bio (alam) seperti pati dan protein. Apakah semua tumbuhan yang mengandung pati dapat dibuat sebagai bioplastik?, adakah persyaratan khusus untuk membuat bioplastik dari pati tumbuhan tersebut seperti kadar pati dalam tumbuhan tersebut, selain itu, jenis protein apa yang dapat dibuat sebagai bioplastik?. A. Dalam tumbuhan yang berumbi umumnya mengandung pati. Umbi satu dangan yang lain mempunyai kandungan pati yang berbeda-beda. Kandungan ini nantinya akan mempengaruhi sifat pembentukan pati dan kekuatannya.Selain itu, pemilihan pati sebagai bioplastik harus memperhatikan banyaknya pati yang kita dapat dari 1 kg umbi (singkong, misalnya). Umbi singkong 1 kg mendapatkan pati kering hanya 15% saja dari total tersebut, artinya pati yang kita ekstraksi sangat sedikit. Itu harus diperhatikan.

    Pati ini mempunyai 2 kandungan terbesar, yaitu amilosa dan amilopektin. Hal tersebut yang mempengaruhi sifat fisik, kimia dan mekanik dari pati. Menurut Mali dkk. 2005 peneliti asal Brazil melaporkan bahwa kandungan amilosa yang besar pada pati memberikan sifat mekanik yang baik.

  5. Nailul: Q.  Apakah ketahanan bioplastik sudah pernah diujikan utk penyimpanan produk?, produk apakah dan bagaimana bahan bioplastik tidak mempengaruhi kualitas makanan/ minuman dari segi rasa dan ketahanan makanan/ minuman tersebut?. A. Ketahanan bioplastik sudah diuji dalam penyimpanan produk sperti yang dilakukan oleh Lopez dkk. Mereka melakukan pengujian penuaan terhadap bioplastik yang dipakai. Untuk kemasan tersebut harus disesuaikan pada standar yang digunakan misalnya SNI. Dalam SNI mengatur dari sifat ketahanan bioplastik terhadap lingkungan sampai sifat mekaniknya.Mengenai pengaruh pada isi kemasan, saya belum pernah menjumpai artikel yang memaparkan hal tersebut. Ini sangat saya sarankan untuk diteliti lebih dalam lagi. Sifat hidrofilik bioplastik dapat diatasi dengan penambahan partikel hidrofobik seperti monmoriilonit, calcium carbinat, dan mineral lainnya. Hal tersebut dapat meningkatkan sifat hidrophobisitas dari bioplastik tersebut.
  6. Isna: Q1. Partikel bioplastik yang sudah terurai, akan jadi berakhir apa ya (dalam bentuk mikro atau nano)?. A1.  Bioplastik akan terurai secara biologi karena adanya mikroorganisme dalam tanah. Hasil dari bio degradasi tersebut menjadi gas metana, gas CO2 dan H2O. Partikel bioplastik akan kembali ke tanah karena sifat alaminya. Bahkan, ada penelitian yang mengatakan bahwa hasil tersebut bisa menjadi kompos. Mengenai ukuran partikelnya saya kurang tahu dalam bentuk mikro atau nano. Mungkin ini bisa jadi penelitian yang menarik untuk dikembangkan. | Q2. Jika bioplastik digunakan untuk produk makanan, minuman dan kosmetik, apakah tidak akan bereaksi dengan produk-produk tersebut?, dan apakah wadah bioplastik jadi lebih cepat hancur daripada produk-produk tersebut?. A2. Tergantung desain untuk wadah apa. Kalau wadah yg di desain agak lama tentunya ada campuran bahan tambahan, seperti PLA, bukan hanya pati saja. | Q3. Apakah untuk pembuatan bioplastik skala industri, bisa pakai mesin pembuatan plastik konvensional?, hal ini terkait mesin yang tidak terpakai oleh produsen jika beralih ke bioplastik dan produsen jadi harus mengeluarkan investasi lagi untuk pembelian mesin baru jika harus menggunakan mesin khusus. A3. Iya, bisa saja menggunakan mesin konvensional tergantung aplikasi wadah dan cetakannya.

  7. Astuti: Q1. Apakah setelah  terurai di tanah selama 73 hari ada dampak positif atau negatif yang ditimbulkan?, dan bagaimanakah cara pembuatan yang lebih sederhana agar bisa ditirukan oleh siswa sekolah menengah/ perguruan tinggi di bidang kependidikan?. A1. Dampak yang ditimbulkan masih belum ada. Setahu saya ada peneliti yang melaporkan bahwa hasil biodegradasi bisa jadi kompos. Pembuatan yang sederhana dengan menggunakan metode solution casting. Bahan disiapkan seperti pati, air, gliserol. Kemudian dicampurkan dalam satu wadah dan dipanaskan. Setelah itu dicetak ke dalam cetakan kaca.
  8. Filemon: Q. Apakah dalam pembuatan bioplastik dapat  menggunakan bahan lain, contohnya dari kulit buah-buahan?. A. Sangat bisa. Intinya bioplastik tersebut mengandung amilosa, selulosa, atau biopolimer lainnya. Seperti halnya dengan kulit buah buahan. Dalam kulit tersebut mengandung unsur selulosa. Selulosa ini bisa diproses dan diturunkan menjadi bioplastik, contohnya dengan selulosa asetat.
  9. Ellisa: Q. Untuk bahan pembuatan bioplastik sudah dipaparkan beberapa contohnya. Saya kebetulan sempat membaca artikel dengan judul “Getah Bunga Liar itu Kaya Bahan Plastik dan Karet”, dikatakan bahwa Bidgestone dan Ford berhasil mengolah getah bunga dandelion sebagai pengganti karet alami. Apakah getah dapat dibuat menjadi bioplastik?, dan apakah penggunaan bahan penguat plastik gelatin efektif?. A. Getah itu termasuk dalam kategori elastomer, jadi tidak bisa getah dijadikan bioplastik. Akan tetapi, getah tersebut bisa dicampurkan ke dalam campuran pati bioplastik. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan sifat antibakteri dari bioplastik tersebut.
  10. Anonim: Q. Saya pernah membaca pembuatan plastik seperti sekarang ini karena dulu merupakan solusi untuk meminimalisir penggunaan pohon yang digunakan untuk pembungkus, sehingga dikhawatirkan punah, maka dibuat plastk agar dapat digunakan berulang, namun perilaku manusia yang selalu ingin praktis menjadikan plastik sekali pakai yang menyebabkan sampah plastik menjadi keresahan seperti saat ini. Jika kita kembali menggunakan bioplastik, bagaimana upaya menjaga keanekaragaman hayati tersebut dari kepunahan ?. A. Sumber bahan bioplastik sangat banyak terutama dari alam Indonesia. Tidak harus dari pati. Contohnya PLA, yaitu dari fermentasi asam laktat dari sisa-sisa makanan. Adapun membuat bioplastik dari bonggol jagung, pelepah pisang dan lainnya.

  11. Anonim: Q. Menurut pandangan Kak Asofri, bagaimana masa depan bio-based material di Indonesia?, akankah menjadi trend sebagaimana konsep Internet of Things yang sekarang mulai booming?. A. Indonesia merupakan negara yang akan kaya dengan kearifan lokal bidang pertanian. Hal tersebut merupakan keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang luar negeri. Jadi, saya rasa bio-based material di Indonesia akan menjadi trend karena dari bahan alam menjadi produk luar biasa. Misalnya, produk selulosa dari kayu yang mungkin dijadikan pelindung layar HP.Bio-based material di Indonesia sangat banyak sumbernya, dan bisa jadi kita akan menjadi pelopor dunia. Kalau masalah teknologi kita sudah ketinggalan jauh dengan negara maju, yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan kearifan lokal menjadi suatu produk yang belum ada di luar negeri.
  12. Sayyidah: Q. Bagaimana prediksi Bapak untuk masalah semakin menumpuknya sampah plastik di Indonesia ini, karena untuk tahun 2019 ini saja masalah sampah plastik kian memuncak. Banyak yang dirugikan, utamanya lingkungan kita karena ulah manusia pada sampah plastik tersebut. Dan bagaimana cara mengatasi sampah plastik di Indonesia?, kemudian adakah biodegradasi sampah plastik yang mudah dan sederhana yang semua orang bisa melakukannya (selain organisme mikrobiologi)?.
    A. Sekarang yang dilakukan oleh beberapa instansi dan pemerintah dalam negeri adalah sektor pengolahan sampah plastik. Umumnya digunakan land fill dan insenerasi. Tapi hal itu juga sudah mulai tidak bisa digunakan, karena sampah plastik yang sangat pesat penambahannya.Inovasi yang saat ini dilakukan adalah dengan mikroorganisme, seperti yang dilakukan oleh peneliti Swiss di Surabaya, mereka menggunakan mikroba pemakan plastik. Hasil mikroba yang memakan plastik tersebut bisa jadi beberapa produk yaitu ulat bulu, kompos, dan lainnya.Saran saya, mulai dari sekarang Pemerintah harus membuat regulasi tentang penggunaan plastik sintetis. Kita beralih dari plastik sintetis menjadi plastik yang biodegradable. Plastik sintetis yang menjadi sampah biarlah diolah menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah seperti yang dilakukan oleh peneliti BPPT Indonesia.
  13. Ricky Jenihansen: Q. Mengenai karakterisasi material bioplastik hasil polimerisasi menggunakan instrumen apa saja dan bagaimana?. A. Pada dasarnya kita buat bioplastik untuk beberapa sifat, yaitu menginginkan sifat mekanis yang baik, tahan terhadap panas, dan tahan terhadap kelembaban. Jadi indikator pengujian bioplastik ada beberapa antara lain:  a). Ketebalan film bioplastik; b). Uji tarik; c). Morfologi setelah diuji tarik (dengan Scanning Electron Microscope) ; d). XRD untuk mengetahui kriatalinitas; e). FTIR untuk gugus fungsi; f). TGA/ DSC untuk ketahanan termal atau panas; g). Water Vapor Permeability untuk menguji ketahanan terhadap gas atau udara yang ingat berinteraksi dengan bioplastik, dan lainnya.
  14. Anonim: Q1. Dalam pembuatan bioplastik digunakan bahan penguat yang salah satunya berasal dari serat tumbuhan, tumbuhan seperti apa yang dimaksud?. Lalu kenapa serat tumbuhan dapat memperkuat sifat mekanis bioplastik?. A1. Fungsi serat dalam matriks bioplastik adalah untuk memperkuat struktur bioplastik itu sendiri. Ibarat tulang dan daging, serat tanaman itu sebagai tulang dan pati sebagai dagingnya. Artinya, jikalau tanpa tulang maka manusia tidak akan bisa bergerak hanya dagingnya saja. Begitu pula dengan bioplastik pati, kehadiran serat alam akan memperkuat struktur bioplastik tersebut.  | Q2. Pada bagian pembuatan plastik yang ke dua menggunakan campuran bahan polimer alam yang sudah tergelatinasi. Campuran bahan polimer alam apa yang dimaksud?, dan kenapa yang sudah tergelatinasi?. A2. Karena pada proses gelatinisasi, pati akan mengalami masa transisi antara semikristalin ke kristalin. Artinya, ikatan antar unsur pati pada waktu tergelatinisasi lebih longgar dan mudah dimasuki daripada yang sudah berbentuk pati bubuk. Itulah sebabnya kenapa campuran dimasukkan pada waktu gelatinisasi  | Q3. Saya pernah baca pembuatan bioplastik menggunakan plasticizer. Apa itu plasticizer? Terbuat dari? Apa dampaknya bagi lingkungan?. A3. Fungsi plasticizer adalah untuk meningkatkan elastisitas dari bioplastik tersebut. Artinya, sebelum ditambahkan plasticizer, bioplastik tersebut sangat kaku. Akan tetapi ketika ditambahkan plasticizer, bioplastik menjadi fleksibel dan lebih mudah ditarik ke kanan dan ke kiri. Hal tersebut diindikasikan karena fungsi plasticizer sebagai agen mobilisasi rantai polimer bioplastik, sehingga bioplastik lebih mudah bergerak dan fleksibel. Plasticizer bermacam-macam, seperti gliserol, sorbitol, gula dll. Selama bahan plasticizer terbuat dari alam itu aman bagi lingkungan.

Bagaimana Jika Proyek Energiewende Jerman Dialihkan Saja Untuk Energi Nuklir?

Bagaimana Jika Proyek Energiewende Jerman Dialihkan Saja Untuk Energi Nuklir?

Ancaman perubahan iklim menjadi salah satu isu lingkungan terkuat pada abad 21. Emisi CO2 dari aktivitas manusia memicu pemanasan global, yang kemudian akan berimbas pada perubahan iklim. Dengan laju emisi CO2 saat ini, temperatur permukaan bumi dapat naik hingga 3°C pada akhir abad 21. Dampaknya adalah bencana iklim; cuaca ekstrem makin merajalela, kekeringan, kebakaran hutan, penyebaran penyakit, hingga krisis pangan [1-3].

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merekomendasikan untuk mengerem laju kenaikan temperatur permukaan bumi dibawah 2°C, walau Hansen et al menganggap pembatasan itu masih kurang memadai [4]. Namun, berapapun tergetnya, untuk mencapai target tersebut, emisi CO2 harus direduksi dalam jumlah signifikan. Energi fosil, sumber utama emisi CO2, harus direduksi konsumsinya dan diganti dengan energi bersih. Itulah yang sedang dilakukan oleh sebagian negara, termasuk Jerman.

Namun, walau lembaga-lembaga seperti IPCC merekomendasikan energi nuklir sebagai bauran energi bersih untuk reduksi karbon, Jerman memilih untuk phase out energi nuklir mereka. Jerman berencana untuk menutup PLTN terakhir mereka pada 2022. Hal ini merupakan bagian dari program Energiewende. Program ini berencana untuk mencapai bauran 80% energi terbarukan pada 2040 tanpa menggunakan energi nuklir sama sekali [5].

Baca juga: Bagaimana Jika Investasi Energi Terbarukan Dialihkan ke Energi Nuklir?

Apakah Jerman berhasil? Sayangnya tidak. Walaupun Jerman akan menghabiskan hingga USD 580 milyar hingga 2025 untuk program Energiewende [6], mereka dipastikan gagal memenuhi target reduksi emisi CO2 pada tahun 2020, dengan margin cukup tinggi [7]. Selain itu, Jerman masih sangat tergantung dengan batubara, khususnya lignite yang merupakan bentuk batubara paling boros dan paling kotor [8-9].

Gambar 1. Bauran energi Jerman (sumber: Environmental Progress)

Gambar 2. Kegagalan Jerman mencapai target reduksi emisi pada 2020

Memang aneh. Alih-alih menutup PLTU batubara terlebih dahulu, justru PLTN yang pertama-tama ditutup oleh Jerman, dengan dalih reduksi emisi CO2. Padahal energi nuklir hanya melepaskan emisi CO2 sebesar 12 g/kWh sementara batubara sebesar 820-1100 g/kWh [10].

Gambar 3. Sumber pembangkitan listrik Jerman 2018 (sumber: Fraunhofer ISE)

Ah, andai saja Jerman tidak anti nuklir. Mungkin mereka akan lebih sukses dalam mereduksi emisi CO2. Tapi, benarkah?

Mari kita buktikan. Mari kita asumsikan bahwa dana yang akan dihabiskan oleh Jerman untuk Energiewende dialihkan seluruhnya untuk energi nuklir alih-alih energi terbarukan.

Sulit untuk memperkirakan berapa biaya membangun PLTN di Jerman. Mengingat, PLTN paling muda di Jerman mulai beroperasi tahun 1989, 30 tahun yang lalu [11]. Karena itu, diasumsikan bahwa biaya pembangunan PLTN di Jerman setara dengan Amerika Serikat. US EIA (Energy Information Administration) mengestimasikan overnight cost PLTN Amerika Serikat sebesar USD 5.224/kW, atau sekitar USD 5,2 milyar per GW [12].

Baca juga: Membongkar Mitos Negative Pricing Listrik Jerman

Energiewende akan menghabiskan dana USD 580 milyar hingga 2025. Kalau dana ini dialihkan untuk membangun PLTN dengan biaya di atas, maka akan didapatkan PLTN dengan daya total 111,03 GWe. Artinya, ada tambahan lebih dari 10 kali lipat kapasitas PLTN di Jerman saat ini yang sebesar 9,44 MWe [11].

Pada tahun 2018, berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy, Jerman memproduksi listrik sebesar 76,1 TWh dari PLTN [12]. Angka ini setara dengan faktor kapasitas (capacity factor/CF) sebesar 91,92%. Namun, Fraunhofer ISE mengajukan data berbeda, yakni hanya 72,1 TWh [8]. Di sini, angka dari BP Statistical Review of World Energy yang digunakan, untuk menghindari bias politis.

Menggunakan faktor kapasitas 91,92%, didapatkan bahwa PLTN baru yang dibangun dari dana Energiewende akan menghasilkan listrik sebesar 894,65 TWh. Itu belum termasuk dari PLTN yang telah ada sebesar 76,1 TWh. Sehingga, total energi nuklir menghasilkan 970,75 TWh.

Angka ini lebih besar dari pembangkitan listrik Jerman secara keseluruhan pada tahun 2018 sebesar 648,7 TWh, atau lebih tinggi 50%. Menilik tren konsumsi listrik Jerman selama 10 tahun terakhir, kecil kemungkinan konsumsi listrik Jerman akan naik drastis pada 2025. Jadi, angka ini masih sangat berlebih.

Gambar 4. Pembangkitan listrik Jerman 2008-2018 dalam terawatt-jam (sumber: BP Statistical Review of World Energy)

Dengan demikian, dana yang diinvestasikan ke Energiewende dapat digunakan secara efektif dan efisien seandainya Jerman bersikap lebih “cerdas” untuk mengalihkannya ke nuklir. Secara praktis, energi nuklir dapat menggantikan seluruh energi fosil dan energi terbarukan sekaligus dalam pembangkitan listrik Jerman, itupun masih surplus 50%.

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Hal ini berarti emisi CO2 Jerman dari sektor kelistrikan dapat dipangkas habis-habisan. Mari kita buktikan.

Pertama, hitung berapa emisi CO2 dari sektor kelistrikan Jerman. BP Statistical Review of World Energy hanya menyediakan data emisi karbon dari seluruh sektor energi, bukan hanya kelistrikan. Sehingga, emisi dari sektor kelistrikan perlu dihitung secara manual. Untuk emisi dari energi fosil, data pembangkitan energi diambil dari BP Statistical Review of World Energy dan Fraunhofer ISE, yang terakhir untuk pembagian antara lignite dan hard coal.

Faktor emisi untuk energi fosil dan biomassa diambil dari IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories [13], sementara untuk energi nuklir dan terbarukan diambil dari IPCC Annex III: Technology-specific cost and performance parameters dari dokumen Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change [10]. Pembagian emisi biomassa diambil dari Bioenergy in Germany: Facts and Figures 2019 [14].

Hasilnya adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Emisi CO2 dari energi fosil dan biomassa

Tabel 2. Emisi CO2 dari energi nuklir dan terbarukan

Tabel 3. Total emisi CO2 kelistrikan Jerman 2018

Total, sektor kelistrikan Jerman melepaskan 127 juta ton CO2 ke atmosfer pada tahun 2018, sekitar 17,53% dari emisi CO2 total. Menggunakan standar emisi nuklir dari IPCC, didapatkan bahwa 970,75 TWh listrik energi nuklir melepaskan 11,65 juta ton CO2 ke atmosfer. Dengan demikian, peralihan investasi Energiewende ke energi nuklir dapat mereduksi emisi CO2 hingga 90,84% dari level 2018!

Perolehan ini dengan asumsi biaya pembangunan PLTN setara Amerika Serikat, yang notabene cukup mahal. Pembangunan secara konsisten dan berkesinambungan, sebagaimana pengalaman Korea Selatan, akan menurunkan biaya secara cukup signifikan [15-16]. Artinya, dapat dibangkitkan lebih banyak lagi energi dari nuklir dengan dana yang sama atau lebih sedikit dana yang dibutuhkan untuk mengganti kapasitas pembangkitan energi Jerman saat ini.

Ah, andai saja Jerman tidak anti nuklir… Andai saja mereka tidak terkooptasi ideologi Partai Hijau… Jerman sudah pasti jadi panutan dunia dalam usaha reduksi emisi CO2. Bukannya buang-buang uang untuk usaha yang diprediksikan gagal memenuhi target.

Referensi:

  1. Andrew E. Dessler, 2012. Introduction to Modern Climate Change. New York: Cambridge University Press.
  2. Hans Joachim Schellnhuber (editor in chief), 2006. Avoiding Dangerous Climate Change. Cambridge: Cambridge University Press.
  3. George Erickson. 2013. Unintended Consequences: The Lie That Killed Millions and Accelerated Climate Change. Minnesota: Tundra Cub.
  4. James Hansen et al. Ice melt, sea level rise and superstorms: evidence from paleoclimate data, climate modeling, and modern observations that 2°C global warming could be dangerous. Atmospheric Chemistry and Physics, 16 (2016) 3761-3812.
  5. Germany’s Energiewende — The Easy Guide. Available online at https://www.cleanenergywire.org/easyguide
  6. William Wilkes, Hayley Warren, and Brian Parkin. Germany’s Failed Climate Goals: A Wake-Up Call for Governments Everywhere. Available online at https://www.bloomberg.com/graphics/2018-germany-emissions/
  7. Frank Dohmen et al. German Failure on the Road to a Renewable Future. Available online at https://www.spiegel.de/international/germany/german-failure-on-the-road-to-a-renewable-future-a-1266586.html
  8. Bruno Burger. Net Public Electricity Generation in Germany in 2018. Freiburg: Fraunhofer ISE.
  9. Environmental Progress. Germany. Available online at http://environmentalprogress.org/germany
  10. Schlomer (editor). 2014. Annex III: Technology-specific cost and performance parameters. In: Climate Change 2014: Mitigation of Climate Change. Contribution of Working Group III to the Fifth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge: Cambridge University Press.
  11. World Nuclear Association. Nuclear Power in Germany. Available online at https://www.world-nuclear.org/information-library/country-profiles/countries-g-n/germany.aspx
  12. US EIA. 2019. Cost and Performance Characteristics of New Generating Technologies, Annual Energy Outlook 2019.
  13. 2006. Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. Hayama: Institute for Global Environmental Strategies.
  14. 2019. Bioenergy in Germany, Facts and Figures 2019. Gulzow-Pruzen: FNR.
  15. Peter A. Lang. 2017. Nuclear Power Learning and Deployment Rates; Disruption and Global Benefit Forgone. Energies 2017, 10, 2169.
  16. Michel Berthelemy, Lina Escobar Rangel. Nuclear reactors’ construction costs: The role of lead-time, standardization and technological progress. Energy Policy 82 (2015) 118-130.