Dalam dunia bioteknologi, para ilmuwan terus mencari cara untuk meningkatkan efisiensi produksi protein, terutama dalam industri farmasi, kimia, dan biofuel. Sebuah penelitian terbaru dari Pratt School of Engineering, Duke University, menunjukkan pendekatan sintetik baru yang dapat mengubah bakteri menjadi “pabrik protein” yang lebih efisien. Dengan menggunakan teknik ini, bakteri dapat menghasilkan lebih banyak protein tertentu, termasuk protein yang biasanya bersifat merusak seperti antibiotik.
Pendekatan ini bekerja dengan mengarahkan bakteri untuk memproduksi protein sintetik yang tidak teratur dan kemudian membentuk struktur yang disebut kondensat biologis. Struktur ini mampu menjebak RNA pembawa instruksi protein dan mempercepat produksi protein yang diinginkan. Metode ini memberikan cara baru bagi industri untuk meningkatkan hasil produksi biologis dengan lebih cepat dan efisien.
Apa Itu Kondensat Biologis?
Kondensat biologis adalah struktur yang terbentuk secara alami dalam sel dan berfungsi untuk mengatur berbagai proses biologis. Struktur ini dapat mengumpulkan atau memisahkan biomolekul tertentu, sehingga mengontrol aktivitas mereka sesuai dengan kebutuhan sel. Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2009, kondensat biologis menjadi subjek penelitian intensif di bidang biologi sintetik dan rekayasa biomedis.
Menurut Daniel Shapiro, seorang mahasiswa PhD di laboratorium Ashutosh Chilkoti di Duke University, kondensat biologis memungkinkan sel untuk mengontrol ekspresi gen dengan cepat. Tidak seperti regulasi genetik pada tingkat DNA yang membutuhkan waktu berjam-jam hingga berhari-hari, regulasi pada tingkat protein dapat terjadi dalam hitungan menit. Hal ini sangat penting dalam adaptasi sel terhadap kondisi lingkungan yang berubah dengan cepat.
Namun, kondensat biologis alami sangat kompleks dan sulit untuk direkayasa, sehingga para peneliti di laboratorium Chilkoti berusaha mengembangkan versi sintetiknya yang lebih terkontrol dan dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, para ilmuwan dapat mendesain struktur kondensat biologis yang lebih efisien untuk berbagai aplikasi.
Bagaimana Teknik Ini Bekerja?
Laboratorium Chilkoti mengkhususkan diri dalam penelitian polipeptida seperti elastin (ELP), yaitu protein panjang dan tidak teratur yang dapat menggumpal atau larut berdasarkan perubahan kondisi lingkungan seperti suhu atau keasaman. Pada tahun 2023, laboratorium ini menjadi yang pertama membuktikan bahwa bakteri dapat diprogram untuk menghasilkan protein sintetik ini, yang kemudian membentuk kondensat yang mempengaruhi aktivitas biologis dalam sel.
Dalam penelitian terbaru ini, para ilmuwan mengembangkan metode yang lebih canggih dengan menginstruksikan sel bakteri untuk memproduksi ELP yang dapat berikatan dengan urutan RNA tertentu. RNA ini mengandung cetak biru untuk membangun protein dari DNA. Dengan menarik RNA ini ke dalam kondensat yang lebih padat, para peneliti percaya bahwa hal ini membuatnya lebih mudah diakses oleh mesin pembuat protein dalam sel.
Menurut Shapiro, teknik ini tidak menyembunyikan RNA dari mesin seluler, melainkan mengumpulkannya dalam konsentrasi tinggi dalam “wadah reaksi” yang meningkatkan laju produksi protein. Ini merupakan pencapaian penting karena, meskipun sel dapat diekspresikan untuk menghasilkan lebih banyak RNA, ada sedikit cara untuk meningkatkan laju terjemahan RNA menjadi protein. Dengan teknik ini, produksi protein dapat ditingkatkan secara signifikan.
Aplikasi dalam Industri
Pendekatan ini berpotensi membawa manfaat besar dalam berbagai industri yang bergantung pada produksi protein, seperti:
- Industri Farmasi – Banyak terapi biologis seperti antibodi, vaksin, dan protein imun dibuat dalam sel mamalia karena mereka memerlukan mesin kimia yang tidak dimiliki oleh bakteri. Dengan menggunakan kondensat sintetik ini, ada kemungkinan untuk menjebak komponen yang diperlukan dalam satu tempat sehingga bakteri dapat memproduksi protein ini secara lebih efisien.
- Produksi Antibiotik dan Protein Antimikroba – Salah satu tantangan dalam produksi antibiotik menggunakan bakteri adalah bahwa protein yang dihasilkan sering kali berbahaya bagi bakteri itu sendiri. Dengan menggunakan teknik kondensat ini, protein yang dihasilkan dapat disekuestrasi (dipisahkan) sehingga tidak langsung membahayakan bakteri inangnya, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi.
- Industri Biofuel dan Kimia – Kondensat biologis juga dapat digunakan untuk meningkatkan produksi enzim atau molekul bioaktif tertentu yang digunakan dalam industri biofuel dan bahan kimia. Dengan metode ini, produksi biofuel bisa lebih murah dan ramah lingkungan.
Masa Depan Penelitian Ini
Saat ini, para peneliti masih terus mengembangkan teknologi ini. Salah satu temuan menarik mereka adalah bahwa kekentalan (viskositas) kondensat berpengaruh terhadap jumlah protein yang diproduksi. Kondensat yang lebih kental cenderung menghasilkan lebih sedikit protein, memberikan para ilmuwan kendali yang lebih baik terhadap tingkat produksi protein yang dihasilkan.
Shapiro dan timnya juga sedang menyelidiki bagaimana struktur mRNA yang menjadi target mempengaruhi laju produksinya. Dengan pemahaman yang lebih baik, mereka dapat mengoptimalkan desain kondensat untuk aplikasi yang lebih luas.

Dampak Jangka Panjang
Rekayasa kondensat biologis ini tidak hanya akan mempengaruhi industri, tetapi juga bidang penelitian ilmiah secara keseluruhan. Dengan kemampuan untuk mengontrol produksi protein dalam skala lebih besar dan lebih cepat, penelitian tentang berbagai penyakit dan terapi baru dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Selain itu, penggunaan metode ini dalam industri biofuel bisa membantu menciptakan solusi energi terbarukan yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Jika berhasil diterapkan dalam skala besar, teknologi ini berpotensi mengurangi ketergantungan manusia pada sumber energi fosil yang tidak terbarukan.
Kesimpulan
Penelitian ini membuka jalan bagi inovasi dalam rekayasa biologi sintetik dan produksi protein. Dengan menggunakan kondensat biologis sintetik, para ilmuwan dapat meningkatkan efisiensi produksi protein dalam berbagai industri, dari farmasi hingga biofuel. Selain itu, teknik ini menawarkan cara baru untuk mengatasi hambatan produksi protein yang sebelumnya sulit diatasi, seperti produksi antibiotik yang merusak bakteri penghasilnya sendiri.
Didukung oleh pendanaan dari Air Force Office of Scientific Research dan National Institutes of Health, penelitian ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang biologi sel, tetapi juga memiliki potensi untuk mengubah industri berbasis bioteknologi di masa depan. Dengan pemanfaatan teknologi ini, kita bisa menciptakan produk biologis yang lebih efisien, murah, dan ramah lingkungan.
Referensi:
[1] https://pratt.duke.edu/news/condensates-producing-proteins/?cn-reloaded=1, diakses pada 19 Februari 2025
[2] Daniel Mark Shapiro, Sonal Deshpande, Seyed Ali Eghtesadi, Miranda Zhong, Cassio Mendes Fontes, David Fiflis, Dahlia Rohm, Junseon Min, Taranpreet Kaur, Joanna Peng, Max Ney, Jonathan Su, Yifan Dai, Aravind Asokan, Charles A. Gersbach, Ashutosh Chilkoti. Synthetic biomolecular condensates enhance translation from a target mRNA in living cells. Nature Chemistry, 2025; DOI: 10.1038/s41557-024-01706-7

