Mengungkap Rahasia Evolusi: Bagaimana Bintang Laut Mendapatkan Lengannya

Fosil berusia 500 juta tahun yang ditemukan di pegunungan Maroko baru-baru ini memberikan wawasan penting tentang evolusi bintang laut dan kerabatnya. Penemuan ini tidak hanya menjawab pertanyaan tentang bentuk tubuh mereka, tetapi juga membuka pintu untuk memahami perjalanan evolusi yang kompleks dari makhluk laut ini.

Bintang laut tidak biasa di dunia hewan karena memiliki simetri lima kali lipat

Bintang laut adalah salah satu makhluk laut yang paling mudah dikenali di dunia. Dengan bentuk tubuh yang khas, mereka menjadi simbol keindahan bawah laut. Namun, di balik penampilan sederhana ini, terdapat sebuah misteri evolusi yang telah lama membingungkan para ilmuwan: bagaimana bintang laut mengembangkan bentuk tubuh yang begitu unik?

Fosil berusia 500 juta tahun yang ditemukan di pegunungan Maroko baru-baru ini memberikan wawasan penting tentang evolusi bintang laut dan kerabatnya. Penemuan ini tidak hanya menjawab pertanyaan tentang bentuk tubuh mereka, tetapi juga membuka pintu untuk memahami perjalanan evolusi yang kompleks dari makhluk laut ini.

Simetri Unik Bintang Laut

Sebagian besar hewan, termasuk manusia, memiliki simetri bilateral, di mana sisi kiri dan kanan tubuh relatif serupa. Namun, bintang laut memiliki simetri pentaradial, dengan lima lengan yang tersusun melingkar di sekitar pusat tubuhnya. Simetri ini menjadikan bintang laut dan kerabatnya sebagai pengecualian dalam dunia hewan.

Dengan sekitar 2,13 juta spesies hewan yang telah dideskripsikan di Bumi, 99% di antaranya memiliki simetri bilateral. Hal ini menempatkan echinodermata—kelompok hewan yang mencakup bintang laut, teripang, lili laut, bulu babi, dan bintang rapuh—sebagai kelompok yang sangat unik.

Penemuan Fosil Atlascystis acantha

Fosil yang ditemukan di Maroko telah diidentifikasi sebagai spesies baru bernama Atlascystis acantha. Fosil ini menunjukkan simetri bilateral seperti manusia, tetapi merupakan kerabat purba dari semua bintang laut yang hidup saat ini. Spesies ini termasuk dalam kelompok echinodermata dan memberikan wawasan penting tentang bagaimana bentuk tubuh bintang laut modern berevolusi dari nenek moyang bilateral mereka.

Dr. Imran Rahman, seorang peneliti yang fokus pada evolusi awal echinodermata, memimpin studi tentang fosil ini. Dalam penelitiannya, ia menemukan bukti karakteristik yang menghubungkan fosil Atlascystis dengan semua echinodermata lainnya, baik yang punah maupun yang masih hidup.

“Kami menemukan bukti jelas tentang karakteristik yang menghubungkan fosil ini dengan semua echinodermata lainnya, menyelesaikan perdebatan lama tentang sejarah evolusi awal mereka,” jelas Imran.

Analisis evolusi menunjukkan bahwa Atlascystis berada dekat dengan dasar pohon kehidupan echinodermata. Melalui catatan fosil, para peneliti dapat melacak transisi dari simetri bilateral ke asimetri, kemudian ke simetri tiga lipat, sebelum akhirnya mencapai simetri pentaradial yang menjadi ciri khas echinodermata modern.

Perjalanan Evolusi yang Luar Biasa

Bintang laut pertama kali muncul dalam catatan fosil sekitar 450 juta tahun yang lalu. Namun, nenek moyang mereka jauh lebih tua lagi, dengan fosil Atlascystis berasal dari sekitar 500 juta tahun lalu selama periode Kambrium. Pada masa itu, Atlascystis hidup di dasar laut berlumpur yang tenang, lingkungan yang memungkinkan pelestarian fosil dalam detail yang luar biasa.

Penelitian terhadap fosil ini menunjukkan bahwa Atlascystis kemungkinan mengalami metamorfosis yang jauh lebih sederhana dibandingkan echinodermata modern. Sebagai larva, echinodermata memiliki simetri bilateral sebelum berubah menjadi bentuk dewasa dengan simetri pentaradial. Namun, Atlascystis tampaknya mempertahankan sumbu tubuh larva ke bentuk dewasa tanpa reorganisasi besar-besaran seperti yang terjadi pada echinodermata modern.

“Alih-alih sepenuhnya mengatur ulang sumbu tubuh selama perkembangan, mereka mungkin mempertahankan sumbu tubuh larva ke bentuk dewasa,” kata Imran. “Ini berarti mereka tidak perlu memadatkan organ dalam, membentuk bukaan baru, atau memutar seluruh tubuh seperti yang kita lihat pada echinodermata modern.”

Mengapa Lima Lengan?

Penelitian ini juga mengungkap bagaimana bintang laut mengembangkan lima lengan mereka melalui struktur yang disebut ambulakra. Awalnya, nenek moyang echinodermata memiliki dua ambulakra. Kemudian terjadi pengurangan menjadi satu ambulakra sebelum terjadi peristiwa duplikasi yang menghasilkan tiga ambulakra dan akhirnya lima ambulakra seperti pada bintang laut modern.

Namun, meskipun misteri “bagaimana” bintang laut mendapatkan lima lengan telah terpecahkan, pertanyaan “mengapa” masih belum terjawab. Mengapa bintang laut dan kerabatnya memilih simetri pentaradial daripada bentuk lain?

“Ini adalah pertanyaan lain yang membuat saya terus berpikir,” ungkap Imran. “Tidak ada hewan lain yang hidup hari ini memiliki jenis simetri seperti itu, jadi kami belum benar-benar memiliki jawaban yang baik untuk pertanyaan tersebut.”

Signifikansi Penemuan Ini

Penemuan fosil Atlascystis acantha tidak hanya menjelaskan evolusi bintang laut tetapi juga memberikan wawasan penting tentang bagaimana bentuk tubuh unik dapat muncul melalui proses evolusi bertahap. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan memahami bagaimana transisi dari simetri bilateral ke pentaradial terjadi dalam kelompok hewan ini.

Dengan sekitar 7.600 spesies echinodermata yang hidup saat ini di seluruh lautan dunia, penelitian ini membantu kita memahami bagaimana keragaman luar biasa makhluk laut ini terbentuk selama ratusan juta tahun evolusi.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya fosil sebagai jendela ke masa lalu kehidupan di Bumi. Fosil Atlascystis memberikan bukti langsung tentang bagaimana perubahan kecil dalam struktur tubuh dapat menghasilkan bentuk baru yang unik dan bertahan hingga hari ini.

Kesimpulan

Evolusi adalah proses kompleks yang terus memberikan kejutan kepada kita. Penemuan fosil Atlascystis acantha adalah langkah besar dalam memahami perjalanan evolusi bintang laut dan kerabatnya. Meskipun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab—terutama mengapa mereka memilih simetri pentaradial—penelitian ini menunjukkan bahwa bahkan makhluk paling sederhana pun memiliki cerita evolusi yang luar biasa untuk diceritakan.

Dengan terus menggali fosil dan mempelajari sejarah kehidupan di Bumi, kita tidak hanya memahami masa lalu tetapi juga mendapatkan wawasan tentang keragaman hayati yang ada saat ini dan bagaimana kita dapat melindunginya untuk generasi mendatang.

Referensi:

  1. “Ancient fossil reveals how starfish got their shape.” Press release dari Natural History Museum, London (25 Juni 2025). Menyajikan temuan fosil Atlascystis acantha, menjelaskan transisi dari simetri bilateral ke pentaradial melalui duplikasi ambulakra Natural History Museum.
  2. “500-million-year-old fossil reveals how starfish got their shape.” Phys.org (26 Juni 2025). Menyajikan ringkasan ilmiah yang sejalan, menggarisbawahi penggunaan imaging 3D dan penempatan fosil pada dasar pohon evolusi echinodermata Phys.org.
  3. “500-million-year-old fossils reveal how the starfish got its arms.” Natural History Museum Discover — Josh Davis (26 Juni 2025). Menjelaskan detail peralihan simetri tubuh dan keberadaan sekitar 7.600 spesies echinodermata hidup Natural History Museum.
  4. “Discover How Starfish Gained Five Arms After Evolving From 500-Million-Year-Old Ancestor.” Discover Magazine — Jack Knudson (baru-baru ini). Memberikan uraian evolusi ambulakra dari dua ke lima lengan dan menyebutkan bahwa fosil mempertahankan simetri bilateral sepanjang hidupnya Discover Magazine.
  5. Artikel ilmiah: “A new Cambrian stem-group echinoderm reveals the evolution of the anteroposterior axis.” Current Biology (2025). Sumber primer yang mendeskripsikan secara rinci karakter morfologi Atlascystis acantha dan analisis posisi filogenetiknya ScienceDirect.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top