Mengenal Isoflavon, Zat Antioksidan pada Tempe

blank

Siapa yang nggak kenal tempe? Salah satu makanan tradisional dari Indonesia ini, selain harganya ekonomis, juga dapat dibuat menjadi berbagai olahan makanan. Beberapa olahan tempe yang tentunya tidak asing lagi bagi kita adalah tempe goreng, kripik tempe, tempe oreg, sayur tempe, tempe mendoan, dan lain-lain.

Tempe di Indonesia

Umumnya, masyarakat Indonesia mengonsumsi tempe sebagai makanan pendamping nasi. Familiarnya tempe di kalangan Indonesia ini tidak menutup kemungkinan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mengetahui bahwa tempe memiliki segudang manfaat untuk tubuh manusia. Kebanyakan dari masyarakat Indonesia hanya menganggap tempe sebagai cemilan saja. Menurut beberapa isu yang beredar di masyarakat, pernah terjadi kelangkaan keledai lokal. Hal ini menyebabkan produksi tempe yang semakin sedikit sedangkan harga terus melambung tinggi sehingga menyebabkan beberapa pengrajin tempe terpaksa gulung tikar. Padahal, jika pengetahuan mengenai manfaat tempe ini sudah tersebar masif di kalangan masyarakat, para pengrajin tempe pasti akan terus menerus memproduksi tempe dan pembeli juga tidak ragu untuk membeli tempe–selain harganya ekonomis, tempe juga memiliki segudang manfaat.

Berdasarkan pengamatan penulis, kebanyakan orang jika ditanya, kandungan apa yang dimiliki oleh tempe? Sudah tentu jawabannya, protein. Dari zaman bangku sekolah, pun, jika ditanya, makanan apa yang mengandung protein? Salah satu dari jawabannya, tidak lain dan tidak bukan, tempe! Well, nggak salah, sih…. tetapi, setelah penulis mengkaji beberapa jurnal dan sumber yang kredibel, kandungan tempe bukan hanya protein, lho! Apa saja sih kandungan yang terdapat dalam tempe? Simak terus artikel ini sampai habis, ya!

Kandungan Tempe Selain Protein

Banyak kandungan tempe yang sangat bermanfaat untuk tubuh tetapi belum diketahui banyak orang. Salah satunya, isoflavon, zat antioksidan yang akan kita kenali lewat artikel ini. Namun, sebelum membahas lebih lanjut mengenai isoflavon sebagai zat antioksidan, penulis akan memamaparkan kandungan tempe selain protein yang didapat dari beberapa sumber:

Berdasarkan informasi gizi dari food data central, kandungan tempe per 100 gram berat kering dapat dilihat dari gambar berikut:

blank
Gambar 1
Kandungan Gizi pada Tempe

Berdasarkan informasi gizi dari https://www.nutritionvalue.org/Tempeh_nutritional_value.html, kandungan tempe per 100 gram berat kering dapat kita lihat dari gambar di bawah ini:

blank
Gambar 2
Kandungan Gizi pada Tempe
blank
Gambar 3
Analisis Kandungan Protein pada Tempe

Dapat kita lihat dari gambar 1 dan gambar 2, kandungan tempe bukan hanya protein saja. Pada gambar 2, protein memiliki jumlah 40% per 100 gram tempe. Nggak heran, kalau tempe memang dikenal sebagai makanan yang memiliki kandungan protein tinggi. Pada gambar 3, telah dipaparkan mengenai analisis kandungan protein dan asam amino dalam tempe. Asam amino terdiri dari dua jenis, yaitu asam amino esensial (yang tidak bisa disintesis oleh tubuh dan harus didapatkan dari makanan) dan asam amino non esensial (dapat disintesis oleh tubuh). Dikutip dari Belitz et al., (2009), beberapa jenis asam amino esensial di antaranya: Valine, leucine, isoleucine, phenylalanine, tryptophan, methionine, threonine, histidine (untuk bayi), lysine, dan arginine (“semi esensial”). Jika kita perhatikan, semua jenis asam amino esensial terdapat pada tabel analisis kandungan protein pada tempe. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan asam amino esensial kita telah terpenuhi hanya dengan mengonsumsi tempe. Selain itu, tempe merupakan produk kedelai yang memiliki kandungan isoflavon tertinggi, dimana dalam 1 gram protein kedelai mengandung 3,5 mg isoflavon (Winarsi, 20005).

blank

Metode pemasakan akan menurunkan kadar isoflavon tempe dibandingkan dengan tempe mentah. Tabel diatas menunjukkan beberapa metode pemasakan tempe, yaitu pengukusan (selama 10 menit), perebusan dan penggorengan. Terlihat bahwa isoflavon tempe kukus mengalami penurunan terkecil (13,3%) dibandingkan dengan metode pemasakan lain yaitu dengan menggoreng dan merebus (Utari, 2010).

Bagaimana Isoflavon Bekerja?

Radikal bebas merupakan molekul yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Banyak penyakit yang berhubungan dengan stres oksidatif yang disebabkan oleh berlebihnya radikal bebas. Penyakit-penyakit seperti hipertensi, aterosklerosis, dan penyakit-penyakit neurologis menunjukkan bahwa kuatnya aktivitas ROS (reactive oxygen species) yang terlibat pada proses patofisiologis. Tubuh manusia dapat melakukan pertahanan terhadap radikal bebas yang disebut dengan antioksidan. Antioksidan dapat menetralisir radikal bebas dengan cara memberikan satu buah elektron bebas yang akan menghentikan reaksi berantai dari radikal bebas (Agustina, dkk, 2018).

blank
Gambar 4
Ilustrasi sel yang mengalami tekanan oksidatif
blank
Gambar 5
Ilustrasi cara antioksidan bekerja terhadap radikal bebas

Tiga jenis isoflavon yang terdapat pada tempe dan berfungsi sebagai antioksidan yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Genistein [5,7-dihidroksi-3-(-4-hidroksifenil)-4H-1-benzopiran-4-on] merupakan kandungan yang paling banyak yang terdapat pada isoflavon dan makanan yang berbahan dasar kedelai (salah satunya; tempe). Beberapa studi epidemiologis mengindikasikan bahwa penderita kanker payudara dan kanker prostat di negara-negara Asia lebih rendah daripada negara-negara barat. Kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia yang menyebabkan pengidapnya meninggal. Genistein dapat menjadi obat kanker; karena keamanan penggunaannya dan efisiensi dari Genistein yang telah terbukti pada beberapa investigasi praklinis. Isoflavon ini dapat memengaruhi berbagai target molekuler dan memodulasi berbagai jalur pensinyalan dari radikal bebas sehingga dapat memengaruhi respon akhir dari sel kanker. Selain antioksidan, isoflavon juga berfungsi sebagai anti-inflamasi, antiangiogenik, proapoptosis, dan aktivitas antipoliferatif. (Tuli et al., 2019).

blank
Gambar 6
Struktur Kimia Isoflavon
blank
Gambar 7
Ilustrasi Potensi Antimetastatik Genistein pada Kanker

Aktivitas inflamasi sangat erat hubungannya dengan perkembangan sel kanker. Sel kanker mengekspresikan berbagai mediator inflamasi, seperti sitokin dan kemokin. Beberapa literatur menyarankan bahwa obat-obatan antikanker harus dapat berfungsi dalam mengobati respons inflamasi. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa genistein menekan respons inflamasi melalui penghambatan COX-2, c-Jun N-terminal kinase (JNK) terfosforilasi, protein kinase R-like ER kinase, dan pp 38 dan in vitro dan studi in vivo MCF-7 kanker payudara dan kelenjar payudara pada tikus. Baru-baru ini, peneliti melaporkan bahwa respons anti-inflamasi dan antikanker sebagai respon pengobatan genistein jangka panjang pada karsinoma hepatoseluler yang diinduksi dietilnitrosamin pada tikus. Dapat disimpulkan bahwa aplikasi klinis dari genistein sebagai agen anti-inflamasi dapat memblokade agen-agen inflamasi yang dapat membantu pembentukan kanker (Tuli et al., 2019).

Radikal bebas dapat diproduksi secara konstan selama sel mengalami tekanan oksidatif, dan radikal bebas tersebut sangat tinggi tingkat toksisitasnya dan dapat merusak integritas selular dan enzimatik. Genistein memiliki peranan penting pada daur ulang enzim yang dikenal sebagai konstituen antioksidan utama dalam tubuh. Genistein juga dapat menstimulasi ekspresi dari dismutasi dan katalase mangan superoksida, yang dapat mereduksi oksigen reaktif pada berbagai level secara signifikan. Dalam penelitian lain, peneliti mengungkapkan bahwa genistein dapat menghambat enzim yang terkait dengan kanker, dekarboksilase ornitin, dan sangat menekan pertumbuhan sel-sel kanker yang dihasilkan oleh sinar ultraviolet pada percobaan dengan menggunakan tikus sebagai model (Tuli et al., 2019).

Seperti yang telah didiskusikan di atas, dapat disimpulkan bahwa genistein memiliki potensi untuk melemahkan mediator inflamasi, memperbanyak enzim-enzim antioksidan yang dapat berguna untuk melawan kanker bagi penderita kanker dan mengurangi rasa sakit pada penderita kanker (Tuli et al., 2019).

Daftar Pustaka

  • Agustina, R. K., Dieny, F, F., Rustanti, N., Anjani, G., Afifah, D. N., “Antioxidant Activity and Soluble Protein Content of Tempeh Gembus Hydrolysate”, J. Med. Sci, Vol. 67, h. 1-7.
  • Belitz, H. D., Grosch W., Schieberle P., 2009, Food Chemistry 4th revised and extended Edition, German: Universität München.
  • Tuli, H. S., Tuorkey, M.J., Thakral, F., Katrin, S., Kumar, M., Sharma, A. K., Sharma, U., Jain, A., Aggarwal, V., and Bishayee, A., “Molecular Mechanisms of Action of Genistein in Cancer: Recent Advances”, Fronters in Pharmacology, doi: 10.3389/fphar.2019.01336.
  • Utari, D. M., Rimbawan, R., Riyadi, H., Muhilal, M., & Purwantyastuti, P. (2010). Pengaruh pengolahan kedelai menjadi tempe dan pemasakan tempe terhadap kadar isoflavon (Effects of soybean processing becoming tempeh and the cooking of tempeh on isoflavones level). Nutrition and Food Research33(2), 223501.
  • Winarsi, H. (2005). Isoflavon, Berbagai Sumber, Sifat dan Manfaatnya pada Penyakit Degeneratif. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
  • https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/390236/nutrients. Diakses pada 29 Oktober 2020 pukul 19.30 WIB.
  • https://www.nutritionvalue.org/Tempeh_nutritional_value.html. Diakses pada 29 Oktober 2020 pukul 20.15 WIB.
Alief Rizkania Illah

2 tanggapan pada “Mengenal Isoflavon, Zat Antioksidan pada Tempe”

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar