Forever Chemicals Bukan Lagi Selamanya: Sains Temukan Solusi Radikal

Sejak tahun 1940-an, manusia telah menggunakan bahan kimia buatan yang membuat hidup kita lebih mudah: panci antilengket, kemasan makanan tahan […]

Sejak tahun 1940-an, manusia telah menggunakan bahan kimia buatan yang membuat hidup kita lebih mudah: panci antilengket, kemasan makanan tahan minyak, semprotan anti air, hingga benang gigi. Bahan kimia ini dikenal sebagai PFAS (per- dan polifluoroalkil substances), atau sering dijuluki “forever chemicals” karena sangat sulit terurai di alam.

Masalahnya, PFAS justru menjadi mimpi buruk lingkungan dan kesehatan. Mereka bisa bertahan selama ribuan tahun di tanah, air, dan tubuh manusia. Studi menunjukkan bahwa hampir 98% orang Amerika memiliki jejak PFAS dalam darahnya. Zat ini dikaitkan dengan gangguan kesuburan, penyakit autoimun, kanker, hingga masalah perkembangan otak.

Namun kini, harapan baru muncul. Para ilmuwan telah menemukan cara menghancurkan hampir seluruh PFAS dengan bantuan cahaya matahari dan katalis khusus, mengubahnya menjadi fluorida yang aman dan bahkan bisa didaur ulang.

Baca juga artikel tentang: Kopi Panas vs Es Kopi: Perspektif Ilmiah tentang Kesehatan dari Suhu dan Senyawa Aktif

Apa Itu PFAS dan Kenapa Disebut “Forever Chemicals”?

PFAS adalah kelompok besar bahan kimia buatan,ada sekitar 15.000 jenis yang sudah diproduksi. Mereka diciptakan karena memiliki sifat luar biasa: tahan panas, tidak lengket, dan tidak larut air maupun minyak. Itulah mengapa PFAS ada di mana-mana:

  • Panci teflon yang tidak lengket
  • Baju atau sepatu anti air
  • Kemasan makanan cepat saji
  • Kosmetik dan semprotan rambut
  • Benang gigi dan produk kebersihan

Sayangnya, sifat “tahan segalanya” ini membuat PFAS hampir mustahil terurai secara alami. Begitu masuk ke lingkungan atau tubuh manusia, mereka bisa bertahan sangat lama, bahkan ratusan hingga ribuan tahun. Karena itu, mereka disebut bahan kimia abadi (forever chemicals).

Bahaya yang Mengintai

Awalnya PFAS dipuji sebagai “keajaiban kimia modern”. Tetapi dalam beberapa dekade terakhir, penelitian menunjukkan sisi gelapnya.

Paparan PFAS yang terus-menerus dikaitkan dengan:

  • Risiko kanker meningkat
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun)
  • Masalah kesuburan dan penurunan kualitas sperma
  • Gangguan perkembangan otak dan pertumbuhan pada anak
  • Penyakit hati dan gangguan hormon

Karena ancaman ini, beberapa jenis PFAS mulai dilarang penggunaannya. Namun masalahnya, mereka sudah terlanjur tersebar luas di air minum, tanah, udara, bahkan di darah hampir semua orang di dunia.

Terobosan Baru: Menghancurkan 99% PFAS

Tim ilmuwan baru-baru ini menemukan metode yang menjanjikan. Mereka menggunakan katalis yang diaktifkan cahaya matahari untuk memecah PFAS.

Cara kerjanya sederhana dalam konsep:

  1. PFAS dalam air diekspos ke bahan katalis khusus.
  2. Ketika terkena sinar matahari, katalis ini mengaktifkan reaksi kimia.
  3. Reaksi tersebut menghancurkan ikatan kuat karbon-fluorin yang membuat PFAS begitu sulit terurai.
  4. Hasil akhirnya adalah fluorida anorganik, bentuk yang stabil, aman, dan bisa didaur ulang.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa metode ini bisa menghancurkan hingga 99% PFAS dalam sampel air.

Mengapa Ini Penting?

PFAS telah menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar abad ke-21. Metode tradisional, seperti menyaring air dengan karbon aktif atau pembakaran suhu tinggi, hanya memindahkan masalah, bukan benar-benar menghancurkannya.

Dengan metode baru ini, untuk pertama kalinya, para ilmuwan benar-benar bisa mengurai PFAS menjadi bahan yang tidak berbahaya. Ini ibarat menemukan kunci untuk membuka gembok yang selama ini dianggap tak bisa dibuka.

Tantangan yang Masih Ada

Meski menjanjikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum teknologi ini bisa digunakan secara luas:

  1. Skala industri
    Metode ini masih diuji dalam skala laboratorium. Pertanyaannya: bisakah diterapkan pada air dalam jumlah jutaan liter di instalasi pengolahan kota?
  2. Biaya
    Apakah proses ini ekonomis jika dibandingkan dengan teknologi pengolahan air yang sudah ada?
  3. Keamanan produk samping
    Meski hasil utama adalah fluorida yang aman, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan tidak ada zat berbahaya lain yang terbentuk selama proses.
  4. Keragaman PFAS
    Karena ada ribuan jenis PFAS, para peneliti perlu memastikan metode ini efektif menghancurkan semua jenis, bukan hanya beberapa di antaranya.

Harapan untuk Masa Depan

Jika tantangan ini bisa diatasi, teknologi ini bisa mengubah cara kita melawan polusi PFAS. Bayangkan:

  • Air minum yang saat ini terkontaminasi bisa dibersihkan sepenuhnya.
  • Lingkungan yang tercemar PFAS, seperti tanah di sekitar pabrik kimia, bisa dipulihkan.
  • Generasi mendatang bisa terbebas dari ancaman “racun abadi” ini.

Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu kimia hijau (green chemistry) cabang ilmu yang berfokus pada menciptakan proses kimia yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dari Masalah Global ke Solusi Global

PFAS adalah masalah global. Mereka ditemukan di kutub, di puncak gunung, hingga di tubuh hewan liar yang tidak pernah bersentuhan dengan manusia. Karena sifatnya yang bisa menyebar lewat udara dan air, solusi untuk PFAS juga harus berskala global.

Penemuan ini memberikan harapan bahwa dengan kerja sama internasional, teknologi, dan regulasi ketat, kita bisa mengatasi masalah yang selama ini tampak mustahil.

PFAS mungkin diciptakan dengan niat baik untuk memudahkan hidup manusia, tetapi mereka menjadi bukti bahwa inovasi tanpa memikirkan dampak jangka panjang bisa berbalik menjadi bumerang.

Kini, berkat kreativitas ilmuwan, kita mungkin punya jalan keluar: mengubah “bahan kimia abadi” menjadi fluorida yang aman dan bermanfaat.

Masih panjang jalan yang harus ditempuh sebelum teknologi ini hadir di instalasi pengolahan air kota atau digunakan secara massal. Namun, satu hal jelas: sains kembali menunjukkan kemampuannya untuk mengubah krisis menjadi peluang.

Baca juga artikel tentang: Air Kelapa Muda: Minuman Tropis dengan Efek Terapeutik untuk Tubuh

REFERENSI:

Lim, XiaoZhi. 2025. Fluorine harvested sustainably from “forever chemical” wastes. MRS Bulletin, 1-2.

Skinner, Justin P dkk. 2025. Biotransforming the “Forever Chemicals”: Trends and Insights from Microbiological Studies on PFAS. Environmental Science & Technology 59 (11), 5417-5430.

Turner, Ben. 2025. Scientists transform ‘forever chemicals’ in water into fluoride with new process. Live Science: https://www.livescience.com/chemistry/scientists-transform-forever-chemicals-in-water-into-fluoride-with-new-process diakses pada tanggal 7 September 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top