Hutan selalu punya daya tarik tersendiri bagi manusia. Ia misterius, lebat, dan penuh rahasia. Di layar lebar, hutan sering digambarkan sebagai tempat di mana bahaya dan petualangan berpadu, tempat di mana keberanian diuji dan penemuan besar menunggu. Dari film klasik seperti Indiana Jones hingga film modern seperti Jungle Cruise atau The Lost City, hutan tropis menjadi panggung bagi kisah manusia yang menaklukkan alam.
Namun sebuah penelitian terbaru mengungkap sisi lain dari kisah-kisah petualangan itu. Dalam artikel berjudul “A Tale That Time Forgot: Contemporary Jungle-Adventure Cinema, Imperial Power, and the Tourist Gaze” yang terbit di jurnal Postcolonial Studies tahun 2025, dua peneliti bernama Sofie Vermoesen dan Lennart Soberon menyoroti bagaimana film-film petualangan Hollywood sebenarnya masih menyimpan warisan pandangan kolonial. Di balik alur cerita yang tampak progresif dan penuh keberagaman, ternyata masih tersembunyi cara pandang lama yang memposisikan dunia Barat sebagai penakluk dan dunia non-Barat sebagai ruang yang harus dijinakkan.
Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa
Penelitian ini memadukan kajian pascakolonial, teori genre, dan teori ruang untuk memahami bagaimana film membentuk pandangan kita terhadap dunia. Hollywood, sebagai industri film terbesar di dunia, bukan hanya penghasil hiburan, melainkan juga pembentuk imajinasi global. Dalam sepuluh film petualangan yang mereka analisis, mulai dari tahun 2012 hingga 2022, Vermoesen dan Soberon menemukan pola berulang dalam cara hutan dan masyarakat non-Barat digambarkan. Meskipun tema-tema keberagaman dan inklusivitas semakin sering muncul, struktur dasar narasi film tetap berpihak pada sudut pandang Barat.
Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar film yang berlatar hutan mengikuti tiga pola utama. Pertama, hutan selalu diperkenalkan sebagai dunia yang asing dan menakutkan. Kamera menyorot pemandangan pepohonan raksasa dari udara, suara binatang dan serangga menambah kesan liar, sementara kabut tebal menutupi jalan. Hutan tampil sebagai simbol dari sesuatu yang belum tersentuh oleh peradaban dan karenanya perlu dijelajahi.
Kedua, tokoh utama dalam film-film ini hampir selalu adalah orang luar, biasanya dari dunia Barat. Mereka datang dengan semangat penjelajahan, membawa pengetahuan ilmiah atau teknologi modern, dan dihadapkan pada tantangan alam yang ekstrem. Dalam prosesnya, mereka berhadapan dengan masyarakat lokal yang sering kali digambarkan hanya sebagai pembantu, penjaga rahasia, atau bahkan ancaman. Masyarakat ini jarang diberi suara, apalagi peran sentral dalam cerita.
Ketiga, hutan pada akhirnya harus dijinakkan. Film biasanya berakhir dengan keberhasilan sang tokoh utama menemukan harta karun, memecahkan misteri, atau keluar hidup-hidup dari hutan yang berbahaya. Di sini, hutan tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan, melainkan sesuatu yang telah berhasil dikendalikan. Pola ini, menurut Vermoesen dan Soberon, secara simbolik mengulang narasi kolonial lama: bahwa dunia non-Barat adalah wilayah yang harus dikuasai demi kemajuan dan pengetahuan manusia modern.
Salah satu konsep penting yang digunakan dalam penelitian ini adalah “tatapan wisatawan” atau tourist gaze. Istilah ini menggambarkan cara orang Barat melihat tempat-tempat di luar dunia mereka sebagai ruang eksotis yang patut dieksplorasi dan dinikmati. Dalam banyak film, kamera mengambil sudut pandang yang membuat penonton melihat dunia melalui mata sang penjelajah Barat. Hutan, masyarakat adat, dan budaya lokal dijadikan objek pandangan yang penuh rasa ingin tahu tetapi juga rasa superioritas. Dengan cara ini, film tidak hanya menceritakan kisah petualangan, tetapi juga mengajarkan cara tertentu dalam melihat dunia, yakni melihat yang lain sebagai objek untuk dinikmati atau dikendalikan.
Yang menarik, para peneliti menyoroti bagaimana hal ini tetap bertahan meskipun Hollywood kini berusaha tampil lebih progresif. Film-film modern memang menampilkan lebih banyak karakter perempuan, aktor dari berbagai latar belakang etnis, serta pesan sosial tentang keadilan dan lingkungan. Namun ketika tema hutan dan alam liar muncul, pandangan kolonial masih terselip di baliknya. Barat tetap digambarkan sebagai penyelamat dan pemimpin, sementara masyarakat lokal tetap ditempatkan di pinggiran. Dengan kata lain, meski wajah sinema berubah, cara berpikir lama belum benar-benar hilang.
Mengapa hal ini penting? Karena film memiliki kekuatan besar untuk membentuk persepsi. Apa yang kita tonton berulang-ulang memengaruhi cara kita memahami dunia nyata. Ketika hutan terus digambarkan sebagai tempat liar yang harus dijinakkan, kita tanpa sadar menerima gagasan bahwa alam adalah sesuatu yang perlu dikontrol. Pandangan seperti ini bertentangan dengan kenyataan bahwa banyak masyarakat adat di dunia justru hidup harmonis dengan alam, menjaga keseimbangan ekosistem yang rapuh.
Dalam konteks krisis iklim global, cara pandang terhadap alam memiliki dampak nyata. Jika alam hanya dilihat sebagai latar atau objek penaklukan, maka upaya pelestarian akan selalu tertinggal. Penelitian ini mengingatkan kita bahwa perubahan cara berpikir harus dimulai juga dari cara kita bercerita, dari narasi yang kita tonton dan kita ciptakan.
Vermoesen dan Soberon kemudian mengajukan gagasan bahwa film bisa menjadi sarana untuk mengubah pandangan tersebut. Mereka mengajak pembuat film untuk merebut kembali cerita tentang hutan, bukan sebagai ruang yang liar, melainkan sebagai rumah kehidupan yang kompleks dan berharga. Dalam narasi baru ini, tokoh utama bukanlah penakluk yang datang membawa peradaban, melainkan pelindung yang belajar dari alam. Masyarakat lokal bukan lagi pengikut atau penghalang, tetapi penjaga pengetahuan yang berperan penting dalam menjaga bumi.
Bayangkan film yang memperlihatkan hutan sebagai ruang kebersamaan antara manusia dan alam, di mana keberanian tidak diukur dari kemampuan menaklukkan, tetapi dari kesediaan memahami. Film semacam ini tidak hanya akan menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan pesan moral dan ekologis yang relevan dengan zaman kita.
Penelitian ini menutup dengan refleksi penting. Setiap kisah membawa ideologi di baliknya. Hutan di layar bukan sekadar pemandangan, tetapi juga cermin dari cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri. Jika selama ini kita melihat hutan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, mungkin sudah waktunya kita belajar untuk melihatnya sebagai sesuatu yang harus dijaga.
Hollywood dan industri film dunia memiliki kekuatan besar untuk mengubah imajinasi kolektif manusia. Dengan menampilkan kisah yang lebih adil terhadap alam dan masyarakatnya, film bisa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar hiburan yang mengulang masa lalu. Pada akhirnya, mungkin petualangan sejati bukanlah tentang menaklukkan dunia, tetapi tentang menemukan kembali cara hidup yang selaras dengan bumi.
Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas
REFERENSI:
Vermoesen, Sofie & Soberon, Lennart. 2025. A tale that time forgot: contemporary jungle-adventure cinema, imperial power, and the tourist gaze. Postcolonial Studies, 1-20.

