Pernahkah Anda melihat anjing yang kehilangan semangat setelah ditinggal majikannya? Atau gajah di kebun binatang yang tampak murung dan hanya berayun ke depan dan belakang? Dulu, banyak orang menganggap hal-hal seperti itu sekadar “tingkah aneh.” Tapi ilmu pengetahuan modern membuktikan: hewan juga punya dunia batin yang kaya, dan mereka bisa mengalami kesehatan mental atau sebaliknya, gangguan emosional.
Buku terbaru karya Franklin D. McMillan, berjudul “Mental Health and Well-Being in Animals” (2025), adalah salah satu karya paling komprehensif yang menjelaskan hal ini. Buku ini membahas bagaimana emosi, stres, trauma, dan kesejahteraan mental memainkan peran penting dalam kehidupan hewan dari anjing peliharaan hingga hewan liar di alam.
Selama berabad-abad, manusia memandang hewan sebagai makhluk yang hanya digerakkan oleh insting. Mereka makan, bereproduksi, melindungi diri dan tidak lebih. Namun, penelitian dalam beberapa dekade terakhir membalikkan pandangan itu sepenuhnya.
Berbagai studi etologi dan neurobiologi kini menunjukkan bahwa hewan memiliki emosi yang kompleks. Mereka bisa merasakan cinta, takut, kehilangan, dan bahkan depresi.
Kucing yang kehilangan pasangannya bisa berhenti makan. Lumba-lumba berduka berhari-hari ketika anaknya mati. Primata menunjukkan tanda-tanda stres sosial mirip manusia ketika terisolasi dari kelompoknya.
McMillan menulis bahwa kesehatan mental hewan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Jika fisik mereka dirawat tetapi kebutuhan emosional diabaikan, mereka tetap bisa menderita.
Baca juga artikel tentang: Dari Tanaman ke Terapi: Perjalanan Ibogaine dalam Dunia Kesehatan Mental
Kesehatan Mental Hewan: Sebuah Bidang yang Tumbuh Pesat
Sejak edisi pertama buku ini diterbitkan, perhatian publik dan profesional terhadap kesejahteraan emosional hewan meningkat drastis. Khususnya setelah munculnya konsep “Five Freedoms” lima kebebasan dasar bagi hewan yang diakui secara internasional:
- Bebas dari rasa lapar dan haus,
- Bebas dari ketidaknyamanan fisik,
- Bebas dari rasa sakit dan cedera,
- Bebas mengekspresikan perilaku alami, dan
- Bebas dari rasa takut dan stres.
Namun, versi 2025 buku McMillan memperluas pandangan ini lebih jauh. Ia mengajak kita melihat hewan bukan hanya sebagai makhluk yang perlu “dibebaskan dari penderitaan,” tetapi juga berhak atas “kebahagiaan dan kesejahteraan emosional.”
Artinya, bukan hanya soal mencegah stres tetapi juga menciptakan kondisi yang membuat hewan merasakan kesenangan, rasa aman, dan ikatan sosial yang sehat.
Apa yang Terjadi Saat Hewan “Tersakiti Secara Mental”
McMillan mengumpulkan berbagai hasil penelitian dari dokter hewan, ahli perilaku hewan, dan ilmuwan saraf yang mempelajari bagaimana lingkungan dan pengalaman hidup dapat memengaruhi kondisi mental hewan.
Beberapa contoh yang ia paparkan sangat menggugah:
- Hewan di kebun binatang atau laboratorium yang hidup dalam ruang sempit tanpa stimulasi menunjukkan gejala stereotypic behavior, gerakan berulang tanpa tujuan, seperti berjalan melingkar atau menggigit jeruji kandang. Ini mirip dengan perilaku manusia yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif atau depresi berat.
- Anjing penyintas kekerasan atau penelantaran sering mengalami trauma jangka panjang. Mereka menjadi takut disentuh, mudah panik terhadap suara keras, atau menarik diri sepenuhnya. Dalam banyak kasus, terapi perilaku dan kasih sayang manusia dapat membantu mereka “pulih,” mirip seperti terapi psikologis untuk manusia.
- Hewan sosial seperti gajah, paus, dan simpanse menunjukkan reaksi emosional mendalam terhadap kehilangan anggota kelompok. Ada kasus di mana gajah berduka dan menyentuh tulang belulang saudaranya, seolah mengenang, bukti empati yang luar biasa.
Semua ini mengarah pada satu kesimpulan penting: jiwa hewan bisa menderita, dan penderitaan itu nyata, terukur, serta dapat diidentifikasi lewat sains.
Ilmu Baru, Teknologi Baru
Kemajuan teknologi turut mempercepat pemahaman kita. Dengan bantuan neuroimaging, misalnya, para ilmuwan dapat melihat bagaimana otak hewan merespons stres, cinta, atau rasa takut. Hasilnya mengejutkan pola aktivitas otak hewan mamalia sangat mirip dengan manusia ketika mengalami emosi.
Teknologi lain seperti AI dan sensor perilaku kini digunakan untuk memantau ekspresi stres pada hewan ternak atau peliharaan secara otomatis. Misalnya, kamera pintar dapat mendeteksi tanda-tanda stres pada sapi melalui perubahan postur, frekuensi napas, atau pola makan memungkinkan peternak bertindak lebih cepat untuk meningkatkan kesejahteraan hewan.
Dampaknya bagi Kita: Etika dan Empati
Pertanyaan penting pun muncul:
Jika hewan bisa mengalami penderitaan mental, apakah cara kita memperlakukan mereka selama ini sudah etis?
McMillan menegaskan bahwa memahami kesehatan mental hewan bukan sekadar isu akademik, tapi gerakan moral dan sosial.
Kesadaran ini mengubah cara kerja banyak bidang dari kebijakan peternakan, kebun binatang, laboratorium, hingga dunia peliharaan.
Beberapa negara bahkan mulai mengadopsi pendekatan berbasis kesejahteraan emosional dalam undang-undang perlindungan hewan. Misalnya, Inggris dan Selandia Baru kini mengakui kemampuan hewan untuk merasakan emosi dan penderitaan, bukan hanya rasa sakit fisik.
Dalam konteks rumah tangga, buku ini juga menjadi pengingat bahwa memelihara hewan bukan sekadar memberi makan dan tempat tidur. Kita juga punya tanggung jawab terhadap kebutuhan emosional mereka waktu bermain, interaksi sosial, dan rasa aman.
Kesehatan Mental Antarspesies: Sebuah Cermin bagi Manusia
Menariknya, penelitian tentang kesehatan mental hewan juga membantu kita memahami diri kita sendiri. Banyak mekanisme stres, kecemasan, atau trauma yang serupa antara manusia dan hewan baik secara biologis maupun perilaku.
Ketika kita memahami bahwa seekor anjing bisa merasa takut ditinggalkan, atau seekor kuda bisa mengalami trauma karena perlakuan keras, kita belajar melihat kesamaan batin antarspesies. Empati itu bukan hanya membuat kita lebih peduli pada hewan, tapi juga lebih manusiawi terhadap sesama.
Buku “Mental Health and Well-Being in Animals” versi 2025 bukan hanya kumpulan data ilmiah, tetapi juga seruan etis untuk memperluas batas kepedulian kita.
Franklin D. McMillan menunjukkan bahwa kesejahteraan sejati tidak berhenti di spesies manusia. Ketika kita mulai mengakui bahwa hewan juga bisa bahagia, sedih, atau trauma, maka tanggung jawab kita berubah:
dari sekadar “memiliki” hewan menjadi “merawat kehidupan lain dengan rasa hormat.”
Di dunia yang semakin sadar akan isu kesejahteraan makhluk hidup, mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Apakah hewan punya perasaan?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan agar mereka hidup dengan lebih bahagia?”
Baca juga artikel tentang: Perbedaan Respons Stres antara Pria dan Wanita: Temuan yang Bisa Mengubah Pengobatan Gangguan Mental
REFERENSI:
McMillan, Franklin D. 2025. Mental health and well-being in animals. Cabi.

