Ternyata, lupa password bukan sekadar perkara “pelupa” seperti sering kita sangka. Ada penjelasan ilmiah di baliknya! Fenomena ini berkaitan dengan cara kerja otak dalam menyimpan dan mengingat informasi. Jadi, ketika kamu tidak bisa mengingat kata sandi, itu bukan karena kamu ceroboh atau kurang fokus semata, tetapi bisa melibatkan mekanisme memori yang kompleks.
Dalam ilmu kognitif, proses mengingat sesuatu termasuk password, tergantung pada berbagai faktor, seperti seberapa sering informasi itu digunakan, seberapa penting nilainya bagi kita, dan bagaimana informasi tersebut disimpan dalam otak (apakah dalam ingatan jangka pendek atau jangka panjang).
Dalam kondisi tertentu, otak kita bisa mengalami penurunan kemampuan untuk mengingat sesuatu. Kemampuan ini dikenal sebagai daya ingat atau dalam istilah ilmiahnya disebut memori. Memori adalah sistem biologis di otak yang memungkinkan kita menyimpan, menyimpan ulang, dan mengambil informasi.
Kadang-kadang, memori ini tidak bekerja sebaik biasanya. Akibatnya, kita bisa tiba-tiba kesulitan mengingat hal-hal yang sebelumnya terasa mudah, seperti password untuk masuk ke akun email atau media sosial, misalnya Gmail, Instagram, X (yang dulu bernama Twitter), atau Facebook. Yang membuatnya terasa membingungkan, sering kali kita merasa sudah benar-benar menghafalnya tetapi tetap saja, saat dibutuhkan, otak seperti “kosong” dan tak bisa mengakses informasi tersebut.
Hal seperti ini wajar terjadi dan merupakan bagian dari bagaimana otak memilah mana informasi yang dianggap penting dan mana yang bisa “dilupakan” untuk menghemat kapasitas kerja.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Universitas Rutgers-New Brunswick menemukan bahwa ada beberapa penyebab umum mengapa seseorang bisa lupa password. Dua faktor utamanya adalah:
- Seberapa penting kata sandi tersebut bagi kita, dan
- Seberapa sering kita menggunakannya.
Kalau sebuah password jarang digunakan atau tidak memiliki makna khusus baik secara emosional maupun fungsional, otak kita cenderung tidak “menganggap” informasi itu cukup penting untuk disimpan dalam memori jangka panjang. Memori jangka panjang adalah tempat penyimpanan informasi dalam otak yang bisa bertahan dari hitungan jam hingga seumur hidup, tergantung pada seberapa sering informasi itu diakses dan seberapa relevan bagi kita.
Sebaliknya, jika password tersebut sering dipakai, misalnya untuk login ke akun utama yang kita akses setiap hari, otak lebih mudah mengingatnya. Ini karena informasi yang sering digunakan akan lebih sering “dilatih” oleh otak, sehingga koneksi antarsel saraf yang menyimpannya jadi lebih kuat dan stabil. Dengan kata lain, semakin sering otak “menemui” informasi itu, semakin besar kemungkinan informasi itu bertahan dalam ingatan kita.
Baca juga artikel tentang: Lupa dan Otak Manusia: Ketika Memori Menolak untuk Bertahan
Banyak situs web memang memberikan peringatan apakah kata sandi yang kita buat itu kuat atau lemah. Namun, menurut Janne Lindqvist, seorang peneliti dan dosen di Departemen Teknik Elektro dan Komputer, Rutgers University, situs-situs ini tidak membantu pengguna mengingat kata sandi tersebut.
“Yang justru membantu seseorang mengingat kata sandinya adalah seberapa sering ia masuk (login) ke akun tersebut,” ujar Lindqvist, seperti dikutip dari Security Magazine.
Penelitian yang dilakukan Lindqvist dan timnya menunjukkan bahwa memori manusia punya kemampuan untuk beradaptasi secara alami. Artinya, otak kita lebih mudah mengingat kata sandi yang dianggap penting dan digunakan secara rutin. Kata sandi yang jarang dipakai atau terasa tidak penting, sebaliknya, cenderung cepat terlupakan.
Saat ini, kebanyakan orang memiliki banyak akun digital media sosial, email, aplikasi keuangan, dan lain-lain yang masing-masing memerlukan kata sandi berbeda. Beban ini membuat orang mudah lupa dan akhirnya merasa frustrasi. Temuan dalam studi ini juga selaras dengan teori psikologi tentang memori, yaitu bahwa otak cenderung lupa informasi yang jarang dipakai atau tidak dianggap relevan.
Penelitian ini merupakan kolaborasi antara Rutgers University di Amerika Serikat dan Universitas Aalto di Finlandia. Hasilnya dipresentasikan pada tahun 2018 dalam konferensi keamanan siber bergengsi, yaitu 27th USENIX Security Symposium di Baltimore, Maryland.
Tips Mengingat Kata Sandi
Menariknya, ada juga penelitian lain yang menawarkan pendekatan berbeda untuk membantu meningkatkan daya ingat. Sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Surrey pada tahun 2015 menemukan bahwa menutup mata bisa membantu seseorang mengingat informasi lebih baik.
Dalam eksperimen tersebut, 200 partisipan diminta menonton film pendek. Setelah itu, mereka harus menjawab beberapa pertanyaan tentang isi film. Hasilnya cukup mengejutkan: peserta yang menutup mata saat menjawab pertanyaan memiliki tingkat akurasi jawaban sebesar 71 persen. Sementara itu, mereka yang tetap membuka mata hanya menjawab dengan benar sekitar 48 persen pertanyaan.
Mengapa ini bisa terjadi? Salah satu spekulasi menyebutkan bahwa menutup mata membantu otak untuk fokus dan membangun kembali detail ingatan tanpa terganggu oleh stimulus visual dari lingkungan sekitar. Namun, Robert Nash, salah satu peneliti dalam studi tersebut, menekankan bahwa ini bukan karena mata tertutup secara ajaib membuat otak lebih kuat. Kemungkinan besar, menutup mata hanya membantu kita terhindar dari distraksi atau gangguan sekitar, sehingga konsentrasi lebih terjaga.
Baca juga artikel tentang: Aneurisma Otak: Kondisi Tersembunyi yang Bisa Berujung Kematian Mendadak
REFERENSI:
Security Staff. 2023. 51% of users admit to resetting forgotten passwords once a month. Security Magazine: https://www.securitymagazine.com/articles/99116-51-of-users-admit-to-resetting-forgotten-passwords-once-a-month diakses pada tanggal 10 Juni 2025.

