Di era digital ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja. Mereka tumbuh dengan layar di tangan, berbagi cerita, mengekspresikan diri, dan membangun pertemanan secara daring. Namun, di balik konektivitas yang tampak indah itu, para ilmuwan terus bertanya: apakah media sosial berdampak negatif terhadap kesehatan mental remaja?
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behaviour (2025) memberikan jawaban yang lebih rinci. Penelitian ini berjudul “Social media use in adolescents with and without mental health conditions” dan dilakukan oleh tim peneliti dari Inggris yang dipimpin oleh Luisa Fassi, Amanda Ferguson, Andrew Przybylski, Tamsin Ford, dan Amy Orben.
Baca juga artikel tentang: Dari Tanaman ke Terapi: Perjalanan Ibogaine dalam Dunia Kesehatan Mental
Mengapa Penelitian Ini Penting
Selama bertahun-tahun, banyak penelitian mencoba memahami hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Namun, sebagian besar studi hanya melihat “rata-rata” remaja tanpa membedakan siapa yang memiliki masalah kesehatan mental dan siapa yang tidak.
Padahal, remaja bukan kelompok yang seragam. Ada yang mengalami depresi, kecemasan, atau ADHD, dan mungkin cara mereka menggunakan media sosial serta dampaknya berbeda.
Tim Fassi berangkat dari pertanyaan sederhana namun penting: apakah pengalaman media sosial berbeda antara remaja dengan dan tanpa kondisi kesehatan mental?
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan
Penelitian ini menggunakan data nasional dari Inggris yang mencakup lebih dari 3.300 remaja berusia 11–19 tahun. Para peneliti tidak hanya menggunakan kuesioner, tapi juga penilaian diagnostik klinis oleh tenaga profesional kesehatan mental, sebuah pendekatan yang jarang dilakukan dalam studi sejenis.
Selain itu, mereka mengumpulkan data kuantitatif (berapa lama waktu yang dihabiskan di media sosial, jumlah teman online, dll.) dan data kualitatif (bagaimana perasaan remaja tentang pengalaman daring mereka).
Pendekatan ini memberikan gambaran lebih lengkap tentang bagaimana media sosial berperan dalam kehidupan remaja dengan berbagai kondisi psikologis.
Apa yang Ditemukan?
Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara media sosial dan kesehatan mental tidak sesederhana “semakin sering online, semakin buruk perasaanmu.”
1. Remaja dengan masalah kesehatan mental lebih aktif di media sosial.
Mereka melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu online dibandingkan remaja tanpa kondisi tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor: mencari dukungan emosional, menghindari interaksi tatap muka yang sulit, atau sekadar pelarian dari stres sehari-hari.
2. Namun, mereka juga merasa kurang puas dengan kehidupan sosial daringnya.
Remaja dengan gangguan mental mengatakan bahwa mereka kurang bahagia dengan jumlah teman online yang dimiliki. Artinya, meskipun lebih sering berinteraksi di dunia maya, hal itu tidak selalu membawa rasa keterhubungan yang mereka harapkan.
3. Perbedaan terlihat jelas antara dua kelompok besar:
- Remaja dengan gangguan internalisasi (seperti depresi dan kecemasan)
Mereka cenderung lebih banyak melakukan perbandingan sosial, merasa terpengaruh oleh komentar atau “likes,” serta mengalami penurunan suasana hati akibat umpan balik negatif. Mereka juga kurang jujur dalam menampilkan diri (lower honest self-disclosure) karena takut dinilai orang lain. - Remaja dengan gangguan eksternalisasi (seperti ADHD atau perilaku impulsif)
Mereka melaporkan lebih banyak waktu online, tetapi tidak menunjukkan dampak emosional negatif yang sama. Jadi, waktu layar bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh, cara penggunaan dan konteks psikologis juga penting.
Apa Artinya untuk Orang Tua dan Sekolah
Temuan ini memberi pesan penting bagi orang tua, guru, dan pembuat kebijakan: tidak semua penggunaan media sosial itu sama.
Mengatur waktu layar memang perlu, tetapi yang lebih penting adalah memahami motivasi dan pengalaman emosional di balik penggunaan itu.
- Untuk remaja dengan depresi atau kecemasan, media sosial bisa menjadi pedang bermata dua: sumber dukungan dan isolasi sekaligus. Mereka mungkin perlu bimbingan untuk menggunakan media sosial dengan cara yang sehat, seperti mengikuti akun yang positif atau berbagi cerita secara jujur di ruang aman.
- Untuk remaja dengan ADHD atau kondisi impulsif, tantangannya berbeda mereka perlu dibantu untuk mengelola waktu dan fokus, agar penggunaan media sosial tidak mengganggu aktivitas lain seperti belajar atau tidur.
Mengubah Cara Kita Melihat “Waktu Layar”
Selama ini, banyak wacana publik yang menyalahkan media sosial secara umum atas meningkatnya masalah kesehatan mental pada remaja. Namun, studi ini menekankan bahwa hubungannya lebih kompleks dan bersifat individual.
Amy Orben, salah satu penulis studi ini, dikenal sebagai peneliti yang sering mengkritik pendekatan “panik moral” terhadap teknologi. Ia berpendapat bahwa kita perlu beralih dari pertanyaan “Apakah media sosial buruk?” menjadi “Untuk siapa, kapan, dan bagaimana media sosial berdampak?”
Dengan kata lain, bukan soal berapa lama kita online, tetapi apa yang kita lakukan selama online.
Implikasi untuk Kebijakan dan Layanan Kesehatan Mental
Penelitian ini menyarankan agar profil kesehatan mental remaja lebih diperhatikan dalam kebijakan publik dan praktik klinis.
Misalnya:
- Program literasi digital di sekolah bisa disesuaikan dengan jenis tantangan psikologis yang dihadapi siswa.
- Layanan kesehatan mental perlu mengajarkan strategi sehat menggunakan media sosial, bukan hanya menyarankan “kurangi waktunya.”
- Platform media sosial sendiri bisa membantu dengan fitur yang mendorong kesejahteraan, seperti kontrol privasi yang lebih fleksibel, pengingat waktu sehat, atau konten edukatif tentang kesehatan mental.
Penelitian Luisa Fassi dan timnya membuka babak baru dalam diskusi tentang remaja dan media sosial. Mereka menunjukkan bahwa tidak ada jawaban tunggal atau solusi universal.
Remaja dengan kondisi mental tertentu tidak harus dijauhkan dari media sosial, tetapi perlu dipahami dan didukung agar pengalaman daring mereka lebih positif dan aman.
Di akhir hari, media sosial hanyalah alat. Yang menentukan dampaknya adalah bagaimana, mengapa, dan dengan siapa kita menggunakannya. Dengan pemahaman yang lebih dalam, mungkin kita bisa membantu generasi muda tumbuh sebagai pengguna digital yang lebih bijak, bukan hanya terhubung secara daring, tetapi juga sehat secara emosional.
Baca juga artikel tentang: Perbedaan Respons Stres antara Pria dan Wanita: Temuan yang Bisa Mengubah Pengobatan Gangguan Mental
REFERENSI:
Fassi, Luisa dkk. 2025. Social media use in adolescents with and without mental health conditions. Nature human behaviour, 1-17.

