Membedah Akar Moralitas: Dari Rasa Bersalah hingga Kesadaran Berbuat Baik

Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, hampir semua orang akan merasakan hal yang sama: marah, tersinggung, dan ingin menegakkan keadilan. […]

Ketika seseorang berbuat jahat kepada kita, hampir semua orang akan merasakan hal yang sama: marah, tersinggung, dan ingin menegakkan keadilan. Perasaan itu muncul secara spontan, seolah tertanam sejak lahir. Namun mengapa manusia memiliki reaksi yang sangat kuat terhadap ketidakadilan? Apa yang membuat kita merasa bersalah ketika kita melukai orang lain, atau merasa pantas dipuji saat melakukan hal yang benar?

Pertanyaan seperti ini telah lama dibahas oleh para pemikir besar. Salah satu tokoh yang paling penting dalam membedah asal-usul moral manusia adalah Adam Smith, filsuf abad ke-18 yang dikenal sebagai “bapak ekonomi modern.” Namun sebelum ia menulis tentang pasar dan ekonomi, Smith lebih dulu menulis karya besar tentang psikologi moral manusia. Ia mencoba menjelaskan mengapa manusia menghargai keadilan, mengapa kita mampu menahan dorongan jahat, dan bagaimana rasa bersalah muncul sebagai mekanisme sosial yang menjaga tatanan masyarakat.

Vernon L. Smith, seorang ekonom pemenang Nobel, kembali menyoroti gagasan moral Adam Smith tersebut dalam tulisannya. Ia menekankan bahwa, menurut Adam Smith, manusia tidak membutuhkan motivasi yang rumit untuk tidak mencelakai orang lain. Cukup dengan satu hal mendasar: kita tidak ingin merusak hubungan dengan sesama manusia.

Smith berpendapat bahwa tidak ada alasan moral yang “tepat” untuk menyakiti tetangga kita. Tidak ada motivasi yang bisa diterima secara luas untuk berbuat jahat kepada orang lain, kecuali satu: rasa marah yang adil atas kejahatan yang orang lain lakukan kepada kita.

Dengan kata lain, menurut teori Smith, satu-satunya bentuk kekerasan yang dipandang manusia sebagai “wajar” adalah tindakan membalas kejahatan yang benar-benar nyata. Ini bukan ajakan untuk balas dendam, tetapi gambaran bahwa rasa keadilan terhubung dengan naluri mempertahankan diri dan kelompok.

Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital

Rasa Keadilan Sebagai Emosi Sosial

Adam Smith melihat keadilan bukan sebagai aturan hukum yang kaku, tetapi sebagai perasaan bersama yang muncul karena kita hidup berdampingan. Ketika seseorang dirugikan, orang lain yang menyaksikan pun akan merasa terusik. Bahkan anak kecil pun dapat memahami ketika ada sesuatu yang tidak adil.

Rasa marah terhadap kejahatan ini, menurut Smith, bukan sekadar emosi biologis, tetapi bagian dari mekanisme sosial yang menjaga masyarakat tetap stabil. Tanpa rasa marah terhadap perilaku buruk, masyarakat tidak memiliki alasan kuat untuk menegakkan aturan.

Rasa marah itu lalu memunculkan dorongan untuk menegakkan keadilan. Bila seseorang mencuri, merampas, atau melukai, reaksi spontan manusia adalah mengecam dan meminta hukuman. Reaksi ini bersifat universal, melampaui budaya, agama, atau zaman.

Mengapa Kita Merasa Bersalah?

Selain rasa marah terhadap pelaku kejahatan, teori Smith juga menjelaskan mengapa manusia memiliki rasa bersalah. Ketika kita melakukan kesalahan, kita membayangkan bagaimana orang lain memandang tindakan kita. Pembayangan itulah yang menghadirkan rasa tidak nyaman. Rasa bersalah muncul karena kita merasa tidak pantas menerima pandangan negatif tersebut.

Dengan kata lain, rasa bersalah bukan berasal dari aturan tertulis, tetapi dari imajinasi sosial yang kita bangun dalam diri. Kita tidak ingin menjadi seseorang yang dipandang sebagai manusia buruk oleh masyarakat.

Dari sinilah lahir konsep kesadaran moral. Kesadaran itu membuat kita mampu menahan diri, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Kita dapat menahan dorongan untuk mencuri barang kecil di toko, karena kita bisa membayangkan bagaimana orang akan mencibir kita jika ketahuan.

Keadilan, Penghargaan, dan Rasa Layak Mendapat Pengakuan

Selain membahas rasa marah dan penyesalan, Smith juga menjelaskan konsep penting lain: kesadaran akan kelayakan. Ini adalah perasaan bahwa kita pantas dihargai ketika melakukan sesuatu yang baik.

Jika seseorang menolong orang lain dalam situasi berbahaya, ia mungkin tidak meminta imbalan. Namun ia merasa tindakannya layak dipuji karena ia mengorbankan kepentingannya demi orang lain. Rasa pantas dihargai ini bukan bentuk kesombongan, tetapi cara manusia menilai kontribusinya terhadap kebaikan bersama.

Vernon L. Smith menekankan bahwa kesadaran atas kelayakan moral ini membantu mempertahankan perilaku baik. Manusia ingin dihargai oleh sesamanya. Maka, banyak orang terdorong melakukan tindakan positif bukan karena imbalan materi, melainkan karena penghargaan moral itu sendiri.

Mengapa Teori Ini Penting untuk Dunia Modern

Meskipun ditulis lebih dari dua abad lalu, gagasan Adam Smith tetap relevan. Dunia modern menghadapi berbagai tantangan moral: polarisasi politik, penyebaran informasi yang salah, konflik identitas, dan meningkatnya insensitivitas sosial di media digital.

Ketika ruang digital membuat manusia mudah membenci atau melukai secara verbal tanpa melihat dampaknya, pemahaman tentang emosi moral menjadi sangat penting.

Teori Smith mengingatkan bahwa moralitas manusia tidak lahir dari aturan hukum atau agama semata. Moralitas berasal dari hubungan sosial yang kita bangun dengan orang lain. Ketika hubungan itu melemah, moralitas pun rentan terkikis.

Masyarakat yang sehat membutuhkan:

  1. Rasa marah terhadap ketidakadilan sebagai mekanisme pertahanan moral.
  2. Rasa bersalah sebagai rem internal agar kita tidak bertindak semena-mena.
  3. Rasa layak dihargai sebagai dorongan melakukan kebaikan.

Jika tiga hal ini hilang, maka masyarakat mudah terjebak dalam kekerasan, penindasan, atau ketidakpedulian sosial.

Rasa Keadilan Bukan Sekadar Konsep, tetapi Inti dari Kemanusiaan

Kesimpulan dari artikel Vernon L. Smith adalah bahwa dorongan moral manusia muncul dari kebutuhan kita hidup bersama. Kita menolak kejahatan karena kejahatan merusak jaringan sosial yang menopang kehidupan sehari-hari.

Rasa keadilan, penyesalan, dan penghargaan adalah fondasi yang memungkinkan manusia membentuk masyarakat yang damai. Tanpa emosi-emosi moral tersebut, dunia tidak hanya menjadi kacau, tetapi juga kehilangan sifat manusiawinya.

Teori Adam Smith yang dibahas kembali dalam tulisan ini mengajarkan bahwa moralitas bukan sekadar aturan, melainkan bagian mendasar dari psikologi manusia. Dengan memahaminya, kita dapat membangun masyarakat yang lebih peduli, lebih adil, dan lebih beradab.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak

REFERENSI:

Smith, Vernon L. 2025. Of the sense of justice, of remorse, and of the consciousness of merit. Adam Smith’s Theory of Society: Social Rules for Order in Society and Economy, 153-177.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top