Gangguan tidur sering muncul sebagai bagian dari depresi mayor dan kondisi ini dapat membentuk lingkaran masalah yang saling memperburuk. Ketika seseorang mengalami depresi, tidur mereka biasanya menjadi kacau sehingga tubuh tidak memperoleh waktu pemulihan yang memadai. Kurangnya pemulihan kemudian memperparah ketidakseimbangan suasana hati dan membuat gejala depresi semakin menonjol. Para ilmuwan ingin memahami lingkaran ini dengan lebih jelas melalui penelitian yang menggunakan hewan model khususnya tikus. Model hewan sering digunakan karena memberi kesempatan untuk meneliti gejala depresi secara terkontrol yang tidak mungkin dilakukan pada manusia. Namun karakteristik gangguan tidur pada model tikus belum dipetakan sebaik pada manusia sehingga para peneliti perlu menelusuri kembali bukti ilmiah yang sudah ada.
Sebuah tinjauan sistematis yang dirilis pada tahun 2025 berusaha menjawab kebutuhan itu. Studi ini mengumpulkan dan mengevaluasi dua puluh dua artikel ilmiah yang meneliti perubahan pola tidur pada tikus yang dimodelkan mengalami major depressive disorder atau MDD. Tujuannya adalah memahami seberapa valid model hewan tersebut jika digunakan untuk meneliti gangguan tidur pada depresi manusia. Dengan menilai kesamaan antara perubahan tidur pada tikus dan pada manusia, para peneliti berharap dapat menilai seberapa jauh model hewan ini merepresentasikan kondisi biologis depresi yang sesungguhnya.
Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital
Depresi pada manusia memiliki ciri gangguan tidur yang sangat khas. Banyak penderita mengalami peningkatan durasi rapid eye movement atau REM serta pemadatan fase tidur REM menjadi lebih awal. Fase tidur non REM sering terfragmentasi sehingga tidur menjadi dangkal dan tidak pulih. Gelombang otak yang seharusnya teratur saat tidur juga menjadi terganggu. Gambaran seperti ini sudah banyak dijelaskan dalam riset berbasis elektroensefalografi. Namun apakah pola yang sama muncul pada tikus yang diberi perlakuan untuk meniru kondisi depresi masih menjadi tanda tanya.
Melalui tinjauan sistematis ini para peneliti menemukan bahwa beberapa ciri khas pada manusia juga muncul pada tikus. Peningkatan durasi REM menjadi temuan yang paling konsisten. Pola ini muncul berulang pada berbagai model tikus depresi sehingga dianggap sebagai salah satu tanda yang relatif andal. Selain itu para peneliti menemukan bahwa tidur non REM juga lebih terfragmentasi pada tikus. Fragmentasi ini berarti tikus sering terbangun atau berpindah fase tidur sehingga kualitas tidur menurun. Temuan ini menarik karena menunjukkan adanya kemiripan antara tikus dan manusia terutama pada dua aspek inti tidur yang terganggu dalam depresi.
Walau demikian tidak semua temuan memberikan hasil yang seragam. Respons tikus terhadap sleep deprivation misalnya masih kurang jelas. Sleep deprivation adalah metode di mana tikus sengaja dibuat kurang tidur untuk melihat bagaimana tubuh dan otak mereka bereaksi. Pada sebagian penelitian tikus menunjukkan respons yang menurun. Artinya peningkatan suasana hati yang biasanya muncul setelah sleep deprivation pada manusia tidak terlihat pada hewan model. Namun hanya sedikit studi yang meneliti hal ini sehingga para ilmuwan menilai bahwa hasil tersebut harus dianggap sebagai temuan awal yang memerlukan penelitian lanjutan.
Bagian lain yang masih menunjukkan hasil kurang konsisten adalah pola gelombang otak delta dan theta. Kedua gelombang ini penting karena menggambarkan kualitas tidur dalam fase tertentu. Gelombang delta dominan pada tidur nyenyak sedangkan gelombang theta banyak muncul pada fase REM. Informasi mengenai keduanya relatif terbatas dalam literatur sehingga sulit menarik kesimpulan kuat. Keragaman ini menandakan perlunya protokol penelitian yang lebih seragam agar peneliti dapat membandingkan hasil antar studi dengan lebih jelas.

Meski beberapa temuan belum sepenuhnya stabil, tinjauan ini menegaskan bahwa model tikus tetap berguna dan memiliki kesamaan penting dengan depresi manusia terutama pada fitur peningkatan REM dan gangguan tidur non REM. Dua fitur tersebut memiliki peran besar dalam pemahaman depresi. REM yang meningkat sering dikaitkan dengan hiperaktivitas sistem saraf tertentu yang juga memengaruhi regulasi emosi. Sementara itu gangguan tidur non REM berhubungan dengan gangguan fungsi restoratif tubuh yang membuat energi dan suasana hati semakin merosot.
Pemahaman mengenai kesamaan ini membantu para peneliti menilai keandalan model hewan sebagai alat eksplorasi biologi depresi. Menggunakan tikus memungkinkan peneliti menelusuri mekanisme molekuler dan neural secara lebih detail. Tikus dapat menjalani prosedur eksperimental yang tidak etis diterapkan pada manusia sehingga mereka membuka pintu untuk memahami proses yang masih tersembunyi. Namun model hewan tidak sempurna sehingga hasilnya harus dianalisis hati hati sebelum diterapkan pada manusia. Tinjauan ini berupaya memberi peta mengenai aspek mana yang sudah cukup kuat dan mana yang masih memerlukan data tambahan.
Dalam jangka panjang tinjauan ini berfungsi sebagai sumber panduan. Para peneliti yang ingin mengembangkan model tikus depresi dapat menggunakannya untuk memilih pendekatan yang paling sesuai. Mereka dapat memutuskan apakah perlu fokus pada gangguan REM, pada gangguan non REM, atau pada indikator lain yang masih memerlukan pemetaan. Informasi ini juga dapat membantu merancang eksperimen yang lebih terstruktur sehingga penelitian tidak terjebak pada hasil yang saling bertentangan.
Studi ini juga menekankan bahwa kualitas model hewan sangat bergantung pada pemahaman kita mengenai depresi manusia. Jika ilmu tentang depresi berkembang maka model hewan perlu disesuaikan agar tetap relevan. Hubungan dua arah ini membuat penelitian hewan dan penelitian manusia saling memperkuat satu sama lain. Tinjauan sistematis seperti ini berperan penting dalam menjaga keterhubungan tersebut.
Tinjauan tahun 2025 ini pada akhirnya menunjukkan bahwa banyak potensi yang masih dapat digali dari penelitian tidur pada model tikus depresi. Walaupun beberapa variabel belum memberikan hasil seragam, pola keseluruhan mengindikasikan bahwa tikus tetap menjadi alat penting untuk mempelajari hubungan antara tidur dan depresi. Dengan pengetahuan yang semakin terstruktur para peneliti dapat merancang strategi baru untuk memahami bagaimana gangguan tidur memengaruhi depresi dan bagaimana perbaikan tidur dapat menjadi bagian dari terapi yang lebih efektif. Dalam jangka panjang pemahaman ini dapat membuka peluang penanganan depresi yang lebih menyeluruh berbasis ilmu tidur dan biologi otak.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak
REFERENSI:
Potenzieri, Alberto dkk. 2025. Sleep abnormalities in mouse models of depression: a systematic review. Sleep Medicine Reviews, 102179.

