Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah kondisi perkembangan saraf yang mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan memproses informasi. Dalam ilmu kesehatan masyarakat, kita sering mengukur prevalensi (berapa banyak anak dalam 1.000 kelahiran yang didiagnosis autisme) untuk memahami kebutuhan layanan dan apakah sistem kesehatan sudah menjangkau semua anak secara adil.
Sebuah tinjauan sistematis terbaru di Journal of Autism and Developmental Disorders menyoroti perubahan besar pada peta prevalensi autisme di Amerika Serikat. Studi ini mengumpulkan 17 penelitian berskala populasi (berbasis kohor kelahiran) yang sejak 1990-an secara khusus melaporkan autisme menurut ras/etnis. Agar masuk tinjauan, setiap studi harus memasukkan variabel ras/etnis dalam perhitungan, memiliki setidaknya 1.000 kasus autisme, dan diterbitkan hingga 2023. Dengan kata lain, ini bukan satu studi kecil, melainkan rangkuman bukti paling luas yang tersedia sampai sekarang.
Baca juga artikel tentang: Misteri DNA Terpecahkan: Kode Tak Terlihat yang Mengatur Hidup Kita
Temuan utamanya, pola yang berbalik
Hampir di semua kohor kelahiran sebelum 2010, angka autisme tertinggi tercatat pada anak kulit putih. Namun, mulai kohor kelahiran 2010, gambarnya berbalik: prevalensi pada anak kulit hitam, Hispanik, dan Asia/Pasifik melampaui anak kulit putih. Untuk memberi gambaran skala: pada kohor 2010, prevalensi di kelompok minoritas tersebut berada di kisaran 22–23 per 1.000 anak, sementara pada anak kulit putih sekitar 21 per 1.000. Tren ini berlanjut pada kohor 2012, artinya bukan kebetulan satu tahun saja, melainkan perubahan yang menetap.
Perlu diingat, “ras” di sini bukan kategori biologis kaku, melainkan label sosial yang sering kali berjalan bersama faktor lain seperti bahasa di rumah, akses layanan kesehatan, pendapatan, dan lingkungan tempat tinggal. Karena itu, peneliti berhati-hati dalam menafsirkan temuan: pola berbalik ini tidak otomatis berarti autisme “lebih banyak terjadi” pada kelompok tertentu secara biologis. Lebih masuk akal untuk melihatnya sebagai cermin dari siapa yang berhasil terjangkau oleh sistem skrining dan diagnosis.

Apa yang mungkin mendorong perubahan?
Tinjauan ini menyebut beberapa penggerak yang saling terkait:
- Perbaikan skrining dan diagnosis pada kelompok yang dulu kurang terlayani.
Sejak 2000-an, kampanye skrining dini (misalnya anjuran skrining pada usia 18–24 bulan) semakin agresif. Materi edukasi dalam berbagai bahasa dan pelibatan sekolah serta layanan intervensi dini membantu keluarga yang sebelumnya terlewat. - Kebijakan asuransi dan pembiayaan.
Perubahan kebijakan (seperti perluasan cakupan layanan autisme oleh asuransi publik maupun swasta) membuat lebih banyak anak dari kelompok minoritas layak mendapatkan penilaian dan terapi, sehingga angka tercatat naik. - Kebijakan imigrasi dan demografi.
Komposisi populasi AS berubah. Sebagian keluarga pendatang mungkin tinggal di wilayah dengan program skrining aktif atau memiliki tingkat pendidikan yang makin tinggi, yang keduanya terkait dengan kesadaran untuk mencari diagnosis. - Peningkatan pendidikan pada kelompok minoritas.
Pendidikan orang tua berhubungan dengan kepekaan terhadap tanda-tanda perkembangan dan kemampuan menavigasi rujukan medis–psikologis. Peningkatan akses pendidikan bisa mendorong deteksi yang lebih merata.
Singkatnya, ketika hambatan sistemik (bahasa, biaya, panjang antrean, bias budaya) mulai berkurang, “kasus tersembunyi” di kelompok minoritas lebih sering teridentifikasi. Hasilnya tampak sebagai kenaikan prevalensi yang melampaui kelompok yang sejak awal sudah relatif lebih terjangkau.
Mengapa ini penting?
- Perencanaan layanan.
Pemerintah daerah dan sekolah perlu menyesuaikan kapasitas layanan berdasarkan data terbaru, bukan asumsi lama. Bila lebih banyak anak Hispanik atau Asia/Pasifik kini terdiagnosis, maka layanan bilingual, pelatihan guru, dan dukungan keluarga di wilayah dengan komunitas tersebut harus ditingkatkan. - Keadilan kesehatan (health equity).
Tujuannya bukan membuat angka autisme “sama” antar ras melainkan memastikan setiap anak yang membutuhkan mendapat penilaian dan intervensi tepat waktu, apa pun latar belakangnya. Pola berbalik ini pertanda baik: jurang keterjangkauan mungkin mulai mengecil. - Menguji bias dan kualitas data.
Ketika angka berubah, sistem pencatatan harus ikut diperbaiki. Misalnya, mengelompokkan subkelompok (Asia Selatan vs Asia Timur, atau kategori Hispanik berdasarkan asal negara) bisa mengungkap perbedaan kebutuhan yang saat ini “tersembunyi” karena kategori terlalu luas.
Apa yang tidak bisa disimpulkan?
- Tinjauan ini terutama menilai angka yang tercatat dalam studi populasi, bukan memeriksa faktor biologis penyebab autisme. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa satu kelompok ras “lebih berisiko” secara genetik hanya dari data prevalensi.
- Perbedaan dalam metode dan sumber data (catatan sekolah, klinik, asuransi) bisa memengaruhi hasil. Meski peneliti memilih studi besar dan membandingkan kohor kelahiran, standar pelaporan antarnegara bagian tetap bervariasi.
- Prevalensi yang lebih tinggi tidak berarti kondisi makin “parah” ini sering kali berarti deteksi lebih baik.
Apa artinya bagi orang tua dan tenaga kesehatan?
- Minta skrining perkembangan rutin pada kunjungan balita (sekitar 18 dan 24 bulan). Tanyakan alat skrining apa yang digunakan dan apa langkah berikutnya bila hasilnya “positif”.
- Catat kekhawatiran Anda (bahasa yang terlambat, kurangnya kontak mata, pola minat yang sempit). Membawa contoh video pendek perilaku anak dapat membantu klinisi.
- Gunakan hak Anda: minta penerjemah bila bahasa menjadi kendala. Banyak layanan publik mewajibkan dukungan bahasa.
- Jangan takut label: diagnosis membuka akses ke terapi wicara, okupasi, dan dukungan sekolah. Semakin dini, semakin baik hasil jangka panjang.
Arah riset berikutnya
Penulis tinjauan mendorong penelitian yang:
- Memisahkan pengaruh lingkungan (akses layanan, pendidikan, lingkungan sosial) dari faktor biologis.
- Menggunakan data longitudinal (mengikuti anak sejak lahir) untuk melihat kapan dan bagaimana jurang akses menutup.
- Menggunakan kategori etnis yang lebih rinci dan indikator sosial (pendapatan, bahasa rumah, status imigrasi, zona sekolah) agar kebijakan bisa lebih tepat sasaran.
Perubahan peta prevalensi autisme di AS sejak 2010 tampaknya adalah cermin yang lebih jujur tentang siapa yang berhasil dijangkau oleh sistem, bukan perubahan mendadak pada biologi manusia. Ketika hambatan bahasa, biaya, dan bias berkurang, lebih banyak anak dari beragam latar belakang dapat diidentifikasi dan didukung.
Tugas kita selanjutnya bukan mempertanyakan “kelompok mana yang lebih banyak autisnya”, melainkan memastikan setiap anak (tanpa memandang ras atau etnis) mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi penuh di masyarakat. Angka-angka ini memberi arah; tugas kitalah membuat jalan itu benar-benar ramah untuk semua.
Baca juga artikel tentang: Pengembangan Bahasa dan Literasi di antara Anak-anak Penderita Autism Spectrum Disorder (ASD)
REFERENSI:
Gallin, Zachary dkk. 2025. Racial differences in the prevalence of autism spectrum disorder: a systematic review. Journal of Autism and Developmental Disorders 55 (9), 3364-3377.

