Dalam dunia kimia dan biologi, banyak reaksi dan interaksi molekuler yang membentuk struktur yang lebih besar. Salah satu fenomena yang telah lama dipahami adalah ikatan kovalen, di mana atom-atom dalam sebuah molekul saling terhubung melalui pasangan elektron yang dibagikan. Namun, di alam, ada juga pola-pola molekul yang saling terhubung melalui kekuatan yang lebih lemah dan dinamis, yang disebut dengan jaringan supramolekul. Jaringan supramolekul ini dapat terbentuk secara otomatis dari sebuah kelompok molekul awal, seperti kristal, dan kemudian berkembang menjadi struktur yang lebih besar dan stabil.
Apa Itu Jaringan Supramolekul?
Jaringan supramolekul merujuk pada struktur yang terbentuk dari molekul-molekul yang berinteraksi melalui gaya non-kovalen. Ini berbeda dari ikatan kovalen yang kuat, di mana atom saling berbagi elektron. Pada jaringan supramolekul, gaya-gaya seperti ikatan hidrogen, interaksi elektrostatik, dan gaya van der Waals berperan dalam pembentukan struktur. Jaringan ini dapat menyusun diri sendiri (self-assemble) dari unit-unit molekuler sederhana, seperti yang ditemukan pada jaringan protein dalam tubuh.
Salah satu contoh yang dikenal adalah pembentukan jaringan heksagonal yang sangat umum di alam, termasuk pada sarang lebah yang terbuat dari pola heksagonal alami. Di dalam tubuh manusia, sel-sel juga menggunakan jaringan supramolekul heksagonal untuk berbagai fungsi biologis. Sebagai contoh, clathrin, sebuah protein, membentuk struktur heksagonal yang membantu sel dalam menangkap nutrisi dengan membentuk gelembung di sekitar molekul yang akan dimakan.
Penemuan Terbaru Tentang Jaringan Supramolekul
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Chemistry mengungkapkan mekanisme yang mengontrol pembentukan jaringan supramolekul. Penelitian ini dipimpin oleh Maartje Bastings dari Programable Biomaterials Lab (PBL) di EPFL (École Polytechnique Fédérale de Lausanne), bersama dengan tim dari Laboratory for Bio- and Nano-Instrumentation (LBNI). Mereka menggunakan teknologi DNA nanoteknologi untuk mengeksplorasi bagaimana molekul dengan bentuk tertentu dapat membentuk jaringan yang lebih besar.
Penelitian ini berfokus pada monomer DNA berbentuk bintang tiga (3PS) yang dirancang dengan panjang lengan berbeda. Tim peneliti ingin memahami bagaimana perubahan kecil pada fleksibilitas molekul dapat memengaruhi pembentukan jaringan yang lebih besar. Hasilnya menunjukkan bahwa fleksibilitas antarmolekul—atau yang mereka sebut sebagai “fleksibilitas antarmuka”—memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan dan pertumbuhan jaringan supramolekul. Meskipun kekuatan ikatan antar molekul atau jumlah ikatan yang terbentuk biasanya dianggap sebagai faktor utama dalam pembentukan jaringan, penelitian ini menunjukkan bahwa fleksibilitas antarmolekul ternyata memiliki peran yang jauh lebih besar.
Apa Itu Fleksibilitas Antarmolekul?
Fleksibilitas antarmolekul mengacu pada kemampuan bagian dari sebuah molekul untuk bergerak atau berubah orientasi saat berinteraksi dengan molekul lain. Dalam eksperimen ini, fleksibilitas antarmolekul diuji dengan merancang dua versi molekul 3PS, satu dengan lengan yang pendek dan kaku, dan satu lagi dengan lengan yang lebih panjang dan lebih fleksibel. Tim peneliti menemukan bahwa molekul dengan lengan pendek dan kaku lebih cenderung membentuk jaringan heksagonal yang stabil, sedangkan molekul dengan lengan yang lebih panjang dan lebih fleksibel tidak mampu membentuk jaringan yang besar atau stabil.
Mengapa Fleksibilitas Itu Penting?
Penemuan ini berlawanan dengan pemahaman yang lebih lama bahwa kekuatan ikatan antar molekul adalah faktor penentu utama dalam pembentukan struktur. Dalam penelitian ini, meskipun molekul dengan lengan panjang memiliki afinitas yang lebih kuat untuk terikat dengan molekul lainnya, fleksibilitas antarmolekul justru yang mengendalikan pembentukan jaringan yang lebih besar dan stabil. Molekul yang lebih fleksibel cenderung memiliki kesulitan untuk membentuk koneksi yang kuat dan stabil dengan molekul lain, karena terlalu banyak pergeseran dalam orientasi bagian-bagian molekul tersebut.
Tim menjelaskan bahwa untuk membentuk jaringan yang stabil, antarmuka atau titik di mana dua molekul saling terhubung harus kaku. Jika salah satu molekul terlalu fleksibel, maka peluang untuk membentuk ikatan yang stabil akan jauh berkurang. Menariknya, mereka juga menemukan bahwa meskipun molekul dengan fleksibilitas tinggi sulit membentuk jaringan yang stabil, mereka dapat diatur untuk menjadi lebih kaku pada titik ikatan (antarmuka), memungkinkan mereka untuk membentuk jaringan yang lebih stabil meskipun molekul tersebut lebih besar atau lebih fleksibel secara keseluruhan.

Potensi Aplikasi dalam Bioteknologi dan Teknologi Nano
Penemuan ini membuka peluang besar bagi desain jaringan supramolekul dalam berbagai aplikasi, terutama dalam pengembangan terapi nanoteknologi dan material biomolekuler. Salah satu potensi aplikasinya adalah dalam pengobatan seluler, di mana jaringan supramolekul dapat digunakan untuk menghancurkan atau mencegah pembentukan jaringan yang tidak diinginkan, seperti plak amiloid yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Selain itu, penelitian ini juga dapat membantu dalam pengembangan perangkat elektronik masa depan dengan memanfaatkan self-assembly jaringan nano yang terkontrol.
Tim menyebutkan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan pada desain protein dan molekul lain yang dapat merakit dirinya sendiri, memungkinkan pembuatan struktur yang lebih kompleks dan lebih terarah di tingkat molekuler. Selain itu, penemuan ini juga dapat berkontribusi dalam bidang spintronik, yaitu bidang yang berfokus pada pengembangan material dan perangkat berbasis sifat spin elektron yang sangat kecil.
Baca juga: Selulosa Nanokristalin: Material Alam Serbaguna di Masa Depan
Mengapa Ini Menarik?
Penemuan tentang fleksibilitas antarmolekul ini penting karena memberikan wawasan baru yang memungkinkan ilmuwan untuk mendesain dan mengontrol pembentukan jaringan supramolekul dengan cara yang lebih canggih dan terarah. Dengan memahami bagaimana fleksibilitas molekul memengaruhi pembentukan struktur ini, para ilmuwan dapat mengoptimalkan desain molekuler untuk aplikasi-aplikasi teknologi tinggi, dari terapi medis hingga perangkat elektronik dan material cerdas. Teknologi DNA nanoteknologi yang digunakan dalam penelitian ini juga menunjukkan potensi besar untuk memecahkan masalah dalam berbagai bidang ilmu dan teknologi.
Kesimpulan
Pentingnya fleksibilitas antarmolekul dalam pembentukan jaringan supramolekul ini membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut dalam desain material dan terapi bioteknologi. Dengan kemampuan untuk mengatur fleksibilitas pada titik-titik ikatan antar molekul, ilmuwan dapat menciptakan jaringan yang lebih stabil dan fungsional sesuai dengan kebutuhan spesifik aplikasi tertentu. Penemuan ini mengarah pada kemajuan yang lebih besar dalam pemahaman kita tentang struktur dan fungsi molekul dalam sistem biologis, dan juga membuka potensi untuk inovasi dalam nanoteknologi dan material masa depan.
Referensi:
[1] https://actu.epfl.ch/news/scientists-discover-mechanism-driving-molecular–2/, diakses pada 19 Februari 2025
[2] Vincenzo Caroprese, Cem Tekin, Veronika Cencen, Majid Mosayebi, Navid Asmari, Tanniemola B. Liverpool, Derek N. Woolfson, Georg E. Fantner, Maartje M. C. Bastings. Interface flexibility controls the nucleation and growth of supramolecular networks. Nature Chemistry, 2025; DOI: 10.1038/s41557-025-01741-y

