Kunci Sukses ASI Eksklusif: Belajar dari Para Ibu di Surabaya

Air Susu Ibu (ASI) adalah anugerah alami yang mengandung nutrisi sempurna dan perlindungan imun terbaik bagi bayi. Organisasi Kesehatan Dunia […]

ASI lebih ramah lingkungan

Air Susu Ibu (ASI) adalah anugerah alami yang mengandung nutrisi sempurna dan perlindungan imun terbaik bagi bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, karena terbukti mampu menekan risiko penyakit bahkan menyelamatkan nyawa. Dalam situasi pandemi COVID-19 yang lalu pun peran ASI menjadi semakin krusial, mengingat daya tahan tubuh bayi masih sangat bergantung pada asupan dari ibu.

Meski begitu, penerapan ASI eksklusif di Indonesia masih jauh dari ideal. Data SDKI 2012 menyebutkan bahwa hanya sekitar 42% bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Kendala seperti kurangnya informasi, dukungan sosial yang lemah, tekanan pekerjaan, serta rendahnya kepercayaan diri ibu menjadi penghambat utama. Dalam konteks pandemi, tantangan ini semakin kompleks.

Studi Kasus: Suara Ibu Menyusui dari Surabaya

Penelitian oleh Masruroh dkk. (2022) yang dilakukan di Puskesmas Jagir, Surabaya, mencoba memahami perilaku pemberian ASI eksklusif oleh para ibu selama masa pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods), yaitu survei terhadap 50 ibu dengan bayi berusia 6–12 bulan, serta wawancara mendalam dengan lima bidan dan tiga konselor menyusui.

Baca juga: https://warstek.com/mahasiswa-orang-tua/

Apa yang Ditemukan?

1. Pengetahuan dan Sikap Positif Berperan Besar
Sebagian besar ibu (72%) memiliki pengetahuan sedang tentang pentingnya ASI eksklusif, dan 82% menunjukkan sikap yang mendukung praktik ini. Sebanyak 68% ibu juga menerapkan pola menyusui yang sesuai anjuran. Ketiga aspek ini ternyata berkorelasi signifikan dengan keberhasilan ASI eksklusif.

2. Percaya Diri Jadi Modal Utama
Penelitian juga menemukan bahwa self-efficacy atau rasa percaya diri ibu dalam kemampuan menyusui sangat memengaruhi keberhasilan praktik ASI eksklusif. Lebih dari setengah ibu menunjukkan tingkat self-efficacy yang tinggi, dan ini terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku menyusui mereka.

Dukungan yang Menentukan

Dukungan Keluarga menjadi kekuatan besar dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Kehadiran suami dan keluarga inti yang memberi semangat mampu meningkatkan ketekunan ibu. Seperti disampaikan oleh salah satu bidan:

“Keluarga sangat penting memberikan motivasi untuk ibu menyusui.” – IM, 34 tahun.

Tenaga Kesehatan juga memainkan peran penting melalui edukasi yang konsisten, baik saat kehamilan maupun setelah persalinan. Konselor menyusui dan bidan menjadi sumber informasi yang dipercaya ibu.

“Bidan harus aktif menjelaskan pentingnya ASI eksklusif sejak masa kehamilan.” – AH, 26 tahun.

*Akses Informasi yang Mudah, serta *motivasi pribadi ibu, juga menjadi pendorong kuat. Ketika ibu sudah memiliki niat dan bekal informasi yang benar, tantangan seberat apapun bisa dihadapi.

Hambatan yang Masih Mengadang

Di sisi lain, berbagai hambatan juga muncul, seperti *mitos seputar ASI, **ketakutan tidak cukup produksi ASI, serta *pandangan keliru terhadap kolostrum. Beberapa ibu bahkan tidak memiliki niat sejak awal untuk menyusui secara eksklusif karena alasan pekerjaan atau tekanan lingkungan.

“Ada yang merasa ASI-nya tidak keluar, padahal itu hanya karena belum tahu teknik yang benar.” – IM, 34 tahun.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Penelitian ini membuktikan bahwa keberhasilan ASI eksklusif tidak hanya bergantung pada aspek biologis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan budaya. Dalam konteks pandemi, informasi yang tepat dan dukungan emosional menjadi sangat penting untuk membantu ibu mengatasi kecemasan dan kebingungan.

Dari sisi kebijakan, hasil ini menguatkan pentingnya:

  • Edukasi yang konsisten dan mudah dipahami selama kehamilan.
  • Penguatan peran keluarga, terutama suami, dalam mendukung ibu menyusui.
  • Pelatihan tenaga kesehatan untuk memberikan pendekatan yang empatik dan personal.
  • Program komunikasi publik untuk meluruskan mitos seputar ASI.

Penutup

Cerita dari para ibu di Surabaya ini menunjukkan bahwa keberhasilan ASI eksklusif sangat mungkin dicapai, bahkan di masa sulit seperti pandemi. Dengan bekal pengetahuan, sikap positif, kepercayaan diri, serta dukungan yang tepat, ibu mampu melewati berbagai tantangan dan memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi dan pijakan kebijakan untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif di Indonesia—karena kesehatan generasi masa depan dimulai dari dekapan pertama seorang ibu.

Referensi:

Masruroh, N., Rizki, L. Kh., Ashari, N. A., & Irma, I. (2022).
Analisis perilaku ibu menyusui dalam memberikan ASI eksklusif di masa pandemi COVID‑19 di Surabaya (mix method). Muhammadiyah Journal of Midwifery, 3(1). https://jurnal.umj.ac.id/index.php/MyJM/article/view/10443

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top