
Dalam sistem pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada, perguruan tinggi komunitas telah menjadi pintu masuk utama bagi banyak orang untuk meraih pendidikan lanjutan. Salah satu kelompok mahasiswa yang sering kali terabaikan adalah mahasiswa yang juga orang tua. Margaret W. Sallee dan Rebecca D. Cox, dalam penelitian mereka tahun 2019 yang berjudul Thinking beyond Childcare: Supporting Community College Student-Parents, mengungkap tantangan besar yang dihadapi kelompok ini. Mereka menyoroti bagaimana kampus-kampus sering kali gagal memberikan dukungan yang memadai bagi mahasiswa-orang tua, dan bagaimana agen institusi dapat memainkan peran penting dalam membantu mereka mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
Realitas Mahasiswa-Orang Tua
Mahasiswa-orang tua membentuk proporsi yang signifikan dari populasi mahasiswa di perguruan tinggi komunitas di Amerika Serikat dan Kanada. Namun, keberadaan mereka sering kali tidak terlihat atau dianggap tidak memerlukan perhatian khusus. Kehidupan mereka adalah pertemuan kompleks antara tanggung jawab akademik, kebutuhan finansial, dan komitmen keluarga. Dalam konteks ini, mereka menghadapi tantangan unik yang berbeda dari mahasiswa tradisional.
Sebagai contoh, seorang ibu tunggal yang berusaha mendapatkan gelar associate mungkin harus membagi waktunya antara menghadiri kelas, mengerjakan tugas, bekerja paruh waktu, dan mengasuh anaknya. Situasi ini menciptakan tekanan luar biasa, yang sering kali memengaruhi kemampuan mereka untuk menyelesaikan pendidikan.
Hambatan yang Dihasilkan Lingkungan Kampus
Penelitian Sallee dan Cox mengungkap bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh mahasiswa-orang tua adalah apa yang disebut “lingkungan kampus yang buta terhadap kebutuhan perawatan” (care-blind campus environments). Lingkungan ini dirancang tanpa mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa yang memiliki tanggung jawab keluarga.
Sebagai contoh, banyak perguruan tinggi komunitas tidak memiliki fasilitas penitipan anak yang memadai atau layanan lain yang dapat membantu mahasiswa-orang tua menjalani pendidikan mereka. Jadwal kelas sering kali tidak fleksibel, sementara kantor administrasi memiliki jam operasional yang tidak sesuai dengan jadwal mahasiswa-orang tua yang sibuk. Selain itu, kebijakan institusi cenderung tidak sensitif terhadap kebutuhan kelompok ini, seperti kebijakan cuti akademik yang tidak mempertimbangkan alasan keluarga.
Baca juga: Dari Datar ke Bulat: Bagaimana Kaum Bumi Datar Berbalik Arah
Peran Agen Institusi
Dalam penelitian mereka, Sallee dan Cox menggunakan wawancara dengan mahasiswa-orang tua dan administrator di dua perguruan tinggi komunitas untuk menggali bagaimana kelompok ini mengakses sumber daya kampus. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun ada hambatan organisasi yang signifikan, agen institusi – seperti dosen, staf pendukung, atau penasihat akademik – memainkan peran penting dalam membantu mahasiswa-orang tua mengatasi tantangan ini.
Agen institusi yang peduli sering kali bertindak di luar tugas formal mereka untuk memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan. Misalnya, seorang penasihat akademik mungkin membantu mahasiswa-orang tua menyesuaikan jadwal kelas mereka agar lebih sesuai dengan tanggung jawab keluarga. Atau seorang dosen dapat menawarkan fleksibilitas dalam pengumpulan tugas bagi mahasiswa yang menghadapi keadaan darurat keluarga.
Namun, tidak semua mahasiswa-orang tua memiliki akses yang sama ke dukungan ini. Banyak dari mereka merasa ragu atau malu untuk mencari bantuan, terutama di lingkungan kampus yang tidak secara eksplisit mengakui atau mendukung kebutuhan mereka.
Kebutuhan akan Perubahan Sistemik
Penelitian ini menyoroti pentingnya perubahan sistemik untuk mendukung mahasiswa-orang tua dengan lebih baik. Sementara agen institusi dapat membantu individu tertentu, pendekatan ini tidak cukup untuk mengatasi tantangan yang lebih luas.
Pertama, perguruan tinggi komunitas perlu mengembangkan kebijakan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan mahasiswa-orang tua. Hal ini dapat mencakup penawaran layanan penitipan anak yang terjangkau, pengaturan jadwal kelas yang lebih fleksibel, atau kebijakan cuti akademik yang mendukung.
Kedua, kampus perlu menciptakan budaya yang lebih mendukung melalui pelatihan bagi staf dan fakultas untuk meningkatkan kesadaran akan tantangan yang dihadapi mahasiswa-orang tua. Dengan memahami kebutuhan unik kelompok ini, institusi dapat menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan inklusif.
Ketiga, mahasiswa-orang tua harus didukung untuk merasa lebih nyaman dalam mencari bantuan. Hal ini dapat dilakukan melalui program orientasi, kelompok dukungan, atau layanan konseling yang dirancang khusus untuk mereka.
Implikasi untuk Masa Depan
Penelitian Sallee dan Cox membuka ruang diskusi penting tentang bagaimana perguruan tinggi komunitas dapat menjadi lebih inklusif. Dengan proporsi mahasiswa-orang tua yang terus bertambah, mendukung kelompok ini tidak hanya menjadi kebutuhan mendesak, tetapi juga langkah strategis untuk meningkatkan tingkat keberhasilan akademik dan menyelesaikan pendidikan.
Keberhasilan pendidikan mahasiswa-orang tua tidak hanya berdampak pada kehidupan mereka sendiri, tetapi juga pada anak-anak mereka, keluarga mereka, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan mengurangi hambatan dan menciptakan lingkungan yang lebih mendukung, perguruan tinggi komunitas dapat memainkan peran penting dalam membangun masa depan yang lebih adil dan inklusif.
Kesimpulan
Mahasiswa-orang tua adalah kelompok yang sering kali diabaikan dalam sistem pendidikan tinggi. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian ini, mereka menghadapi tantangan yang signifikan dalam mengakses sumber daya kampus yang dapat membantu mereka berhasil.
Dalam konteks ini, agen institusi memiliki peran penting sebagai jembatan untuk membantu mereka mengatasi hambatan. Namun, dukungan ini perlu dilengkapi dengan perubahan sistemik yang mencakup kebijakan yang lebih inklusif, budaya kampus yang mendukung, dan akses yang lebih luas ke layanan penting.
Dengan melampaui pemikiran konvensional yang hanya berfokus pada penyediaan penitipan anak, perguruan tinggi komunitas dapat menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif dan mendukung mahasiswa-orang tua dalam mencapai tujuan akademik mereka. Penelitian ini adalah pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyediakan pengetahuan, tetapi juga tentang menciptakan peluang yang setara bagi semua.
Referensi
Sallee, M. W., & Cox, R. D.. (2019). Thinking beyond Childcare: Supporting Community College Student-Parents. American Journal of Education, 125. https://doi.org/10.1086/704094
