Dalam dunia astronomi, setiap penemuan baru selalu membawa kita lebih dekat untuk memahami alam semesta yang luas dan penuh misteri ini. Baru-baru ini, para astronom berhasil mencatat peristiwa luar biasa yang belum pernah dikonfirmasi sebelumnya: letusan massa korona (coronal mass ejection atau CME) pada bintang di luar tata surya kita. Penemuan ini tidak hanya menandai tonggak sejarah dalam studi bintang, tetapi juga memberikan wawasan penting tentang potensi kelayakhunian planet-planet di sekitar bintang tersebut.

Apa Itu Letusan Massa Korona (CME)?
CME adalah fenomena di mana gas dan plasma meletus dari korona bintang, yaitu lapisan terluar atmosfernya. Di tata surya kita, CME yang berasal dari Matahari adalah peristiwa yang cukup umum. Para fisikawan surya mencatat banyak CME setiap tahunnya. Sebagian besar dari letusan ini bergerak menjauh ke luar angkasa tanpa berdampak pada Bumi. Namun, ketika sebuah CME cukup kuat dan mengarah langsung ke Bumi, dampaknya bisa signifikan. CME dapat menyebabkan badai geomagnetik, memunculkan aurora yang indah, hingga mengganggu komunikasi dan jaringan listrik.
Lebih jauh lagi, jika sebuah planet cukup dekat dengan bintang induknya, CME yang sangat kuat berpotensi merusak atau bahkan menghilangkan atmosfer planet tersebut. Hal ini tentu saja memiliki implikasi besar dalam menentukan apakah sebuah planet dapat mendukung kehidupan.
Penemuan CME pada Bintang Lain
Hingga saat ini, CME hanya pernah diamati pada Matahari. Namun, tim peneliti internasional yang menggunakan teleskop XMM-Newton milik European Space Agency (ESA) dan teleskop LOFAR berhasil mengonfirmasi keberadaan CME pada bintang lain untuk pertama kalinya. Bintang tersebut adalah sebuah katai merah (red dwarf) yang terletak sekitar 40 tahun cahaya dari Bumi.
“Kami telah lama ingin menemukan CME pada bintang lain,” ujar Joe Callingham dari Netherlands Institute for Radio Astronomy (ASTRON), penulis utama penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature. “Penelitian sebelumnya hanya mampu memberi petunjuk atau indikasi keberadaan CME, tetapi tidak pernah benar-benar mengonfirmasi bahwa material tersebut telah keluar dari atmosfer bintang. Kini, kami berhasil melakukannya.”
Bagaimana Penemuan Ini Terjadi?
Saat CME bergerak melalui lapisan bintang dan keluar ke angkasa, ia menghasilkan gelombang kejut serta semburan gelombang radio intens. Tim peneliti mendeteksi sinyal radio pendek ini menggunakan teleskop LOFAR. Sinyal tersebut menjadi bukti bahwa material benar-benar telah meninggalkan medan magnet kuat bintang tersebut.
“Jenis sinyal radio seperti ini tidak akan ada kecuali material telah sepenuhnya keluar dari ‘gelembung’ magnetik bintang,” jelas Callingham. “Dengan kata lain, sinyal ini disebabkan oleh CME.”
Tim kemudian menggunakan teleskop XMM-Newton untuk menganalisis suhu, rotasi, dan kecerahan bintang dalam spektrum sinar-X. Data ini sangat penting untuk memahami sifat sinyal radio yang terdeteksi serta mengonfirmasi bahwa peristiwa yang diamati memang merupakan CME.
“Kombinasi LOFAR dan XMM-Newton sangat penting dalam penelitian ini,” kata David Konijn, salah satu penulis penelitian dan mahasiswa doktoral di ASTRON. “Tanpa keduanya, kami tidak akan mampu mengidentifikasi gerakan CME atau menghubungkannya dengan konteks Matahari.”
Karakteristik Bintang Katai Merah
Bintang tempat terjadinya CME adalah katai merah, jenis bintang paling umum di galaksi kita. Katai merah memiliki massa maksimal sekitar 60 persen dari massa Matahari dan tingkat kecerahan hanya 10 persen dari Matahari. Suhu permukaannya relatif rendah, yaitu sekitar 3.600 derajat Celsius (6.600 derajat Fahrenheit). Sebagian besar eksoplanet yang ditemukan sejauh ini mengorbit bintang jenis ini.
Namun, katai merah dikenal memiliki aktivitas magnetik yang intens, termasuk seringnya terjadi letusan seperti suar bintang (stellar flares) dan CME. Aktivitas ini dapat memengaruhi kelayakhunian planet-planet yang berada di zona layak huni (habitable zone) bintang tersebut — wilayah di mana air cair dapat eksis di permukaan planet.
Implikasi Penemuan Ini
CME yang terdeteksi pada katai merah ini bergerak dengan kecepatan luar biasa, yaitu sekitar 2.400 kilometer per detik (1.500 mil per detik). Kecepatan ini jauh lebih cepat dibandingkan sebagian besar CME Matahari, hanya sekitar 5 persen dari CME Matahari yang mencapai kecepatan serupa.
Kecepatan tinggi dan densitas material CME ini cukup untuk sepenuhnya menghilangkan atmosfer planet-planet yang berada dekat dengan bintang tersebut. Hal ini memberikan wawasan penting tentang kemungkinan kehidupan di planet-planet di sekitar katai merah. Jika sebuah bintang sering mengalami letusan CME yang kuat, atmosfer planet-planetnya bisa terkikis habis dalam waktu singkat, membuatnya tidak layak huni.
“Penelitian ini membuka cakrawala baru dalam studi tentang letusan dan cuaca antariksa di sekitar bintang lain,” ujar Henrik Eklund, peneliti ESA yang berbasis di European Space Research and Technology Centre (ESTEC), Belanda.
Penemuan ini juga menunjukkan bahwa cuaca antariksa bisa jauh lebih ekstrem di sekitar katai merah dibandingkan Matahari kita. Mengingat katai merah adalah jenis bintang utama yang menjadi tuan rumah bagi eksoplanet potensial layak huni, hal ini memiliki dampak besar terhadap pemahaman kita tentang bagaimana planet-planet tersebut dapat mempertahankan atmosfernya dan tetap layak huni dalam jangka panjang.
Kolaborasi Ilmiah yang Menginspirasi
Penemuan CME pada bintang lain ini adalah hasil kolaborasi berbagai institusi dan teknologi mutakhir. Penggunaan teleskop LOFAR untuk mendeteksi gelombang radio dan teleskop XMM-Newton untuk menganalisis data sinar-X menunjukkan betapa pentingnya kerja sama lintas disiplin dalam penelitian ilmiah.
“XMM-Newton membantu kami memahami bagaimana karakteristik CME berbeda pada setiap jenis bintang,” kata Erik Kuulkers, ilmuwan proyek XMM-Newton di ESA. “Penemuan ini tidak hanya relevan untuk studi tentang bintang dan Matahari kita, tetapi juga untuk pencarian dunia-dunia layak huni di luar tata surya.”
Penemuan ini menandai akhir dari pencarian panjang selama beberapa dekade untuk mengonfirmasi keberadaan CME di luar Matahari kita. Di saat yang sama, penelitian ini membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut tentang bagaimana cuaca antariksa memengaruhi evolusi atmosfer planet dan potensi kehidupan di luar Bumi.
Dengan semakin canggihnya teknologi observasi astronomi, mungkin saja dalam waktu dekat kita akan mendapatkan lebih banyak jawaban atas misteri alam semesta — sekaligus menemukan lebih banyak pertanyaan baru yang menantang untuk dijawab.
Daftar Referensi
- https://www.nature.com/articles/s41586-025-09715-3 — “Radio burst from a stellar coronal mass ejection” (Nature, 2025). Nature
- https://www.space.com/astronomy/stars/astronomers-spot-1st-coronal-mass-ejection-from-an-alien-star-and-thats-bad-news-in-the-search-for-life — “Astronomers spot 1st coronal mass ejection from an alien star …” Space
- https://www.esa.int/Science_Exploration/Space_Science/XMM-Newton/First_confirmed_sighting_of_explosive_burst_on_nearby_star — “First confirmed sighting of explosive burst on nearby star” (ESA/XMM-Newton) Badan Antariksa Eropa
- https://phys.org/news/2025-11-coronal-mass-ejection-star-sun.html — “First confirmed coronal mass ejection spotted on a star …” (Phys.org) Phys.org
- https://www.europeanscientist.com/en/energy/astronomers-spot-explosion-in-a-red-dwarf/ — “Astronomers spot explosion in a red dwarf” (European Scientist) europeanscientist.com

