Bayangkan seberkas cahaya dari sebuah bintang yang mulai berangkat ketika alam semesta masih sangat muda. Cahaya itu menembus ruang angkasa, melintasi jarak yang begitu luas hingga butuh waktu 13 miliar tahun untuk sampai ke mata kita. Dan hari ini, dengan bantuan teleskop supercanggih, cahaya itu akhirnya bisa tertangkap oleh para ilmuwan di Bumi. Bintang yang luar biasa jauh ini diberi nama Earendel.
Dalam bahasa sederhana, ketika kita melihat bintang seperti Earendel, sebenarnya kita sedang “mengintip ke masa lalu”. Sebab, cahaya yang kita lihat hari ini bukanlah kondisi bintang saat ini, melainkan kondisinya miliaran tahun yang lalu, ketika cahaya itu pertama kali dipancarkan. Semakin jauh sebuah objek di alam semesta, semakin lama pula cahaya yang ditempuh untuk sampai ke kita, itulah sebabnya astronomi sering disebut sebagai semacam “mesin waktu kosmik”.
Nama Earendel sendiri diambil dari bahasa Inggris Kuno yang berarti “bintang pagi” atau “cahaya fajar”. Nama ini dipilih karena bintang tersebut seolah menjadi cahaya pertama yang menembus kegelapan kosmos purba, mengingat usianya yang sangat dekat dengan masa-masa awal pembentukan galaksi dan bintang.
Pada awalnya, para astronom memperkirakan bahwa Earendel adalah sebuah bintang tunggal yang sangat terang. Jika benar, maka ia menjadi kandidat kuat sebagai bintang individu paling jauh yang pernah berhasil diamati manusia sepanjang sejarah.
Namun, dengan perkembangan teknologi pengamatan yang lebih mutakhir, misalnya menggunakan teleskop luar angkasa seperti James Webb Space Telescope (JWST), muncul kemungkinan baru. Para peneliti mulai berpikir: jangan-jangan yang kita lihat itu bukanlah satu bintang saja, melainkan gugus bintang.
Gugus bintang adalah sekumpulan bintang yang terbentuk di wilayah yang sama dan berada saling berdekatan di ruang angkasa. Dari jarak yang amat jauh, cahaya dari gugus bintang bisa tampak seperti berasal dari satu titik terang tunggal, padahal sebenarnya terdiri dari banyak bintang kecil yang bergabung.
Dengan kata lain, misteri Earendel masih belum sepenuhnya terpecahkan: apakah ia benar-benar bintang tunggal yang luar biasa terang, ataukah cahaya gabungan dari kelompok bintang purba yang lahir pada masa awal alam semesta? Pertanyaan ini masih menjadi bahan penelitian, dan jawabannya akan membantu ilmuwan memahami lebih dalam bagaimana bintang-bintang pertama terbentuk setelah “kelahiran” kosmos.
Dari Hubble ke James Webb: Penemuan yang Mengguncang
Tahun 2022, Teleskop Antariksa Hubble pertama kali menangkap cahaya Earendel. Letaknya di galaksi bernama Sunrise Arc. Fenomena pelensaan gravitasi yakni efek melengkungnya cahaya karena tarikan gravitasi dari gugus galaksi besar, membuat cahaya Earendel terlihat lebih terang dan “terzoom”.
Data awal menunjukkan Earendel jauh lebih panas dan terang daripada Matahari, mungkin mencapai jutaan kali lipat luminositas. Penemuan ini membuat ilmuwan antusias: apakah ini bintang supermasif dari generasi awal, atau yang disebut bintang Populasi III, bintang purba yang terbentuk hampir langsung setelah Big Bang?
Spektrum yang Membingungkan
Kini giliran James Webb Space Telescope (JWST) yang turun tangan. Dengan instrumen canggihnya seperti NIRCam dan NIRSpec, JWST bisa membaca spektrum cahaya Earendel dengan detail.
Hasilnya mengejutkan: pola cahaya yang terlihat lebih cocok dengan ciri gugus bintang daripada bintang tunggal. Gugus ini mungkin berisi ratusan ribu bintang kecil yang terikat gravitasi, bukannya satu bintang raksasa saja.
Spektrum tersebut memperlihatkan distribusi cahaya yang relatif merata, sesuatu yang sulit dijelaskan jika hanya berasal dari satu bintang.
Baca juga artikel tentang: Fisika di Balik Fenomena Aneh di Aliran Bintang GD-1
Apa Itu Gugus Bintang Globular?
Untuk memahami kemungkinan ini, kita perlu mengenal gugus bola (globular cluster).
- Gugus bola adalah sekumpulan ratusan ribu hingga jutaan bintang tua, sangat padat, berbentuk hampir bulat.
- Mereka biasanya mengorbit di halo galaksi, dan bisa berusia lebih dari 10 miliar tahun.
- Di Bima Sakti saja, kita mengenal lebih dari 150 gugus bola.
Jika Earendel adalah gugus bola, maka kita sedang menyaksikan salah satu gugus tertua di alam semesta yang terbentuk hanya beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang.
Tantangan Mengidentifikasi Earendel
Lalu mengapa sulit memastikan apakah Earendel bintang tunggal atau gugus? Ada beberapa alasan:
- Pelensaan gravitasi membuat cahaya sangat diperbesar, tapi juga bisa mencampurkan sinyal dari beberapa bintang sekaligus.
- Resolusi teleskop terbatas. Bahkan dengan JWST, jarak 13 miliar tahun cahaya membuat detail sulit dipisahkan.
- Fenomena microlensing cahaya bintang bisa berfluktuasi karena benda kecil lewat di depannya. Perubahan ini bisa meniru sinyal dari bintang tunggal atau gugus.
Sejauh ini, data bisa mendukung kedua skenario.
Menghitung Ulang Tingkat Pembesaran
Pada analisis awal, pembesaran cahaya Earendel diduga mencapai ribuan kali. Tapi penelitian terbaru dengan model lensa yang lebih akurat menyebutkan pembesaran hanya sekitar 43–67 kali.
Artinya, kecerahan aslinya mungkin jauh lebih kecil daripada perkiraan. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa cahaya tersebut bukan berasal dari satu bintang supermasif, melainkan dari sekumpulan bintang biasa yang dilihat bersama-sama.
Mengapa Penemuan Ini Penting?
Apapun jawabannya, Earendel adalah kunci untuk memahami masa awal semesta.
- Jika Earendel bintang tunggal Populasi III, ia akan menjadi bukti fisik pertama dari bintang purba yang hanya terdiri dari hidrogen dan helium murni, tanpa unsur berat.
- Jika Earendel gugus bintang, ini menunjukkan bahwa struktur kompleks, seperti kumpulan bintang besar, sudah ada sangat awal dalam sejarah kosmos.
Kedua skenario sama-sama membuka jalan baru dalam memahami bagaimana bintang dan galaksi pertama lahir.
Apa yang Akan Dilakukan Ilmuwan Selanjutnya?
Langkah berikutnya adalah mengamati Earendel lebih lama dengan JWST, terutama untuk melihat fluktuasi cahaya.
- Jika kecerahan berubah-ubah drastis, kemungkinan besar itu bintang tunggal.
- Jika relatif stabil, lebih mungkin gugus bintang.
Selain itu, pengamatan spektrum yang lebih tajam diharapkan bisa mendeteksi elemen kimia di sana. Kehadiran unsur berat, misalnya, bisa memberi petunjuk apakah Earendel benar-benar generasi pertama atau bukan.
Earendel adalah pengingat bahwa alam semesta selalu menyimpan kejutan. Cahaya kecil dari ujung waktu bisa mengguncang teori besar tentang asal-usul bintang. Apakah dia satu bintang raksasa, atau sekumpulan bintang purba yang bersinar bersama?
Jawabannya mungkin baru akan jelas dalam beberapa tahun ke depan. Namun, satu hal sudah pasti: setiap foton cahaya dari Earendel membawa kisah miliaran tahun yang lalu, kisah tentang lahirnya bintang, galaksi, bahkan bahan dasar kehidupan.
Baca juga artikel tentang: Voyager: Perjalanan Tanpa Akhir Menuju Ruang Antarbintang
REFERENSI:
Karantha, Shreejaya. 2025. Oops! Earendel, most distant star ever discovered, may not actually be a star, James Webb Telescope reveals. Live Science: https://www.livescience.com/space/astronomy/oops-earendel-most-distant-star-ever-discovered-may-not-actually-be-a-star-james-webb-telescope-reveals diakses pada tanggal 22 Agustus 2025.
Pascale, Massimo dkk. 2025. Is Earendel a Star Cluster?: Metal-poor Globular Cluster Progenitors at z∼ 6. The Astrophysical Journal Letters 988 (2), L76.
Scofield, Zachary P dkk. 2025. Is Earendel a Star?: Investigating the Sunrise Arc Using JWST Strong and Weak Gravitational Lensing Analyses. arXiv preprint arXiv:2504.08879.

