Literasi Digital Dorong Revolusi Pertanian Berkelanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pertanian sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu pertanian lebih banyak mengandalkan pengalaman turun-temurun, kini teknologi […]

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pertanian sedang mengalami perubahan besar. Jika dulu pertanian lebih banyak mengandalkan pengalaman turun-temurun, kini teknologi digital mulai masuk ke tengah sawah dan ladang. Mulai dari penggunaan aplikasi cuaca, sensor tanah, drone, hingga sistem pertanian cerdas berbasis data. Semua inovasi itu sebenarnya memiliki satu tujuan besar. Mewujudkan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Namun, ada satu tantangan penting yang sering terlupakan. Tidak semua petani siap menghadapi teknologi baru ini. Bukan karena mereka tidak ingin maju, tetapi karena tingkat kemampuan digital setiap petani berbeda. Inilah yang menjadi fokus penelitian terbaru dari China yang meneliti hubungan antara kemampuan digital petani dengan penerapan teknologi produksi hijau atau green production technologies.

Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum

Teknologi produksi hijau adalah teknik pertanian yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Misalnya irigasi hemat air, penggunaan pestisida ramah lingkungan, pengendalian hama berbasis data, hingga pemanfaatan jerami sebagai pupuk alami. Semua teknologi ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pangan di masa depan.

Penelitian ini dilakukan oleh lima ilmuwan dari universitas di China. Mereka mengumpulkan data dari 643 petani di Provinsi Shandong dan Shaanxi. Tujuannya adalah mengetahui apakah kemampuan digital benar-benar mempengaruhi keputusan petani dalam memakai teknologi ramah lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan jawaban yang tegas. Tingkat melek digital petani berhubungan langsung dengan seberapa cepat mereka mau beralih ke metode pertanian hijau. Semakin tinggi kemampuan digital seorang petani, semakin besar kemungkinan ia akan menerapkan teknologi tersebut.

Melek digital yang dimaksud di sini bukan hanya mampu menggunakan ponsel. Tetapi juga bagaimana petani mampu mencari informasi pertanian di internet, memahami sistem digital, membaca data yang muncul dari alat pertanian modern, serta memanfaatkan jaringan sosial digital untuk bertukar pengetahuan.

Mengapa teknologi digital bisa berdampak sebesar itu Pada dasarnya ada tiga jalur utama yang ditemukan oleh para peneliti.

Pertama, kemampuan digital membantu petani memahami dan menilai risiko. Banyak petani yang khawatir mencoba teknologi baru karena takut gagal panen atau hasil berkurang. Melalui informasi digital, mereka bisa mempelajari manfaat teknologi hijau, melihat contoh penerapan dari petani lain, serta memahami bagaimana mengurangi risiko kegagalan. Informasi yang lebih baik berarti keputusan yang lebih berani dan lebih tepat.

Kedua, teknologi digital memperluas modal sosial petani. Dalam dunia pertanian tradisional, informasi sering kali hanya berputar di antara kelompok kecil petani di satu desa. Sekarang, dengan aplikasi pesan, media sosial, atau platform pertanian digital, petani bisa berbagi pengalaman dengan komunitas yang jauh lebih luas. Mereka dapat belajar dari petani yang lebih berpengalaman dalam penerapan teknologi hijau, bahkan dari berbagai daerah atau negara lain. Jejaring sosial digital ini mempercepat penyebaran praktik pertanian berkelanjutan.

Ketiga, kemampuan digital membantu petani menerima informasi promosi teknologi dengan lebih efektif. Pemerintah atau lembaga pertanian sering mendorong penggunaan teknologi hijau melalui penyuluhan atau program bantuan. Tetapi jika petani tidak memahami cara mengakses layanan digital, informasi tersebut menjadi sulit diterima. Saat petani sudah melek digital, mereka bisa langsung terhubung dengan penyuluh pertanian, mengakses pelatihan daring, dan memanfaatkan bantuan teknologi yang tersedia.

Penelitian ini juga menemukan bahwa dampak positif literasi digital paling kuat dirasakan oleh dua kelompok. Petani berskala besar dan petani generasi menengah. Petani dengan lahan lebih luas umumnya memiliki motivasi lebih tinggi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya. Sedangkan petani generasi menengah, sekitar usia produktif, lebih cepat menerima teknologi baru dibandingkan petani usia lanjut.

Sementara itu, petani berlahan kecil atau generasi tua sering kali menunjukkan tingkat adopsi lebih rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa program peningkatan literasi digital perlu didesain agar sesuai dengan kondisi beragam kelompok petani.

Empat teknologi hijau yang paling banyak dipengaruhi oleh literasi digital menurut penelitian ini adalah irigasi hemat air, pengendalian hama berbasis data, pestisida rendah polusi, dan pemanfaatan kembali jerami sebagai pupuk. Keempat teknologi ini sangat penting untuk menjawab masalah lingkungan seperti kekurangan air, polusi pestisida, penurunan kesuburan tanah, dan kerusakan ekosistem.

Studi ini memberikan pesan penting bagi pemerintah, pelaku industri, serta organisasi yang fokus pada ketahanan pangan. Investasi pada program pertanian hijau tidak akan maksimal jika kemampuan digital petani tidak ditingkatkan. Digitalisasi bukan sekadar soal menyediakan teknologi, tetapi memastikan pengguna akhir dapat memanfaatkannya dengan baik.

Para peneliti menyarankan tiga strategi penting. Peningkatan infrastruktur digital di desa-desa seperti internet cepat dan akses perangkat teknologi yang lebih memadai. Pelatihan literasi digital yang terstruktur dan mudah diikuti oleh petani dari berbagai latar usia. Serta kebijakan penyuluhan pertanian yang menyesuaikan kebutuhan spesifik setiap kelompok petani.

Teknologi dan pertanian kini tidak bisa lagi dipisahkan. Masa depan pangan dunia sangat bergantung pada dua hal. Kemampuan kita menjaga lingkungan dan kemampuan petani menguasai teknologi. Ketika petani semakin melek digital, mereka bukan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka menjadi pelopor perubahan menuju sistem pangan yang lebih sehat, lebih bersih, dan lebih berkelanjutan.

Penelitian ini membuka mata kita bahwa transformasi pertanian hijau bukan hanya masalah alat dan mesin canggih. Tetapi juga bagaimana memberdayakan petani sebagai pusat inovasi. Karena di tangan merekalah nasib ketahanan pangan dunia berada.

Jika kita ingin memastikan masa depan di mana generasi mendatang masih dapat menikmati hasil bumi yang melimpah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan petani mampu mengikuti perkembangan zaman.

Bukan hanya memastikan mereka bisa menanam dengan baik. Tetapi juga memastikan mereka bisa terkoneksi dengan pengetahuan dunia.

Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan

REFERENSI:

Liu, Haoyuan dkk. 2025. Impact of Digital Literacy on Farmers’ Adoption Behaviors of Green Production Technologies. Agriculture 15 (3), 303.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top