China, negara dengan populasi terbesar di dunia, telah mengambil langkah besar dalam upaya pelestarian lingkungan. Salah satu inisiatif utama yang dijalankan adalah program penanaman pohon secara besar-besaran. Program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki ekosistem yang rusak, tetapi juga untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan degradasi lahan. Namun, upaya ambisius ini membawa dampak yang tidak terduga pada siklus air nasional, menciptakan perubahan signifikan dalam distribusi air di berbagai wilayah negara tersebut.
Transformasi Ekosistem dan Siklus Air
Penanaman pohon besar-besaran di China telah menjadi sorotan utama dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth’s Future. Proyek ini berhasil merevitalisasi ekosistem di berbagai wilayah, seperti Dataran Tinggi Loess, dan meningkatkan siklus air secara keseluruhan. Namun, perubahan ini juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait distribusi air. Beberapa wilayah mengalami peningkatan ketersediaan air, sementara wilayah lainnya justru menghadapi kekurangan.
Secara khusus, wilayah monsun timur dan daerah kering di barat laut China mengalami penurunan signifikan dalam ketersediaan air tawar. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat 74% dari total luas daratan China berada di wilayah-wilayah tersebut. Sebaliknya, Dataran Tinggi Tibet, yang mencakup sebagian kecil daratan China, justru mengalami peningkatan ketersediaan air yang cukup besar.
Proyek Penanaman Pohon Terbesar: The Great Green Wall
Salah satu proyek paling ambisius yang dilakukan oleh China adalah The Great Green Wall. Diluncurkan pada tahun 1978, proyek ini bertujuan untuk memperlambat ekspansi gurun di wilayah utara yang kering dan semi-kering. Hasilnya luar biasa: tutupan hutan meningkat dari 10% pada tahun 1949 menjadi lebih dari 25% pada tahun 2025.
Selain The Great Green Wall, terdapat dua program lain yang juga memberikan kontribusi besar, yaitu Grain for Green Program dan Natural Forest Protection Program yang dimulai pada tahun 1999. Program pertama mendorong petani untuk mengubah lahan pertanian mereka menjadi hutan, sementara program kedua mempromosikan penghijauan dan melarang praktik eksploitasi hutan.
Program-program ini telah mengubah lanskap China secara drastis. Misalnya, wilayah Inner Mongolia yang sebelumnya tandus kini telah berubah menjadi hutan pinus hijau yang subur.
Ilmu di Balik Perubahan Siklus Air
Untuk memahami dampak dari penghijauan ini terhadap siklus air, penting untuk memahami tiga proses utama dalam pergerakan air antara benua dan atmosfer: evaporasi, transpirasi, dan presipitasi. Ketiga proses ini secara kolektif dikenal sebagai evapotranspirasi. Proses ini sangat bergantung pada ketersediaan air, jumlah energi matahari yang mencapai permukaan tanah, dan tutupan vegetasi.
Studi menemukan bahwa baik padang rumput maupun hutan cenderung meningkatkan tingkat evapotranspirasi. Namun, dampaknya lebih besar pada hutan karena akar pohon yang dalam mampu menyerap air bahkan di saat-saat kering. Hal inilah yang menyebabkan perubahan signifikan dalam distribusi air di seluruh negeri.
Namun, ada satu hal yang tidak terduga: peningkatan evapotranspirasi tidak selalu sejalan dengan peningkatan presipitasi. Sebagian besar air hilang ke atmosfer, dan angin membawa uap air tersebut ke wilayah lain, menyebabkan presipitasi terjadi jauh dari sumber evapotranspirasi.

Dampak Regreening terhadap Distribusi Air
Penelitian menunjukkan bahwa penghijauan di wilayah monsun timur dan restorasi padang rumput meningkatkan evapotranspirasi secara keseluruhan. Namun, presipitasi—proses kembalinya air ke permukaan tanah—hanya meningkat di Dataran Tinggi Tibet. Akibatnya, sebagian besar wilayah China, kecuali Dataran Tinggi Tibet, mengalami kekurangan air meskipun siklus air menjadi lebih aktif.
Kondisi ini semakin memperburuk ketimpangan distribusi air yang sudah ada sebelumnya. Wilayah utara China hanya menerima 20% dari total pasokan air negara tersebut, meskipun wilayah ini dihuni oleh 46% dari total populasi. Dengan adanya gangguan tambahan akibat penghijauan, tantangan dalam pengelolaan sumber daya air menjadi semakin kompleks.
Manfaat dan Tantangan Masa Depan
Meskipun menghadirkan tantangan baru, upaya regreening di China telah memberikan banyak manfaat nyata. Selain mengurangi degradasi lahan dan memperbaiki ekosistem yang rusak, program ini juga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar.
Namun, untuk memastikan keberlanjutan proyek-proyek ini, penting bagi otoritas China untuk mempertimbangkan dampak regreening terhadap siklus air. Langkah-langkah strategis perlu diambil untuk mengatasi ketimpangan distribusi air dan memastikan bahwa manfaat penghijauan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh wilayah negara.
Kesimpulan
China telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam melestarikan lingkungannya melalui program penanaman pohon massal. Meskipun upaya ini telah membawa banyak manfaat bagi ekosistem dan lingkungan global, perubahan signifikan dalam siklus air menimbulkan tantangan baru yang memerlukan solusi inovatif.
Dengan pendekatan yang tepat dan kebijakan berbasis data ilmiah, China memiliki potensi untuk menjadi contoh global dalam bagaimana sebuah negara dapat menyeimbangkan antara pelestarian lingkungan dan kebutuhan sumber daya alam masyarakatnya. Proyek penghijauan besar-besaran ini adalah bukti nyata bahwa tindakan kolektif dapat membawa perubahan besar—namun harus dilakukan dengan perencanaan matang agar dampaknya benar-benar positif bagi semua pihak.
REFERENSI
- Li, Z., et al. (2024). Large-scale vegetation restoration reshapes China’s terrestrial water cycle. Earth’s Future, Vol. 12.
- National Forestry and Grassland Administration of China. China’s afforestation and ecological restoration programs. Diakses 1 Januari 2026.
- Bryan, B. A., et al. (2018). China’s response to a national land-system sustainability emergency. Nature, Vol. 559.
- Chen, Y., et al. (2022). Evapotranspiration changes driven by afforestation in China. Journal of Hydrology, Vol. 610.
- World Resources Institute (WRI). Water scarcity and regional imbalance in China. Diakses 1 Januari 2026.

