Obat Ini Mampu Meredakan Nyeri Tanpa Risiko Kecanduan, Akankah Menjadi Akhir Era Opioid?

Di tengah krisis kecanduan opioid dan meningkatnya jumlah penderita nyeri kronis, tim peneliti dari Duke University, Amerika Serikat, membawa terobosan […]

Di tengah krisis kecanduan opioid dan meningkatnya jumlah penderita nyeri kronis, tim peneliti dari Duke University, Amerika Serikat, membawa terobosan yang menjanjikan. Tim menciptakan obat eksperimental yang dapat meredakan nyeri secara efektif tanpa menimbulkan ketergantungan atau efek samping berbahaya, yang umumnya dikaitkan dengan obat opioid seperti morfin.

Obat baru ini diberi nama SBI-810, dan hasil uji coba awal pada hewan menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Jika berhasil melewati tahap uji klinis pada manusia, obat ini bisa menjadi terobosan besar dalam dunia pengobatan nyeri.

Apa Itu Opioid dan Mengapa Berbahaya?

Opioid merupakan jenis obat penghilang rasa sakit yang sangat kuat. Obat ini bekerja dengan menempel pada reseptor tertentu di otak dan sistem saraf pusat, yang menyebabkan tubuh tidak merasakan sakit. Sayangnya, opioid juga mengaktifkan jalur lain yang memberikan sensasi “high” atau euforia, sehingga mudah menimbulkan kecanduan.

Contoh opioid yang umum digunakan meliputi morfin, oksikodon, fentanil, dan heroin. Obat-obatan ini sangat efektif, tetapi juga sangat berisiko jika digunakan dalam jangka panjang atau tanpa pengawasan medis.

Baca juga: Manfaat dan Risiko Penggunaan Obat Pereda Nyeri (Antalgiat) di Rumah

Krisis opioid menjadi masalah kesehatan global yang serius. Amerika Serikat mencatat lebih dari 80.000 kematian setiap tahun akibat overdosis, mayoritas disebabkan oleh opioid seperti fentanyl. Indonesia melaporkan sekitar 959 kematian akibat penyalahgunaan narkoba pada 2020, sementara Iran mencatat lebih dari 3.000 kematian tahunan yang sebagian besar terkait opioid. Di Eropa, meski angkanya lebih rendah, sekitar 9.461 kematian akibat overdosis terjadi pada 2017 di 30 negara, dengan 78% melibatkan opioid. Data ini menunjukkan bahwa meskipun dampaknya bervariasi, penyalahgunaan opioid merupakan ancaman kesehatan yang nyata di berbagai belahan dunia.

SBI-810: Pereda Nyeri Tanpa Risiko Kecanduan

Berbeda dengan opioid, SBI-810 bekerja dengan cara yang lebih selektif dan aman. Obat ini menargetkan reseptor neurotensin tipe 1 (NTSR1), yang terdapat pada neuron sensorik serta di area otak dan sumsum tulang belakang yang terlibat dalam persepsi nyeri. Tidak seperti opioid yang berisiko tinggi menimbulkan ketergantungan dan efek samping seperti gangguan pernapasan, SBI-810 dikembangkan untuk meminimalkan risiko tersebut.

Tim peneliti menerapkan pendekatan yang disebut biased agonism, yaitu strategi farmakologis yang mengaktifkan hanya satu jalur sinyal spesifik—dalam hal ini jalur β-arrestin-2—yang bertanggung jawab meredakan nyeri, sambil menghindari jalur lain seperti jalur G protein yang sering dikaitkan dengan efek samping berbahaya pada opioid. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan obat pereda nyeri yang lebih presisi dan aman.

Menariknya, SBI-810 juga menunjukkan efek analgesik yang kuat pada berbagai model nyeri kronis pada hewan, termasuk nyeri inflamasi dan neuropatik, tanpa menunjukkan tanda-tanda toleransi atau ketergantungan. Jika hasil ini dapat direplikasi pada manusia, SBI-810 berpotensi merevolusi pengobatan nyeri dan menjadi alternatif non-opioid yang sangat dibutuhkan.

Gambar abstrak

Hasil Uji Coba pada Tikus

Dalam uji laboratorium pada tikus, SBI-810 menunjukkan efektivitas luar biasa dalam meredakan nyeri yang berasal dari berbagai penyebab, termasuk luka bedah, patah tulang, dan cedera saraf. Obat ini bekerja baik sebagai terapi tunggal maupun dalam kombinasi dengan opioid—meningkatkan efektivitas analgesik bahkan dalam dosis opioid yang lebih rendah. Tidak seperti opioid yang cenderung menimbulkan toleransi, SBI-810 mempertahankan efektivitasnya meskipun digunakan berulang kali. Selain itu, senyawa ini tidak menyebabkan efek samping umum seperti sembelit, kantuk berlebihan, atau gangguan kognitif, yang sering dialami pengguna opioid atau obat nyeri saraf seperti gabapentin. Dalam perbandingan langsung, SBI-810 terbukti lebih unggul dibandingkan gabapentin dan bahkan melebihi kinerja oliceridine—opioid generasi baru yang digunakan di rumah sakit—dengan tikus menunjukkan lebih sedikit tanda-tanda ketidaknyamanan seperti meringis atau menghindari gerakan. Temuan ini semakin memperkuat potensi SBI-810 sebagai alternatif non-opioid yang efektif dan aman untuk pengobatan nyeri kronis dan akut.

Potensi Besar untuk Pasien Manusia

Meskipun masih berada pada tahap awal pengembangan, tim meyakini bahwa SBI-810 memiliki potensi besar sebagai alternatif aman untuk mengatasi berbagai jenis nyeri, baik jangka pendek seperti nyeri pascaoperasi maupun jangka panjang seperti nyeri saraf akibat diabetes. Tim telah mengajukan hak paten atas temuan ini dan saat ini tengah mempersiapkan uji klinis pada manusia dalam waktu dekat. Dukungan pendanaan dari National Institutes of Health (NIH) dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat turut memperkuat posisi SBI-810 sebagai inovasi medis yang strategis, tidak hanya untuk kebutuhan kesehatan masyarakat secara umum, tetapi juga untuk aplikasi khusus seperti perawatan veteran militer dan korban luka perang.

Mengapa Ini Penting?

Kebutuhan akan obat pereda nyeri non-opioid semakin mendesak, terutama mengingat sekitar satu dari tiga orang di Amerika Serikat mengalami nyeri kronis yang berdampak serius pada kualitas hidup, kesehatan mental, dan produktivitas. Tren serupa juga terlihat di negara-negara Eropa, di mana sekitar 20–30% populasi dewasa mengalami nyeri kronis, dan banyak diantaranya yang tidak mendapatkan perawatan memadai atau aman. Di Asia, termasuk Indonesia, prevalensi nyeri kronis juga tinggi, terutama di kalangan lansia dan penderita penyakit kronis seperti diabetes dan kanker. Namun, akses terhadap manajemen nyeri yang efektif dan bebas risiko masih terbatas, dan kekhawatiran akan penyalahgunaan opioid turut membatasi penggunaannya. Sayangnya, banyak obat yang tersedia saat ini memiliki keterbatasan—baik karena kurang efektif maupun karena menimbulkan efek samping berbahaya atau risiko kecanduan. Dalam konteks inilah, kehadiran SBI-810 menawarkan secercah harapan. Dengan profil yang menjanjikan—aman untuk penggunaan jangka panjang, tidak menyebabkan ketergantungan, minim efek samping, dan tetap mampu memberikan kelegaan nyata—SBI-810 berpotensi membuka jalan bagi lahirnya generasi baru obat pereda nyeri yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan secara global.

Masa Depan Pengobatan Nyeri

Tim meyakini bahwa SBI-810 bisa menjadi tonggak awal dari pendekatan baru dalam pengembangan obat pereda nyeri—yakni dengan menargetkan jalur saraf secara selektif, bukan menyerang seluruh sistem seperti yang dilakukan opioid. Pendekatan ini ibarat merancang obat seperti kunci yang hanya membuka satu gembok tertentu, memberikan kelegaan dari nyeri tanpa membuka pintu risiko ketergantungan atau efek samping berbahaya. Jika uji klinis pada manusia membuktikan efektivitas dan keamanannya, kita bisa membayangkan masa depan di mana nyeri pascaoperasi, radang sendi kronis, atau bahkan nyeri saraf akibat diabetes dapat ditangani secara efektif tanpa ketakutan akan kecanduan atau overdosis—sebuah lompatan besar dalam dunia pengobatan nyeri.

Akhir dari Dilema Nyeri dan Ketergantungan

SBI-810 menghadirkan harapan baru di tengah krisis global akibat ketergantungan opioid dan tingginya angka penderita nyeri kronis. Dengan mekanisme kerja yang selektif dan pendekatan biased agonism, obat ini menawarkan solusi pereda nyeri yang efektif, aman, dan bebas dari risiko kecanduan—sesuatu yang belum mampu diberikan oleh banyak terapi saat ini. Hasil awal pada hewan sangat menjanjikan, menunjukkan bahwa SBI-810 dapat mengatasi berbagai jenis nyeri tanpa efek samping serius atau penurunan efektivitas dari waktu ke waktu. Jika terbukti berhasil dalam uji klinis pada manusia, SBI-810 tidak hanya akan merevolusi pengobatan nyeri di Amerika Serikat, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat di Asia, Eropa, termasuk Indonesia, yang sama-sama menghadapi tantangan dalam manajemen nyeri. Ini bukan hanya kemajuan ilmiah, tetapi juga langkah besar menuju sistem perawatan yang lebih aman, manusiawi, dan berkelanjutan bagi jutaan orang yang hidup dengan nyeri setiap hari.

Referensi:

[1] https://medschool.duke.edu/news/experimental-painkiller-could-outsmart-opioids-without-high, diakses pada 22 Mei 2025.

[2] Ran Guo, Ouyang Chen, Yang Zhou, Sangsu Bang, Sharat Chandra, Yize Li, Gang Chen, Rou-Gang Xie, Wei He, Jing Xu, Richard Zhou, Shaoyong Song, Kelsey L. Person, Madelyn N. Moore, Abigail R. Alwin, Ivan Spasojevic, Michael R. Jackson, Steven H. Olson, Marc G. Caron, Lauren M. Slosky, William C. Wetsel, Lawrence S. Barak, Ru-Rong Ji. Arrestin-biased allosteric modulator of neurotensin receptor 1 alleviates acute and chronic painCell, 2025; DOI: 10.1016/j.cell.2025.04.038

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top