Para ilmuwan selalu berusaha memahami bagaimana Bulan berubah sepanjang sejarahnya. Salah satu cara terbaik untuk melihat masa lalu Bulan adalah dengan mempelajari kawah kawah tumbukan yang tersebar di permukaannya. Kawah inilah yang menjadi jejak dari benda langit kecil seperti asteroid dan komet yang menabrak Bulan selama miliaran tahun. Setiap kawah menyimpan informasi tentang kapan tumbukan terjadi, seberapa besar energi yang dilepaskan, dan bagaimana kondisi lingkungan Bulan pada saat itu. Karena Bulan tidak memiliki atmosfer dan tidak mengalami pelapukan seperti Bumi, jejak tumbukan dapat bertahan sangat lama. Namun memahami pola tumbukan sepanjang sejarah Bulan bukanlah tugas yang sederhana.
Sebuah penelitian terbaru dari Fanglu Luo, Zhiyong Xiao, Yichen Wang, dan Yi Gang Xu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang laju tumbukan yang stabil pada Bulan sekitar dua koma delapan miliar tahun yang lalu. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal The Innovation pada tahun dua ribu dua puluh lima. Studi tersebut menggunakan sampel basal titanium rendah yang dikembalikan oleh misi Chang’e 6 dari Cina. Sampel ini berasal dari bagian permukaan Bulan yang sangat tua dan memberikan kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk meninjau kembali sejarah tumbukan pada periode penting dalam evolusi Bulan.
Baca juga artikel tentang: Inkathazo: Galaksi Radio Raksasa Berukuran 32 Kali Lebih Besar Dari Galaksi Bima Sakti
Batuan basal Bulan merupakan hasil aktivitas vulkanik purba. Ketika lava dari dalam Bulan naik ke permukaan dan membeku, lapisan baru menutupi kawah dan permukaan yang lebih tua. Karena itu usia basalt dapat menjadi patokan waktu untuk menghitung berapa banyak kawah yang muncul setelah batuan tersebut terbentuk. Peneliti memanfaatkan metode ini untuk menghitung laju tumbukan benda langit pada masa dua koma delapan miliar tahun lalu, yaitu setelah periode awal terbentuknya Bulan yang ditandai dengan tumbukan besar.
Penelitian ini berfokus pada dua konsep penting dalam ilmu kawah tumbukan. Pertama adalah fungsi produksi kawah atau crater production function. Fungsi ini menggambarkan hubungan antara ukuran kawah dan jumlahnya. Semakin besar kawah, semakin jarang kejadiannya. Sebaliknya kawah kecil akan berjumlah jauh lebih banyak. Kedua adalah fungsi kronologi kawah atau crater chronology function. Fungsi ini menghubungkan jumlah kawah dengan usia suatu permukaan. Dengan kata lain fungsi ini membantu memperkirakan usia permukaan Bulan hanya dengan menghitung kawah yang terlihat.

Data dari Chang’e 6 memungkinkan para ilmuwan menggabungkan kedua fungsi tersebut secara lebih akurat. Sampel basalt titanium rendah memberikan rentang usia yang dapat diukur melalui analisis radiometrik. Analisis ini memanfaatkan peluruhan alami unsur unsur radioaktif di dalam batuan untuk menentukan usia pembentukannya. Ketika usia telah diketahui, peneliti dapat menilai berapa banyak kawah yang muncul setelah batuan terbentuk. Perbandingan antara jumlah kawah dan usia batuan inilah yang menghasilkan perhitungan laju tumbukan pada masa tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar dua koma delapan miliar tahun yang lalu laju tumbukan di Bulan sudah berada pada tingkat yang relatif stabil. Sebelum periode ini Bulan mengalami era tumbukan yang lebih intens yang dikenal sebagai Late Heavy Bombardment. Pada era tersebut banyak objek besar menghantam Bulan dan planet planet bagian dalam Tata Surya. Namun setelah periode itu situasi menjadi lebih tenang. Data dari Chang’e 6 memperkuat gagasan bahwa stabilisasi laju tumbukan ini terjadi sebelum tiga miliar tahun lalu.
Penemuan ini penting karena banyak model kronologi kawah sebelumnya masih memiliki ketidakpastian besar pada rentang usia satu sampai tiga miliar tahun. Model tersebut sering kali menggabungkan data dari berbagai misi dan lokasi yang berbeda, sehingga menghasilkan variasi yang cukup besar. Perbedaan ini membuat perkiraan usia permukaan Bulan tidak selalu tepat. Sampel baru dari Chang’e 6 kini menjadi titik acuan yang lebih kuat dan lebih tepercaya untuk memperbaiki model tersebut.
Penelitian ini juga berdampak pada pemahaman tentang sejarah planet lain. Laju tumbukan yang stabil pada Bulan dapat dijadikan acuan untuk memperkirakan laju tumbukan di Mars atau Merkurius. Banyak astronom menggunakan Bulan sebagai referensi karena data dari Bulan lebih mudah diukur dan permukaannya terpelihara dengan baik. Dengan kata lain Bulan berfungsi sebagai arsip alami bagi sejarah tumbukan Tata Surya.
Selain itu penelitian ini memiliki manfaat langsung bagi misi eksplorasi Bulan di masa depan. Program seperti Artemis, Chang’e, dan misi internasional lainnya memerlukan pemahaman yang akurat tentang permukaan Bulan. Usia dan karakter permukaan menentukan lokasi terbaik yang dapat dipilih untuk studi geologi atau pencarian sumber daya. Dengan model kronologi kawah yang diperbarui astronaut dapat menelusuri wilayah mana yang paling menjanjikan untuk penelitian ilmiah.
Penelitian ini juga memperkaya pengetahuan tentang bagaimana Bulan berevolusi setelah aktivitas vulkaniknya mereda. Pada periode dua koma delapan miliar tahun lalu Bulan masih mengalami letusan lava sesekali, tetapi intensitasnya jauh lebih rendah dibanding masa awal. Lapisan basalt yang dikembalikan misi Chang’e 6 berasal dari salah satu letusan terakhir yang signifikan. Karena itu data yang diperoleh menggambarkan masa transisi ketika Bulan beralih dari dunia vulkanik aktif menjadi benda langit yang relatif tenang seperti sekarang.
Pemahaman baru ini tidak hanya membantu para peneliti memperbaiki model kronologi Bulan tetapi juga membantu menjelaskan bagaimana permukaan Bulan mempertahankan rekam jejak tumbukan selama waktu yang begitu panjang. Kawah besar yang terlihat saat ini tidak hanya menjadi pemandangan indah di langit malam tetapi juga berfungsi sebagai jendela menuju sejarah Tata Surya.
Pada akhirnya penelitian yang memanfaatkan sampel dari Chang’e 6 menunjukkan bahwa Bulan masih menyimpan banyak rahasia. Setiap batuan yang dikembalikan dari permukaan Bulan membuka bab baru dalam sejarah planet tetangga kita itu. Semakin banyak sampel yang dipelajari semakin lengkap pula gambaran tentang bagaimana Bulan terbentuk dan bagaimana Tata Surya mengalami perubahan selama miliaran tahun.
Baca juga artikel tentang: NASA Mengungkap Prototipe Teleskop Canggih untuk Deteksi Gelombang Gravitasi
REFERENSI:
Luo, Fanglu dkk. 2025. Stabilized impact flux on the Moon at 2.8 Ga constrained by Chang’e-6 low-Ti basalts. The Innovation 6 (7).

