Mengejutkan! Kemungkinan besar kita hidup dalam simulasi komputer!

Bagikan Artikel ini di:

Selama ini, kita merasa bahwa segala hal yang terjadi begitu nyata, dan yakin betul bahwa kita dan semua orang lainnya pun memiliki “kesadaran” penuh atas segala yang terjadi di dunia ini. Lalu, bagaimana jadinya kalau ternyata selama ini kita hanyalah hidup dalam sebuah simulasi komputer layaknya di film The Matrix? Kasarnya, kita bukanlah hal yang benar-benar nyata, dan kesadaran kita hanyalah bagian dari program “simulasi” ini. Selain itu, hal ini berarti bahwa ada “sesuatu” yang lebih “tinggi” dari kita yang ternyata mengendalikan kita di balik semua ini, layaknya permainan The Sims.

Pemikiran ini disebut juga sebagai teori simulasi (simulation theory). Hipotesa ini pertama kali dikenalkan secara luas di sebuah jurnal yang ditulis oleh seorang ahli filosofi Oxford bernama Nick Bostrom pada tahun 2003. Dalam tulisannya, ia memaparkan pemikirannya bahwa sebenarnya ada banyak simulasi realita yang dibuat beserta dengan karakter dengan kecerdasan buatan di dalamnya. Dibahasannya, para karakter itu disebutkan tidak tahu bahwa mereka hanyalah tinggal di simulasi. Dan kemungkinan kita bukanlah satu-satunya simulasi yang “mereka” buat.

Sebenarnya, ide gila ini bukan murni ide baru. Bahkan sebelum teori simulasi ini dicetuskan, sudah ada banyak hipotesa baik secara saintifik maupun filosofis yang mengatakan bahwa realita ini hanyalah sebuah ilusi. (hanya saja waktu itu manusia belum mengenal kata “simulasi”). Hipotesa ini bahkan bisa dilacak kembali sampai ke zaman dahulu, seperti filosofi Maya yang terbentuk di masyarakat India.

Hipotesa ini pun menjadi terkenal semenjak adanya tulisan Bostrom itu. Bahkan, Elon Musk saja dapat dikatakan sependapat dengan hipotesa kontroversional ini. Elon Musk berpendapat, semakin kesini video game yang dapat kita buat kualitas grafiknya jadi semakin baik. Ia yakin suatu saat nanti, akan sampai di titik dimana kita tidak bisa membedakannya dengan “realita”.

sebuah grafik game yang sangat realistis

sebuah grafik game yang sangat realistis

Sampai sekarang, hipotesa ini belum terbukti kebenarannya karena kita tidak bisa membuktikan diri kita sendiri apakah kita hidup dalam simulasi atau bukan. Tapi, banyaknya bukti yang mendukung tentu akan membuat kita semakin penasaran akan kebenarannya.

Lalu, apa saja bukti kalau kita memang hidup di dalam sebuah simulasi layaknya The Sims?

1.DNA yang mengandung virus komputer.

DNA yang disisipi oleh virus komputer

Pada tahun 2017, para peneliti dari bidang berbeda di University of Washington menunjukkan bahwa mereka dapat menyisipkan virus komputer ke dalam DNA. Lalu susunan dari virus dan DNA ini dimasukkan ke dalam komputer sebagai suatu “malware“. Hasilnya, malware ini dapat menyerang komputer yang ditargetkan. Hal ini membuktikan bahwa realita biologis tidak lebih dari sekadar pengkodean komputer.

2. Adanya efek Mandela (Mandela Effect)

Coba perhatikan gambar di bawah ini! yang mana yang menurut Anda benar?

sebenarnya ekor pikachu tidak pernah memiliki warna hitam

Banyak orang yang ketika ditanya mana yang benar akan mengatakan gambar pertama(ekor dengan garis hitam), padahal sebenarnya ekor Pikachu tidak pernah terlihat seperti itu. Selain ekor Pikachu ini, ada juga false memory lainnya seperti di bawah ini

Lalu, bagaimana bisa banyak orang memiliki ingatan yang salah seperti itu? Dan bagaimana mungkin fenomena ini terjadi bukan hanya sekali dua kali saja.

3. Game Simulasi yang semakin nyata

virtual reality adalah contoh alat yang diciptakan untuk memberikan efek “nyata” dalam game/simulasi yang dibuat

Seperti yang telah Elon Musk ucapkan, video game yang bisa kita buat bisa makin nyata sampai akhirnya sama dengan “nyatanya” dunia kita. Kemungkinannya, kita bukanlah yang pertama melakukannya. Bisa saja yang mensimulasikan kita sendiri pun adalah sebuah simulasi. Atau dapat dikatakan simulasi dalam simulasi. Membingungkan, bukan?

4. Glitch In The Matrix

Seperti dalam film The Matrix, ada banyak kejadian sehari hari yang membuat kita berpikir kalau sebenarnya semua ini hanyalah simulasi.

Ada banyak contoh glitch yang terjadi. Salah satu fenomena “glitch” adalah deja vu. Deja vu sendiri adalah suatu “perasaan aneh” yang dirasakan ketika kita ke suatu tempat/mengalami suatu hal. Kita merasa seolah kita pernah mengalaminya meski pada dasarnya kita belum pernah kesana/mengalaminya. Para ilmuwan banyak yang percaya bahwa fenomena ini tak lain hanya anomali neurologis yang terjadi pada otak. Kasarnya, ini hanya ilusi yang terbentuk di otak saja.

Namun, banyak juga yang berpendapat kalau hal ini adalah bukti adanya sebuah “glitch” dalam “realita” kita. Jadi, simulasi kita mengalami “glitch” sesaat dan membuat sebuah kejadian yang harusnya terjadi di titik waktu tertentu jadi muncul di suatu titik lainnya.

Selain deja vu, fenomena munculnya orang “penjelajah waktu” yang berjalan dengan membawa handphone di masa lalu yang tertangkap kamera juga menunjukkan bahwa “glitch” itu terjadi.

“penjelajah waktu” dengan smartphone yang tertangkap kamera

5. Quantum entanglement yang melebihi kecepatan cahaya

dua partikel yang saling terhubung satu sama lain meski terpisah oleh jarak yang jauh

Quantum entanglement adalah suatu fenomena dimana partikel dapat saling mengirimkan informasi meskipun terpisah oleh jarak yang sangat jauh.

Menurut Bohr, alam semesta kita kemungkinan tersusun atas data seperti di komputer dan bukanlah materi yang terpisahkan oleh ruang waktu. Namun, otak kitalah yang mempersepsikan “data” itu sebagai “materi”. Bohr memiliki pendapat ini karena menurut Einstein tidak ada “materi” yang dapat melebihi kecepatan cahaya. Jika menggunakan konsep ruang-waktu, fenomena ini mustahil karena dibutuhkan lebih dari kecepatan cahaya untuk mengirimkan informasi secepat itu. Padahal, quantum entanglement benar-benar terjadi.

Lalu… apa dampaknya bagi kita jika alam semesta yang kita tinggali adalah simulasi?

Sebenarnya, tidak akan ada dampak apapun secara langsung pada kehidupan kita sehari-hari jika dunia ini adalah simulasi komputer. Kita akan tetap menjalani kehidupan kita seperti biasanya, kehidupan akan jalan terus.

Tapi, jika hipotesis simulasi ini benar, tentu dapat membuktikan beberapa hipotesa sebelumnya yang telah tercetus dalam ranah fisika teoretis.

Jika hipotesa ini benar maka teori
multiverse kemungkinan benar, karena kita bukanlah satu-satunya simulasi yang diciptakan oleh “peradaban” di atas kita. Ada banyak alam simulasi lainnya di luar sana.

Selain itu, interpretasi copenhagen dalam mekanika kuantum pun benar (kondisi dimana kucing mati dan hidup secara bersamaan). Hal ini terjadi karena seperti dalam video game, kondisi yang akan dimunculkan di layar hanya kondisi yang ada di sekitar karakter game. Jika karakter tidak ke suatu tempat (misal ke A) maka kondisi A tidak ada di layar, kita tidak tahu kondisi disana. Sama dengan lingkungan kita. Jika kita tidak melihat kucing dalam boks, kita juga tidak tahu kondisi kucing.

Seperti yang telah disebutkan di atas, hal ini tidak akan terlalu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan sehari-hari. Jadi artikel ini sebaiknya tidak usah terlalu diambil pusing dan jadikan saja sebagai pengetahuan.

Referensi

[1] Illing, Sean. 2019. Are we living in a computer simulation? I don’t know. Probably . Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[2] Wikipedia. Simulation hypothesis. . Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[3] Solon, Olivia. 2016. Is our world a simulation? Why some scientists say it’s more likely than not. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[4] Stieb, Matt. 2019. 15 Irrefutable Reasons We Might Be Living In A Simulation.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[5] S. Powell, Corey. 2018. Elon Musk says we may live in a simulation. Here’s how we might tell if he’s rightDiakses pada tanggal 23 Juni 2019

[6] Farquhar, Claire. 2019. There Is Solid Evidence We’re All Living In A Simulation.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[7] Yuhas, Daisy. 2012. Could Human and Computer Viruses Merge, Leaving Both Realms Vulnerable?. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[8]  Colagrossi, Mike. 2019.
.3 superb arguments for why we live in a matrix – and 3 arguments that refute them. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019.

[9] Johnston, Norm. 2017. Deja Vu: Are We All Actually Living in Virtual Reality?
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[10] Adamson, Rob. Quantum Entanglement & Simulated Reality. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[11] Wikipedia. Quantum Entanglement.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

SpaceX Sukses Meluncurkan Set Terakhir Satelit Generasi Terbaru Iridium

Bagikan Artikel ini di:

Roket Falcon 9 dengan muatan 10 satelit Iridium NEXT sesaat setelah meluncur pada hari Jumat, 11 Januari 2018 (Sumber: SpaceX)

Jumat, 11 Januari 2019, SpaceX sukses meluncurkan 10 satelit terakhir dari konstelasi satelit (sekumpulan satelit yang saling bekerja sama) Iridium NEXT. Peluncuran dilakukan menggunakan roket peluncur Falcon 9 dari lokasi peluncuran SpaceX di Pangkalan Udara Vandenberg, California.

Tentang Iridium

Iridium merupakan perusahaan yang bekerja dalam bidang penyedia jasa komunikasi via satelit. Iridium memiliki konstelasi satelit berjumlah 66 satelit operasional dan beberapa satelit cadangan. Konstelasi satelit tersebut berada di ketinggian orbit setinggi 781 km dengan kemiringan orbit (inklinasi) sebesar 86,4°.

Mengapa butuh satelit sebanyak itu?

Konstelasi satelit Iridium berbasis di orbit Bumi rendah. Bila dibandingkan dengan satelit di orbit geostasioner (orbit setinggi 36.000 km), orbit Bumi rendah jelas berbeda. Sementara sebuah satelit geostasioner mampu menjangkau 42% permukaan Bumi, satelit orbit rendah hanya mampu menjangkau <10% permukaan Bumi karena ketinggiannya yang relatif rendah. Selain itu, pergerakan satelit di orbit Bumi rendah lebih cepat dibanding satelit geostasioner, pergerakan relatif terhadap permukaan Bumi. Akibat dari hal ini, permukaan Bumi yang dapat dijangkau satelit terus berubah seiring satelit tersebut mengorbit.

Perbandingan orbit geostasioner (GEO) dan orbit Bumi rendah (LEO). Orbit satelit Iridium adalah orbit LEO. (Sumber: rfwireless-world.com)

Oleh karena itu, agar dapat menjangkau 100% permukaan Bumi secara kontinu, konstelasi Iridium memerlukan puluhan satelit. Cara kerjanya adalah apabila sebuah satelit menjauh dari suatu lokasi (titik A misalnya), maka satelit lain akan menggantikan satelit tersebut sebelum tenggelam di horizon titik A. Teknik ini memungkinkan Iridium untuk menjangkau seluruh permukaan Bumi, termasuk kutub utara dan kutub selatan.

Ilustrasi kontelasi satelit Iridium (Sumber : Researchgate.net)

Peluncuran konstelasi awal satelit Iridium yang terdiri dari satelit Iridium Block 1 pertama kali dilakukan pada Mei 1997. Sejak saat itu, Iridium telah menyediakan jasa telekomunikasi via satelit seperti telepon satelit dan tracking kapal laut. Di Indonesia, Iridium digunakan sebagai komunikasi saat terjadi bencana, komunikasi kapal laut, pelacakan pesawat terbang, dan fungsi-fungsi lainnya.

Karena usia satelit Iridium Block 1 yang cukup tua dan kebutuhan yang semakin meningkat seiring dengan berkembangnya zaman, Iridium mulai mengganti konstelasi satelit mereka. Program pergantian satelit ini dilakukan dengan cara meluncurkan satelit Iridium NEXT yang lebih canggih, menempatkannya di orbit operasional, dan melakukan deorbit (menjatuhkan satelit dari orbit) terhadap satelit Iridium Block 1 lama.

Satelit baru Iridium NEXT mampu bekerja lebih baik daripada satelit Iridium Block 1 lama. Keunggulan tersebut diantaranya adalah mampu menunjang bandwidth yang lebih besar, melayani konsumen dengan lebih cepat, dan keunggulan-keunggulan lainnya. Perbandingan tersebut ditunjukkan oleh tabel berikut:

Iridium  Block 1 Iridium NEXT
Menunjang telekomunikasi suara via satelit dengan kecepatan 2,4 Kbps Menunjang telekomunikasi suara via satelit dengan kecepatan 2,4 Kbps hingga 4,8 Kbps
Mampu menunjang Transmitter Data L-Band hingga kecepatan 2,4 Kbps Mampu menunjang Transmitter Data L-Band dengan kecepatan 88 Kbps
Hanya melayani produk lama Dapat melayani produk lama dan produk baru (produk yang dibangun menggunakan sistem Iridium NEXT)

 

Proses persiapan peluncuran 10 satelit Iridium NEXT. Foto diatas adalah sepuluh satelit Iridium NEXT yang telah dijadikan satu disamping adapter satelit. (Sumber : Iridium)

Sejumlah 81 satelit Iridium NEXT dibangun melalui kontrak dengan perusahaan Thales Alenia Space. Pada tahun 2010, Iridium menandatangani kontrak dengan SpaceX untuk meluncurkan 70 satelit menggunakan roket Falcon 9. Sementara itu, 2 satelit lain direncanakan meluncur menggunakan roket Dnepr milik Rusia.

Namun karena berbagai masalah yang dialami pihak Iridium, mereka memindahkan seluruh peluncuran Dnepr ke SpaceX Falcon 9. Karena hal ini, Iridium mengubah rencana konfigurasi konstelasi mereka menjadi 75 satelit di orbit (66 operasional dan 9 cadangan) dari yang awalnya hanya berjumlah 72 satelit (66 operasional dan 6 cadangan). Sisa satelit yang ada disimpan di darat sebagai cadangan.

Proses peluncuran konstelasi Iridium NEXT

Peluncuran perdana Iridium NEXT dilaksanakan pada bulan Januari 2017, dilanjutkan dengan peluncuran kedua, ketiga, dan keempat. Pada tahun 2018, SpaceX meluncurkan misi Iridium kelima, keenam, dan ketujuh, dengan peluncuran keenam hanya membawa lima satelit Iridium NEXT dan satelit sekunder GRACE-FO milik NASA. Tahun 2019 (tepatnya Jumat kemarin, 11 Januari 2019), SpaceX berhasil menyelesaikan kontrak dengan Iridium ditandai dengan peluncuran misi kedelapan Iridium NEXT.

Peluncuran kedelapan Iridium NEXT (misi Iridium-8) telah berjalan mulus. Roket Falcon 9 lepas landas pukul 07:31 waktu setempat (22:31 WIB), dengan hitung mundur akhir dipimpin langsung oleh CEO Iridium Communication, Matt Desch. Tahapan pertama roket berhasil mendarat di kapal tanpa awak, atau biasa disebut dengan droneship. Sepuluh satelit Iridium NEXT berhasil dilepaskan dari badan tahapan kedua Falcon 9 sekitar 1 jam setelah peluncuran.

Roket Falcon 9 berhasil meluncurkan 10 satelit Iridium NEXT

Pada misi Iridium-8 tersebut, SpaceX menggunakan tahapan pertama yang sebelumnya telah digunakan pada misi peluncuran satelit Telstar 18 VANTAGE, tahun lalu. Tahapan pertama ini juga berhasil mendarat di droneship “Just Read the Instructions” yang telah bersiaga di lautan Pasifik sehari sebelumnya. Kapal Just Read the Instructions akan tiba di pelabuhan Los Angeles dua hari selepas peluncuran dengan tahapan pertama Falcon 9 yang siap untuk diluncurkan kembali. Penggunaan kembali tahapan pertama dari roket dan mendaratkannya di droneship adalah salah satu langkah SpaceX untuk mencapai tujuannya, yaitu mempermudah akses ke luar angkasa dengan mengirit biaya.

Kapal tanpa awak Just Read the Instructions di Pelabuhan Los Angeles bersama tahapan roket Falcon 9 yang berhasil mendarat selepas peluncuran 10 satelit Iridium NEXT (Sumber: SpaceX)

Tayangan ulang peluncuran (dari beberapa menit sebelum peluncuran hingga pelepasan satelit terakhir) dapat anda lihat disini:

Referensi:

  • https://www.iridium.com/network/globalnetwork/ diakses pada 11 Januari 2019
  • https://www.iridium.com/network/iridium-next/ diakses pada 11 Januari 2019
  • https://www.spacex.com/webcast diakses pada 11 Januari 2019
  • https://en.m.wikipedia.org/wiki/Iridium_satellite_constellation diakses pada 12 Januari 2019
  • https://www.rap.ucar.edu/~djohnson/satellite/coverage.html diakses pada 14 Januari 2019
  • https://www.iridium.com/products/iridium-9522b/ diakses pada 14 Januari 2019
  • https://www.nasaspaceflight.com/2019/01/iridium-boss-reflects-satellite-constellation-launch/ diakses pada 14 Januari 2019
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Industri 4.0 – Menakar Kebermanfaatan dan Menjawab Tantangan

Bagikan Artikel ini di:

Berkenalan dengan Industri 4.0

Adakah kamu merasa kehidupan sehari-hari kita saat ini yang berhubungan dengan teknologi telah mengubah bagaimana kita berkoordinasi? Yang mungkin agak luput dari kesadaran kita adalah bagaimana teknologi kini membentuk perilaku yang tidak sama dengan orang tua kita terdahulu. Misalnya, bagaimana miliaran orang di dunia kini dapat saling terhubung dalam platform-platform sosial media dengan fitur dan kegunaannya yang semakin beragam.

Bersosialisasi melalui Facebook, terhubung secara profesional melalui LinkedIn, semakin beragam dan mudahnya cara komunikasi pribadi maupun kelompok melalui WhatsApp, menonton siaran tunda semakin mudah dengan akses gratis melalui Youtube, memesan beragam menu santap harian atau sekadar kudapan melalui Go-Food, memesan transportasi melalui Grab. Dan kamu mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi platform saat ini yang happening dengan berbagai fitur yang menawarkan kemudahan akses barang/ jasa yang kita nyaman menggunakannya.

Gambar 1. Lingkungan Industri 4.0 [Deloitte AG, 2015]

Disadari maupun tidak, kini kita memasuki era otomasi dimana mesin telah berintegrasi dengan koneksi internet yang ditunjang oleh akses data serba cepat, yang juga mempengaruhi peran kita sebagai produsen, distributor maupun konsumen produk/ jasa. Yap!, selamat berkenalan dengan era Industri 4.0.

Istilah Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan dalam Hannover Fair, Industrie 4.0, di Jerman pada tahun 2011. Sekelompok perwakilan orang dari beragam latar belakang, dari bisnis, politik dan akademisi berkumpul membahas bagaimana  meningkatkan daya saing negara Jerman di bidang industri yang mengacu pada “High-Tech Strategy for 2020”. Industri 4.0 yang diinisiasi tersebut memiliki visi Cyber-Physical Systems, dimana suatu sistem yang berjalan dan didukung oleh teknologi mutakhir terkini, seperti mesin cerdas (smart machines), sistem penyimpanan data (storage systems) dan fasilitas produksi yang selanjutnya meletakkan dasar untuk perkembangan proses di industri, baik di bidang manufaktur, teknik, penggunaan material, rantai penyediaan barang/ jasa dan manajemen siklus hidup [5].

Industri 4.0, di beberapa belahan negara lain memiliki istilah yang lebih populer digunakan untuk memperbincangkan era tersebut, semisal di Amerika Serikat lebih dikenal dengan era “Internet of Things“[2].

Sejak Kapan Industri 4.0 Memasuki Kehidupan Manusia?

Klaus Schwab dalam bukunya yang juga merupakan kompilasi artikel yang ditulis olehnya di weforum.org, berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Schwab menjelaskan pembagian empat era industri berdasarkan teknologi yang berkembang  di masing-masing era.

Gambar 2. Grafik Pembagian Era Industri 1.0 hingga 4.0 [Deloitte AG, 2015]

Dimulai dari Revolusi industri pertama yang terjadi antara tahun 1760 – 1840 yang ditandai dengan penemuan mesin uap dan pembangunan rel kereta api. Revolusi industri kedua yang dimulai pada awal abad ke – 19  sampai memasuki awal abad ke – 20 ditandai dengan mulai maraknya pemasangan instalasi listrik yang memungkinkan berbagai jenis produk dapat diproduksi secara massal. Sementara memasuki tahun 1960-an, era revolusi industri ketiga yang diwarnai dengan perkembangan semikonduktor, digunakannya alat-alat digital dan internet yang mulai digunakan banyak orang di awal tahun 1990-an. Era revolusi industri keempat sendiri, di samping perdebatan kapan dan apa yang menandainya, Schwab mendeskripsikan era revolusi industri keempat sebagai era yang berkembang dari pondasi era revolusi industri ketiga, era yang ditunjang dengan berbagai teknologi mutakhir dan mampu menjangkau serta menyelesaikan tugas di banyak aspek kehidupan manusia [8].

Menakar Kebermanfaatan 

Mari ambil contoh dari beberapa artikel yang terbit di  Warung Sains Teknologi. Sahabat pembaca tentu mendapati beberapa artikel yang membahas beragam teknologi yang berkembang dan memiliki kemampuan melakukan pekerjaan dengan handal, seperti bagaimana  kecerdasan buatan (Artificial intelligence) yang salah satunya diaplikasikan untuk memecahkan kasus hukum dengan performa identifikasi dan mampu mengulas permasalahan kasus lebih handal dari seorang pengacara manusia [1].

Lalu, mulai ramainya pembahasan trend Big Data,  sebagai teknologi penyimpanan data dalam jumlah besar dan mampu melakukan pengolahan data dengan cepat yang menunjang pekerjaan di berbagai sektor bisnis dalam mengumpulkan, menganalisis dan hasilnya kemudian dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan/ kebijakan dalam berbisnis. Selanjutnya aplikasi cyber-physical systems ini juga merambah pada bidang lain yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti bagaimana petani kini memiliki kesempatan untuk menggunakan acuan data dalam mengatur, mengoptimalkan sekaligus melakukan efisiensi produksi pertaniannya.

Masyarakat perkotaan pun memiliki kesempatan menikmati akses layanan barang/ jasa lebih mudah dan cepat, seperti yang penulis sempat paparkan mengenai platform teknologi terkini pada awal artikel ini, dimana ternyata di tingkat pemerintahan, teknologi cerdas dapat dioptimalkan untuk kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, semisal di Kota Barcelona yang sempat ramai menjadi perhatian dan perbincangan dunia akan betapa saat ini teknologi internet telah terintegrasi dengan banyak infrastruktur dan pelayanan pemerintahannya,  setidaknya ada 22 program yang menjadikan Kota Barcelona sebagai salah satu smart city di dunia [4].

Di Indonesia sendiri, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian Indonesia telah mencanangkan 10 strategi prioritas nasional dalam menyiapkan Indonesia menyambut tantangan era Industri 4.0 dengan tiga prioritas utama adalah memperbaiki alur aliran material, mendesain ulang zona industri dan peningkatan kualitas SDM. Lima  sektor industri prioritas dari segi kontribusi terhadap total PDB akan dimaksimalkan dalam upaya menghadapi kompetisi manufaktur di era Industri 4.0.

Gambar 3. 10 Strategi dan Sektor Prioritas Nasional Indonesia di Era Industri 4.0 [Kementerian Perindustrian RI, 2018]

Tidak dapat dipungkiri dengan berkembangnya teknologi dan semakin banyaknya sektor ekonomi-bisnis yang terintegrasi dengan sistem (cyber-physical systems) dan berhubungan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari, kemudian memunculkan banyak tanggapan mengenai potensi perubahan yang akan muncul dan eksistensi yang akan hilang seiring dengan perkembangan dan meluasnya pengaruh Industri 4.0.

 

Menjawab Tantangan

Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, mengemukakan pendapat jika era Industri 4.0 merupakan suatu era disruptif yang akan dirasakan dalam waktu panjang dan menyebabkan banyak sektor industri berbasis teknologi IT akan musnah [7]. Namun, di sisi lain, secara lebih optimis oleh pakar dan pelaku bisnis, Ahmad Faiz Zainuddin, mengemukakan jika era disrupsi yang saat ini banyak dijadikan topik perbincangan sebagai sosok menakutkan di era Industri 4.0, menyatakan jika disrupsi  hanyalah satu fase (fase ketiga) dari enam fase kejadian Exponential Shock yang pasti dihadapi dalam era tantangan dan perubahan yang ditawarkan dalam persaingan Industri 4.0, dimana pada akhirnya, era tantangan dan perubahan ini akan membawa keberlimpahan bagi semua orang [11].

Membahas apa yang akan hilang atau kesempatan apa yang akan datang. Memperdebatkan bagaimana menghadapi perubahan dan pergeseran pola kehidupan. Sebagai manusia, kita pasti akan merasa terancam ataupun tertantang oleh keadaan yang tidak dapat dihindari karena kemajuan bidang sains dan teknologi kini memungkinkan banyak penyesuaian dan hal-hal baru yang mungkin tidak sempat terpikir sebelumnya. Lalu, dimanakah peran kita sebagai makhluk paling sempurna dalam tatanan semesta di era dimana di banyak sektor dapat menggantikan peran kita sebagai pemeran utama roda kehidupan?.

Harapan datang dari mana saja. Rania Al-Abdullah membawa keoptimisan di panggung forum EBRD Annual Meeting and Business Forum Speech dengan menyampaikan pesan sarat motivasi, jika peran dan kesempatan yang mampu kita kreasikan sebagai manusia di era Industri 4.0 akan lebih banyak didominasi oleh sesuatu yang hanya dianugerahkan oleh sang pencipta semesta kepada manusia. Sesuatu itu tidak dimiliki oleh mesin-mesin yang dibekali teknologi cerdas, sesuatu yaitu manusia dengan kecerdasan emosional dan kreativitas nya dalam membuat peluang baru bagi sesama yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi mutakhir yang hanya mampu menyelesaikan tugas sudah di desain peruntukannya.

Tidak bisa dielakkan dengan perkembangan sains dan teknologi kini, di sisi lain, juga menimbulkan tantangan baru bagi masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia. Dengan total penduduk usia produktif di tahun 2018 dengan kategori usia 14-64 tahun mencapai 179,13 juta jiwa dari total penduduk 265 juta jiwa [3]. Dengan keadaan tersebut, perekonomian yang digerakkan oleh cyber-physical systems menjadi gagasan yang “tidak ramah” bagi iklim ketenagakerjaan masyarakat Indonesia. Namun, permasalahan yang ada bukan untuk dihindari. Menjadi bagian masyarakat yang proaktif dan keinginan untuk maju bersama, kita pasti mampu menghadapi tantangan yang ada.

Lebih lanjut, mengenai tantangan ketenagakerjaan yang disorot pula oleh Challenge Advisory adalah mengenai keterampilan pekerja [1]. Tentu penyesuaian adalah keharusan seiring banyak pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi hilang dan diambil alih oleh mesin, terutama pekerjaan yang bersifat administratif dan dilakukan oleh seseorang secara repetitif (semisal juru ketik dan kasir). Oleh karenanya, peningkatan keterampilan tenaga kerja perlu dilakukan secara kooperatif melibatkan mulai dari pengambil kebijakan hingga pemilik usaha untuk tetap memberdayakan dan memperkaya tenaga kerja dengan pelatihan dan pengetahuan baru terkini untuk dapat bersinergi menjawab tuntutan pelayanan dan bersama-sama siap menghadapi tantangan perubahan Industri 4.0.

 

 

Sumber:

[1] Challenge Advisory. The Challenges of Industry 4.0/ IIOT. https://www.challenge.org/industry-4-0-3-3/challenges/

[2] Dadang, Wayan. Aplikasi Kecerdasan Buatan dalam Dunia Hukum, Pengacara Kecerdasan Buatan Lebih Cepat  dan Akurat dibanding Pengacara Manusia. https://warstek.com/2018/04/12/hukum/

[3] Databoks. 2018, Jumlah Penduduk Indonesia Mencapai 265 Juta Jiwa. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/05/18/2018-jumlah-penduduk-indonesia-mencapai-265-juta-jiwa

[4] Deliotte AG. Industry 4.0 Challenges and solutions for the digital transformation and use of exponential technologies. 2015.

[5] Dadang, Wayan. Memahami Kecerdasan Buatan berupa Deep Learning dan Machine Learning. https://warstek.com/2018/02/06/deepmachinelearning/

[6] Kurnia, Muhamad Asep. Barcelona 5.0 Smart City. https://warstek.com/2018/05/24/barcelona/

[7] Martin, Industry 4.0: Definiton, Design Principles, Challenges, and the Future of Employment. https://www.cleverism.com/industry-4-0/

[8] Pasinggi’, Eko Suripto. Agriculture 4.0: Revolusi Pertanian Tahap Keempat. https://warstek.com/2018/05/22/agri/

[9] Sam, Nurandini Alya. Rhenald Kasali: Disrupsi Akan Semakin Kuat. https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/07/051800626/rhenald-kasali–disrupsi-akan-semakin-kuat

[10] Schwab, Klaus. The Fourth Industrial Revolution. 2016. World Economic Forum

[11] Queen Rania. EBRD Annual Meeting and Business Forum Speech. Youtube.

[12] World Economic Forum. The Fourth Industrial Revolution | At a glance (Subtitled). Youtube.

[13] Zainuddin, Ahmad Faiz. Era Disrupsi atau Era Kreasi?. https://warstek.com/2017/12/08/erakreasi1/

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: