Dunia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menyediakan pangan bagi populasi yang terus bertambah, di tengah perubahan iklim yang semakin nyata. Pertanian harus lebih efisien, ramah lingkungan, dan mampu menghasilkan lebih banyak pangan dengan dampak yang lebih kecil terhadap bumi. Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi baru mulai banyak diterapkan, seperti drone untuk pemetaan lahan, robot pemanen, sensor tanah, serta benih hasil rekayasa genetika yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem.
Namun, di balik semua kemajuan ini muncul satu pertanyaan penting. Apakah petani dan konsumen siap menerima perubahan tersebut?
Sebuah studi tinjauan sistematis yang diterbitkan di Frontiers in Sustainable Food Systems pada tahun 2025 mencoba menjawab hal ini. Penelitian tersebut menganalisis 69 studi dari lebih dari 6.000 artikel ilmiah untuk memahami apa yang membuat teknologi pertanian baru diterima atau ditolak oleh dua kelompok yang sangat berperan dalam rantai pangan, yaitu petani sebagai pengguna utama teknologi dan konsumen sebagai penerima akhir produk.
Hasilnya menunjukkan bahwa penerimaan teknologi pertanian tidak hanya bergantung pada kehebatan inovasi itu sendiri. Ada hal-hal lain yang justru lebih kuat dampaknya, seperti emosi, persepsi risiko, keadaan ekonomi, hingga jaringan sosial.
Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum
Teknologi Pertanian Baru: Harapan Besar untuk Lingkungan
Teknologi pertanian baru tidak semata-mata bertujuan untuk meningkatkan panen. Lebih dari itu, banyak inovasi kini dirancang untuk menghadapi masalah lingkungan.
Beberapa contohnya adalah:
- Pestisida ramah lingkungan yang mengurangi pencemaran tanah dan air.
- Pertanian presisi, di mana pupuk dan air diberikan tepat pada lokasi dan jumlah yang dibutuhkan.
- Varietas tanaman tahan kekeringan yang menjadi solusi ketika curah hujan semakin tidak menentu.
Jika semua teknologi ini diterapkan secara luas, kita bisa menekan emisi gas rumah kaca dan menjaga kelestarian lahan pertanian untuk generasi mendatang. Namun, adopsinya di masyarakat tidak selalu berjalan mulus.
Sikap Konsumen: Lebih Banyak Dipengaruhi Perasaan daripada Fakta
Penelitian menemukan bahwa konsumen sering melihat teknologi pertanian sebagai sesuatu yang mengancam kesehatan dan keamanan pangan. Bahkan ketika manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, sebagian masyarakat tetap ragu.
Ada beberapa penyebabnya:
- Ketakutan terhadap “hal yang belum dikenal” Konsumen cenderung curiga pada pangan yang hasil budidayanya menggunakan teknik baru seperti rekayasa genetika atau bioteknologi.
- Pengaruh isu di media dan informasi yang salah Misalnya, pemberitaan yang mengaitkan produk hasil teknologi dengan penyakit tertentu tanpa bukti kuat.
- Persepsi bahwa pangan alami lebih sehat Produk teknologi sering dianggap artifisial dan tidak “murni”.
Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa konsumen akhirnya lebih menerima teknologi apabila mereka:
- melihat manfaat langsung bagi kesehatan atau lingkungan
- mendapat edukasi yang jelas dan objektif
- melihat banyak orang lain juga menggunakannya
Artinya, komunikasi publik yang baik sangat berperan dalam membuka pikiran masyarakat.
Sikap Petani: Terjebak Antara Inovasi dan Risiko
Jika konsumen dikuasai oleh persepsi emosional, petani justru dihadapkan pada pertimbangan ekonomi dan risiko usaha.
Beberapa faktor yang membuat petani ragu mengadopsi teknologi baru antara lain:
- Biaya investasi yang tinggi Alat dan teknologi terbaru sering membutuhkan modal besar yang tidak semua petani mampu.
- Risiko kegagalan atau ketidakpastian hasil Petani cenderung berhati-hati karena kesalahan kecil bisa mengancam pendapatan keluarga.
- Kurangnya pelatihan dan dukungan teknis Tanpa pendampingan, teknologi mudah dianggap “menyulitkan”.
- Keterbatasan akses infrastruktur dan pasar Daerah terpencil lebih sulit menikmati kemajuan teknologi.
Di sisi lain, studi menemukan bahwa petani lebih terbuka pada inovasi jika:
- mereka melihat bukti nyata keberhasilan teknologi pada petani lain
- ada dukungan pemerintah berupa subsidi atau pelatihan
- mereka memiliki jaringan sosial yang kuat, misalnya melalui kelompok tani
Dengan kata lain, adopsi teknologi bukan hanya soal alat, tetapi juga soal kepercayaan dan kemampuan adaptasi.
Peran Sosial dan Edukasi Sangat Penting
Temuan penting dari studi ini adalah bahwa adopsi teknologi pertanian bukan hanya masalah teknis, melainkan juga masalah sosial.
Faktor seperti:
- pendidikan
- akses informasi
- tokoh masyarakat yang mendukung
- diskusi dalam komunitas
dapat meningkatkan penerimaan baik pada konsumen maupun petani. Bahkan, sering kali perubahan sikap baru terjadi setelah melihat orang-orang terdekat berhasil mengadopsinya terlebih dahulu.
Penelitian ini juga menunjukkan masih ada kekurangan studi khususnya mengenai bagaimana budaya lokal memengaruhi penerimaan teknologi. Setiap daerah punya nilai dan kebiasaan berbeda sehingga pendekatan satu model untuk semua tidak akan efektif.
Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?
Untuk memastikan teknologi benar-benar membantu transisi menuju pertanian berkelanjutan, studi ini memberikan beberapa rekomendasi:
- Kebijakan pemerintah harus lebih inklusif bagi petani kecil dan daerah terpencil.
- Program penyuluhan harus ditingkatkan, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
- Komunikasi publik tentang teknologi pangan harus jujur dan transparan, bukan sekadar promosi.
- Partisipasi konsumen dan petani perlu dilibatkan dalam proses pengembangan teknologi sejak awal.
Hal terpenting adalah mendengarkan mereka yang akan memakainya dan mengonsumsinya. Teknologi tidak akan berguna jika masyarakat tidak siap menerimanya.
Menuju Masa Depan Pertanian yang Disepakati Semua Pihak
Menghadapi perubahan iklim dan lonjakan kebutuhan makanan dunia, kita membutuhkan semua kekuatan inovasi untuk menjaga ketahanan pangan. Namun, inovasi hanya akan bermanfaat jika bisa diterapkan dalam skala besar dan diterima oleh masyarakat.
Studi ini mengingatkan kita bahwa perubahan besar tidak hanya bergantung pada ilmuwan dan perangkat canggih di laboratorium, tetapi juga pada rasa percaya petani dan rasa aman konsumen.
Pertanyaan yang kini harus dijawab bukan lagi, “Teknologinya ada atau tidak?” tetapi “Apakah manusia siap menyambutnya?”
Ketika keduanya berjalan beriringan, pertanian masa depan tidak hanya lebih produktif, tetapi juga lebih adil, sehat, dan berkelanjutan bagi bumi kita.
Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan
REFERENSI:
Castellini, Greta dkk. 2025. Determinants of consumer and farmer acceptance of new production technologies: a systematic review. Frontiers in Sustainable Food Systems 9, 1557974.

