Pernah nggak sih, kamu buka Instagram atau TikTok cuma buat “scroll sebentar”, tapi tanpa sadar waktu satu jam sudah lewat begitu saja? Rasanya seru, lucu, bahkan bikin ketagihan. Tapi, di balik hiburan itu, ada harga yang diam-diam dibayar: fungsi otak kita pelan-pelan bisa menurun lho!
Sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Cognition oleh dua peneliti dari Harvard Medical School, Mathura Shanmugasundaram dan Arunkumar Tamilarasu, mengungkap sisi gelap dari era digital. Artikel review tersebut menyoroti bagaimana media sosial—yang jadi bagian hidup kita sehari-hari—berpotensi merusak fungsi kognitif otak manusia, terutama saat digunakan secara berlebihan atau tanpa kontrol.
Oh ya, artikel review seperti yang kita bahas sekarang adalah jenis artikel ilmiah yang mengulas puluhan hingga ratusan hasil penelitian lain. Tujuannya adalah merangkum, membandingkan, dan menyajikan gambaran besar dari berbagai studi yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam paper “The Impact of Digital Technology, Social Media, and Artificial Intelligence on Cognitive Functions: A Review” ini, penulis mengulas lebih dari 90 referensi ilmiah dari berbagai jurnal internasional. Jumlah ini menunjukkan bahwa kesimpulan yang disampaikan dalam artikel tersebut berasal dari kumpulan data dan studi yang luas dan terpercaya.
Jadi, artikel ini bisa dianggap sebagai peta besar yang menunjukkan bagaimana teknologi digital—terutama media sosial—berpengaruh terhadap otak dan kognisi kita, berdasarkan bukti ilmiah dari berbagai sumber.
Apa Itu Fungsi Kognitif, dan Kenapa Penting Banget?
Fungsi kognitif adalah kemampuan otak untuk berpikir, mengingat, fokus, mengambil keputusan, dan memproses informasi. Kemampuan tersebut adalah fondasi dari segala hal yang kita lakukan—dari belajar, bekerja, sampai membuat keputusan penting dalam hidup.
Saat fungsi kognitif terganggu, kamu bisa mengalami:
- Sulit konsentrasi
- Mudah lupa
- Susah mengambil keputusan
- Emosi yang tidak stabil
- Penurunan performa belajar atau kerja
Dan menurut berbagai riset yang dibahas dalam artikel review, media sosial yang kamu gunakan setiap hari bisa jadi salah satu penyebabnya.
Bagaimana Media Sosial Menurunkan Fungsi Kognitif?
1. Perhatian Jadi Tercabik-Cabik
Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter sengaja dirancang untuk membuatmu terus membuka aplikasi. Notifikasi yang berbunyi tiap menit, konten yang terus muncul tanpa henti (infinite scroll), dan autoplay video adalah racikan jitu untuk menarik perhatian.
Sayangnya, otak manusia tidak dirancang untuk berpindah fokus secepat itu. Inilah yang disebut continuous partial attention—kamu seperti memperhatikan banyak hal sekaligus, tapi tak ada yang benar-benar kamu fokuskan.
📌 Studi menunjukkan pelajar hanya bisa fokus 6 menit sebelum terganggu oleh pesan atau notifikasi (Rosen et al., 2013).
Akibatnya, kamu tidak bisa lagi menyelesaikan tugas dengan fokus penuh, dan ini berdampak langsung pada produktivitas dan pembelajaran.
2. Memori Jadi Lemah Karena “Google Menjadi Otak Baru Kita”
Berapa banyak dari kita yang masih menghafal nomor telepon orang terdekat? Atau rute ke tempat kerja tanpa bantuan Google Maps? Mayoritas dari kita tidak lagi menghafal, karena kita terbiasa mengandalkan teknologi untuk mengingatkan kita. Fenomena ini disebut digital offloading—menyimpan informasi di luar otak kita, yaitu di smartphone.
📌 Studi menunjukkan bahwa penggunaan GPS secara berlebihan dapat mengurangi fungsi memori spasial yang diatur oleh hippocampus, bagian penting dalam otak (Dahmani & Bohbot, 2020).
Efeknya mirip seperti otot yang tidak dilatih—kalau tidak dipakai, ia melemah. Begitu pula dengan memori otak kita.
3. Kecanduan dan Dopamin: Perangkap Rasa Senang
Setiap kali kamu mendapat “like” atau komentar di media sosial, otakmu melepaskan dopamin—zat kimia yang bikin kamu merasa senang. Tapi, seperti halnya gula atau rokok, rasa senang ini bisa bikin kecanduan.
Saat kamu terus mencari validasi dari dunia digital, kamu bisa masuk ke siklus adiktif yang mengganggu fungsi otak, terutama di bagian yang mengatur:
- Kontrol diri
- Pengambilan keputusan
- Emosi
📌 MRI menunjukkan bahwa pengguna media sosial berat mengalami penurunan volume materi abu-abu di area otak yang berperan dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan (anterior cingulate cortex).
4. Berpikir Kritis Jadi Lemah
Di media sosial, informasi datang begitu cepat. Kita lebih suka “like” dan “share” daripada membaca atau menganalisis. Ini membuat kita cepat percaya pada informasi palsu, terutama jika sesuai dengan pendapat pribadi kita (confirmation bias).
📌 Orang yang terpapar berita hoaks di media sosial menunjukkan penurunan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan yang logis (Aïmeur et al., 2023).
Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan fakta dan opini.
Apakah Efeknya Jangka Panjang?
Ya. Bahkan struktur otak bisa berubah secara permanen. Studi menunjukkan:
- Penurunan kepadatan materi abu-abu
- Aktivitas menurun di area prefrontal cortex (yang mengatur kontrol diri)
- Gejala menyerupai ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
Yang lebih mengejutkan, efek ini kini juga terlihat pada anak muda dan remaja—usia yang seharusnya otaknya sedang berkembang pesat.
Solusi: Bagaimana Kita Bisa Menyelamatkan Fungsi Otak Kita?
Tenang, kabar baiknya adalah fungsi kognitif bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan, kalau kita tahu caranya mengelola penggunaan media sosial.
Berikut strategi yang direkomendasikan para ahli:
1. Digital Detox
Luangkan waktu tanpa gawai. Misalnya, satu jam sebelum tidur bebas layar, atau satu hari dalam seminggu bebas media sosial.
2. Fokus Tunggal (Single Tasking)
Kerjakan satu hal pada satu waktu. Hindari multitasking yang cuma membuat otak kelelahan.
3. Latih Memori
Gunakan otakmu! Hafalkan nomor penting, biasakan menulis to-do list di kertas, dan kurangi ketergantungan pada reminder digital.
4. Tingkatkan Literasi Digital
Belajar menyaring informasi, mengenali hoaks, dan tidak langsung percaya dengan konten viral.
5. Perbanyak Interaksi Sosial Nyata
Ngobrol langsung, tatap muka, diskusi, dan kegiatan sosial bisa memperkuat koneksi otak dan emosi kita.
Penutup: Scroll Boleh, Tapi Jangan Sampai Otak Kita Error
Media sosial itu seperti makanan cepat saji—enak, cepat, memuaskan… tapi kalau dikonsumsi berlebihan, bisa bahaya. Artikel review ini mengingatkan kita bahwa kesehatan kognitif adalah aset penting di era digital. Jangan biarkan like, scroll, dan notifikasi mengendalikan hidup kita.
Jadi, yuk kita kendalikan teknologi, jangan sampai kita yang dikendalikan!
Referensi
Shanmugasundaram, M., & Tamilarasu, A. (2023). The impact of digital technology, social media, and artificial intelligence on cognitive functions: A review. Frontiers in Cognition, 2, Article 1203077. https://doi.org/10.3389/fcogn.2023.1203077

