Tikus Bisa Mendeteksi Status Sosial Lawan Hanya Lewat Bau

Bayangkan kamu sedang masuk ke ruangan penuh orang asing. Kamu belum pernah bertemu mereka sebelumnya, tapi entah bagaimana kamu langsung […]

Bayangkan kamu sedang masuk ke ruangan penuh orang asing. Kamu belum pernah bertemu mereka sebelumnya, tapi entah bagaimana kamu langsung bisa merasakan siapa yang paling berpengaruh, siapa yang percaya diri, dan siapa yang cenderung mengalah. Umumnya, manusia menebak hal-hal seperti itu dari penampilan luar—seperti cara berpakaian, nada suara, gestur tubuh, atau ekspresi wajah. Tapi bagaimana kalau kemampuan itu bukan hanya milik manusia?

Ternyata, hal serupa juga terjadi di dunia tikus, hanya saja mereka mengandalkan indra yang berbeda. Kalau manusia mengandalkan mata dan telinga, tikus mengandalkan hidungnya. Tikus jantan dewasa bisa “membaca” status sosial lawan yang belum pernah mereka temui hanya dari bau tubuh—tanpa perlu bertarung dulu atau saling kenal sebelumnya.

Penelitian dari tim peneliti di Francis Crick Institute menunjukkan bahwa tikus menggunakan sinyal kimia atau bau-bauan untuk menilai apakah lawannya lebih tinggi atau lebih rendah status sosialnya. Bahkan, berdasarkan informasi ini saja, tikus bisa langsung menentukan bagaimana bersikap—apakah harus bersikap dominan dan melawan, atau justru mundur dan menghindari konflik.

Menariknya, kemampuan ini bukan berdasarkan hafalan atau pengalaman masa lalu dengan individu tertentu. Tikus benar-benar bisa mengenali status sosial lewat “kode” bau yang terbaca oleh sistem penciuman yang dimilikinya. Dan ini semua terjadi secara alami, cepat, dan tanpa keraguan. Ini seperti kita bisa tahu siapa bos kantor hanya dari aroma parfumnya—tapi bukan karena merek parfum mahal, melainkan karena tubuhnya benar-benar mengeluarkan sinyal kimia yang menunjukkan kekuasaan.

Apa Itu Hierarki Sosial?

Dalam dunia hewan, hierarki sosial merupakan sistem peringkat yang menentukan siapa yang paling dominan dan siapa yang harus mengalah. Sistem ini penting agar hewan tidak terus-menerus bertarung untuk makanan, tempat tinggal, atau pasangan kawin.

Baca juga: Stratifikasi Sosial : Pengertian, Faktor Pembentuk, Fungsi, Sifat, Proses, dan Bentuk [Lengkap+Contoh Soal]

Pada tikus, seperti halnya hewan lain, individu yang dominan seringkali mendapat akses lebih dulu ke sumber daya. Tapi bagaimana seekor tikus bisa tahu apakah lawannya lebih tinggi atau rendah statusnya?

Isyarat Kimia: Bahasa Rahasia Tikus

Tikus dikenal memiliki indra penciuman yang sangat tajam. Tikus menggunakan feromon—bahan kimia yang dilepaskan tubuh—untuk berkomunikasi. Misalnya, feromon bernama darcin, yang ditemukan dalam urin tikus jantan dominan, bisa memberikan sinyal bahwa pemiliknya adalah “bos” di kelompoknya.

Abstrak grafis

Penelitian terbaru membuktikan bahwa tikus bisa menilai status sosial lawan bahkan tanpa riwayat pertemuan sebelumnya. Tikus cukup mencium dan mengenali sinyal kimiawi yang mengindikasikan apakah lawannya dominan atau subordinat.

Uji Tabung: Arena Duel Tikus

Tim peneliti menggunakan uji tabung (tube test)—metode standar untuk menguji dominasi sosial pada tikus. Dua tikus dimasukkan dari dua ujung tabung transparan yang sempit. Mereka akan bertemu di tengah dan salah satu akan memaksa lawannya mundur. Siapa yang mundur disebut kalah, dan yang bertahan disebut menang.

Lewat uji ini, tim mengukur “peringkat” sosial setiap tikus menggunakan sistem skor Elo, mirip seperti skor dalam catur. Dengan mengamati urutan menang-kalah selama beberapa hari, mereka bisa menyusun urutan hierarki sosial yang stabil.

Peringkat dalam kelompok digeneralisasikan ke lawan yang tidak dikenal

Tikus Tak Hanya Hafal Wajah, Tapi Paham Peringkat

Hebatnya, tikus tidak hanya mengenali individu yang mereka kenal. Dalam uji lanjutan, tikus dipertemukan dengan lawan yang sama sekali asing—dari kandang lain—tapi tetap bisa menyesuaikan perilaku mereka sesuai dengan peringkat sosial lawannya.

Artinya, tikus tak perlu berkelahi dulu untuk tahu siapa yang lebih dominan. Cukup mencium bau lawannya, kemudian membandingkan bau itu dengan status diri mereka, dan mengambil keputusan: menyerang atau mundur.

Urin Bisa Ubah Status Sosial?

Dalam eksperimen unik lainnya, tim memanfaatkan urin dari tikus dominan dan mengoleskannya ke kepala tikus subordinat. Hasilnya luar biasa—tikus subordinat yang “dipakaikan” bau dominan langsung mendapat perlakuan berbeda dari lawan yang belum mengenalnya.

Tikus asing memperlakukan mereka seolah-olah mereka memang tikus dominan asli. Ini menunjukkan bahwa status sosial bisa dimanipulasi melalui sinyal kimia, bahkan tanpa perubahan perilaku.

Apakah Tikus Bergantung pada Penglihatan?

Untuk memastikan bahwa isyarat kimia benar-benar yang utama, tim juga menguji tikus dalam kegelapan total. Hasilnya tetap sama—tikus tetap bisa mengenali peringkat sosial lawan. Bahkan ukuran tubuh atau berat badan tikus tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil. Ini membuktikan bahwa penglihatan dan postur bukan kunci utama dalam pengenalan sosial pada tikus.

Indera Penciuman Tikus: Redundan dan Canggih

Tikus memiliki dua sistem utama untuk mencium:

  1. Sistem olfaktori utama (MOE) untuk mencium bau di udara.
  2. Sistem vomeronasal (AOB) untuk mendeteksi bau lewat sentuhan langsung, seperti mencium bulu atau urin.

Ketika hanya satu sistem dimatikan secara kimiawi atau bedah, tikus masih bisa menilai status sosial lawannya. Tapi ketika kedua sistem diblokir bersamaan, tikus kehilangan kemampuan untuk mengenali siapa yang lebih dominan.

Dengan kata lain, kedua sistem ini saling melengkapi dan memastikan bahwa tikus selalu bisa membaca situasi sosial, bahkan jika salah satu sistem terganggu.

Apa Artinya untuk Manusia?

Meskipun manusia tidak membaca status sosial dari bau, kita pun cepat mengenali siapa yang lebih dominan atau berpengaruh, lewat cara bicara, penampilan, bahasa tubuh, atau nada suara. Menariknya, proses ini juga berjalan otomatis dan tanpa perlu pengalaman sebelumnya—mirip seperti tikus.

Penelitian ini memberi wawasan bahwa kemampuan mengenali struktur sosial bisa jadi sudah tertanam dalam otak sejak lama dalam sejarah evolusi, dan mekanisme dasarnya mungkin lebih mirip dari yang kita duga.

Implikasi Luas: Dari Laboratorium ke Masyarakat

Memahami bagaimana tikus mengenali dan merespons status sosial bisa memberi pelajaran penting bagi studi tentang hierarki sosial manusia, kesehatan mental, stres, dan konflik sosial.

Status sosial yang rendah pada manusia telah dikaitkan dengan tekanan psikologis, gangguan hormon, dan bahkan penurunan fungsi kekebalan tubuh. Dengan mempelajari tikus, kita bisa memahami lebih baik bagaimana sistem saraf merespons ketimpangan sosial—dan mungkin mencari cara mengatasinya.

Kesimpulan

Penelitian dari Crick Institute ini mengungkap bahwa tikus memiliki kemampuan luar biasa untuk mengenali status sosial lawan hanya lewat bau, tanpa perlu pengalaman sebelumnya. Sistem penciuman mereka sangat canggih dan mampu memproses informasi sosial yang kompleks. Temuan ini membuka pintu untuk riset lanjutan tentang bagaimana otak memproses informasi sosial, baik pada hewan maupun manusia.

Referensi:

[1] https://www.crick.ac.uk/news/2025-05-19_mice-use-chemical-cues-such-as-odours-to-sense-social-hierarchy, diakses pada 4 Juli 2025.

[2] Neven Borak, Patty Wai, Paula Rodriguez Villamayor, Phoebe M. Claxton, Swang Liang, Johannes Kohl. Dominance rank inference in mice via chemosensationCurrent Biology, 2025; DOI: 10.1016/j.cub.2025.04.063

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top