Dalam upaya menjawab salah satu pertanyaan terbesar umat manusia, “Apakah kita sendirian di alam semesta?”, para ilmuwan kini tengah mengamati planet ekstrasurya TRAPPIST-1 e menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA. Planet ini menarik perhatian karena ukurannya yang mirip dengan Bumi dan lokasi orbitnya yang berada di zona layak huni, di mana air dalam bentuk cair secara teori dapat eksis. Namun, apakah planet ini memiliki atmosfer yang mendukung kehidupan? Penelitian yang dilakukan dengan teleskop canggih ini bertujuan untuk mengungkap rahasia tersebut.
Mengintip TRAPPIST-1 e dengan Teknologi Infrared Webb
Teleskop James Webb dilengkapi dengan instrumen inframerah canggih bernama NIRSpec (Near-Infrared Spectrograph) yang memungkinkan para peneliti untuk mempelajari atmosfer planet ekstrasurya dengan detail yang belum pernah dicapai sebelumnya. Penelitian awal terhadap TRAPPIST-1 e dilakukan ketika planet ini melintasi bintang induknya, sebuah fenomena yang dikenal sebagai transit. Saat cahaya bintang melewati atmosfer planet (jika ada), sebagian cahaya tersebut akan diserap oleh senyawa kimia tertentu, meninggalkan jejak spektral yang dapat dianalisis oleh teleskop.
Néstor Espinoza dari Space Telescope Science Institute di Baltimore, Maryland, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa hasil awal dari empat pengamatan pertama memberikan gambaran tentang apa yang dapat diharapkan dari data tambahan yang akan datang. “Instrumen inframerah Webb memberikan detail lebih banyak daripada yang pernah kami akses sebelumnya,” ujarnya.

Atmosfer Primer Tidak Mungkin Ada
Salah satu penemuan awal yang menarik adalah kemungkinan besar TRAPPIST-1 e tidak memiliki atmosfer primer, yaitu atmosfer asli yang terdiri dari hidrogen dan helium. Hal ini tidak mengejutkan mengingat bintang induknya, TRAPPIST-1, adalah bintang katai merah yang sangat aktif dengan semburan radiasi yang sering terjadi. Radiasi tersebut kemungkinan telah mengikis atmosfer primer planet ini sejak lama.
Namun, seperti halnya Bumi, beberapa planet mampu membentuk atmosfer sekunder setelah kehilangan atmosfer primernya. Para peneliti belum dapat memastikan apakah TRAPPIST-1 e memiliki atmosfer sekunder atau tidak. Dengan menggunakan pendekatan inovatif, tim peneliti terus mengembangkan metode untuk memahami kemungkinan-kemungkinan terkait atmosfer dan lingkungan permukaan planet ini.
Kemungkinan Atmosfer dan Permukaan
Salah satu temuan penting adalah kecilnya kemungkinan bahwa atmosfer TRAPPIST-1 e didominasi oleh karbon dioksida, seperti atmosfer tebal Venus atau atmosfer tipis Mars. Namun, para peneliti berhati-hati untuk tidak membuat analogi langsung dengan tata surya kita. Nikole Lewis, seorang profesor astronomi di Universitas Cornell dan anggota tim penelitian, menekankan bahwa sistem planet TRAPPIST-1 sangat berbeda dari tata surya kita.
Jika TRAPPIST-1 e memiliki air dalam bentuk cair di permukaannya, air tersebut kemungkinan besar didukung oleh efek rumah kaca. Efek ini terjadi ketika gas-gas tertentu, terutama karbon dioksida, menjaga suhu planet tetap hangat dan stabil. Analisis tim menunjukkan bahwa air di TRAPPIST-1 e mungkin berbentuk samudra global atau hanya menutupi area kecil di sisi planet yang selalu menghadap bintang induknya, sementara sisi lainnya tetap gelap dan dingin. Fenomena ini disebut “tidal locking”, di mana satu sisi planet selalu menghadap bintang akibat orbitnya yang dekat.
Metode Inovatif: Membandingkan Planet b dan e
Untuk menggali lebih dalam, tim peneliti kini melakukan 15 pengamatan tambahan terhadap TRAPPIST-1 e dengan pendekatan inovatif. Mereka menjadwalkan pengamatan sehingga teleskop Webb dapat menangkap transit planet b dan planet e secara berurutan. Planet b, yang paling dekat dengan bintang induknya, telah ditentukan sebagai batuan tanpa atmosfer. Dengan membandingkan data dari kedua planet ini, para peneliti dapat memisahkan sinyal dari bintang dan menentukan apakah ada indikasi kimia tertentu hanya pada spektrum TRAPPIST-1 e.
Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengurangi gangguan akibat variabilitas bintang induk dan meningkatkan akurasi analisis atmosfer planet e. “Kami masih berada di tahap awal dalam memahami jenis ilmu luar biasa yang dapat dilakukan dengan Webb,” kata Ana Glidden, seorang peneliti pasca-doktoral di Massachusetts Institute of Technology (MIT). “Sangat luar biasa dapat mengukur detail cahaya bintang di sekitar planet seukuran Bumi yang berjarak 40 tahun cahaya dan mempelajari kemungkinan adanya kehidupan di sana.”
Dampak Penelitian terhadap Eksplorasi Luar Angkasa
Penelitian terhadap TRAPPIST-1 e merupakan bagian dari kolaborasi DREAMS (Deep Reconnaissance of Exoplanet Atmospheres using Multi-instrument Spectroscopy) yang dipimpin oleh tim ilmuwan Teleskop James Webb. Temuan awal mereka telah dipublikasikan dalam dua makalah ilmiah di Astrophysical Journal Letters, memberikan wawasan baru tentang potensi atmosfer planet ekstrasurya.
Teleskop James Webb sendiri merupakan observatorium ilmu ruang angkasa terkemuka dunia saat ini. Dengan kemampuan luar biasanya untuk mempelajari struktur kosmos dan asal-usul alam semesta, Webb menjadi alat penting dalam eksplorasi ruang angkasa internasional. Program ini dipimpin oleh NASA bekerja sama dengan ESA (European Space Agency) dan CSA (Canadian Space Agency).
Era Baru Eksplorasi Luar Angkasa
Penelitian terhadap TRAPPIST-1 e tidak hanya memberikan gambaran tentang lingkungan planet ekstrasurya tetapi juga membuka pintu menuju era baru eksplorasi luar angkasa. Dengan teknologi canggih seperti Teleskop James Webb, manusia semakin dekat untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang keberadaan kehidupan di luar Bumi.
Apakah TRAPPIST-1 e memiliki atmosfer yang mendukung kehidupan? Apakah air dalam bentuk cair benar-benar ada di permukaannya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin masih jauh dari jangkauan, tetapi setiap pengamatan membawa kita selangkah lebih dekat menuju pemahaman tentang tempat kita di alam semesta.
Penelitian ini bukan hanya tentang menemukan dunia baru; ini adalah tentang memahami asal-usul kehidupan dan kemungkinan keberadaan kehidupan lain di luar sana. Sebagaimana dikatakan oleh Glidden, “Kita berada dalam era eksplorasi baru yang sangat menarik untuk menjadi bagian darinya.” Dan siapa tahu? Mungkin suatu hari nanti, TRAPPIST-1 e akan menjadi salah satu cerita besar dalam sejarah penjelajahan manusia di luar Bumi.
Referensi
- Espinoza, N., et al. (2024). No evidence for a thick atmosphere on TRAPPIST-1 e from JWST/NIRSpec observations. The Astrophysical Journal Letters, Vol. 963.
- Glidden, A., et al. (2024). Comparative transmission spectroscopy of TRAPPIST-1 b and e with JWST. The Astrophysical Journal Letters, Vol. 964.
- Lewis, N. K., et al. (2023). Constraints on secondary atmospheres of terrestrial exoplanets orbiting M dwarfs. The Astrophysical Journal, Vol. 950.
- NASA Webb Mission – Webb studies TRAPPIST-1 e to search for an atmosphere; diakses 31 Desember 2025.
- Space Telescope Science Institute (STScI) – DREAMS program reveals new insights into TRAPPIST-1 planets; diakses 31 Desember 2025.

