Selama beberapa dekade, sistem artileri Indonesia sebagian besar hanya mengandalkan meriam dan roket jarak pendek. Senjata-senjata ini memang efektif, tetapi jangkauannya terbatas, hanya bisa menjangkau musuh dalam radius beberapa puluh kilometer saja. Artinya, jika target berada jauh di luar jangkauan, maka pasukan tidak bisa menjangkaunya tanpa harus maju lebih dekat, yang tentu berisiko tinggi.
Kini situasinya mulai berubah. Dengan masuknya rudal balistik KHAN buatan Turki, Indonesia memasuki sebuah era baru dalam pertahanan militer, yakni era serangan jarak jauh yang presisi. Rudal balistik adalah senjata roket berukuran besar yang dirancang untuk meluncur tinggi ke udara lalu jatuh kembali menuju sasaran dengan kecepatan sangat tinggi.
KHAN sendiri mampu melesat hingga sejauh 280 kilometer, jarak yang setara dengan perjalanan dari Jakarta ke Semarang. Di ujung rudal tersebut terdapat hulu ledak seberat hampir setengah ton (500 kilogram), yang bisa berfungsi sebagai bahan peledak. Keunggulannya bukan hanya pada daya hancurnya, tetapi juga pada akurasi: KHAN bisa menghantam sasaran dengan tingkat kesalahan kurang dari 10 meter.
Dengan kemampuan seperti ini, target strategis seperti markas komando militer, pangkalan udara, atau instalasi radar musuh dapat dilumpuhkan dari jarak ratusan kilometer, tanpa harus mengirim pasukan ke garis depan. Bagi pertahanan modern, ini adalah lompatan besar, karena memungkinkan Indonesia menjaga kedaulatan wilayahnya sekaligus memberi efek gentar kepada pihak yang mencoba mengancam.

Sains Roket: Bagaimana KHAN Bekerja?
Rudal balistik seperti KHAN bekerja mengikuti hukum fisika dasar:
- Tahap awal (boost phase): mesin roket padat mendorong rudal menembus atmosfer.
- Fase balistik: rudal meluncur mengikuti lintasan parabola, memanfaatkan gravitasi dan momentum.
- Terminal phase: KHAN melakukan manuver kecil di udara untuk mengecoh sistem pertahanan musuh, lalu jatuh tepat di sasaran.
Energi propulsi berasal dari propelan padat yang stabil, cepat menyala, dan tahan disimpan lama, kombinasi kimia yang dirancang agar bisa digunakan kapan saja tanpa perawatan rumit.
Baca juga artikel tentang: Momen Rudal Balistik Terbesar Korea Utara Saat Memotret Bumi Bulat
Otak di Balik Presisi
Akurasi KHAN bukan kebetulan, melainkan hasil integrasi sistem navigasi ganda:
- INS (Inertial Navigation System): sensor giroskop dan akselerometer menghitung posisi berdasarkan gerakan rudal.
- GPS & GLONASS: sinyal satelit memperbaiki posisi agar akurat.
- Fusi data dari kedua sistem memastikan rudal tetap tepat sasaran, bahkan jika sinyal satelit diganggu.
Secara sederhana, KHAN adalah roket dengan “otak digital” yang mampu memetakan jalannya sendiri.
Mengapa Truk 8×8 Jadi Kawan Setia KHAN?
KHAN tidak ditembakkan dari silo bawah tanah, melainkan dari truk peluncur Tatra 8×8. Kenapa?
- Mobilitas tinggi: bisa berpindah lokasi dengan cepat (konsep shoot-and-scoot).
- Lebih sulit dilacak musuh, karena peluncurnya tidak tetap.
- Memberi fleksibilitas strategis: bisa diposisikan di berbagai titik rawan, termasuk Kalimantan Timur dekat dengan jalur laut strategis dan calon Ibu Kota Nusantara.
Fisika Ledakan: 470 Kilogram Energi
Rudal KHAN dilengkapi dengan hulu ledak seberat sekitar 470 kilogram. Hulu ledak adalah bagian paling penting dari sebuah rudal, karena di sanalah bahan peledak ditempatkan. Dalam kasus KHAN, hulu ledaknya bisa diisi dengan high explosive (bahan peledak daya tinggi yang menghasilkan ledakan besar) atau dengan fragmentation (bahan peledak yang dirancang agar pecah menjadi ribuan serpihan logam tajam ketika meledak).
Dari sudut pandang fisika, energi yang dilepaskan hulu ledak sebesar ini setara dengan ratusan kilogram TNT, bahan peledak standar yang biasa dipakai sebagai pembanding kekuatan ledakan. Bayangkan, satu kilogram TNT saja sudah cukup untuk menghancurkan sebuah mobil; maka ratusan kilogram TNT mampu meratakan bangunan besar atau fasilitas militer dalam sekejap.
Dampak ledakan bukan hanya menghancurkan target langsung (misalnya markas komando atau kendaraan militer). Ledakan juga menghasilkan overpressure, yaitu gelombang kejut berupa lonjakan tekanan udara yang sangat kuat dan bergerak lebih cepat dari suara. Gelombang ini bisa merusak bangunan di sekitarnya, memecahkan kaca jendela, bahkan melontarkan orang atau benda ringan yang berada di area sekitar. Dengan kata lain, kerusakan tidak hanya datang dari panas dan serpihan, tetapi juga dari dorongan tekanan udara yang ekstrem.
Strategi, Geopolitik, dan Sains
Menguasai rudal balistik artinya Indonesia masuk klub kecil negara dengan kemampuan serangan presisi jarak menengah di Asia Tenggara. Secara geopolitik:
- Deterrence (efek cegah perang): negara tetangga atau pihak asing akan berpikir dua kali sebelum mengancam, karena tahu Indonesia punya “taring” jarak jauh.
- Stabilitas regional: di sisi lain, kehadiran KHAN memunculkan dinamika baru. Diplomasi tetap penting agar tidak menyalakan perlombaan senjata.
- Transfer teknologi: kerja sama dengan Turki membuka peluang industri pertahanan dalam negeri menguasai sebagian teknologi roket dan navigasi.
KHAN sebagai Cermin Ilmu Pengetahuan
Lebih dari sekadar alat perang, KHAN adalah bukti bahwa sains lintas disiplin bisa melahirkan sistem kompleks:
- Fisika (mekanika roket, aerodinamika, lintasan balistik)
- Kimia (propelan padat dan bahan peledak)
- Teknologi satelit (GPS/GLONASS)
- Teknik material (bodi rudal ringan tapi kuat menahan gaya G)
- Ilmu komputer (algoritma navigasi, kontrol penerbangan)
KHAN adalah “laboratorium berjalan” dari berbagai cabang ilmu yang dipadukan dalam satu senjata.
Harapan dan Tantangan
Bagi Indonesia, KHAN adalah langkah maju dalam modernisasi alutsista. Namun tantangannya jelas:
- Bagaimana memastikan teknologi ini digunakan untuk pertahanan, bukan agresi.
- Bagaimana memanfaatkan transfer teknologi agar SDM dalam negeri bisa belajar dan mengembangkan sistem serupa di masa depan.
- Bagaimana menjaga keseimbangan regional, agar sains pertahanan juga membawa rasa aman, bukan ketakutan baru.
KHAN bukan hanya rudal, melainkan manifestasi sains, teknologi, dan strategi. Di usia 80 tahun kemerdekaan, Indonesia mengirim pesan bahwa pertahanan modern tak hanya soal jumlah pasukan, tapi soal teknologi presisi. Dari fisika roket hingga diplomasi regional, KHAN adalah contoh nyata bahwa sains bisa menentukan posisi sebuah negara di panggung dunia.
Baca juga artikel tentang: Hubungan Aktivitas Militer dengan Lingkungan Global
REFERENSI:
Indonesia Acquires Tactical Strike Capability for First Time with Arrival of Turkish KHAN Ballistic System. Army Recognition: https://armyrecognition.com/news/army-news/2025/indonesia-acquires-tactical-strike-capability-for-first-time-with-arrival-of-turkish-khan-ballistic-system diakses pada tanggal 25 Agustus 2025.
Futter, Andrew dkk. 2025. The Global Third Nuclear Age: Clashing Visions for a New Era in International Politics. Taylor & Francis.
Stranger, Emily. 2025. The Axis of Resistance in Virtual Space: Media Perspectives of Iranian Proxy Militias. Indiana University.

