Teleskop raksasa bernama Very Large Telescope (VLT), yang dioperasikan oleh organisasi astronomi Eropa bernama European Southern Observatory (ESO) di Chile, kini menghadapi ancaman yang cukup serius. Ancaman ini berasal dari rencana pembangunan pabrik hidrogen ramah lingkungan di dekat Gunung Paranal—lokasi tempat teleskop tersebut berada. Jaraknya hanya beberapa kilometer saja.
Masalah utama dari proyek ini adalah polusi cahaya, yaitu cahaya buatan manusia (seperti dari lampu jalan, gedung, atau fasilitas industri) yang menyinari langit malam. Cahaya ini dapat mengganggu pengamatan astronomi karena membuat langit tampak lebih terang, sehingga objek-objek langit yang redup menjadi sulit dilihat. Bagi teleskop sekelas VLT yang dirancang untuk menangkap cahaya sangat lemah dari bintang dan galaksi yang jauh, gangguan sekecil apa pun bisa berdampak besar pada hasil pengamatan ilmiah.
Para astronom khawatir bahwa cahaya buatan yang dihasilkan oleh fasilitas ini dapat mengganggu kualitas pengamatan VLT. Sebagai salah satu teleskop terbesar dan paling canggih di dunia, VLT sangat bergantung pada kondisi langit yang gelap untuk dapat menangkap cahaya dari objek-objek jauh di alam semesta. Jika langit di sekitar Gunung Paranal menjadi lebih terang akibat proyek ini, maka kemampuan VLT untuk melakukan penelitian mendalam tentang bintang, galaksi, dan fenomena kosmik lainnya bisa terganggu.
Proyek ini dikembangkan oleh perusahaan energi asal Amerika Serikat, AES Energy, dan telah memicu kekhawatiran di kalangan ilmuwan. Mereka menyoroti pentingnya menjaga lingkungan observatorium tetap bebas dari polusi cahaya, mengingat peran VLT dalam berbagai penemuan astronomi penting.
Baca juga artikel tentang: Astronomer Melakukan Pencarian Pertama untuk Planet yang Sedang Terbentuk dengan Teleskop Antariksa Baru
Para astronom memperingatkan bahwa proyek industri baru di dekat Very Large Telescope (VLT), Chile, dapat merusak kondisi langit malam yang selama ini menjadi salah satu yang terbaik di dunia untuk pengamatan astronomi.
Xavier Barcons, Direktur Jenderal European Southern Observatory (ESO), menjelaskan bahwa proyek ini akan meningkatkan kecerahan langit sekitar 10%. “Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi bagi observatorium terbaik di dunia, itu cukup untuk menurunkan kualitasnya menjadi sekadar tempat biasa untuk melihat langit,” katanya.
Dampak pada Penelitian Astronomi
Barcons juga mengungkapkan bahwa peningkatan polusi cahaya ini bisa menyebabkan hilangnya 30% dari galaksi terkecil yang saat ini bisa diamati oleh VLT. Selain itu, penelitian terhadap eksoplanet—planet yang mengorbit bintang lain di luar Tata Surya—juga terancam. “Kita baru saja mulai melihat detail atmosfer eksoplanet, tetapi jika langit menjadi lebih terang, kita mungkin akan kehilangan informasi penting itu,” tambahnya.
Mengapa Gunung Paranal Sangat Berharga?
VLT, yang dibangun pada 1990-an dengan biaya sekitar USD 350 juta (setara dengan USD 840 juta saat ini), merupakan salah satu teleskop paling sensitif di dunia. Teleskop ini terdiri dari empat unit utama berdiameter 8,2 meter, yang dapat bekerja bersama-sama sebagai satu sistem besar.
Gunung Paranal, tempat VLT berada, adalah bagian dari Gurun Atacama di utara Chile. Kawasan ini terkenal sebagai salah satu wilayah dengan langit tergelap di Bumi, karena hampir tidak ada polusi cahaya dari pemukiman atau industri. Pegunungan Andes yang mengelilinginya juga membantu menjaga langit tetap jernih selama lebih dari 11 bulan setiap tahun, menjadikannya lokasi ideal untuk penelitian astronomi.
Keistimewaan ini telah memungkinkan VLT melakukan pengamatan luar biasa, seperti melacak orbit bintang-bintang di sekitar lubang hitam supermasif di pusat Bima Sakti dan mengambil satu-satunya foto langsung dari planet di luar Tata Surya.
Ancaman dari Proyek Industri INNA
Proyek yang mengancam VLT adalah INNA, sebuah kawasan industri seluas 3.021 hektar yang dikembangkan oleh perusahaan energi AES Energy. Proyek ini bernilai USD 10 miliar dan mencakup tiga pembangkit listrik tenaga surya, tiga pembangkit listrik tenaga angin, sistem penyimpanan baterai, serta fasilitas produksi hidrogen.
ESO memperkirakan bahwa cahaya yang dihasilkan dari kawasan industri ini akan setara dengan polusi cahaya dari sebuah kota berpenduduk 20.000 orang. Yang lebih mengkhawatirkan, salah satu bagian dari kawasan ini berjarak hanya 5 km dari VLT, dan bisa menjadi lebih dekat lagi jika ekspansi dilakukan.
Apakah Ada Solusi?
Menurut Barcons, proyek industri seperti INNA seharusnya bisa dipindahkan ke lokasi lain tanpa mengorbankan kualitas langit di Gunung Paranal. “Dua hal ini tidak bisa berada di tempat yang sama, sesimpel itu. Jika fasilitas produksi hidrogen ini ditempatkan 50 km lebih jauh, tidak akan ada masalah. Kami yakin tidak ada alasan mengapa kawasan industri ini tidak bisa direlokasi,” tegasnya.
Ancaman terhadap Gunung Paranal tidak hanya mempengaruhi VLT, tetapi juga proyek ESO lainnya, seperti pembangunan Extremely Large Telescope (ELT) di Gunung Armazones, yang dirancang untuk menjadi teleskop optik terbesar di dunia. Jika polusi cahaya meningkat, masa depan astronomi berbasis darat di kawasan ini bisa berada dalam bahaya.
Baca juga artikel tentang: Teleskop Radio ALMA Temukan Tanda Molekuler Baru dalam Galaksi Starburst
REFERENSI:
Meza, Alejandra dkk. 2025. Impacts of Rising Light Pollution on Pollinators and Indigenous Food Sovereignty. Research Notes of the AAS 9 (5), 106.
Plummer, J dkk. 2025. Dark Skies Storytelling: Motivating Planetarium Audiences to Address Light Pollution. Astronomical Society of the Pacific Conference Series 539, 114.
Pultarova, Tereza. 2025. World’s largest telescope threatened by light pollution from renewable energy project. Space.com: https://www.space.com/space-exploration/worlds-largest-telescope-threatened-by-light-pollution-from-renewable-energy-project diakses pada tanggal 26 Mei 2025.

