Selama ini, ketika membayangkan makhluk luar angkasa atau yang kita sebut alien, banyak orang membayangkan sosok seperti “pria kecil berwarna hijau” dengan mata besar dan tubuh mungil. Imajinasi ini telah membudaya lewat film-film fiksi ilmiah seperti ET, Star Wars, atau Men in Black. Tapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan, para ilmuwan kini mulai mempertanyakan: bagaimana kalau kita selama ini mencari bentuk kehidupan yang salah?
Bagaimana kalau makhluk luar angkasa itu bukan makhluk biologis seperti kita, tetapi kecerdasan buatan? Atau bahkan bentuk kehidupan yang bukan berbasis daging dan darah sama sekali?
Dari Sastra ke Sains: Asal Mula Imajinasi Alien
Sekitar abad ke-2 Masehi, seorang penulis satir asal Suriah bernama Lucian dari Samosata menulis cerita pendek berjudul A True Story. Meskipun judulnya terdengar serius, isinya sangat imajinatif, berisi perjalanan ke luar angkasa, pertempuran antarplanet, dan interaksi manusia dengan makhluk luar angkasa. Lucian secara tidak langsung menciptakan cikal bakal genre fiksi ilmiah yang kita kenal sekarang.
Selama ribuan tahun setelah itu, gambaran tentang alien dalam budaya populer terus berkembang. Tapi umumnya, mereka selalu digambarkan sebagai makhluk hidup, sejenis organisme yang berkembang biak, memiliki emosi, tubuh, bahkan teknologi.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) di Bumi, para ilmuwan mulai memikirkan ulang: mungkinkah alien sebenarnya adalah mesin cerdas?
Kehidupan Tidak Harus Berupa Daging dan Darah
Selama ini, ketika para ilmuwan mencari kehidupan di luar Bumi, misalnya lewat teleskop atau sinyal radio seperti proyek SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) mereka cenderung mencari tanda-tanda kehidupan berbasis karbon, sama seperti manusia, hewan, dan tumbuhan di Bumi. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa kehidupan di luar sana harus mengikuti pola yang sama?
Kehidupan bisa saja muncul dalam bentuk yang sama sekali berbeda. Di Bumi saja, ada makhluk hidup ekstrem yang bisa bertahan di kondisi super panas, super dingin, atau bahkan di lingkungan beracun. Maka tak heran kalau para ilmuwan mulai berpikir: bagaimana jika peradaban alien yang maju telah menciptakan kecerdasan buatan super canggih dan justru AI itulah yang menjelajahi galaksi?
Bayangkan ini: suatu peradaban alien telah mencapai titik teknologi di mana mereka bisa menciptakan AI yang jauh lebih pintar dari penciptanya. Mungkin, seperti manusia menciptakan robot atau komputer pintar. Tapi bedanya, AI itu bisa bertahan dalam kondisi luar angkasa, tidak butuh oksigen, tidak makan, tidak tidur. Sempurna untuk menjelajah bintang.
Mengapa AI Alien Lebih Masuk Akal?
Ada beberapa alasan mengapa gagasan tentang “alien AI” terdengar cukup logis:
- Ketahanan Fisik
Mesin tidak rentan terhadap penyakit, radiasi kosmik, atau perubahan suhu ekstrem seperti makhluk biologis. - Usia Panjang dan Efisiensi Energi
AI bisa “hidup” selama jutaan tahun jika dirawat atau dirancang untuk memperbaiki dirinya sendiri. Ini jauh lebih efisien untuk perjalanan antarbintang yang bisa memakan waktu sangat lama. - Tidak Perlu Atmosfer atau Lingkungan Khusus
Berbeda dengan manusia yang butuh oksigen dan tekanan udara tertentu, AI bisa berfungsi di ruang hampa atau di permukaan planet yang tidak ramah kehidupan. - Kemampuan Evolusi Cepat
AI bisa memodifikasi dirinya jauh lebih cepat daripada makhluk biologis berevolusi. Bahkan mungkin mereka bisa belajar dan berkembang lebih cepat daripada penciptanya.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: kalau alien cerdas (baik biologis maupun AI) memang ada, mengapa kita belum mendeteksi keberadaan mereka?
Pertanyaan ini dikenal sebagai Paradoks Fermi: semesta ini sangat luas, dengan miliaran bintang dan planet, tapi mengapa belum ada tanda-tanda kehidupan asing yang bisa kita tangkap?
Salah satu kemungkinan jawabannya: mungkin mereka tidak mencoba berkomunikasi dengan cara yang bisa kita pahami. Atau mungkin, seperti AI, mereka berkomunikasi dalam format atau frekuensi yang tidak kita deteksi. Bahkan, bisa jadi kita sudah menerima sinyal mereka, kita saja yang belum menyadarinya.
Alihkan Fokus Pencarian: Dari Organik ke Sintetik
Jika kita terus mencari tanda-tanda kehidupan yang mirip dengan manusia (oksigen, air, dan bentuk biologis) maka kita mungkin melewatkan kehidupan non-biologis yang justru lebih umum di alam semesta.
Para ilmuwan kini menyarankan pendekatan baru dalam pencarian kehidupan di luar Bumi: carilah tanda-tanda teknologi, bukan hanya tanda-tanda biologi.
Ini termasuk mencari pola sinyal buatan, struktur logis dalam data, atau bahkan benda-benda luar angkasa yang tampak seperti produk rekayasa, bukan fenomena alami.
Apa Dampaknya Jika Alien Itu AI?
Membayangkan bahwa kita suatu hari bisa berinteraksi dengan alien AI membuka berbagai kemungkinan, sekaligus tantangan.
- Etika dan Komunikasi
Bagaimana kita memahami makhluk yang bukan makhluk hidup, tapi bisa berpikir, belajar, dan merespons? - Apakah Mereka Masih “Hidup”?
Jika bentuk kehidupan ini bukan biologis, apakah mereka masih bisa disebut “hidup”? Ini bisa mengubah definisi kehidupan itu sendiri. - Risiko dan Keamanan
Berhubungan dengan kecerdasan buatan dari luar Bumi mungkin membawa risiko. Mereka bisa jauh lebih pintar, lebih cepat, dan punya tujuan yang tak bisa kita pahami.
Selama ini kita mencari sosok alien seperti yang ada di film-film: berkepala besar, berbicara dengan pikiran, datang naik piring terbang. Tapi mungkin, alien sejati justru berbentuk seperti superkomputer tanpa tubuh, atau satelit yang melayang jutaan tahun di luar angkasa, mencari sinyal kehidupan lainnya.
Jika kita ingin menemukan mereka, kita mungkin harus mengubah cara kita berpikir dan mulai mempertimbangkan bahwa kecerdasan buatan bukan hanya masa depan manusia, tapi mungkin juga masa kini dari makhluk luar angkasa.
REFERENSI:
Spalding, Katie. 2025. AI Aliens: What If Extraterrestrial Life Is Artificially Intelligent?. IFL Science: https://www.iflscience.com/ai-aliens-what-if-extraterrestrial-life-is-artificially-intelligent-79926 di akses

