Dalam ekspedisi laut dalam bernama Luʻuaeaahikiikekumu, para ilmuwan menggunakan kapal riset E/V Nautilus untuk menjelajahi dasar Samudra Pasifik di utara Hawaii. Dengan bantuan robot bawah laut atau remotely operated vehicle (ROV), mereka menemukan formasi batuan yang terlihat seperti “jalan bata kuning” (Yellow Brick Road), alur batu kotak-kotak yang seolah buatan manusia, padahal terbentuk alami dari proses geologi.
Formasi ini berada di puncak Nootka Seamount, gunung berapi bawah laut yang sudah tidak aktif dan termasuk dalam rangkaian Liliʻuokalani Ridge. Kawasan tersebut merupakan bagian dari Papahānaumokuākea Marine National Monument, salah satu kawasan konservasi laut terbesar di dunia yang dilindungi ketat karena nilai ekologis, budaya, dan geologinya.
Bagi masyarakat Hawaii, wilayah ini bukan hanya penting secara ilmiah, tetapi juga sakral secara budaya, terkait dengan mitologi penciptaan langit dan bumi. Sementara itu, bagi ilmuwan, temuan seperti “jalan bata kuning” membuka jendela baru untuk memahami sejarah bumi yang tersembunyi di kedalaman samudra.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa laut dalam masih menyimpan banyak misteri menakjubkan yang menanti untuk diungkap.
Proses Geologi di Balik Fenomena
Formasi batuan yang terlihat rapi seperti susunan bata sebenarnya bukan buatan manusia, melainkan hasil proses geologi murni. Dahulu, kawasan ini pernah menjadi lokasi letusan gunung api bawah laut. Saat gunung berapi meletus, lava (cairan batuan panas yang keluar dari dalam perut bumi) langsung bersentuhan dengan air laut yang dingin.
Karena perbedaan suhu yang sangat ekstrem (lava bisa mencapai lebih dari 1.000°C, sedangkan air laut hanya sekitar 2–4°C di kedalaman), pendinginan pun terjadi dengan sangat cepat. Proses pendinginan mendadak ini menimbulkan tekanan termal (thermal stress), yaitu kondisi ketika batuan mengalami tekanan besar akibat perubahan suhu mendadak.
Akibat tekanan tersebut, batuan tidak mendingin secara halus, melainkan retak-retak secara teratur, membentuk pola yang terlihat seperti barisan bata atau ubin. Fenomena ini mirip dengan proses terbentuknya columnar jointing (pola retakan heksagonal) yang sering terlihat pada batuan basal di daratan, seperti di Giant’s Causeway (Irlandia Utara) atau Devil’s Postpile (Amerika Serikat). Bedanya, formasi yang ditemukan di Hawaii ini terjadi di dasar laut dalam sehingga terlihat unik seperti “jalan bata kuning”.
Dengan kata lain, pola batuan itu adalah bukti nyata bagaimana alam bisa menciptakan bentuk yang tampak buatan manusia, padahal seluruhnya terbentuk secara alami melalui interaksi panas bumi dan lautan.
Signifikansi Ilmiah
Penemuan ini tidak hanya memancing rasa takjub, tetapi juga memberikan nilai ilmiah yang penting bagi kita semua:
- Pemetaan Geologi
Data baru dari ekspedisi ini membantu ilmuwan memahami sejarah aktivitas vulkanik di wilayah yang sebelumnya belum pernah dijelajahi secara detail. Peta geologi laut dalam yang lebih akurat sangat penting untuk penelitian bumi, mitigasi bencana, dan penemuan sumber daya mineral. - Ekosistem Laut Dalam
Batuan ini dilapisi kerak logam alami yang disebut kerak ferromangan, mengandung besi dan mangan. Lapisan ini menjadi habitat mikroorganisme yang mampu hidup di lingkungan ekstrem tanpa cahaya matahari, mengandalkan energi dari reaksi kimia (kemotrof). Studi terhadap organisme ini membantu ilmuwan memahami bagaimana kehidupan dapat bertahan di kondisi mirip planet lain. - Studi Vulkanologi
Struktur retakan yang unik menjadi laboratorium alami untuk mempelajari hubungan antara proses pendinginan lava, pembentukan retakan, dan lingkungan laut dalam. Pengetahuan ini juga bisa digunakan untuk membandingkan fenomena geologi di bumi dengan planet atau bulan lain yang memiliki gunung berapi.
Baca juga artikel tentang: Kutu Laut Raksasa Berkaki 14, Musuh Tak Terduga bagi Hiu
Mengapa Disebut “Yellow Brick Road”
Nama “Yellow Brick Road” dipilih oleh para ilmuwan bukan karena ada bukti bahwa manusia pernah membangunnya, melainkan sebagai cara kreatif untuk membantu publik membayangkan bentuk penemuan ini. Dalam cerita fiksi The Wizard of Oz, “Yellow Brick Road” adalah jalan bata kuning yang menjadi ikon visual, sehingga nama ini langsung memancing rasa penasaran.
Warna kekuningan pada formasi batuan tersebut bukan berasal dari material emas atau cat, melainkan efek pantulan cahaya lampu dari kapal selam penjelajah yang menerangi dasar laut gelap. Sedimen dan batuan memantulkan cahaya tersebut sehingga tampak kuning di kamera. Bentuk “bata” yang terlihat adalah hasil pola retakan alami pada batuan akibat pendinginan lava secara teratur, membuat permukaannya menyerupai susunan batu bata yang rapi.
Pelajaran dari Penemuan Ini
Temuan ini mengajarkan bahwa alam mampu membentuk pola yang terlihat seperti buatan manusia, padahal prosesnya murni geologis. Fenomena seperti ini sering menimbulkan rasa takjub dan sekaligus mengingatkan kita untuk memahami mekanisme ilmiah di baliknya sebelum membuat kesimpulan.
Dengan bantuan teknologi eksplorasi modern seperti ROV (Remotely Operated Vehicle), robot bawah laut yang dikendalikan dari kapal dan kamera resolusi tinggi, para peneliti kini dapat melihat detail permukaan dasar laut dengan sangat jelas. Teknologi ini membuka jendela baru untuk mempelajari wilayah laut dalam yang sebelumnya hanya bisa kita tebak dari peta sonar atau model komputer.
Pengetahuan yang diperoleh bukan hanya penting untuk memahami sejarah geologi bumi, tetapi juga berpotensi memberi petunjuk tentang bagaimana proses serupa mungkin terjadi di planet lain yang memiliki gunung berapi atau laut di bawah permukaan es.
Baca juga artikel tentang: Dampak Pemanasan Global: Pencairan Lapisan Es Greenland dan Kenaikan Permukaan Laut
REFERENSI:
Abbas, Randa Khair. 2025. An intercultural journey on the yellow brick road. Qualitative Research Journal.
Funnell, Rachael. 2025. “Yellow Brick Road” Found On Pacific Ocean Floor During Groundbreaking Volcano Expedition. IFL Science: https://www.iflscience.com/yellow-brick-road-found-on-pacific-ocean-floor-during-groundbreaking-volcano-expedition-80311 diakses pada tanggal 17 Agustus 2025.

