Pada bulan April 2025, para ilmuwan dari Universitas Cambridge membuat pengumuman yang mengejutkan dunia ilmu pengetahuan. Mereka mengklaim telah menemukan kemungkinan tanda-tanda kehidupan di luar Tata Surya, tepatnya di sebuah planet yang disebut K2-18b. Planet ini berjarak sekitar 120 tahun cahaya dari Bumi dan berada di zona yang disebut “layak huni”, yaitu wilayah di sekitar bintang tempat suhu memungkinkan adanya air cair, yang merupakan salah satu syarat utama kehidupan seperti yang kita kenal.
Yang membuat penemuan ini begitu menarik adalah adanya deteksi senyawa kimia yang disebut dimetil sulfida (disingkat DMS) di atmosfer planet tersebut. Di Bumi, DMS hampir seluruhnya dihasilkan oleh makhluk hidup, terutama mikroorganisme laut seperti fitoplankton. Karena itu, kehadiran DMS sering dianggap sebagai penanda biologis atau biosignature (sinyal kimia yang bisa menunjukkan adanya kehidupan).
Namun, para ilmuwan lain tidak langsung mempercayai temuan ini. Banyak yang bersikap hati-hati dan skeptis. Mereka bertanya-tanya, apakah benar DMS itu berasal dari kehidupan di planet K2-18b? Ataukah mungkin itu hanyalah kesalahan pengukuran atau interpretasi data dari teleskop? Dalam dunia sains, keraguan seperti ini adalah hal biasa dan sehat, karena klaim besar harus didukung bukti yang sangat kuat.
Jadi, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah ini pertanda pertama bahwa kita tidak sendirian di alam semesta, ataukah hanya kesalahpahaman ilmiah?
Baca juga artikel tentang: Misteri Air Garam di Mars: Apakah Kehidupan Bisa Bertahan di Planet Merah?
K2-18b adalah sebuah eksoplanet, yaitu planet yang berada di luar Tata Surya kita. Artinya, ia tidak mengorbit Matahari, melainkan mengelilingi bintang lain yang disebut K2-18, sebuah bintang katai merah (jenis bintang kecil yang bersinar lebih redup dan lebih dingin dibanding Matahari). Planet ini terletak sekitar 120 tahun cahaya dari Bumi, di wilayah langit yang disebut rasi bintang Leo.
Jika dibandingkan dengan Bumi, K2-18b berukuran jauh lebih besar. Radius atau jari-jarinya sekitar 2,6 kali lebih besar, dan massanya, yaitu jumlah total materi yang dikandung planet kira-kira 8,6 kali lebih besar dari Bumi. Jadi, bisa dibayangkan bahwa planet ini sangat masif, mungkin termasuk dalam kategori yang disebut “mini-Neptunus”, planet yang ukurannya berada di antara Bumi dan Neptunus, dan mungkin memiliki atmosfer yang tebal.
Hal yang paling menarik dari K2-18b adalah letaknya yang berada di zona layak huni bintangnya. Zona layak huni adalah wilayah di sekitar sebuah bintang di mana suhu permukaan planet diperkirakan cukup “pas”, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sehingga air dapat berada dalam bentuk cair. Air cair sangat penting karena sejauh ini, semua bentuk kehidupan yang kita kenal membutuhkannya untuk bertahan hidup. Inilah sebabnya K2-18b menjadi sorotan para ilmuwan yang mencari kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi.
DMS, atau dimetil sulfida, adalah senyawa kimia yang rumusnya ditulis sebagai (CH₃)₂S. Ini artinya, DMS terdiri dari dua gugus metil (CH₃) yang terikat pada satu atom belerang (S). Meskipun tampak teknis, senyawa ini punya peran penting dalam studi tentang kehidupan, terutama ketika kita mencari kemungkinan adanya makhluk hidup di luar Bumi.
Di planet kita, hampir semua DMS yang ada di atmosfer berasal dari aktivitas kehidupan, khususnya dari mikroorganisme laut yang disebut fitoplankton. Fitoplankton adalah makhluk hidup kecil yang hidup melayang di permukaan laut dan bisa dibilang sebagai “rumput laut mikroskopis.” Mereka memainkan peran penting dalam rantai makanan laut dan juga membantu memproduksi oksigen melalui fotosintesis.
Ketika fitoplankton mati atau dimakan oleh hewan laut kecil, mereka melepaskan DMS ke lingkungan sekitarnya, termasuk ke udara. Karena proses ini sangat terkait dengan aktivitas biologis, keberadaan DMS di atmosfer suatu planet bisa menjadi petunjuk kuat adanya kehidupan. Inilah mengapa DMS disebut sebagai biosignature, yaitu tanda kimia yang bisa menunjukkan keberadaan makhluk hidup, setidaknya dalam bentuk mikroorganisme seperti yang kita kenal di Bumi.
Dalam pencarian kehidupan di luar angkasa, ilmuwan sangat tertarik pada senyawa-senyawa seperti DMS karena mereka bisa menjadi “jejak” tidak langsung bahwa suatu planet mungkin dihuni oleh kehidupan, meski kita belum bisa melihat makhluk hidup itu secara langsung.
Para ilmuwan dari Universitas Cambridge menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) untuk menyelidiki atmosfer planet K2-18b. JWST adalah teleskop canggih yang mengorbit di luar angkasa dan dirancang khusus untuk mengamati cahaya dari bintang dan galaksi yang sangat jauh (jauh lebih kuat dibanding teleskop sebelumnya).
Dalam penelitian ini, mereka memanfaatkan metode yang disebut transit spektroskopi. Caranya adalah dengan mengamati cahaya dari bintang K2-18 saat planetnya lewat di depannya (peristiwa ini disebut transit). Ketika cahaya bintang melewati atmosfer planet, sebagian cahaya diserap oleh gas-gas di atmosfer tersebut. Setiap jenis molekul menyerap cahaya pada pola panjang gelombang tertentu, jadi dengan menganalisis pola cahaya yang “hilang”, ilmuwan bisa menebak molekul apa saja yang ada di sana, seperti membaca sidik jari kimia.
Baca juga artikel tentang: Pengamatan JWST/MIRI Terhadap Trappist-1 b: Mengungkap Rahasia Atmosfer Planet Berbatu
Dari data yang diperoleh, tim peneliti menyatakan bahwa mereka menemukan tanda-tanda keberadaan beberapa molekul penting di atmosfer K2-18b:
- Uap air (H₂O) – Molekul air dalam bentuk gas, yang sangat penting karena air adalah komponen utama bagi kehidupan seperti di Bumi.
- Metana (CH₄) – Gas yang bisa berasal dari proses geologis maupun biologis.
- Karbon dioksida (CO₂) – Gas rumah kaca yang juga penting dalam sistem iklim planet dan bisa menjadi petunjuk tentang aktivitas biologis atau vulkanik.
Yang paling mengejutkan adalah adanya kemungkinan sinyal dari dimetil sulfida (DMS), senyawa yang, seperti dijelaskan sebelumnya, di Bumi hampir hanya dihasilkan oleh kehidupan. Namun, sinyal DMS ini masih sangat lemah, dan belum cukup kuat untuk dikonfirmasi. Tingkat kepercayaannya disebut 3 sigma, yang dalam statistik berarti ada sekitar 99,7% kemungkinan sinyal ini nyata dan bukan kebetulan. Meskipun terdengar meyakinkan, dalam dunia sains ini belum cukup untuk dianggap sebagai bukti kuat, biasanya butuh tingkat kepercayaan yang lebih tinggi (5 sigma atau lebih) untuk menyatakan sebuah penemuan besar.
Jadi, temuan ini masih harus diuji dan dikonfirmasi lebih lanjut oleh pengamatan tambahan di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Ilmuwan Temukan Bukti Kuat Kehidupan Di Planet K2-18b
Dalam dunia sains, semua klaim — terutama yang luar biasa — harus didukung oleh bukti yang kuat dan bisa diuji ulang. Artinya, penemuan harus bisa diperiksa kembali oleh ilmuwan lain dengan metode yang sama, dan hasilnya harus konsisten. Karena itulah, begitu klaim tentang kemungkinan adanya DMS di atmosfer planet K2-18b diumumkan, banyak ilmuwan lain segera menanggapinya dengan kritik dan kehati-hatian. Ini adalah bagian penting dari proses ilmiah.
Ada beberapa alasan mengapa para ilmuwan masih ragu:
- Kemungkinan DMS terbentuk tanpa kehidupan
Meskipun di Bumi DMS hampir selalu berasal dari makhluk hidup, secara teori, ada beberapa reaksi kimia alami yang tidak melibatkan kehidupan tetapi tetap bisa menghasilkan DMS. Reaksi ini memang sangat jarang terjadi, namun tetap mungkin, jadi kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa keberadaan DMS pasti berarti ada kehidupan. - Lingkungan K2-18b mungkin tidak cocok untuk kehidupan
Banyak ahli percaya bahwa K2-18b adalah sejenis planet mini-Neptunus, yaitu planet yang berukuran lebih besar dari Bumi tetapi lebih kecil dari Neptunus, dan memiliki atmosfer yang sangat tebal, tekanan yang sangat tinggi, dan mungkin tidak memiliki permukaan padat. Jika benar demikian, maka lingkungan di sana bisa sangat ekstrem dan tidak ramah bagi kehidupan berbasis air seperti yang ada di Bumi. Misalnya, tekanan di atmosfernya bisa menghancurkan struktur sel makhluk hidup sebelum mereka bisa bertahan. - Sinyal DMS masih terlalu lemah
Walaupun tim peneliti mendeteksi sinyal yang mirip dengan DMS, kekuatan sinyalnya belum cukup untuk bisa dianggap sebagai bukti yang sahih. Dalam dunia sains, sinyal yang lemah seperti ini hanya bisa dianggap sebagai petunjuk awal, bukan kesimpulan akhir.
Pemimpin tim peneliti, Profesor Nikku Madhusudhan, juga menekankan bahwa mereka tidak mengklaim telah menemukan kehidupan. Ia menyatakan bahwa temuan ini adalah indikasi awal yang sangat menarik, namun masih perlu dikaji lebih dalam dengan pengamatan tambahan dan analisis yang lebih teliti.
Dalam ilmu pengetahuan, tujuan utamanya bukanlah mengambil kesimpulan dengan cepat, melainkan mengumpulkan bukti yang kuat dan mengujinya secara teliti. Sains bergerak maju melalui proses yang hati-hati dan penuh verifikasi, terutama ketika menyangkut pertanyaan besar seperti: “Apakah ada kehidupan di luar Bumi?”
Oleh karena itu, setelah muncul dugaan awal tentang adanya dimetil sulfida (DMS) di atmosfer K2-18b, para ilmuwan tidak langsung menyimpulkan bahwa itu berarti ada kehidupan. Sebaliknya, mereka merencanakan berbagai langkah lanjutan untuk memastikan kebenaran dari temuan tersebut. Beberapa di antaranya meliputi:
- Pengamatan tambahan dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST)
Pengamatan ulang sangat penting untuk memperkuat data yang sudah ada dan mengurangi kemungkinan kesalahan. Dengan mengamati planet K2-18b lebih lama dan lebih sering, ilmuwan bisa mendapatkan sinyal yang lebih jelas, sehingga analisis menjadi lebih akurat. - Eksperimen di laboratorium di Bumi
Ilmuwan akan mencoba mensimulasikan kondisi kimia tertentu di laboratorium untuk melihat apakah DMS bisa terbentuk tanpa melibatkan kehidupan. Jika ternyata DMS bisa dihasilkan dari proses kimia alami, maka itu akan memperlemah anggapan bahwa keberadaan DMS pasti berarti ada makhluk hidup. - Pemodelan atmosfer K2-18b secara komputerisasi
Para peneliti juga akan membuat model digital dari atmosfer planet tersebut, untuk memahami bagaimana suhu, tekanan, dan kandungan kimia di sana bekerja. Ini membantu menjawab pertanyaan seperti: Apakah atmosfer K2-18b benar-benar bisa menopang kehidupan? Apakah DMS bisa bertahan di kondisi ekstrem seperti itu? Dengan model ini, ilmuwan bisa menguji berbagai skenario tanpa harus pergi ke planet itu secara fisik.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa sains adalah proses yang berbasis rasa ingin tahu, skeptisisme sehat, dan pencarian bukti yang objektif. Semakin besar klaimnya, semakin besar pula tanggung jawab ilmuwan untuk memeriksanya secara menyeluruh.
Mencari kehidupan di luar Bumi bukanlah sekadar angan-angan para ilmuwan atau cerita fiksi ilmiah. Ini adalah salah satu pertanyaan paling mendasar dan mendalam yang pernah diajukan umat manusia: Apakah kita sendirian di alam semesta ini? Jika suatu hari kita benar-benar menemukan molekul-molekul yang kemungkinan besar dihasilkan oleh makhluk hidup di planet lain, penemuan itu bisa mengubah cara kita memandang dunia dan tempat kita di dalamnya.
Bayangkan bagaimana artinya bagi umat manusia jika kehidupan ternyata tidak hanya ada di Bumi, tetapi juga di tempat lain, meskipun dalam bentuk sederhana seperti mikroba. Itu akan menunjukkan bahwa kehidupan mungkin merupakan sesuatu yang lebih umum di alam semesta, bukan pengecualian langka.
Namun, dalam antusiasme mengejar jawaban ini, kita juga harus tetap berpikir kritis dan berhati-hati. Ilmu pengetahuan tidak dibangun dari kesimpulan yang terburu-buru, tetapi dari pengamatan yang cermat, pengujian yang berulang, dan bukti yang kuat. Bahkan ketika ada petunjuk yang menjanjikan, seperti kemungkinan keberadaan dimetil sulfida (DMS) di planet K2-18b, para ilmuwan tetap mengingatkan: ini baru langkah awal, bukan bukti akhir.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Carl Sagan, seorang ilmuwan dan komunikator sains terkenal:
“Klaim luar biasa memerlukan bukti luar biasa.”
Artinya, semakin besar dan mengejutkan sebuah klaim, seperti menemukan tanda kehidupan di planet lain, maka semakin besar pula bukti yang dibutuhkan untuk meyakinkan dunia bahwa klaim itu benar.
Penemuan kemungkinan molekul dimetil sulfida (DMS) di planet K2-18b memang sangat menggugah rasa ingin tahu. Ia memberi harapan baru dalam pencarian kehidupan di luar Bumi, seolah-olah membuka sebuah jendela kecil ke alam semesta yang lebih luas. Namun, penting untuk diingat bahwa jendela itu belum benar-benar terbuka lebar. Sinyal DMS yang terdeteksi masih lemah dan belum pasti, atmosfer planet tersebut masih penuh misteri, dan para ilmuwan di seluruh dunia belum mencapai kesepakatan apakah penemuan ini memang benar-benar menandakan adanya kehidupan.
Tapi justru di sinilah letak keindahan dari ilmu pengetahuan. Setiap kali satu pertanyaan baru muncul, ia akan melahirkan banyak pertanyaan lainnya. Dan dari pertanyaan-pertanyaan itulah, pengetahuan kita terus berkembang. Kita memang belum tahu apakah K2-18b benar-benar menjadi rumah bagi makhluk hidup, tapi yang pasti, kita sedang berada di jalur yang membawa kita makin dekat pada jawaban.
Dan siapa tahu, mungkin suatu hari nanti, entah melalui teleskop, sinyal radio, atau misi luar angkasa di masa depan, kita akan benar-benar menemukan bahwa kita tidak sendirian di jagat raya ini. Penemuan seperti itu akan menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan manusia memahami tempatnya di alam semesta.
Baca juga artikel tentang: Misteri Cuaca di Mars Terpecahkan: Studi Baru Mengungkap Rahasia Iklim Planet Merah
REFERENSI:
Luque, R dkk. 2025. Insufficient evidence for DMS and DMDS in the atmosphere of K2-18 b. From a joint analysis of JWST NIRISS, NIRSpec, and MIRI observations. arXiv preprint arXiv:2505.13407.
Pica-Ciamarra, Lorenzo dkk. 2025. A Systematic Search for Trace Molecules in Exoplanet K2-18 b. arXiv preprint arXiv:2505.10539.

