Energi Tanpa Henti! China Siapkan Panel Surya Raksasa di Antariksa

Sekelompok ilmuwan di Tiongkok baru-baru ini mengumumkan rencana besar yang terdengar seperti cerita fiksi ilmiah: mereka ingin membangun pembangkit listrik […]

Sekelompok ilmuwan di Tiongkok baru-baru ini mengumumkan rencana besar yang terdengar seperti cerita fiksi ilmiah: mereka ingin membangun pembangkit listrik tenaga surya yang sangat besar di luar angkasa. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan sebuah stasiun luar angkasa yang lebarnya bisa mencapai sekitar 1 kilometer — hampir seukuran 10 lapangan sepak bola yang disusun berdampingan. Stasiun ini akan mengumpulkan energi dari matahari di ruang angkasa, lalu mengubahnya menjadi listrik. Energi tersebut kemudian akan dikirimkan ke Bumi dalam bentuk gelombang mikro, sejenis gelombang energi yang mirip dengan yang digunakan dalam oven microwave, tetapi dengan intensitas dan pengendalian khusus agar aman. Karena berada di luar atmosfer Bumi, stasiun ini bisa menangkap sinar matahari secara terus-menerus tanpa terganggu oleh malam atau cuaca buruk, menjadikannya sumber energi yang sangat stabil dan berkelanjutan.

Proyek luar biasa ini dirancang untuk ditempatkan di orbit geostasioner, yaitu jalur melingkar di luar angkasa yang terletak sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan Bumi. Di orbit ini, sebuah satelit atau struktur seperti pembangkit listrik luar angkasa bisa “mengikuti” perputaran Bumi secara sempurna, sehingga terlihat seolah-olah tidak bergerak dari permukaan—selalu berada di titik yang sama di langit. Ini sangat penting agar pancaran energi dari stasiun luar angkasa bisa diarahkan secara stabil ke penerima di Bumi.

Untuk membangun stasiun luar angkasa sebesar ini, para ilmuwan dan insinyur akan meluncurkan berbagai bagiannya secara bertahap menggunakan roket-roket berukuran sangat besar, yang disebut roket superberat. Roket jenis ini dirancang khusus untuk membawa muatan yang sangat berat dan besar ke luar angkasa. Begitu semua bagian berada di orbit, mereka akan dirakit menjadi satu struktur pembangkit listrik tenaga surya raksasa yang mengorbit di luar angkasa.

Karena ukurannya yang sangat besar dan kemampuannya untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang luar biasa besar, proyek pembangkit listrik tenaga surya di luar angkasa ini sering disebut sebagai “versi luar angkasa dari Bendungan Tiga Ngarai.” Julukan ini mengacu pada Bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtze, Tiongkok, yang saat ini merupakan pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia.

Sebagai gambaran, bendungan raksasa tersebut mampu menghasilkan sekitar 100 miliar kilowatt-jam listrik setiap tahunnya. Jumlah energi ini cukup untuk memasok listrik bagi ratusan juta rumah tangga. Dengan membandingkannya, para ilmuwan ingin menunjukkan bahwa proyek tenaga surya di luar angkasa ini juga dirancang untuk menghasilkan energi dalam skala yang sebanding—bahkan bisa lebih besar lagi. Perbedaan utamanya, jika Bendungan Tiga Ngarai menggunakan aliran air untuk menghasilkan listrik, maka proyek luar angkasa ini akan memanfaatkan cahaya matahari yang dikumpulkan langsung dari luar atmosfer, di mana sinarnya jauh lebih kuat dan konsisten karena tidak terhalang awan, malam, atau polusi udara.

Baca juga artikel tentang: Panel Surya Transparan: Pengertian, Prinsip Kerja, dan Tantangan Pengembangan

Seorang ilmuwan dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA, pernah menjelaskan bahwa Bendungan Tiga Ngarai di Tiongkok tidak hanya besar dalam hal kapasitas energi, tetapi juga memiliki dampak fisik yang nyata terhadap planet kita. Ketika bendungan ini terisi penuh dengan air, bobot air yang sangat besar tersebut—yang mencapai miliaran ton—cukup untuk mempengaruhi rotasi Bumi secara sangat kecil, tetapi terukur.

Air yang terkumpul dalam jumlah masif ini menyebabkan sedikit perubahan distribusi massa Bumi, mirip seperti jika seseorang menggeser beban di permukaan bola yang berputar. Efeknya, waktu yang dibutuhkan Bumi untuk menyelesaikan satu putaran penuh, atau satu hari, bisa bertambah sekitar 0,06 mikrodetik. Satu mikrodetik adalah sepersejuta detik, jadi perubahan ini sangat kecil dan tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi cukup signifikan untuk bisa dihitung oleh instrumen ilmiah yang sangat sensitif.

Sekarang, proyek pembangkit listrik tenaga surya di luar angkasa yang sedang dirancang oleh Tiongkok digambarkan sebagai upaya untuk “memindahkan” Bendungan Tiga Ngarai ke luar angkasa—tepatnya ke orbit geostasioner, yang terletak sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan Bumi. Tentu saja, ini bukan berarti bendungan fisik benar-benar dipindahkan, melainkan maksudnya adalah membangun sumber energi yang kekuatannya setara dengan bendungan tersebut, tetapi berada di luar angkasa.

Penjelasan ini disampaikan oleh Long Lehao, tokoh penting di balik pengembangan roket Long March milik Tiongkok, dalam sebuah acara resmi yang diadakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences) pada bulan Oktober lalu. Dengan menyamakan proyek luar angkasa ini dengan Bendungan Tiga Ngarai, Long Lehao ingin menunjukkan betapa besarnya skala dan ambisi dari proyek ini—yakni menyediakan energi dalam jumlah sangat besar, tetapi dengan cara yang lebih canggih dan futuristik, langsung dari luar atmosfer Bumi.

Long menyebut proyek ini sebagai inovasi luar biasa yang layak dinantikan. Ia juga menambahkan bahwa energi yang dapat dikumpulkan dari pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa selama satu tahun akan setara dengan seluruh minyak yang bisa diekstraksi dari Bumi dalam periode yang sama.

Meskipun teknologi tenaga surya terus berkembang dalam hal efisiensi dan biaya, masih ada tantangan besar yang harus diatasi. Salah satu kendalanya adalah kondisi atmosfer Bumi, seperti tutupan awan yang tidak menentu dan penyerapan radiasi Matahari sebelum mencapai permukaan. Hal ini membuat tenaga surya berbasis darat memiliki keterbatasan.

Sebagai solusi, para ilmuwan mengembangkan konsep Space-Based Solar Power (SBSP) atau Tenaga Surya Berbasis Luar Angkasa. Teknologi ini memungkinkan pengumpulan dan transmisi energi langsung dari luar angkasa, di mana intensitas cahaya Matahari bisa mencapai 10 kali lebih besar dibandingkan di permukaan Bumi.

Namun, membangun panel surya raksasa di luar angkasa bukan perkara mudah. Proyek ini memerlukan banyak peluncuran roket, yang selama ini menjadi hambatan utama dalam merealisasikan SBSP. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Long dan timnya sedang mengembangkan Long March-9 (CZ-9), sebuah roket angkat berat yang dapat digunakan kembali dan mampu membawa muatan hingga 150 ton ke orbit.

Selain untuk proyek satelit tenaga surya, roket ini juga menjadi bagian dari ambisi China dalam eksplorasi luar angkasa. Salah satu misinya adalah membangun pangkalan penelitian di Bulan pada tahun 2035 sebagai bagian dari program eksplorasi jangka panjang.

China bukan satu-satunya negara yang tertarik dengan tenaga surya luar angkasa. Perusahaan Amerika seperti Lockheed Martin dan Northrop Grumman, serta lembaga antariksa dari Eropa (ESA) dan Jepang (JAXA), juga telah mengkaji teknologi ini. Bahkan, JAXA merencanakan peluncuran satelit percobaan untuk menguji kelayakan sistem ini dalam waktu dekat.

Baca juga artikel tentang: Siap-siap, Teknologi Ini Bisa Gantikan Panel Surya

REFERENSI:

Shi, Peiyao dkk. 2025. An ascent strategy of horizontal take-off and landing reusable launch vehicle. Aerospace Control 43 (1), 39-46.

Tong, Zhang. 2025. China plans to build ‘Three Gorges dam in space’ to harness solar power. South China Morning Post: https://www.scmp.com/news/china/science/article/3294091/china-plans-build-three-gorges-dam-space-harness-solar-power diakses pada tanggal 11 Mei 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top