Para ilmuwan di seluruh dunia sedang mengamati dengan cermat sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam dunia penyakit menular. Pada akhir tahun 2023, virus flu burung yang sangat berbahaya yaitu H5N1 ditemukan menyebar bukan hanya di unggas atau burung liar tetapi juga pada sapi perah di Amerika Serikat. Peristiwa ini mengejutkan banyak pakar karena sapi sebelumnya tidak pernah dianggap sebagai inang penting bagi virus jenis ini. Kini para peneliti mencoba memahami bagaimana virus tersebut berperilaku ketika berada di tubuh sapi dan apakah perubahan itu berpotensi membuatnya lebih mudah menginfeksi manusia.
Sebuah penelitian terbaru di Nature mencoba menjawab pertanyaan yang sangat penting. Studi tersebut berfokus pada kemampuan virus untuk menempel pada reseptor tertentu di sel makhluk hidup. Reseptor adalah molekul kecil yang berada di permukaan sel dan berfungsi sebagai pintu masuk bagi virus. Ketika virus berhasil menemukan reseptor yang cocok, ia bisa masuk dan mulai berkembang biak. Karena itu para ilmuwan menganggap penelitian ini sangat menentukan dalam menilai seberapa besar risiko virus yang berasal dari sapi terhadap manusia.
Baca juga artikel tentang: Cahaya dan Kimia: Sinergi Baru dalam Perawatan Kanker Payudara
Penelitian ini mengkaji dua jenis virus. Yang pertama adalah H5N1 yang beredar di unggas dan telah lama diketahui menyebabkan penyakit parah pada burung dan sesekali pada manusia. Yang kedua adalah virus H5N1 yang ditemukan pada sapi perah di Texas pada tahun 2024. Kedua virus ini memiliki kemiripan genetik tetapi tetap menyimpan perbedaan penting terutama pada bagian yang disebut hemaglutinin. Bagian ini berfungsi sebagai alat menempel virus ke sel inangnya dan menentukan jenis makhluk hidup yang bisa diinfeksi.
Para peneliti mulai dengan membandingkan kemampuan hemaglutinin dari kedua virus untuk menempel pada berbagai jenis reseptor. Mereka menggunakan metode yang memungkinkan pengamatan sangat rinci terhadap interaksi virus dengan macam macam glikan yaitu rantai molekul gula yang menjadi reseptor. Glikan tidak hanya menentukan apakah virus bisa menempel tetapi juga memengaruhi seberapa cepat ia berkembang dalam tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus H5N1 dari unggas cenderung menempel kuat pada glikan yang umum ditemukan di saluran pernapasan burung. Hal ini sesuai dengan karakter virus yang memang berkembang terutama pada unggas. Sebaliknya, virus yang berasal dari sapi menunjukkan pola yang sangat berbeda. Virus tersebut ternyata lebih mudah menempel pada glikan yang ditemukan di kelenjar susu dan jaringan lain pada sapi. Perbedaan ini menandakan bahwa virus sedang menyesuaikan diri dengan tubuh sapi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena adaptasi pada inang baru sering kali membuka jalan bagi mutasi selanjutnya. Jika virus menemukan reseptor yang cocok di spesies lain termasuk manusia maka peluang terjadinya infeksi lintas spesies akan meningkat.
Para peneliti lalu menelusuri lebih dalam perbedaan struktural antara kedua versi virus. Mereka menemukan bahwa virus sapi hanya memiliki dua perubahan asam amino pada hemaglutinin jika dibandingkan dengan virus asal unggas. Walaupun terlihat sedikit perubahan sekecil ini tetap bisa memengaruhi cara virus berinteraksi dengan tubuh makhluk hidup.
Tim penelitian mencoba menguji apakah virus sapi mulai menunjukkan ketertarikan pada reseptor manusia. Untuk itu mereka menggunakan panel glikan yang mewakili berbagai jenis reseptor yang ada pada tubuh manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa virus sapi masih memiliki preferensi kuat terhadap reseptor khas burung dan sapi. Virus tersebut belum menunjukkan kemampuan signifikan untuk menempel pada reseptor yang umum ditemukan di saluran pernapasan manusia. Temuan ini menjadi kabar baik karena berarti risiko penularan ke manusia saat ini masih rendah.
Namun para ahli tetap mengingatkan bahwa situasi ini bisa berubah. Virus influenza terkenal mampu bermutasi dengan cepat terutama jika memiliki kesempatan berpindah antara berbagai spesies hewan. Lingkungan peternakan sapi yang besar dan padat dapat memberikan ruang bagi virus untuk terus berevolusi. Ketika virus semakin sering bereplikasi maka peluang munculnya mutasi baru akan meningkat.
Studi ini juga menyoroti kekhawatiran lain. Penelitian dari kelompok ilmuwan berbeda menemukan bahwa virus H5N1 di sapi mampu bereplikasi dengan baik di kelenjar susu. Fakta ini menunjukkan bahwa sapi bisa menjadi reservoir baru bagi virus tersebut. Jika virus menemukan cara untuk menyesuaikan diri pada sapi maka ia bisa bertahan lebih lama di lingkungan peternakan dan menyebar lebih luas.
Kemungkinan penyebaran melalui produk susu mentah atau kontak langsung dengan hewan terinfeksi juga menjadi perhatian. Walaupun belum ada bukti kuat bahwa sapi dapat menularkan virus secara efisien kepada manusia beberapa kasus sebelumnya menunjukkan bahwa pekerja peternakan bisa terpapar. Oleh karena itu penelitian seperti ini sangat penting untuk menilai risiko dan menyusun langkah pencegahan.
Para peneliti menegaskan bahwa penularan virus dari sapi ke manusia membutuhkan perubahan yang jauh lebih besar dan belum terlihat saat ini. Meski demikian mereka mendorong pemantauan ketat terhadap peternakan serta studi lanjutan tentang evolusi virus. Mengidentifikasi perubahan kecil dalam kemampuan virus menempel pada reseptor manusia dapat menjadi peringatan dini sebelum munculnya ancaman yang lebih serius.
Penelitian ini memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana virus influenza beradaptasi ketika berpindah inang. Temuan tersebut mengingatkan bahwa virus dapat berkembang dengan cara yang tidak terduga sehingga perlu pemantauan yang terus menerus. Dunia kesehatan harus tetap waspada karena sejarah menunjukkan bahwa pandemi sering muncul dari kombinasi mutasi kecil yang terjadi secara bertahap.
Dalam konteks global yang semakin sering dihadapkan pada penyakit zoonosis yaitu penyakit yang berasal dari hewan penelitian ini menjadi salah satu langkah penting dalam memahami potensi ancaman masa depan. Dengan memantau perubahan pada reseptor virus para ilmuwan dapat mengambil tindakan lebih cepat dan menyusun strategi untuk mencegah penyebaran lebih luas. Penelitian seperti ini pada akhirnya membantu dunia untuk tetap selangkah lebih maju dalam menghadapi virus yang terus berubah.
Baca juga artikel tentang: Tes Darah Biru: Revolusi Deteksi Kanker Pankreas dan Paru dengan PAC-MANN
REFERENSI:
Chopra, Pradeep dkk. 2025. Receptor-binding specificity of a bovine influenza A virus. Nature 640 (8059), E21-E27.

