Rokok, selain menjadi penyebab utama berbagai penyakit kronis, juga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan bagi individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Dampaknya meliputi biaya kesehatan secara langsung, kehilangan produktivitas, dan beban ekonomi jangka panjang. Berdasarkan informasi dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention), masalah ini menjadi perhatian global yang memerlukan solusi menyeluruh.
Beban Ekonomi Secara Langsung Maupun Tidak Langsung Akibat Rokok
Rokok menjadi salah satu penyebab utama penyakit seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan kronis. CDC melaporkan bahwa di Amerika Serikat, pengeluaran tahunan untuk layanan kesehatan terkait penyakit akibat merokok mencapai lebih dari $240 miliar.
Selain biaya kesehatan langsung, kerugian akibat kehilangan produktivitas juga menjadi salah satu komponen besar dalam beban ekonomi rokok. CDC mencatat bahwa lebih dari $185 miliar per tahun hilang akibat menurunnya produktivitas pekerja yang mengalami gangguan kondisi kesehatan terkait dengan merokok. Di sisi lain, $180 miliar per tahun lenyap untuk membiayai penurunan produktivitas akibat kematian bayi prematur.
Beban Pengeluaran pada Pelayanan Kesehatan
Penyakit kronis pada saluran pernapasan bawah, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan asma, menimbulkan beban kesehatan yang signifikan di seluruh dunia. Dalam konteks ini, kebiasaan merokok menjadi faktor risiko utama yang memperburuk gejala penyakit serta meningkatkan beban biaya untuk mengakomodir pelayanan kesehatan terkait.
Hubungan Merokok dengan Beban Kesehatan
Studi dalam jurnal “Smoking-Attributable Health Care Expenditures for US Adults With Chronic Lower Respiratory Disease” menunjukkan bahwa prevalensi merokok di antara pasien dengan penyakit kronis saluran pernapasan bawah (Chronic Lower Respiratory Disease/CLRD) sangat tinggi, yaitu 31,3% untuk kelompok usia 35-64 tahun dan 19,2% untuk usia 65 tahun ke atas pada tahun 2020. Kebiasaan ini tidak hanya memperburuk kondisi kesehatan tetapi juga meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan, seperti rawat inap, kunjungan gawat darurat, kunjungan dokter, dan perawatan kesehatan di rumah.
Pengeluaran Kesehatan Akibat Merokok
Pada tahun 2020, total biaya pelayanan kesehatan akibat kebiasaan merokok untuk pasien dengan CLRD mencapai $18,9 miliar. Jumlah ini terdiri dari:
- $13,6 miliar untuk kelompok usia 35-64 tahun, dengan rata-rata $2.752 per perokok aktif dan $1.083 per mantan perokok.
- $5,3 miliar untuk kelompok usia 65 tahun ke atas, dengan rata-rata $1.704 per perokok aktif dan $682 per mantan perokok.
Pengeluaran ini mencakup berbagai jenis pelayanan kesehatan, dengan mayoritas alokasi untuk rawat inap. Misalnya, untuk kelompok usia 35-64 tahun, 53,5% dari total pengeluaran dialokasikan untuk rawat inap.
Manfaat Penghentian Merokok
Data menunjukkan bahwa mantan perokok memiliki pengeluaran kesehatan yang lebih rendah daripada perokok aktif. Misalnya, mantan perokok yang berhenti merokok selama lebih dari 15 tahun, menunjukkan pengeluaran kesehatan yang mendekati biaya individu yang tidak pernah merokok. Ini menunjukkan manfaat ekonomi dari intervensi penghentian merokok.
Hasil studi ini menekankan pentingnya intervensi berhenti merokok, terutama untuk kelompok usia muda dengan CLRD. Strategi seperti kampanye berhenti merokok yang lebih agresif, dukungan farmakologis, dan konseling dapat memberikan penghematan biaya yang signifikan di masa depan. Selain itu, kebijakan pengendalian tembakau perlu menjadi prioritas untuk mengurangi prevalensi merokok di kalangan pasien dengan CLRD.
Bagaimana Kondisi Beban Ekonomi di Indonesia Akibat Rokok?
Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menunjukkan bahwa pada tahun 2019, 32,8% orang dewasa di Indonesia pernah merokok. Prevalensi merokok di kalangan remaja usia 10 hingga 18 tahun bahkan meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018. Pola ini menunjukkan bahwa perokok pemula semakin muda, yang berpotensi memperburuk beban ekonomi di masa depan.

Sumber: id.pinterest.com
Dalam rumah tangga dengan kepala keluarga yang merokok, rata-rata 22% dari pengeluaran mingguan digunakan untuk membeli rokok. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan justru lebih rendah jika dibandingkan dengan rumah tangga tanpa perokok. Fenomena ini tidak hanya berpengaruh pada ekonomi rumah tangga tetapi juga pada kondisi gizi, terutama di daerah dengan angka stunting yang tinggi.
Biaya Kesehatan Akibat Rokok
Studi dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) memperkirakan bahwa biaya kesehatan langsung akibat rokok di Indonesia mencapai antara Rp17,9 triliun hingga Rp27,7 triliun pada 2019. Angka ini setara dengan 0,1-0,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Sebagian besar biaya ini (sekitar 56-58%) ditanggung oleh BPJS Kesehatan, dengan perawatan rawat inap dan rujukan menyumbang hingga 96% dari total biaya tersebut.
Defisit BPJS Kesehatan pada 2019 tercatat sebesar Rp17 triliun, dengan akumulasi defisit mencapai Rp 51 triliun. Beban dari penyakit yang akibat merokok memperburuk defisit ini, mengurangi kapasitas BPJS dalam menyediakan pelayanan kesehatan esensial untuk penyakit lain.
Kebutuhan Kebijakan yang Tegas
Meskipun pendapatan negara dari cukai tembakau pada 2019 mencapai Rp170,2 triliun, beban biaya yang dialokasikan untuk kesehatan melalui BPJS Kesehatan hanya sekitar Rp7,4 triliun, atau hanya 27% dari total biaya yang dibutuhkan untuk menanggulangi penyakit akibat rokok. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi cukai rokok belum cukup untuk menutupi dampak ekonomi dari konsumsi rokok.
Studi ini merekomendasikan langkah-langkah kebijakan, antara lain:
- Kenaikan signifikan cukai rokok untuk mengurangi konsumsi dan meningkatkan pendapatan negara.
- Penyederhanaan struktur cukai untuk mencegah perokok beralih ke merek murah.
- Pengalokasian khusus (earmarking) pendapatan cukai untuk mendukung keberlanjutan BPJS Kesehatan.
- Pengetatan kebijakan non-harga, seperti pembatasan iklan rokok dan perluasan kawasan tanpa rokok.
Dampak Jangka Panjang
Mengurangi prevalensi merokok, khususnya di kalangan remaja, akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Menghindari penggunaan rokok pada usia dini dapat mencegah peningkatan beban biaya kesehatan di masa depan. Selain itu, peningkatan pendanaan kesehatan melalui cukai rokok dapat mendukung program kesehatan lainnya, termasuk mitigasi pandemi.
Kesimpulannya, konsumsi rokok tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat tetapi juga menguras sumber daya ekonomi Indonesia. Perlu tindakan kebijakan yang kuat untuk mengurangi beban ini, baik melalui intervensi harga maupun non-harga, demi keberlanjutan sistem kesehatan nasional dan kesejahteraan generasi mendatang.
Referensi
CDC. 2024. Economic Trends in Tobacco. Diakses pada 25 November 2024 dari https://www.cdc.gov/tobacco/php/data-statistics/economic-trends/index.html
Gu, et al. 2024. Smoking-Attributable Health Care Expenditures for US Adults With Chronic Lower Respiratory Disease. Diakses pada 26 November 2024 dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11140527/
CISDI. 2019. The 2019 Health Care Cost of Smoking in Indonesia. Diakses pada 26 November 2024 dari https://cdn.cisdi.org/reseach-document/fnm-Full-ReportENGThe-2019-Healthcare-Cost-of-Smoking-in-Idonesia24-May-2021pdf-1675011060061-fnm.pdf
