Bir pletok hadir sebagai minuman tradisional Betawi yang menyimpan cerita panjang tentang hubungan manusia, alam, dan pengetahuan lokal. Minuman berwarna merah hangat ini bukan sekadar pelepas dahaga atau penghangat tubuh, melainkan cerminan cara masyarakat Betawi memahami kekayaan hayati di sekitarnya dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penelitian terbaru tahun 2025 mencoba mengangkat kembali nilai bir pletok melalui pendekatan ilmiah dan pendidikan, dengan menjadikannya materi pembelajaran keanekaragaman hayati dalam bentuk video edukasi.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Namun, kekayaan ini sering terasa jauh dari kehidupan sehari-hari pelajar. Banyak siswa mengenal konsep biodiversitas hanya sebagai istilah buku pelajaran, tanpa memahami bagaimana konsep tersebut hidup dalam tradisi lokal. Di sinilah bir pletok menjadi contoh nyata. Minuman ini diracik dari berbagai tanaman yang tumbuh di lingkungan sekitar dan dipilih berdasarkan pengalaman panjang masyarakat Betawi dalam memanfaatkan alam secara bijak.
Baca juga artikel tentang: Menyelamatkan Phewa, Menyelamatkan Sumber Kehidupan di Nepal
Bir pletok dibuat dari setidaknya sembilan jenis tanaman. Jahe memberi rasa pedas hangat dan membantu menghangatkan tubuh. Serai menyumbang aroma segar yang menenangkan. Kayu manis dan pala memberikan rasa manis rempah yang khas. Kapulaga dan cengkeh memperkaya aroma sekaligus dikenal memiliki senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Daun pandan menambahkan wangi lembut, sementara gula tebu memberi rasa manis alami. Salah satu bahan paling khas adalah kayu secang, yang memberikan warna merah alami sekaligus dikenal kaya antioksidan.
Keberagaman bahan ini menunjukkan bahwa satu gelas bir pletok merupakan hasil pemanfaatan biodiversitas dalam skala kecil. Setiap tanaman memiliki fungsi rasa, aroma, warna, dan manfaat tersendiri. Masyarakat Betawi tidak memilih bahan-bahan tersebut secara acak. Pengetahuan tentang bagian tanaman yang digunakan, takaran, serta cara pengolahan berkembang melalui pengalaman panjang dan diwariskan secara lisan.

Proses pembuatan bir pletok juga mencerminkan kearifan lokal. Penelitian mencatat bahwa proses ini melibatkan enam tahap utama, mulai dari menyiapkan dan memotong bahan, menumbuk rempah, merebus, menyaring, hingga menyajikan minuman. Seluruh tahapan menggunakan alat tradisional sederhana. Proses ini bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang interaksi sosial, kesabaran, dan ketelitian. Dalam konteks pendidikan, tahapan ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Dari sudut pandang sains modern, bahan-bahan bir pletok mengandung berbagai senyawa bioaktif. Jahe mengandung gingerol yang bersifat antiinflamasi. Kayu secang mengandung brazilin yang berperan sebagai antioksidan. Cengkeh kaya eugenol yang dikenal bersifat antimikroba. Kombinasi senyawa ini menjelaskan mengapa bir pletok secara tradisional dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh. Walau minuman ini bukan obat, penjelasan ilmiah membantu masyarakat memahami dasar manfaat yang selama ini dirasakan secara empiris.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2025 tidak berhenti pada aspek budaya dan kesehatan. Peneliti juga melihat tantangan dalam mengenalkan pengetahuan tradisional kepada generasi muda. Banyak siswa hidup di lingkungan urban yang jauh dari praktik tradisi sehari-hari. Untuk menjembatani jarak ini, peneliti mengembangkan video edukasi tentang bir pletok sebagai media pembelajaran biodiversitas. Video berdurasi hampir dua belas menit ini menampilkan bahan-bahan, proses pembuatan, serta penjelasan hubungan bir pletok dengan keanekaragaman hayati.
Pemilihan video sebagai media pembelajaran bukan tanpa alasan. Media visual dan audio dinilai lebih dekat dengan keseharian siswa masa kini. Melalui video, siswa tidak hanya membaca atau mendengar penjelasan, tetapi juga melihat langsung tanaman, warna, tekstur, dan proses yang terlibat. Pendekatan ini membantu siswa mengaitkan konsep biodiversitas dengan budaya dan kehidupan nyata, bukan sekadar definisi abstrak.
Bir pletok juga menjadi pintu masuk untuk membahas isu yang lebih luas, seperti pelestarian tanaman lokal. Beberapa bahan bir pletok, termasuk kayu secang, kini semakin jarang ditemui di lingkungan perkotaan. Dengan memahami nilai budaya dan ilmiahnya, generasi muda diharapkan lebih peduli terhadap upaya pelestarian tanaman-tanaman tersebut. Pendidikan berbasis kearifan lokal seperti ini berpotensi menumbuhkan rasa memiliki terhadap kekayaan alam Indonesia.
Selain itu, pendekatan ini menekankan bahwa pengetahuan tradisional dan sains modern tidak saling bertentangan. Keduanya justru dapat saling melengkapi. Pengetahuan lokal menyediakan konteks dan pengalaman nyata, sementara sains modern membantu menjelaskan mekanisme di baliknya. Bir pletok menjadi contoh bagaimana tradisi dapat dipahami, diuji, dan dihargai melalui pendekatan ilmiah tanpa kehilangan nilai budayanya.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya dokumentasi pengetahuan tradisional. Banyak praktik lokal berisiko hilang jika tidak dicatat dan diperkenalkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Video edukasi tentang bir pletok menjadi salah satu cara untuk menjaga agar pengetahuan ini tetap hidup, dikenal, dan diapresiasi oleh generasi berikutnya.
Pada akhirnya, bir pletok bukan hanya minuman tradisional Betawi. Ia adalah simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam, contoh pemanfaatan biodiversitas secara cerdas, serta jembatan antara tradisi dan pendidikan modern. Melalui pendekatan ilmiah yang komunikatif, penelitian ini menunjukkan bahwa cerita tentang keanekaragaman hayati bisa dimulai dari dapur, dari segelas minuman hangat, dan dari kearifan lokal yang telah ada jauh sebelum istilah biodiversitas dikenal secara akademis.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Angela, Ezra dkk. 2025. Indigenous Knowledge of “Bir Pletok” From the Betawi Tribe As Content In Making an Educational Video On the Biodiversity Topic. BIO Web of Conferences 190, 01004.

