Bunga telang semakin sering muncul dalam percakapan tentang kesehatan dan kecantikan alami. Tanaman dengan warna biru keunguan yang mencolok ini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai bahan perawatan kulit. Penelitian terbaru yang dimuat dalam Journal of Ethnopharmacology tahun 2025 mengulas secara mendalam keamanan kulit dan kemampuan bunga telang dalam melindungi kulit dari dampak polusi. Kajian ini menjadi penting karena semakin banyak orang beralih ke produk berbahan alami, sementara paparan polusi udara terus meningkat di lingkungan perkotaan.
Bunga telang atau Clitoria ternatea telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, Thailand, dan India, masyarakat memanfaatkan bunga ini sebagai minuman herbal, pewarna alami makanan, hingga ramuan untuk meredakan peradangan. Namun, penggunaan bunga telang untuk perawatan kulit luar seperti krim atau losion masih memerlukan bukti ilmiah yang kuat. Penelitian ini hadir untuk menjawab pertanyaan mendasar, apakah ekstrak bunga telang aman untuk kulit manusia dan apakah benar mampu melindungi kulit dari polusi.
Baca juga artikel tentang: Menyelamatkan Phewa, Menyelamatkan Sumber Kehidupan di Nepal
Para peneliti memfokuskan studi pada dua jenis ekstrak bunga telang. Jenis pertama dibuat dengan cara tradisional, yaitu merebus bunga telang dalam air. Metode ini menyerupai cara masyarakat mengolah bunga telang sebagai teh. Jenis kedua menggunakan teknologi ultrasound assisted extraction atau ekstraksi berbantuan gelombang ultrasonik. Teknologi ini membantu menarik senyawa aktif dari tanaman secara lebih efisien. Kedua ekstrak tersebut kemudian dibandingkan dari sisi keamanan dan efektivitasnya.
Langkah awal penelitian menilai keamanan kulit atau dermal safety. Para peneliti menggunakan metode yang diakui secara internasional oleh OECD untuk memastikan hasilnya dapat dipercaya. Mereka menguji apakah ekstrak bunga telang dapat menyebabkan iritasi, alergi, atau kerusakan sel kulit. Uji dilakukan pada sel kulit manusia di laboratorium, termasuk pengujian reaktivitas protein dan potensi toksisitas sel. Hasilnya cukup meyakinkan. Kedua ekstrak tidak menunjukkan sifat sensitisasi, artinya kecil kemungkinan menyebabkan alergi kulit.
Selain itu, peneliti juga menilai apakah ekstrak bunga telang dapat menembus kulit dan masuk ke aliran darah dalam jumlah berbahaya. Pengujian ini penting karena bahan kosmetik idealnya bekerja di permukaan kulit tanpa memberikan efek sistemik. Dengan menggunakan alat yang meniru struktur kulit manusia, peneliti menghitung paparan sistemik dan margin keamanannya. Hasilnya menunjukkan bahwa baik ekstrak rebusan maupun ekstrak ultrasonik memiliki margin keamanan yang baik untuk penggunaan topikal.
Setelah memastikan keamanannya, penelitian berlanjut pada kemampuan bunga telang dalam melindungi kulit dari polusi. Polusi udara mengandung partikel halus yang dapat memicu stres oksidatif pada kulit. Stres oksidatif ini memicu pembentukan radikal bebas yang mempercepat penuaan, menimbulkan peradangan, dan memperburuk kondisi kulit seperti jerawat dan iritasi. Oleh karena itu, bahan perawatan kulit yang baik perlu memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi.

Para peneliti menguji ekstrak bunga telang pada sel kulit yang dipaparkan partikel polusi. Mereka mengamati tingkat radikal bebas di dalam sel serta penanda peradangan dan penuaan kulit. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua ekstrak mampu menurunkan tingkat radikal bebas. Namun, ekstrak yang dibuat dengan cara tradisional justru menunjukkan kinerja yang lebih konsisten dalam menekan stres oksidatif dan peradangan.
Ekstrak rebusan bunga telang terbukti secara signifikan mengurangi pembentukan protein yang berkaitan dengan peradangan dan penuaan dini. Ini menjadi temuan menarik karena metode tradisional yang sederhana mampu menghasilkan ekstrak dengan manfaat tinggi. Sementara itu, ekstrak ultrasonik menunjukkan potensi yang baik tetapi pada konsentrasi tinggi dapat menimbulkan efek sensitif terhadap cahaya, meskipun hal ini masih berada dalam batas aman.
Penelitian ini juga menguatkan pemahaman tentang kandungan aktif bunga telang. Bunga ini kaya akan antosianin, senyawa alami yang memberikan warna biru khas dan dikenal sebagai antioksidan kuat. Antosianin membantu menangkap radikal bebas sebelum merusak sel kulit. Selain itu, bunga telang mengandung flavonoid dan senyawa fenolik lain yang berperan dalam meredakan peradangan.
Dari sudut pandang konsumen, hasil penelitian ini membawa kabar baik. Banyak produk perawatan kulit mengklaim bersifat alami dan ramah lingkungan, tetapi tidak semuanya didukung data ilmiah yang memadai. Studi ini memberikan dasar ilmiah bahwa bunga telang memang aman dan bermanfaat untuk kulit, terutama sebagai bahan pelindung dari polusi. Dengan meningkatnya masalah kualitas udara di kota besar, kebutuhan akan produk antipolusi untuk kulit semakin relevan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kearifan lokal dan metode tradisional tidak kalah dengan teknologi modern. Rebusan sederhana bunga telang mampu menghasilkan ekstrak dengan profil keamanan dan efektivitas yang sangat baik. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan produk kosmetik berbasis bahan lokal yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Industri kecantikan dapat memanfaatkan temuan ini untuk mengembangkan krim, serum, atau masker wajah berbahan dasar bunga telang.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini masih berasal dari pengujian laboratorium. Penelitian lanjutan pada manusia tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas dan kenyamanan penggunaan dalam jangka panjang. Faktor seperti jenis kulit, frekuensi pemakaian, dan kombinasi dengan bahan lain perlu diteliti lebih lanjut.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan potensi besar bunga telang sebagai bahan kosmetik alami. Bunga yang selama ini dikenal sebagai pewarna minuman dan tanaman hias ternyata mampu melindungi kulit dari ancaman polusi modern. Temuan ini sekaligus menjadi contoh bagaimana sains modern dapat memvalidasi pengetahuan tradisional dan mengembangkannya menjadi solusi kesehatan yang relevan dengan tantangan masa kini.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Fu, Hsuan dkk. 2025. Assessment of skin safety and anti-pollution activity of Clitoria ternatea L.(butterfly pea) flower extract. Journal of Ethnopharmacology, 120739.

