Bukti Lautan Hijau Prasejarah dan Prediksi Kembalinya Lautan Hijau di Masa Depan

Pada tanggal 5 September 1977, wahana antariksa Voyager 1 yang diluncurkan oleh NASA berhasil meninggalkan Tata Surya. Saat itu, wahana […]

Pada tanggal 5 September 1977, wahana antariksa Voyager 1 yang diluncurkan oleh NASA berhasil meninggalkan Tata Surya. Saat itu, wahana ini mengambil gambar Bumi yang kemudian menjadi sangat terkenal, yang dikenal dengan nama “Pale Blue Dot” atau “Titik Biru Pucat.” Nama ini diberikan oleh ilmuwan terkenal Carl Sagan, yang terkesan dengan betapa kecil dan redupnya penampakan Bumi di gambar tersebut. Dalam foto itu, Bumi terlihat hanya sebagai titik kecil berwarna biru muda yang mengambang di tengah kegelapan luas angkasa yang tak berujung. Gambar ini memberikan gambaran visual yang mendalam tentang betapa kecilnya Bumi jika dibandingkan dengan alam semesta yang begitu besar, dan ini juga mengingatkan kita tentang kerentanannya di tengah kosmos yang luas dan tak terbatas. Sagan, melalui gambar ini, ingin menekankan pentingnya menjaga planet kita dan menyadari betapa berharganya kehidupan yang ada di atasnya.

Namun, pada kenyataannya, Bumi tidak selalu tampak biru seperti yang terlihat dalam gambar tersebut. Selama sebagian besar sejarah planet ini, Bumi bahkan mungkin tidak akan tampak biru sama sekali. Sebagai contoh, jika ada teknologi untuk memotret Bumi pada zaman prasejarah, kemungkinan besar Bumi akan terlihat lebih dominan hijau, bahkan bisa disebut “Titik Hijau Pucat” karena warna planet kita pada waktu itu didominasi oleh tanaman hijau yang tumbuh subur. Fenomena ini terjadi karena atmosfer dan ekosistem Bumi telah berubah seiring waktu, menghasilkan warna biru yang kita kenal sekarang ini, terutama disebabkan oleh keberadaan lautan yang luas serta atmosfer yang kaya akan oksigen dan nitrogen.

Baca juga artikel tentang: Anglerfish Seram Ternyata Berukuran Kecil! Fakta Mengejutkan Tentang Ikan Laut Dalam yang Viral

Sekitar tiga miliar tahun yang lalu hingga sekitar 600 juta tahun yang lalu, yaitu pada periode awal munculnya kehidupan kompleks di Bumi, lautan planet ini tampak jauh lebih hijau daripada sekarang. Pada masa itu, lautan dipenuhi dengan organisme mikroskopis seperti cyanobacteria, yang memberikan warna hijau pada air laut. Proses fotosintesis yang dilakukan oleh mikroba ini juga berperan dalam menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan kehidupan kompleks yang muncul kemudian. Perubahan warna lautan ini menunjukkan bagaimana kehidupan awal di Bumi beradaptasi dengan lingkungan sekitar, dan bagaimana hal ini memengaruhi kondisi planet yang kita kenal saat ini. Jadi, lautan Bumi pada zaman purba mungkin tampak sangat berbeda dibandingkan dengan warna biru yang kita lihat sekarang.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Universitas Nagoya, Jepang, mengungkapkan alasan mengapa lautan Bumi pada zaman purba berwarna hijau. Mereka menemukan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan perubahan warna tersebut adalah keberadaan cyanobacteria, sejenis mikroorganisme yang sangat penting dalam proses fotosintesis. Cyanobacteria ini mampu menyerap cahaya dari matahari dan mengubahnya menjadi energi, serta menghasilkan oksigen yang menjadi salah satu pondasi bagi kehidupan di Bumi. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana kehidupan awal di lautan berperan dalam perubahan warna lautan tersebut. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Ecology & Evolution, yang menunjukkan betapa besar pengaruh mikroba ini terhadap perkembangan ekosistem Bumi purba.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menjelaskan bahwa warna Bumi yang kita kenal sekarang sebagai “Titik Biru Pucat” terjadi akibat hamburan sinar matahari oleh atmosfer, yang kemudian dipantulkan dan tersebar di permukaan laut. Namun, para peneliti juga menambahkan pertanyaan penting: apakah hanya warna biru dari planet yang dapat menunjukkan kemampuannya untuk mendukung kehidupan?

Sebagai faktor penentu warna planet, banyak elemen yang berperan, termasuk susunan lautan pada masa awal Bumi. Pada beberapa miliar tahun pertama, lautan Bumi mengandung senyawa anorganik bernama besi hidroksida, yang dapat menyerap cahaya biru. Selain itu, lautan purba ini juga menyerap cahaya merah, yang menciptakan apa yang disebut sebagai “jendela cahaya hijau.” Menurut Taro Matsuo, penulis utama penelitian tersebut, fenomena ini berkontribusi pada warna kehijauan yang dominan.

Cyanobacteria, mirip dengan tumbuhan, menggunakan klorofil untuk melakukan fotosintesis, yang memungkinkan mereka menyerap cahaya biru dan merah serta memantulkan cahaya hijau. Namun, cyanobacteria juga mengandung pigmen lain yang disebut fikobilin, yang menyerap cahaya merah dan hijau. Tim peneliti tertarik untuk memahami bagaimana pigmen fikobilin ini berperan dalam fotosintesis dan apa yang bisa kita pelajari tentang kondisi di masa lalu melalui proses ini.

Para ilmuwan menciptakan model untuk mempelajari spektrum cahaya yang dapat digunakan oleh kehidupan fotosintetik purba. Mereka menemukan bahwa spektrum tersebut cocok dengan cahaya yang diserap oleh pigmen fikobilin. Ketika kondisi Bumi Arkean direplikasi, cyanobacteria yang mengandung pigmen ini tumbuh lebih cepat, yang menunjukkan bahwa evolusi mendukung kehadiran mereka dalam ekosistem purba.

Matsuo dan rekan-rekannya menyarankan bahwa jika atmosfer Bumi pada masa itu mirip dengan yang ada sekarang, kombinasi warna hijau yang dipantulkan oleh lautan dengan warna biru dari hamburan sinar matahari mungkin menghasilkan warna hijau kebiruan, bukan warna biru seperti yang kita lihat saat ini. Selain itu, lautan Bumi purba kemungkinan lebih luas daripada sekarang, yang berarti dampaknya terhadap warna planet ini jauh lebih besar.

Namun, fenomena ini mungkin akan kembali terjadi di masa depan. Seperti tren mode yang kadang kembali populer, lautan Bumi mungkin akan kembali berwarna hijau, meskipun kemungkinan besar akan melalui proses yang berbeda. Sebuah studi yang dilakukan oleh MIT pada tahun 2019 menunjukkan bahwa pada akhir abad ini, perubahan iklim dapat menyebabkan peningkatan populasi fitoplankton di lautan, yang akan menyebabkan setengah dari lautan dunia menjadi lebih hijau. Studi lanjutan pada 2023 mengonfirmasi bahwa dalam dua dekade terakhir, 56% dari lautan dunia telah menunjukkan peningkatan warna hijau akibat perubahan ekosistem ini.

Baca juga artikel tentang: Ekspedisi Laut Karibia Mengungkap Kehidupan Baru di Kedalaman yang Gelap

REFERENSI:

Filibeck, Goffredo dkk. 2025. Habitat types of ‘Abruzzo, Lazio and Molise National Park’and adjoining Natura 2000 areas (Italy). Journal of Maps 21 (1), 2442646.

Luesch, Hendrik dkk. 2025. Progress in the discovery and development of anticancer agents from marine cyanobacteria. Natural Product Reports.

Matsuo, Taro dkk. 2025. Archaean green-light environments drove the evolution of cyanobacteria’s light-harvesting system. Nature Ecology & Evolution, 1-14.

Zhang, Wei dkk. 2025. Colorimetric and fluorescent paper indicator for seafood freshness monitoring using gas-sensitive carbon dots-based paper indicator. Journal of Food Composition and Analysis, 107321.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top