Ketika mendengar kata mumi, kebanyakan orang akan langsung membayangkan Mesir kuno dengan piramida megah dan Firaun yang diawetkan dalam balutan kain linen. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa praktik membuat mumi ternyata jauh lebih tua, dan tidak dimulai di Mesir. Bukti baru menunjukkan bahwa masyarakat di Asia Tenggara sudah mempraktikkan mumifikasi lebih dari 14.000 tahun yang lalu, sekitar 10.000 tahun sebelum peradaban Mesir muncul.
Penemuan ini berfokus pada apa yang disebut sebagai “mumi asap”. Tidak seperti teknik Mesir yang melibatkan pengangkatan organ dalam dan penggunaan cairan kimia alami, mumi asap dibuat dengan cara menempatkan tubuh di atas api kecil atau sumber panas, sehingga tubuh perlahan-lahan dikeringkan dan diawetkan. Proses ini bisa berlangsung hingga tiga bulan.
Bayangkan tubuh seseorang diletakkan di tempat khusus di atas tungku, lalu setiap hari ia dipanaskan perlahan dengan asap yang lembut. Tujuannya bukan untuk membakar, melainkan untuk secara perlahan menghilangkan kelembapan dari tubuh sehingga bakteri tidak bisa berkembang. Akhirnya, tubuh menjadi kering dan bertahan selama ribuan tahun.
Metode ini ternyata jauh lebih kuno dibandingkan praktik yang kita kenal dari Mesir kuno. Bukti mumifikasi berusia 14.000 tahun ini menjadikannya tradisi pengawetan tubuh tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Baca juga artikel tentang: Tragedi Kosmik yang Mengejutkan: Teleskop Webb Ungkap Cara Mengerikan Planet Mati
Dari Pegunungan New Guinea Hingga Asia Tenggara
Teknik mumifikasi dengan cara diasapi ini masih bisa ditemukan dalam beberapa praktik budaya di dunia modern, terutama di kalangan masyarakat adat di Papua Nugini dan beberapa wilayah Australia. Tradisi ini dilakukan bukan semata untuk melestarikan tubuh, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Masyarakat yang melakukannya percaya bahwa tubuh leluhur yang diawetkan tetap memiliki nilai spiritual yang penting. Dengan menyimpannya di rumah atau gua khusus, mereka menjaga hubungan antara yang hidup dengan yang sudah tiada.
Dengan kata lain, mumifikasi bukan sekadar praktik teknis, tetapi juga cerminan cara pandang manusia terhadap kematian, roh, dan hubungan lintas generasi.
Menantang Sejarah Mumifikasi Dunia
Sebelumnya, para arkeolog menganggap Mesir sebagai pusat perkembangan teknik mumifikasi. Penemuan baru ini mengguncang pandangan itu: ternyata Asia Tenggara, khususnya kawasan pegunungan yang kini meliputi New Guinea dan wilayah sekitarnya, sudah lebih dulu mengenal tradisi ini.
Menurut para peneliti, tradisi tersebut kemungkinan dikembangkan oleh keturunan pertama manusia modern yang bermigrasi ke ujung timur Eurasia. Mereka yang tiba di wilayah itu bukan hanya membawa keterampilan berburu dan bertani, tetapi juga cara-cara unik untuk merawat tubuh orang yang meninggal.
Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia sejak lama punya keinginan untuk “melawan waktu”—menjaga bentuk fisik orang yang dicintai agar tidak cepat hilang.
Mengapa Diasapi?
Dari sudut pandang sains, mengasapi tubuh manusia memiliki beberapa keuntungan.
- Menghilangkan kelembapan: Proses pemanasan perlahan mencegah tubuh membusuk karena bakteri sulit bertahan di lingkungan kering.
- Efek pengawetan asap: Senyawa kimia dalam asap, seperti fenol, bisa membunuh mikroorganisme.
- Perlindungan jangka panjang: Tubuh yang diasapi tetap kuat dan kering, sehingga bisa bertahan dalam kondisi gua atau rumah adat selama ribuan tahun.
Teknik ini mirip dengan cara nenek moyang kita mengawetkan makanan, seperti ikan atau daging agar bisa tahan lama. Bedanya, kali ini yang “diasapi” adalah tubuh manusia untuk tujuan spiritual.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan mumi yang diperkirakan berusia 14.000 tahun di kawasan Asia Tenggara. Tubuh tersebut memperlihatkan tanda-tanda khas mumifikasi asap: tulang-tulang yang masih utuh, kulit yang mengering, dan posisi tubuh yang tampak sengaja diatur.
Menariknya, mumi-mumi ini ditemukan di wilayah tropis yang biasanya tidak cocok untuk pengawetan alami. Di daerah panas dan lembap, tubuh biasanya cepat membusuk. Namun, karena diasapi, jasad-jasad ini berhasil melewati ujian waktu hingga ribuan tahun lamanya.

Praktik kuno ini masih bisa ditemukan dalam beberapa komunitas adat di Papua Nugini. Di sana, tubuh leluhur yang diawetkan dipandang sebagai penjaga desa atau simbol identitas. Keberadaan mumi leluhur memberikan rasa keterhubungan yang kuat antara generasi masa kini dengan nenek moyang mereka.
Bagi para ilmuwan, hal ini menunjukkan betapa kuatnya nilai budaya yang bisa bertahan puluhan ribu tahun, melampaui perubahan zaman, teknologi, bahkan peradaban.
Apa Artinya bagi Ilmu Pengetahuan?
Penemuan mumi tertua ini bukan hanya soal umur panjang tradisi, tetapi juga membuka banyak pertanyaan baru. Misalnya:
- Apakah teknik ini berkembang secara independen di Asia Tenggara, ataukah menyebar dari wilayah lain?
- Bagaimana pengetahuan teknis seperti ini bisa diwariskan lintas generasi tanpa tulisan?
- Apa arti spiritual yang mendorong masyarakat untuk meluangkan waktu berbulan-bulan dalam proses mumifikasi?
Bagi sains modern, jawaban-jawaban ini penting untuk memahami bagaimana budaya manusia berkembang dan bagaimana mereka melihat kehidupan setelah kematian.
Mumi Mesir memang menakjubkan, tetapi sejarah mumifikasi dunia ternyata jauh lebih tua dan beragam. Dengan bukti mumi asap berusia 14.000 tahun, kita belajar bahwa nenek moyang manusia di Asia Tenggara sudah memiliki cara unik untuk menjaga hubungan dengan mereka yang telah pergi.
Praktik ini tidak hanya soal mengawetkan tubuh, tetapi juga menjaga memori, identitas, dan rasa keterhubungan. Dan yang paling menakjubkan, warisan ini masih bisa kita lihat jejaknya hingga hari ini di beberapa budaya adat.
Penemuan ini mengingatkan kita bahwa sejarah manusia tidak pernah tunggal atau linear. Di berbagai belahan dunia, orang-orang menemukan cara berbeda untuk menjawab pertanyaan besar tentang hidup dan mati. Dan terkadang, jawaban itu bertahan lebih lama dari yang bisa kita bayangkan, bahkan hingga 14.000 tahun kemudian.
Baca juga artikel tentang: Sel Surya Perovskite: Inovasi Daur Ulang yang Menjanjikan untuk Energi Terbarukan
REFERENSI:
Chan, Annie. 2025. Silk Road orientations in Xinjiang archaeology and shifting implications for Eurasian studies. Modern Asian Studies, 1-32.
Taub, Benjamin. 2025. “The Body Is Slowly And Continuously Heated”: 14,000-Year-Old Smoked Mummies Are World’s Oldest. IFLScience: https://www.iflscience.com/the-body-is-slowly-and-continuously-heated-14000-year-old-smoked-mummies-are-worlds-oldest-80818 diakses pada tanggal 23 September 2025.

