Di Jepang, Kotoran Kelinci Digunakan Sebagai Bahan Bakar Pesawat

Bagikan Artikel ini di:

Salah Satu Pesawat All Nippons Airport (Sumber : Forbes)

Siapa yang tidak kenal negara Jepang? Berbagai macam penemuan unik dan aneh berasal dari negeri ini. Jika sebelumnya kita pernah mendengar tentang penemuan teknologi virtual reality untuk para jomblo, maka ada satu penemuan lagi yang sama anehnya dengan penemuan tersebut. Pada musim gugur 2019 nanti, All Nippon Airways (ANA), maskapai penerbangan asal Jepang, akan mencoba menerbangkan pesawat dengan bahan bakar yang sangat unik dan aneh, yaitu bahan bakar dari kotoran kelinci[1].

Kotoran Kelinci sebagai Sumber Biofuel (Sumber : Media Indonesia)

Kotoran kelinci? Yup, anda tidak salah baca. Wakil pimpinan ANA, Akihiko Miura, menyatakan bahwa maskapainya akan melakukan uji coba penerbangan pesawat dengan bahan bakar yang berasal dari kotoran kelinci. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya yang sedang berkembang  untuk menurunkan jejak karbon industri dan untuk menghindari pajak emisi yang diberlakukan baru-baru ini oleh beberapa negara[2].

Tapi kenapa harus kotoran kelinci? Dilansir dari Forbes, ternyata di dalam kotoran kelinci terdapat mikroba unik yang mampu mengkonversi gas-gas emisi kaya karbon menjadi ethanol. Ethanol merupakan bahan yang bertindak sebagai pencampur oksigen dalam bensin, dan berperan dalam mengurangi jumlah karbon monoksida dan jelaga yang diemisikan oleh mesin. Walaupun para kritikus telah memperingatkan bahwa ethanol (terutama dalam konsentrasi yang lebih tinggi) dapat merusak mesin, namun penyataan tersebut masih bersifat lemah menurut beberapa pihak[1].

Teknologi Lanzatech untuk mengkonversi emisi gas karbon menjadi biofuel (Sumber : Airline Ratings)

Bagaimana proses pengubahan gas emisi kaya karbon ini menjadi ethanol? LanzaTech, perusahaan yang bekerja sama dengan ANA dalam proyek ini, menggunakan teknologi fermentasi gas bertenaga mikroorganisme canggih (dari kotoran kelinci) untuk menciptakan ethanol. Teknologi ini selanjutnya dikembangkan oleh Pacific Northwest National Labs (PNNL) dan memungkinkan produksi bahan bakar penerbangan menjadi lebih sustainable[4].

PNNL mengembangkan proses termokatalitik unik untuk mengubah etanol menjadi ATJ-SPK (Alcohol to Jet Synthetic Paraffinic Kerosene). ATJ-SPK merupakan bahan bakar alternatif yang dibuat dari isobutanol secara bioteknologi. Langkah pertama dari proses ini adalah mengubah etanol menjadi etilen dengan metode dehidrasi[3]. Dehidrasi adalah proses penghilangan kandungan air dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Lalu tahap selanjutnya adalah tahap oligomerisasi. Pada tahap oligomerisasi, molekul-molekul etilen secara kimiawi dikombinasikan untuk membentuk molekul hidrokarbon yang dibutuhkan untuk bahan bakar penerbangan. Hidrokarbon-hidrokarbon tersebut kemudian dihidrogenasi, dan diikuti oleh fraksinasi untuk menghasilkan ATJ-SPK dengan karakteristik yang sesuai dengan yang diinginkan. Hidrogenasi adalah proses penambahan hidrogen pada hidrokarbon . Fraksinasi adalah proses pemisahan campuran cairan, gas atau padatan ke dalam komponennya[4].

Biofuel ini direncanakan akan dicampurkan dengan avtur, dengan komposisi 50 persen bioavtur dan 50 persen avtur komersial. Dilansir dari Green Car Congress, ANA dikabarkan telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan Mitsui & Co., Ltd., pada tahun 2018, untuk mengembangkan bersama bisnis manufaktur bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang menggunakan teknologi katalitik inovatif dari LanzaTech. Dan kabarnya, jika proyek ini berhasil, maka di tahun 2020 penerbangan dengan bahan bakar unik ini dapat dinikmati di jepang[2]. Bagaimana? Apakah anda tertarik untuk mencoba pesawat dengan bahan bakar kotoran kelinci?

Sumber :

[1] Dan Reed. 2019. A Wild Hare Of An Idea: Japanese Airline ANA Will Test Biofuel Derived From Rabbit Poop. Diakses pada tanggal 6 Juli 2019 di : https://www.forbes.com/sites/danielreed/2019/06/28/a-wild-hare-of-an-idea-japanese-airline-will-test-biofuel-derived-from-rabbit-pellets/#eda3a8e5152c

[2] Green Car Congress. 2019. ANA signs offtake agreement with LanzaTech for alcohol-to-jet sustainable aviation fuel. Diakses pada tanggal 6 Juli 2019 di : https://www.greencarcongress.com/2019/06/20190618-ana.html

[3] Richter, Sandra, Clemens Naumann, Uwe Riedel. 2017. Experimental Study on the Combustion Properties of an Alcohol-to-Jet Fuel. Proceedings of the 2nd World Congress on Momentum, Heat and Mass Transfer

[4] Steve Creedy. 2019. Microbes to Help Power All Nippon Airways Planes. Diakses pada tanggal 6 Juli 2019 di : https://www.airlineratings.com/news/microbes-help-power-nippon-airways-planes/

Bagikan Artikel ini di:

Sekapur Sirih Fisika; Pengantar Menuju Dunia Takhingga

Bagikan Artikel ini di:

Pertanyaan paling mendasar yang acap kali mengusik pikiran kita ialah: Dari manakah alam semesta berasal, dan ke manakah semesta akan pergi? Bagaimana dan mengapa semesta ada? Semesta ini abadi atau akan berakhir? Seandainnya berakhir, bagaimanakah semesta berakhir? Apakah semesta mempunyai awal? Seandainya semesta memiliki suatu awal, apa yang ada dan terjadi sebelum awal semesta? Lalu bagaimanakah sifat waktu membuat hadirnya awal dan akhir? Manusia sejak zaman dahulu telah dahaga pengetahuan dan telah melakoni pergulatan panjang dalam upaya menyingkap tabir alam semesta. Adapun subjek ilmu yang konsen membahas tentang alam semesta dengan segala interaksinya, yaitu fisika. Pertama kita awali dengan mengayun langkah kebelakang pada sekitar tahun 340 SM seorang filsuf besar asal Yunani bernama Aristoteles mengemukakan dua argumentasi fundamental; yang pertama menurutnya bumi berbentuk bulat dan bukan datar serta bumi merupakan pusat alam semesta dengan planet-planet, bintang-bintang yang mengelilinginya dengan gerak melingkar [3].

Ide bumi sebagai pusat semesta juga digunakan oleh Ptolemeus di abad ke dua dalam model kosmologi nya dimana bumi merupakan pusat dan dikelilingi oleh bulan, matahari, bintang-bintang, dan planet-planet. Model Ptolemeus menyediakan satu sistem yang cukup akurat untuk memperkirakan dengan tepat, Ptolemeus harus membuat asumsi bahwa bulan mengikuti jalur yang kadang membuatnya dua kali lebih dekat ke bumi ketimbang pada waktu lain. Dan itu berarti bulan seharusnya bisa terlihat dua kali lebih besar daripada biasanya. Ptolemeus mengakui kekurangan itu, namun model semesta Ptolemeus dapat diterima oleh gereja Kristen sebagai gambaran alam semesta yang sesuai dengan kitab suci, karena dalam model Ptolemeus menyisakan banyak banyak ruang di luar lingkaran bintang-bintang tak bergerak untuk tempat surga dan neraka [4].

Model semesta Ptolemeus

Model semesta Ptolemeus [4]

Pada tahun 1514 diajukan suatu model yang lebih sederhana oleh seoarng alim bernama Nikolas Kopernikus, awalnya Kopernikus menyebarkan modelnya secara anonim, barangkali karena takut dicap sesat oleh gerejannya. Dalam gagasannya matahari diam di pusat dan bumi serta planet-planet lain beredar mengelilingi matahari. Pada mulanya gagasan Kopernikus tidak begitu dianggap serius dan hampir satu abad berlalu sebelum Galileo dan Kepler mendukung gasasan Kopernikus tersebut [4]. Menurut Hart dalam bukunya The 100, a ranking of the most influential persons in history secara historis karya Kopernikus yang termaskup dalam De Revolutionobus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-Benda Langit) merupakan titik tolak astronomi modern, yang menjadi dasar dari karya Kepler dan Galileo yang kesemuannya merupakan pendahulu Newton dan memiliki makna penting buat Newton merumuskan hukum-hukum gerak dan gravitasinya. Lebih dari itu, Hart berpendapat karya Kopernikus merupakan titik tolak pengetahuan modern [5].

Melalui berbagai pengamatan fenomena alam, muncul sejumlah observabel (besaran) fisika yang saling terkait melalui sejumlah hubungan matematik. Hubungan itu dapat bersatus kaidah, seperti kaidah tangan kanan dalam bidang elektromagnetisme. Hukum, seperti hukum Kepler atau hukum gerakan planet Kepler dimana salah satu hukumnya berbunyi setiap planet bergerak dengan lintasan elips dengan matahari berada di salah satu fokusnya (matahari sebagai pusat semesta). Serta dapat pula berstatus sebagai asas, seperti asas larangan Pauli dalam mekanika kuantum. Perbedaan status antara kaidah, hukum ataupun asas bergantung pada sempit luasnya daerah cakupannya, yang dicoba untuk dijelaskan secara logis berdasarkan teori tertentu [2].

Fisika sendiri merupakan subjek ilmu yang eksotik dan menarik. Terbesit tanya mengapa kita perlu mempelajari fisika? setidaknya ada dua alasan utama. Pertama, fisika adalah salah satu ilmu yang paling dasar dari ilmu pengetahuan. Ilmuwan dari pelbagai disiplin ilmu memanfaatkan ide-ide dari fisika, mulai dari ahli kimia yang mempelajari struktur molekul sampai ahli fisikawan medis yang mempelajari penerapan prinsip-prinsip fisika untuk kepentingan kesehatan dan pengobatan. Fisika juga merupakan dasar dari semua ilmu rekayasa dan teknologi. Tidak ada insinyur yang dapat merancang alat-alat praktis tanpa terlebih dahulu mengerti prinsip-prinsip dasar yang digunakan. Untuk merancang sebuah pesawat antariksa dibutuhkan pemahaman akan hukum-hukum dasar fisika! Tetapi ada alasan lain. Mempelajari fisika merupakan suatu petualang yang seru. Kita akan menemukan bahwa fisika begitu menantang, kadang-kadang membuat frustasi tapi juga membuat ketagihan, sewaktu-waktu menyakitkan, dan seringkali bermanfaat dan dapat memberikan kepuasan batin. Fisika akan menarik rasa estetis seperti halnya intelektualitas. Pengertian tentang dunia fisika yang kita miliki saat ini dibangun di atas pondasi yang diletakkan oleh ilmuwan-ilmuwan besar seperti Galileo, Newton, Maxwell, dan Einstein, dan pengaruh mereka telah berkembang jauh melewati batas dari ilmu fisika itu sendiri dan mempengaruhi secara mendalam cara hidup dan berpikir kita [1]. Sebagai contoh black hole (lubang hitam) merupakan konsekuensi dari teori relativitas umum Einstein

Black Hole

First Image Black Hole [6]

Fisika juga memiliki andil yang sangat besar dalam penemuan-penemuan penting di dunia ini. Fisika mempelajari atau mengkaji tentang alam semesta dari tingkat mikroskopik (partikel sub atomik atau zarah elementer) sampai ke tingkat makroskopik (kosmos). Fisika (dalam Bahasa Inggris: physics) kata fisika sendiri berasal dari Bahasa Yunani “fysikos” yang artinya “alamiah” dan “fysis” , “alam” fisika dapat didefinisikan sebagai sains atau ilmu alam yang mempelajari mengenai materi beserta gerak dan perilakunya dalam lingkup ruang dan waktu, bersamaan dengan konsep yang berkaitan seperti energi dan gaya. Fisika sebagai salah satu ilmu sains paling dasar, memiliki tujuan utama untuk dapat membantu manusia memhami bagaimana alam semesta bekerja lengkap dengan segala fenomena dan interaksinya [1]. Di sepanjang abadnya fisika selalu hadir dan berkontribusi bagi kehidupan umat manusia. Fisika juga turut berkontribusi dalam kemajuan teknologi dunia saat ini, hingga dikenal istilah “fisika hari ini, teknologi masa depan” [2].

Referensi:

[1] Young, H. D dan Freedman, Roger A. 2002. Fisika Universitas Ed ke-10 jilid 1 (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

[2] Bama, Akhmad A. 2015. Mengenal Fisika dari Paradigma, Metodologi, hingga Implementasi. Palembang: Penerbit Simetri.

[3] Setiawan, Sandi. 1991. Theory of Everything Gelagar Teori Pamungkas Tentang Semesta Raya. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.

[4] Hawking, Stephen. 2018. A Brief History of Time (Sejarah Singkat Waktu) (Terjemahan). Jakarta: Gramedia.

[5] Hart, Michael H. 1988. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (Terjemahan). Jakarta: Pustaka Jaya.

[6] The Event Horizon Telescope Collaboration. 2019. Frist M87 Event Horizon Telescope Result. V. Physical Origin of the Asymmetric Ring. The Astrohysical Journal Letters, 875:L5 (31pp).

Bagikan Artikel ini di:

Klaim He Jiankui: Apakah ‘Bayi CRISPR’ Sudah Resisten terhadap Infeksi HIV?

https://www.youtube.com/channel/UCn_Elifynj3LrubPKHXecwQ
Bagikan Artikel ini di:

He Jiankui menjelaskan hasil penelitiannya mengenai ‘Bayi CRISPR’ melalui saluran Youtube laboratoriumnya, The He Lab, berikut ini videonya:

Dunia baru saja digempakan dengan klaim ilmuwan asal tingkok, bernama He Jiankui. He mengklaim bahwa dirinya telah melakukan rekayasa genetika pada embrio menggunakan CRISPR/Cas9 [1]. Rekayasa genetika pada embrio tersebut menarget gen CCR5 untuk mencegah infeksi HIV di kehidupan mendatang. Saat ini, hasil penelitian tersebut masih diperdebatkan oleh para ilmuwan karena isu bioetika – rekayasa genetika pada embrio [2]. Di sisi lain, apakah keputusan He menarget gen CCR5 untuk mencegah infeksi HIV sudah tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian? Mengapa He memilih CCR5 dan HIV?

Mengapa HIV?

Infeksi HIV merupakan permasalah global yang serius. Berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO), terdapat 36,9 juta jiwa terinfeksi oleh HIV di tahun 2017 [3]. Angka tersebut meningkat dari 31.8 juta orang di tahun 2005 [4]. Selanjutnya, infeksi HIV akan menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang ditandai dengan penurunan sistem imun secara signifikan yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasia sekunder, dan manifestasi klinis neurologis [5]. Tidak hanya prevalensi, namun angka kematian yang disebabkan oleh infeksi oportunistik dari HIV/AIDS juga mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terdata sebanyak 1,1 juta pasien penderita HIV/AIDS meninggal pada tahun 2015.(6) Hal tersebut telah direspon oleh pemangku kebijakan global yang tertuang dalam target SDG 3 terkait penyakit infeksi, yaitu berakhirnya epidemik HIV/AIDS pada tahun 2030 [7].

Patogenesis infeksi HIV dan peran CCR5

Proses infeksi HIV dimulai dari masuknya virus ke dalam tubuh melalui penggunaan jarum suntik yang sama secara berulang, tranfusi darah, ibu hamil yang terkena HIV, anak yang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV, dan hubungan seksual [5].

Infesi HIV Tropisme R5—Titik Masuk (entry point) HIV: (1) gp120—berbentuk trimer—akan berikatan dengan reseptor CD4Selanjutnya, gp41 akan mengalami perubahan bentuk (2) dan berikatan dengan koreseptor CCR5 (3). Setelah itu, terjadi fusi membran dan pelepasan RNA HIV ke sel T CD4 (4).

Virus HIV menyerang sel T CD4 dan menempel pada reseptor CD4 dengan menggunakan glikoprotein gp120 [8]. Selanjutnya, gp41 akan mengalami perubahan bentuk dan membutuhkan koreseptor yaitu CCR5 atau CXCR4 [8]. Setelah itu, terjadi fusi membran dan penelparan RNA HIV ke sel T CD4 [8]. Hal tersebut merupakan dasar pengembangan terapi antiretroviral dengan menghambat ikatan ligan-reseptor dan fusi membran [9]. 

Struktur CCR5: CCR5 termasuk keluarga GPCR yang terdiri dari tujuh protein transmembran. (12)

Menariknya, pada tahun 2007, pasien HIV yang juga menderita penyakit leukemia myeloid akut menerima donor transplantasi alogenik sumsum tulang—untuk mengobati leukemia—dari pendonor yang mengalami mutasi homozigot pada gen CCR5 [10]. Mutasi tersebut berupa delesi 32 base-pair pada area pengkode CCR5. Mutasi CCR5 tersebut dikenal dengan CCR5Δ32 (CCR5 delta32) [11]. CCR5Δ32 tidak mengekspresikan tiga transmembran terakhir dari CCR5, yaitu TM5-TM7—secara normal, CCR5 memiliki tujuh protein transmembran (termasuk golongan GPCR/ G-protein coupled receptors) [12]. Setelah transplantasi, beberapa tes kuantitaif dilakukan oleh beberapa laboratorim dan tidak terdeteksi viremia pada pasien tersebut selama dekade terakhir. Pasien tersebut lalu dinyatakan sebagai satunya-satunya pasien yang sembuh dari infeksi HIV.(13)

He menarget CCR5

Laporan kasus di atas menjadi dasar para ilmuwan—termasuk He—untuk meneliti CCR5 secara luas. Terlepas dari penargetan mutasi pada embrio, penargetan mutasi genetik pada CCR5 menjadi CCR5Δ32 tidak menjanjikan resistensi terhadap infeksi semua tropisme HIV [12].  CCR5Δ32 hanya resisten terhadap HIV dengan tropisme R5 [13]. Di sisi lain, sel T CD4 memiliki koreseptor CXCR4 yang dapat berikatan dengan HIV dengan tropisme X4 dan menginfeksi sel T CD4 [14]. Sialnya, individu dengan CCR5Δ32 rentan terhadap infeksi flavivirus, prognosis yang buruk pada kasus kanker kolorektal, meningkatkan disfungsi jantung pada penyakit Chagas, dan terganggunya fungsi otak [12,13,15].

Di sisi lain, hasil penelitian He untuk menarget CCR5 pada embrio menggunakan CRISPR/Cas9 masih dipertanyakan [16] Apakah hasil rekayasa CCR5 dengan CRISPR/Cas9 sudah presisi di samping terdapat isu off target? Apakah hasil dari rekayasa yang dilakukan oleh He sudah identik dengan CCR5Δ32?, dan masih banyak pertanyaan yang tersisa terkait klaim hasil penelitian He.

Berkaitan dengan isu penargetan mutasi gen CCR5 pada embrio, peneliti RNA dari University of Massachusetts Medical School in Worcester, Sean Ryder, menyatakan bahwa mutasi genetic pada CCR5 yang dilakukan oleh He dengan menggunakan CRISPR/Cas9 pada embrio tersebut tidak identik dengan CCR5Δ32 [16].

Sejalan dengan tujuan He untuk mencegah infeksi HIV, terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghentikan transmisi infeksi HIV, khususnya transmisi HIV dari ibu ke anak, yaitu persalinan perabdominal (sectio caesarea), terapi antiretroviral, dan lain-lain [17,18]. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Tetsuya Ishii, Ahli Bioetika Universitas Hokkaido di Sapporo, Jepang, terkait tanggapan aplikasi pengeditan genomik pada embrio untuk mengurangi transmisi infeksi HIV [1].

Daftar Pustaka

 

  1. Cyranoski D, Ledford H. International outcry over genome-edited baby claim. Nature. 2018 Nov;607–8.
  2. Cyranoski D. CRISPR bay scientist fails to satifsy his critics. Nature. 2018 Dec;13–4.
  3. World Health Organization (WHO). HIV/AIDS [Internet]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/h. 2018. p. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/h. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids
  4. World Health Organization (WHO). WHO Case Definitions of HIV for Surveillance and Revised Clinical Staging and Immunological Classification of HIV-related Disease in Adults and Children [Internet]. Geneva: WHO Press; 2016. 1-52 p. Available from: http://www.who.int/hiv/pub/guidelines/HIVstaging150307.pdf
  5. Kumar V, Abbas AK, Aster J. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. Ninth Ed. Philadelphia: Elsevier/Saunders; 2015.
  6. World Health Organization (WHO). Health in 2015: from DGs, Millennium Development Goals to SDGs, Sustainable Development Goals. World Health Organization (WHO). Geneva; 2015.
  7. World Health Organization (WHO). SDG 3: Ensure healthy lives and promote wellbeing for all at all ages [Internet]. https://www.who.int/sdg/targets/en/. 2015 [cited 2019 Feb 2]. p. https://www.who.int/sdg/targets/en/. Available from: https://www.who.int/sdg/targets/en/
  8. Abbas AK, Lichtman AH, Pillai S. Cellular and Molecular Immunology. 7th Ed. Philadelphia: Saunders/Elsevier; 2011.
  9. Lobritz MA, Ratcliff AN, Arts EJ. HIV-1 entry, inhibitors, and resistance. Viruses. 2010;2(5):1069–105.
  10. Hütter G, Nowak D, Mossner M, Ganepola S, Müßig A, Allers K, et al. Long-Term Control of HIV by CCR5 Delta32/Delta32 Stem-Cell Transplantation. N Engl J Med [Internet]. 2009;360(7):692–8. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19213682%5Cnhttp://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa0802905
  11. Gupta A, Padh H. The global distribution of CCR5 delta 32 polymorphism: role in HIV-1 protection. BMC Infect Dis [Internet]. BioMed Central Ltd; 2012;12(Suppl 1):O16. Available from: http://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/1471-2334-12-S1-O16
  12. Brelot A, Chakrabarti LA. CCR5 Revisited: How Mechanisms of HIV Entry Govern AIDS Pathogenesis. J Mol Biol [Internet]. Elsevier Ltd; 2018;430(17):2557–89. Available from: https://doi.org/10.1016/j.jmb.2018.06.027
  13. Haworth KG, Peterson CW, Kiem HP. CCR5-edited gene therapies for HIV cure: Closing the door to viral entry. Cytotherapy [Internet]. Elsevier Inc.; 2017;19(11):1325–38. Available from: https://doi.org/10.1016/j.jcyt.2017.05.013
  14. Kalinina O V., Pfeifer N, Lengauer T. Modelling binding between CCR5 and CXCR4 receptors and their ligands suggests the surface electrostatic potential of the co-receptor to be a key player in the HIV-1 tropism. Retrovirology [Internet]. Retrovirology; 2013;10(130):1–11. Available from: Retrovirology
  15. Ellwanger JH, Kaminski V de L, Chies JAB. CCR5 gene editing – Revisiting pros and cons of CCR5 absence. Infect Genet Evol. 2019;68(December 2018):218–20.
  16. Cyranoski D. First CRISPR babies: six questions that remain. Nature. Nature Publishing Group; 2018.
  17. Legardy-Williams JK, Jamieson DJ, Read JS. Prevention of mother-to-child transmission of HIV-1: The role of cesarean delivery. Clin Perinatol [Internet]. Elsevier Ltd; 2010;37(4):777–85. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.clp.2010.08.013
  18. Read JS. Prevention of mother-to-child transmission of HIV: Antiretroviral strategies. Clin Perinatol [Internet]. Elsevier Ltd; 2010;37(4):765–76. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.clp.2010.08.007
Bagikan Artikel ini di: