Bagaimana Cara Menulis Makalah Penelitian?

Bagikan Artikel ini di:

Ditulis oleh Septian Ulan Dini

“Bagaimana cara menulis makalah penelitian?” Pertanyaan ini mulai saya pikirkan secara luas dan mendalam ketika sudah mengenal dunia kampus. Walaupun sejak SMA sudah pernah mengenal nya dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah. Ketika di kampus, tentu kita sering berhadapan dengan tugas yang satu ini. Tugas menulis yang pada akhirnya menjadi bekal awal kita dalam menyelesaikan tugas akhir untuk sumbangsih kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, pada akhirnya makalah penelitian tidak akan berarti apa-apa jika tidak dipublikasikan atau disebarluaskan. Salah satu wadah untuk mempublikasikan makalah penelitian adalah jurnal.

Selasa, 10 September 2019,  saya menghadiri kegiatan workshop yang dilaksanakan oleh Dr. Yogi Wibisono Budhi dalam program “World Class Professor” di Institut Teknologi Bandung. Pembicara yang dihadirkan dalam program ini adalah Dr. Manabu Miyamoto, beliau merupakan Associate Professor di Departemen Ilmu Kimia dan Biomolekuler, Gifu University. Salah satu topik yang dibawakan adalah tata cara menulis makalah penelitian untuk dapat dipublikasikan. Dr. Manabu Miyamoto, yang namanya memiliki arti sesuai dengan profesinya sebagai profesor ini merupakan reviewer untuk >20 jurnal international bereputasi.

Beliau membuka sesi dengan memperkenalkan diri dan rekam jejaknya dalam dunia pendidikan tinggi, lalu dilanjutkan dengan membahas garis besar prosedur untuk mempublikasikan makalah penelitian yang dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Prosedur untuk mempublikasikan artikel ilmiah

Tampaknya mudah dan singkat ya. Tapi faktanya tidak sesederhana itu. Berdasarkan cerita pengalaman Dr. Manabu Miyamoto sebagai reviewer yang telah memiliki banyak pengalaman untuk mengoreksi menolak makalah penelitian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya naskah diterima oleh reviewer.

Makalah untuk Tujuan Publikasi sebagai Hasil Penelitian dan Paten

Hasil penelitian dan paten merupakan dua hal yang berbeda, walaupun luaran keduanya adalah publikasi. Perbedaan keduanya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel.1 Perbedaan Hasil Penelitian dan Paten

Tabel 1. Perbedaan Artikel ilmiah untuk publikasi Hasil Penelitian dan Paten

Strategi Awal untuk Mempublikasikan Makalah Penelitian

Dr. Manabu Miyamoto mengajukan pertanyaan sebelum menyampaikan lebih jauh tentang strategi untuk mempublikasikan makalah penelitian. Pertanyaannya adalah “What is the most important thing for publishing your research work in scientifics journal?” /“Hal apa yang paling penting untuk mempublikasikan hasil penelitian Anda di jurnal ilmiah?”

Seketika yang saya pikirkan adalah “Manuscript/ naskah”, karena menurut saya kita tidak bisa mengirim makalah penelitian kalau tidak punya naskahnya :D. Ternyata, bukan itu jawabannya. Hal yang paling penting adalah novelty/kebaruan.

“The most important thing for publishing your research work in a scientific journal;

 1st is Novelty

2nd is Novelty

3rd is Novelty”

Setelah mendapatkan ide dengan unsur kebaruan, yang dilakukan adalah mencari makalah penelitian (dan paten) di bidang terkait. Cara ini dilakukan untuk memastikan bahwa ide Anda benar-benar baru. Memastikan tidak ada laporan ilmiah dengan ide serupa dan juga melihat isu yang saat ini sedang berkembang terkait bidang Anda.

Kedua, Menentukan langkah awal dan tujuan akhir dari penelitian yang akan Anda lakukan. Caranya dengan membuat kerangka kerja penelitian. Pada tahap ini yang harus dipahami adalah dimana posisi Anda saat ini, masalah yang dialami subjek penelitian Anda dan solusi terbaru terhadap masalah tersebut.

Ketiga, selesaikan eksperimen yang akan Anda lakukan untuk mencapai tujuan akhir penelitian.

Struktur Makalah Penelitian

Setelah menyelesaikan eksperimen dan pengolahan data sampai penarikan kesimpulan, maka menulis makalah ilmiah sudah dapat dimulai untuk diselesaikan.

Gambar 2. Struktur Penulisan Makalah Penelitian

Introduction/ pendahuluan. Bagian ini harus jelas, sederhana namun mencakup berbagai aspek terkait penelitian. Isi dari bagian ini meliputi latar belakang penelitian secara umum, latar belakang penelitian secara ilmiah, isu/ permasalahan yang sedang diselesaikan serta tujuan penelitian yang akan dilakukan.

Experiment Section/ Eksperimen. Bagian ini harus jelas, sederhana namun mudah untuk dapat diulangi oleh orang lain. Isi dari bagian ini meliputi hal-hal mendetail terkait alat dan bahan, syarat-sayarat dalam eksperimen, dasar teori dan persamaan matematis. Hal yang tidak kalah penting dari bagian ini dalah gambar.

“A picture is worth a thousand words”

Result and Discussion/ Hasil dan Pembahasan. Bagian ini harus masuk akal, konsisten dan mudah dipahami. Isi dari bagian ini harus mengklarifikasi temuan apa yang akan diklaim dengan menampilkan bukti hasil penelitian. Hal yang tidak kalah penting dari bagian ini adalah harus dapat membangun logika untuk mengarahkan pembaca pada suatu kesimpulan.

Your logic may be like a leaky bucket! once plug a leak, another leak may happent”

Hal penting yang harus diperhatikan dalam membangun logika pada bagian ini adalah:

a. Menyediakan data secara jelas.

b. Menyajikan argumen yang benar, karena jika argumen dalam logika Anda salah, argumen tersebut dapat menyebabkan asumsi yang salah.

c. Menghindari ambiguitas, karena ambiguitas dapat menyebabkan argumen yang salah.

d. Lakukan upaya untuk menghindari ambiguitas, dengan cara menggabungkan beberapa hasil dari berbagai sudut pandang dan rujuk hasil penelitian sebelumnya untuk mendukung hasil penelitian Anda.

Conclutions/ kesimpulan. Bagian ini harus jelas, sederhana dan menampilkan temuan Anda.

“Tips: Review your logic objectively, critism against, and be independent”

Berdasarkan penjelasan mengenai struktur makalah ilmiah di atas, maka kesimpulan yang dapat kita ambil diantaranya:

a. Buat semua bagian jelas dan sederhana.

b. Persiapkan gambar sederhana yang menarik dan mudah dipahami.

c. Gunakan pengutipan/ rujukan dalam pembahasan.

d. Hindari pengulangan dalam menyajikan tiap bagian.

e. Baca kembali makalah ilmiah Anda secara seksama sebelum dikirimkan.

Selamat membaca dan mencoba menulis makalah penelitian. Semoga artikel ini bermanfaat.

Referensi:

Semua isi dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas penulis dari kuliah umum yang disampaikan oleh Dr. Manabu Miyamoto.

Bagikan Artikel ini di:

Tingkat Pendidikan Orang Tua Sangat Berpengaruh terhadap Kualitas Pendidikan Seks Pada Anak

Bagikan Artikel ini di:

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya. Orang tua tidak hanya sekedar mendidik, melainkan juga harus selalu memberikan kualitas pendidikan lainnya (non formal) seperti pendidikan seks pada anak. Yang mana hal tersebut terkadang tidak diajarkan di sekolah formal. Padahal pendidikan seks merupakan bekal pergaulan di jaman modern saat ini agar tidak terjerumus kepada hubungan seks bebas atau tindakan kriminal [1].

Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa membicarakan mengenai seks pada anak adalah hal yang tabu, sehingga dari ketidak fahaman tersebut anak-anak merasa tidak bertanggung jawab dengan kesehatan anatomi tubuhnya. Selain masih tabu, orang tua beranggapan seks merupakan masalah yang akan diketahui dengan sendirinya oleh anak ketika sudah mencapai tingkat perkembangannya. Padahal yang diharapkannya ketika anak mendapat pendidikan seks dari orang terdekat yaitu orang tua maupun keluarga, maka anak akan tumbuh menjadi seorang remaja yang dapat mengetahui perkara yang dibolehkan atau tidak dibolehkan secara norma maupun agama.

Jika tidak diberitahu terlebih dahulu oleh orang tua, maka ada kecenderungan bahwa anak akan diberi pengetahuan seks yang keliru oleh teman, televisi, media sosial, internet, maupun lingkungannya. Salah satu contoh pendidikan seks pada anak adalah menjelaskan risiko jika anak atau remaja melakukan hubungan seksual sebelum waktunya (dibawah 20 tahun) dan bukan hanya pada 1 orang (berganti-ganti).

Adapun manfaat lain dari pendidikan seks pada anak yang diberikan oleh orang tua adalah:

  • Jika dilakukan dengan cara yang tepat, membahas tentang seks justru akan membuat anak menganggapnya sebagai hal yang penting. Anak akan menyadari bahwa tidak ada yang boleh memaksanya melakukan atau menerima perlakuan buruk pada tubuhnya.
  • Pemahaman yang tepat bisa membuat anak belajar untuk memilih, bersikap, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
  • Penelitian membuktikan bahwa anak dari orang tua yang mendiskusikan seks secara terbuka, lebih cenderung memilih menunggu waktu dan pasangan yang tepat untuk berhubungan seksual.
  • Pembelajaran anatomi tubuh pada mata pelajaran biologi di sekolah akan menjadi lebih lengkap dengan adanya orang tua yang memberikan pemahaman tentang aspek moral dari hubungan seksual antara pria dan wanita.
  • Seks adalah hal yang manusiawi. Di dalamnya terkandung banyak aspek mulai dari budaya, agama, moral, hingga konsep manusia tentang kebahagiaan. Membicarakannya dengan baik-baik akan membuat anak pada nantinya mampu melihat dunia dan diri sendiri secara beradab dan lebih bijak menentukan pilihan-pilihan yang tepat.

Dalam memberikan arahan maupun bimbingan kepada anak, orang tua harus lebih aktif dalam memberikan arahan maupun bimbingan mengenai pendidikan seks anak. Dari hasil penelitian (skripsi) yang dilakukan oleh Dewi Setyawati dari IAIN Surakarta membuktikan bahwa kualitas pendidikan seks pada anak sangat bergantung pada tingkat pendidikan orang tua [2].

Penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif yang dilaksanakan di Desa Kemasan Sawit Boyolali. Jumlah sampelnya sebanyak 40 kepala keluarga yang memiliki anak usia 7-10 tahun. Teknik Sampling menggunakan random sampling, pengumpulan data menggunakan angket.  Adapun komposisi tingkat pendidikan dalam sampel tersebut adalah orang tua yang tergolong memiliki tingkat pendidikan kategori tinggi (lulusan institut, perguruan tinggi, atau akademi) adalah 22,50%, tingkat pendidikan kategori sedang (lulusan SMA) adalah 40%, dan kategori rendah (lulusan SD dan SMP) adalah 37,50%.

Analisis hasil penelitian didasarkan pada skor kuesioner (angket). Jenis angket yang digunakan dalam penelitian adalah angket tertutup yakni pada tiap-tiap item telah tersedia alternatif jawaban, dimana responden tinggal memilih alternatif respon yang dianggap benar atau yang sesuai dengan keadaan dirinya.

Penyusunan angket menggunakan skala likert yaitu dengan menggunakan rentang mulai dari pernyataan sangat positif sampai pernyataan sangat negatif, alternatif jawaban adalah Selalu (S), Sering
(SR), Kadang (KD), Jarang (J) dan Tidak Pernah (TP).

Dengan berbagai pengujian seperti uji prasyarat analisis, uji homogenitas varian, dan uji hipotesis diperoleh hasil bahwa orang tua yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai nilai rata-rata 92,56, pendidikan menengah memiliki nilai rata-rata 82,88 dan pendidikan dasar mempunyai nilai rata-rata 75,73. Nilai maksimum adalah 100.

Adapun pertanyaan yang digunakan dalam angket tersebut adalah:

Lantas bagaimana dengan orang tua yang sudah tidak ingin melanjutkan pendidikan tapi tetap ingin  mendapat pendidikan seks pada anak yang berkualitas? Orang tua hendaknya aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti kegiatan PKK, penyuluhan, atau pengajian agar dapat mendapatkan wawasan yang lebih banyak mengenai cara mendidik anak dengan baik, salah satunya adalah pemberian pendidikan seks. Atau bisa juga secara mandiri melalui membaca buku-buku dengan topik pendidikan seks pada anak.

Referensi:

[1] Alodokter.com. Pendidikan Seksual untuk Anak. Diakses pada tanggal 21 Juli 2019.

[2] Dewi, S. and Hardi, S.P., 2017. PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP CARA MEMBERIKANPENDIDIKAN SEKS PADA ANAK DI DESAKEMASAN SAWIT BOYOLALI TAHUN AJARAN 2016/2017 (Skripsi, IAIN Surakarta).

Bagikan Artikel ini di:

“Berkhayal atau Berhitung Dahulu?” Bentuk Keresahan Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini

Bagikan Artikel ini di:

Membaca buku IPA karya Janice van Cleave atau Yohanes Surya, terpikir bahwasanya pelajaran pertama untuk ilmuwan masa depan adalah berkhayal. Sebagaimana ucapan Einsten bahwa khayalan atau imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Tak kalah penting pula penguatan jiwa sebagaimana ucapan Einstein, lagi, bahwa agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Lalu bagaimana isi buku kedua pengajar IPA terkemuka tersebut?

Contoh buku percobaan populer. Sebelah kiri karya Janice van Cleave dan sebelah kanan karya Yohanes Surya.

Pertama, tidak muncul hitung-hitungan dalam setiap percobaan. Bahkan keberadaan angka-angka untuk menjustifikasi keilmiahan karya tersebut seperti sangat dihindari. Petunjuk percobaan cenderung melalui gambar dan sedikit tulisan panduan. Ampuhkah? Terlihat bahwa murid-murid Yohanes Surya sudah tak terhitung yang lolos olimpiade sains, serta buku Janice van Cleave diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dengan pelaksanaan percobaan yang bisa langsung dilihat kenyataannya, maka bocah akan lebih mudah memperkirakan kejadian sesuai hukum alam atau sunnatullah. Maksudnya berkhayal secara ilmiah atas ibrah suatu kejadian. Setidaknya mampu mengira-ngira kapan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil terjadi.

Acara TV Hand Made yang pernah diputar di Trans7 adalah salah satu tayangan yang bagus untuk melatih kreativitas anak-anak.

Salahkah jika pelajaran hitung menghitung diberikan di awal? Tidak mesti! Ada siswa yang langsung menikmati sajian angka-angka dan tanpa beban mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ada siswa yang lebih memilih hidup merdeka dengan mengeksplorasi alam liar bersama bocah sebayanya. Secara umum, bocah lebih suka bermain daripada berpikir serius apalagi membuat perhitungan. Jangankan bocah, perekayasa yang sudah “gede” sekalipun mungkin tidak mau terlibat perhitungan selain menyerahkannya pada juru hitung atau cukup percaya data komputer. Seorang akuntan ahli pun bisa saja tak lagi melakukan pekerjaan kasar kasir tersebut.

Inginnya sih, anak-anak segera mampu berpikir sistematis praktis dan siap pakai alias bisa segera dimanfaatkan supaya dapat diperas otaknya.

Barangkali pembaca sekalian masih ingat masa kecil masing-masing, apakah paham seketika dengan apa yang diajarkan guru di sekolah? Ada kalanya orangtua memerintahkan ini itu kepada anak, sedangkan anak sendiri tidak tahu ini itu apa. lupa bahwa yang dihadapinya adalah bocah polos yang belum tahu banyak makna. Contohnya pada kisah dibuku karya Jamie, mengisahkan tentang si anak berkali-kali diperingatkan jangan berbelok ke tikungan, eh tapi ternyata si anak belum tahu apa itu tikungan [1].

Memang, ada bocah yang mampu saja melampaui pemikiran umumnya bocah seusianya. Siapa tak bangga anaknya dianggap cerdas oleh orang banyak seperti Musa Izzanardi Wijanarko yang masuk MIPA ITB ketika berusia 14 tahun [3] atau Nur Wijaya Kusuma yang masuk UGM ketika berusia 15 tahun [4]? “Siapa dulu yang ngelahirin” begitu mungkin kata ibunya sambil menepuk dada ?.

Jangan ambisius dulu, lihat potensi anak seperti apa! Jika “gesit” seperti orangtua kedua bocah di atas, tentu sangat menyenangkan. Kalau anaknya telmi, anaknya disuruh mengikuti birokrasi sekolah yang panjang dan menjemukan, akhirnya si anak menganggap sekolah hanya kutukan karena melihat banyak ketidakjujuran ketika ujian sekaligus bosan melihat Lembar Jawaban Komputer.[5]

Saya sendiri lebih memilih tidak terburu menuntut anak bisa berpikir layaknya orang dewasa. Apa mau bocah yang belum berani sunat sudah mengerti cara buat anak atau berkomplot kriminal? Jika memang demikian, pantaslah kurikulum sekolah dasar, bahkan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini zaman now yang semakin cepat matangnya dibuat secara high expectated dibanding high order melampaui kewajaran jalan pikiran anak-anak. Einstein yang dijuluki sang jenius pun dianggap sebagai pembelajar yang lambat (slow learner) selama sekolah. Einstein cenderung berpikir dengan caranya sendiri (yang diklaim oleh beberapa peneliti sebagai proses menikmati setiap detail) sedangkan sekolah memberi pemahamanan dengan cara berpikir guru semata yang cenderung cepat [6]. Dalam buku Growth Mindset karya Carol Dweck juga dijelaskan bahwa yang terpenting dalam proses belajar bukanlah kecepatan, tapi kepahaman!

Jadi sangat keliru ketika menjustifikasi seseorang atau anak sebagai orang yang “bodoh” karena lambat dalam belajar. Bisa jadi ia seperti Einstein, menikmati sedikit demi sedikit namun tertancap di otak. Atau seperti Abraham Lincoln sang presiden ke-16 Amerika Serikat yang sangat terkenal. Lincoln mengakui dirinya sebagai pembelajar yang lambat dalam quote yang cukup fenomenal berikut ini:

“Saya lambat dalam belajar dan juga lambat dalam melupakan apa yang telah saya pelajari. Otak saya seperti sepotong baja, sangat sulit untuk diukir di atasnya. Namun ketika telah diukir, maka hampir mustahil Anda untuk menghilangkan ukiran tersebut. ”

Menurut Kak Seto, anak dinyatakan benar-benar siap menghadapi kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya di atas 10 tahun. Sedangkan dari di usia kanak-kanak sampai sembilan tahun, ada baiknya anak diajarkan soal pembentukan karakter diri. Misalnya memantapkan etika dan estetika agar dia berbuat lebih baik dan santun. 

“Sebab kalau materi yang disajikan terlalu padat, yang ada siswa malah stres, etika rusak, menjadi pemarah. Dan sifat-sifat itu kan salah satu dasar prilaku anak berbuat tawuran,” jelasnya.

Pria yang akrab dengan boneka si Komo ini menambahkan, ada baiknya anak kelas I sampai III SD, belajar sambil bermain. Misalnya tempat belajar di alam bebas, sehingga ketika dia berhitung dia akan menghitung apa yang dia lihat bukan yang disajikan di buku, atau menghitung balok.

“Nah ketika kelas IV, sudah lebih serius,” tambahnya. [2]

Diakui atau tidak, pada masa ketatnya persaingan mendapat pekerjaan seperti saat ini menuntut orang dewasa untuk menjadikan anaknya lebih cerdas. Lebih cerdas yang oleh beberapa orang tua diterjemahkan secara konyol sebagai lebih awal disekolahkan, lebih awal dijejali matematika, dan lebih awal disodorkan teknologi. Kekonyolan tersebut membuat anak-anak sedikit atau tidak memiliki waktu untuk bermain. Padahal ketika anak masuk ke suatu lapangan permainan misalkan permainan mandi bola, orangtua tak perlu banyak mengatur. Biarkan mereka berimajinasi dalam dunianya sendiri sehingga kreativitas bisa terpicu dan nalar terbentuk secara simultan, karena ada pelampiasan otak dan otot yang masih panas.

Tidak mesti permainan yang melibatkan aktivitas fisik. Beberapa permainan komputer atau gadget (gawai) dapat pula merangsang kreativitas, meskipun masih ada banyak kekurangannya seperti menyebabkan kecanduan, berdampak buruk bagi kesehatan mata, dll. Adanya televisi dan gawai memerlukan penanganan lebih keras sebagaimana pernah dilakukan salah satu kepala desa di Magetan. Beliau berhasil meningkatkan prestasi anak-anak di wilayahnya dengan menerapkan jam belajar setelah maghrib hingga pukul 21.00 dengan melarang anak-anak menonton televisi atau bermain gawai pada rentang jam tersebut [8]. 

Menurut saya, permainan paling bermakna adalah permainan leluhur kita yang semakin tergerus zaman. Di antaranya adalah dakon, gobag sodor, bentengan, engklek, egrang, 3 daerah, petak umpet, ular-ularan, cublak-cublak suweng, dan masih banyak macam lainnya [7].

Dakonan, salah satu permainan tradisional yang mengajarkan pembagian kekayaan.
Sumber : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738

Pada sistem pendidikan Indonesia saat ini terutama pendidikan pada masa anak-anak dan remaja, saya rasa masih kurang dalam hal penanaman budi pekerti dan pengendalian diri. Padahal kedua hal tersebut sangatlah penting untuk menjadi manusia dewasa yang cerdas dan bermoral. Tak lupa pula pendidikan aqidah dan akhlak beserta kedisiplinan bagi generasi Islami.

Sia-sia menebang pohon untuk membuka jalan jika jalannya saja ternyata keliru [9]. Percuma berkompeten kalau digunakan untuk hal yang negatif, misalnya DPR yang dipilih oleh rakyat karena dirasa kompeten eh ternyata melakukan korupsi.

Referensi:

[1] Jamie C. Miller, 1998, Mengasah Kecerdasan Moral Anak melalui Permainan 10-menit, diterjemahkan dari judul 10-Minute Life Lessons for Kids:  52 Fun and Simple Games and Activities to Teach Your Child Trust, Honesty, Love, and Other Important Values, Penerbit Kaifa, Bandung.

[2] Lia Harahap, Kak Seto: Pelajaran siswa SD terlalu padat, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kak-seto-pelajaran-siswa-sd-terlalu-padat.html dibuka tanggal 26 Desember 2018

[3] Putra Prima Perdana, Ini Pola Belajar Bocah Izzan, Bocah 14 Tahun yang Masuk ITB Lewat SNMPTN, dari https://regional.kompas.com/read/2017/06/16/03200061/ini.pola.belajar.izzan.bocah.14.tahun.yang.masuk.itb.lewat.sbmptn dibuka 26 Desember 2018

[4] Ika, Nur Wijaya Kusuma Mahasiswa Termuda UGM Berusia 15 Tahun, dari https://www.ugm.ac.id/id/news/16768-nur.wijaya.kusuma.mahasiswa.termuda.ugm.berusia.15.tahun dibuka 26 Desember 2018

[5] Pengalaman pribadi melihat kesepakatan para guru dan kepala sekolah menyuruh para murid bekerjasama ketika ujian supaya peringkat sekolah tidak jatuh. Tindakan ini lumrah di banyak sekolah sebelum Ujian Nasional Berbasis Komputer diselenggarakan.

[6] Adiya Nor Kurniawan, 2017, Biografi Ilmuwan Modern Barat & Muslim, Azka Presindo, Surakarta.

[7] Luluk, Cara Melestarikan Permainan Tradisional, dari https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738 dibuka 25 Desember 2018

[8] Rijal Mumazziq Zionis, penting kita perhatikan adalah mengontrol akses terhadap televisi, http://www.penerbitimtiyaz.com/blog/penting-kita-perhatikan-adalah-mengontrol-akses-terhadap-televisi/ dibuka 25 Desember 2018

[9] Kisah ini diuraikan Professor Steven Franklin Covey, pengarang “7 Habits” dan “First Thing First” yang saya tonton dalam kuliah Pandangan Dunia yang belum bisa diumumkan. Materi yang serupa terinspirasi dari beliau dapat ditonton di The Clock vs. The Compass by Dan Hawkins | Life Leadership

Bagikan Artikel ini di: