Saintis dalam Pusaran Kebijakan Publik

Konflik antara fakta sains dan kepentingan politik

Dalam menentukan arah perkembangan suatu bangsa, kebijakan publik sangat diperlukan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Kebijakan publik yang ditetapkan seharusnya didasari atas aspirasi seluruh pihak yang dipengaruhi oleh kebijakan tersebut, termasuk saintis. Saintis dalam setiap perumusan kebijakan selalu diikutsertakan sebagai ahli untuk mencegah kebijakan yang terbentuk melenceng dari kebenaran sains yang ilmiah. Namun, dalam ruang perumusan yang penuh dengan orang dari berbagai macam latar belakang, mulai dari politisi, advokat, aktivis hingga perwakilan masyarakat cenderung menyulitkan para saintis untuk mengomunikasikan gagasannya. Tidak hanya saintis, politisi sebaliknya juga mengalami kesulitan yang sama ketika berinteraksi dengan para saintis.

William Sutherland, seorang zoologis dan David Spiegelhalter, seorang matematikawan yang keduanya berasal dari Universitas Cambridge serta Mark Burgman, seorang ekologis dari  Universitas Melbourne menerbitkan sebuah artikel di Nature tentang dua puluh hal yang harus dipahami politisi ketika merumuskan kebijakan bersama para saintis. Artikel ini bertujuan agar para politisi dapat memahami penjelasan saintis yang berbasis data sehingga mampu menghasilkan produk kebijakan yang lebih baik.[4]

Secara umum, kedua puluh hal tersebut berisi penjelasan tentang metode penelitian dan metode statistik yang dipakai para saintis. Mulai dari bias data, jumlah populasi, sampel acak, hingga penggunaan variabel penelitian juga dijelaskan di sini. Selain itu juga diterangkan bahwa saintis adalah manusia yang juga memiliki preferensi personal. Politisi juga diminta untuk memaklumi karena perhitungan sains tidak ada yang seratus persen benar dan ada kemungkinan kesalahannya, namun tetap valid.[4]

“Politisi itu cerdas, penuh strategi, tetapi mereka kurang memerhatikan sains,” kata Burgman kepada Guardian Australia. Ia juga menambahkan bahwa para politisi merasa terintimidasi dan mengabaikan fakta sains. Dalam kondisi komunikasi yang sulit antara saintis dan politisi, ia berharap politisi memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan melaksanakan setiap masukan dari saintis.[4]

Seakan tidak terima dengan justifikasi oleh ketiga saintis tersebut, Dr. Chris Tyler, kepala kantor sains dan teknologi di Parlemen Inggris menuliskan dua puluh hal yang harus dipahami saintis ketika merumuskan kebijakan bersama politisi. Ia mengatakan bahwa saintis terlalu sering menyalahkan politisi dalam kesulitan yang dihadapi ketika menyusun kebijakan. Hal seperti ini tidaklah tepat karena saintis juga harus membuka diri untuk memahami politisi yang memang bertugas menyusun kebijakan.[3]

Hal serupa sebenarnya juga terjadi dalam interaksi antara saintis dan media massa. Fiona Fox, direktur Science Media Center telah berulang kali menyatakan bahwa media akan memperlakukan sains dengan lebih baik ketika para saintis juga memperlakukan media dengan lebih baik. Chris percaya bahwa hal yang sama berlaku untuk koneksi antara sains dan kebijakan.[3]

Kedua puluh hal tersebut menjelaskan bahwa menyusun kebijakan bukanlah hal yang mudah bagi politisi. Ada banyak proses politik yang kompleks di dalamnya. Chris juga menjelaskan bahwa penyusunan kebijakan berasal dari latar belakang yang berbeda dan masing-masing politisi yang terlibat dipilih oleh rakyat dengan karakter yang berbeda pula. Hal ini menuntut saintis untuk menghormati hakikat politisi yang juga manusia sehingga bisa melakukan kesalahan dan memiliki preferensi personal sesuai suara rakyat yang mendukungnya. Menurut Chris, sains bukanlah hal yang paling diutamakan, malahan ekonomi dan hukum selalu menjadi yang terpenting dalam perumusan kebijakan.[3]

Dalam artikel penulis sebelumnya yang berjudul “Perubahan Iklim : Saintis Harus Mulai Memahami Politik,” dijelaskan bahwa seorang saintis harus bisa mengendalikan politik untuk menciptakan pengaruh bagi masyarakat. Pengaruh dalam bentuk partisipasi masyarakat ini sudah pasti akan mempengaruhi proses penyusunan kebijakan. Penjelasan tentang perubahan iklim yang awalnya bersifat penelitian sains memang sulit dipahami para politisi. Namun jika masalah perubahan iklim menimbulkan fenomena sosial seperti demonstrasi maupun kampanye media sosial, politisi akan paham bahwa ini merupakan masalah penting yang harus diselesaikan dengan menyusun kebijakan yang membantu mengatasi perubahan iklim.

Peran saintis dalam penyusunan kebijakan diharapkan dapat menghasilkan evidence based policy (kebijakan berdasarkan sains), namun kecenderungan yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump lebih mengutamakan policy-based evidence yang justru melawan kebenaran sains. Hal ini disebabkan oleh kedekatannya dengan para pengusaha yang sering merusak lingkungan sehingga Donald Trump akan melawan siapa pun yang menentang kebijakannya termasuk para saintis.[2]

Sains memiliki otoritas epistemik yang berarti sains merupakan metode terbaik yang dimiliki manusia untuk mengungkap kebenaran dunia. Kebenaran sains yang telah terdistribusi dengan baik ke masyarakat akan menghasilkan gerakan politik yang mungkin mengancam kepentingan pemerintah dan pengusaha. Oleh karena itu, sains sering menjadi target serangan bagi politis. Donald Trump pun benar-benar menunjukkan sikapnya yang anti-sains dengan tidak ada satu pun kabinetnya yang memiliki gelas S3 bidang sains. Bahkan Scott Pruitt, saintis yang skeptis terhadap perubahan iklim dan dekat dengan pengusaha energi justru dicalonkan menjadi Kepala Badan Perlindungan Lingkungan (EPA).[2]

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah pada interaksi saintis dan politisi dalam perumusan kebijakan publik. Cara yang pertama dan terpenting adalah meningkatkan pengetahuan dan taraf pendidikan masyarakat sehingga kepercayaannya terhadap sains meningkat. Dalam demokrasi, kebijakan sangat ditentukan oleh mayoritas suara rakyat. Jika seluruh rakyat paham akan sains maka mereka akan menuntut politisi yang mereka pilih untuk menyuarakan sains dalam perumusan kebijakan.

Saintis yang terlibat langsung dalam perumusan kebijakan perlu memiliki keterampilan networking yang baik. Hal ini diperlukan untuk menambah dukungan dari berbagai pihak terhadap kebijakan berbasis sains. Selain itu, saintis yang terlibat perlu menjaga komunikasi dengan para politisi agar tidak saling menyalahkan satu sama lain yang berujung menjadi kebijakan salah arah. Saintis tidak boleh merasa superior dengan mengisolasi diri dalam komunitasnya. Peningkatan kualitas saintis sangat diperlukan dalam hal ini, bukan peningkatan kuantitas.[1]

Referensi

[1] https://theconversation.com/how-to-improve-governments-use-of-science-90586 (diakses 17 Oktober 2019)

[2] https://theconversation.com/why-politicians-think-they-know-better-than-scientists-and-why-thats-so-dangerous-72548 (diakses 17 Oktober 2019)

[3] https://www.theguardian.com/science/2013/dec/02/scientists-policy-governments-science (diakses 16 Oktober 2019)

[4] https://www.theguardian.com/science/2013/nov/20/top-20-things-politicians-need-to-know-about-science (diakses 16 Oktober 2019)

Sumber gambar :

https://blogs.plos.org/thestudentblog/2017/03/31/where-science-and-policy-collide-funding-academic-research/ (diakses 1 Desember 2019)

Mengenal Kebencian Melalui Sains

Ilustrasi Kebencian

Otak manusia mempunyai kemampuan untuk merasakan berbagai emosi, salah satunya adalah rasa benci. Emosi kebencian yang kuat dapat mendorong manusia untuk menghancurkan sumber kebencian tersebut. Bagaimana sains memandang kebencian ini?

Kebencian (dalam bahasa Inggris, merujuk kepada hatred), adalah emosi negatif dalam diri manusia terhadap suatu objek. Orang yang menyimpan rasa benci ini memandang objek tersebut sebagai sesuatu yang buruk, tidak mempunyai moral, berbahaya, atau perpaduan dari segala hal tersebut (Staub, 2003). Kebencian adalah emosi alamiah dari diri manusia. Alasan manusia membenci suatu objek memang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

Salah satu faktornya adalah mekanisme survival, dalam hal ini, kebencian berperan sebagai insting manusia untuk menyelamatkan diri dari ancaman yang masuk dalam kehidupannya. Kebencian mempunyai hubungan yang kuat dengan hubungan antara diri manusia itu sendiri, riwayat pribadi, dan menimbulkan efek pada kepribadian, perasaan, ide, kepercayaan dan identitas. Peneliti tingkah laku manusia, Patrick Wanis, mengungkapkan bahwa ketika manusia merasa terancam dengan kehadiran akan sesuatu atau seseorang yang dianggap sebagai sosok “asing”, secara insting manusia akan mencari perlindungan ke dalam kelompoknya. Upaya ini adalah wujud dari mekanisme survival. Kebencian ini, dengan kata lain, bisa disebabkan oleh “cinta” dan “agresi”. Manusia akan melindungi hal-hal yang dianggap sejalan dengannya (in-group) dan cenderung melakukan tindakan agresi pada hal-hal yang dianggap berbeda (out-group), berbahaya dan mengancam kelangsungan diri dan kelompoknya.

Selain mekanisme survival atas ancaman pihak luar, kebencian dapat lahir karena “projeksi”. Dalam istilah psikologi klinis, “projeksi” ini adalah penggambaran kebencian orang lain yang sebenarnya terdapat dalam orang itu sendiri. Contohnya, pernah kah Anda mendengar seorang siswa populer di sekolah, mempunyai wajah rupawan, pintar, berprestasi, akan tetapi mendapat banyak omongan tidak mengenakkan dari orang-orang sekitarnya? Hal ini, secara sederhana, terjadi karena para pembenci tidak mempunyai nilai lebih yang dimiliki oleh orang yang mereka benci.

Setelah agresi terhadap objek yang dibenci berlangsung, apakah kebencian berhenti begitu saja? Ternyata tidak. Sekali tindakan kebencian itu dilakukan, justru rasa benci itu berkembang. Karakter dari rasa benci itu adalah kebutuhan untuk semakin mencederai korban secara terus-menerus, sampai korban kehilangan nilai moral dan kemanusiaan di mata pembenci. Pembenci akan sering menanamkan rasa benci itu melalui ujaran kebencian, propaganda, dan segala upaya untuk mengajak orang yang lebih banyak untuk menambah jumlah pembenci objek tersebut. Tidak jarang, tindakan kekerasan juga dilakukan untuk menyingkirkan secara fisik korban tersebut. Sejarah banyak mencatat penghapusan secara paksa etnis di dunia, dan beberapa kasus kekerasan di lingkungan masyarakat yang berujung pada hilangnya nyawa korban.

Ilustrasi Pengungsi Rohingya, Myanmar. Foto oleh Fred Dufour (Getty Images, AFP)

Rasa benci juga bisa menjadi sesuatu yang sangat personal. Kita tentu saja pernah mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan yang dilakukan oleh seseorang kepada kita. Perasaan negatif yang ditimbulkan oleh trauma masa lalu turut berkontribusi dalam memicu perasaan benci. Dalam sebuah observasi, sebuah gagasan otomatis yang terdapat pada sistem otak manusia banyak berperan dalam menciptakan permasalahan emosional. Terdapat dua faktor yang membiaskan atau melebih-lebihkan interpretasi pemikiran kita dalam menerima sebuah informasi.

  1. Manusia berpeluang besar mengalami distorsi kognitif, sehingga semua informasi yang kita terima menjadi hal yang tidak sebenarnya, sehingga hal ini berpengaruh kepada bagaimana seseorang menerjemahkan sesuatu yang terjadi pada dirinya. Contohnya, orang yang mempunyai kecenderungan pemarah, akan memandang hal yang terjadi di lingkungannya dengan cara yang egosentris. Kecenderungan ini menimbulkan pertanyaan seperti “Mengapa hal ini terjadi pada saya?” dan terkadang menimbulkan asumsi berlebihan terhadap orang lain, contohnya dengan pertanyaan, “Teman-teman saya tidak pernah ada untuk saya”
  2. Faktor kedua yaitu kecenderungan untuk menerjemahkan peristiwa yang terjadi dengan kepercayaan pribadi kita dan asumsi yang didapatkan berdasarkan pengalaman yang didapat sebelumnya. Hal ini juga berkaitan dengan pertanyaan kepada diri sendiri yang sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak tentu terjadi, seperti “saya tidak dihargai orang lain” serta beberapa pengandaian yang sebenarnya tidak diperlukan, seperti “jika saya tidak ikut A, maka saya akan terkucilkan”.

Faktor kepercayaan ini lama-lama akan tertanam dalam diri dan pada akhirnya akan membentuk kepribadian manusia. Lalu, apakah ada cara untuk mengecilkan rasa benci di dalam diri manusia? Tentu saja ada. Berikut ini adalah beberapa cara menurut ilmu Psikologi untuk mengecilkan (atau bahkan menghilangkan) rasa benci.

  1. Selalu mencari kebenaran informasi yang diterima.
  2. Memaklumi proses yang terjadi di kehidupan orang di sekitar, sebab semua orang terlahir dengan keadaan yang baik, akan tetapi berada di lingkungan dan perjalanan hidup yang berbeda dengan diri kita.
  3. Mengendalikan diri apabila emosi menguasai.
  4. Memaklumi diri sendiri dan menghargai proses yang ditempuh diri dalam perjalan hidup.
  5. Apabila tidak sanggup melakukan beberapa hal di atas, Anda bisa menjauh sejenak untuk menjernihkan pikiran agar Anda tetap bisa berpikir tenang menyaring informasi terhadap lingkungan tersebut.

Rasa benci merupakan reaksi naluriah otak yang bermula dari rasa tidak suka. Tentu saja, sebagai manusia yang dianugerahi kemampuan untuk beremosi, rasa benci merupakan suatu hal yang alamiah dan tidak dapat dihindari. Akan tetapi, rasa benci dapat dikendalikan, atau bahkan dikecilkan. Selamat mencoba!

Sumber:

  1. John Kim (2017) How to Not Hate People, Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-angry-therapist/201701/how-not-hate-people (Diakses  24 November 2019).
  2. Jose I.N., et al. (2013) ‘The Psychology of Hatred ‘, The Open Criminology Journal, 6(1874-9178/13 ), pp. 10-17.
  3. Allison A. (2017) The Psychology of Hate, Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/nurturing-self-compassion/201703/the-psychology-hate (Diakses 20 November 2019).

Apa itu Humor dan Mengapa Kita Tertawa? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Apa itu Humor dan Mengapa Kita Tertawa? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Humor adalah bentuk motivasi sosial dan cara mengekspresikan kebencian. Humor menyediakan sarana untuk mengekspresikan diri dan mencapai agresi, karena humor “dianggap tidak serius.” Humor sering melibatkan konten agresif dan digunakan untuk menunjukkan superioritas. Humor juga dapat digunakan untuk meningkatkan status sosial. Namun, substansi saraf yang mendasari kognisi sosial dan agresi reaktif humor yang mewakili daya tarik afektif belum dapat dipahami dengan baik.[2] Humor juga sering dilabeli dengan attention-gaining strategy, serta cara menciptakan efek positif.[5]

Humor adalah stimulus yang sering ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari dan evaluasi materi humor dapat dianggap sama dengan kehidupan nyata.[7] Humor juga dapat dikatakan sebagai apapun yang seseorang katakan atau lakukan, yang dianggap lucu dan dapat membuat orang lain tertawa.[4] Humor dapat digunakan sebagai cara mengomunikasikan gagasan dan memperkuat hubungan. Selain itu, humor juga dapat meningkatkan harmoni kelompok dan mengekspresikan agresivitas dengan cara yang positif.[9] Humor juga dapat digunakan sebagai media paling penting dan fleksibel untuk interaksi sosial serta juga mampu mengurangi tekanan dalam hidup seseorang.[3][7] Oleh karena itu, penting untuk mengekspresikan dan memahami humor untuk dapat berkomunikasi dengan lebih efektif.[7]

Martin & Kuiper (2016) menyebutkan bahwa humor terdiri dari beberapa aspek yaitu :

  1. Kognitif

Otak Manusia

Aspek kognitif yaitu persepsi ketidaksesuaian, yang juga disebut sebagai “bisociation” atau “cognitive synergy”. Hal ini tampaknya melibatkan aktivasi simultan dari dua atau lebih interpretasi yang tidak sesuai dari suatu situasi dalam pikiran. Ini juga cenderung dikaitkan dengan kerangka berpikir yang menyenangkan dan tidak serius, yang mana hal-hal tersebut dipandang kurang penting atau lebih mengagumkan daripada biasanya. Unsur-unsur kognitif inilah yang membuat sesuatu menjadi lucu.[10]

2. Komponen emosional

Komponen emosional adalah proses kognitif yang mengaktifkan respons emosional yang unik, disebut sebagai “mirth”. Dalam bahasa Inggris, kata “mirth” tampaknya sempurna sebagai istilah teknis untuk aspek emosional humor. Mirth berhubungan dengan sukacita, tetapi agak berbeda karena unsur “funniness” yang terlibat. Hal ini disertai dengan aktivasi dopamine reward circuit dalam sistem limbik serta berbagai respons otonom dan endokrin. Inilah yang membuat humor begitu menyenangkan.[10]

Keadaan Emosional

3. Sosial atau interpersonal

Komunikasi Interpersonal

Humor dapat menjadi kegiatan sosial yang fundamental. Kita jauh lebih mungkin untuk tertawa dengan orang lain daripada saat sendirian dan sebagian besar humor muncul sebagai respon terhadap perilaku orang lain atau sifat mirip manusia pada hewan. Dari perspektif evolusi, humor berkembang sebagai mekanisme untuk meningkatkan kohesi kelompok.[10]

4. Tawa

Aspek tawa sebagai ekspresi non-verbal terprogram atau cara mengomunikasikan emosi kegembiraan. Tawa juga terjadi pada primata lain, sehingga memiliki sejarah evolusi panjang, yang terjadi jauh sebelum kita berevolusi dalam hal bahasa dan kemampuan kognitif lainnya yang lebih tinggi. Tawa adalah cara kita memberi tahu orang lain tentang kegembiraan yang kita alami dan mampu menciptakan emosi yang sama, yang juga dirasakan oleh pendengar. Ini adalah alasan mengapa tawa sangat menular. Tawa yang kuat juga dapat memperkuat emosi kegembiraan. Biasanya, hal ini terjadi ketika orang-orang berada dalam kelompok kecil, yang membuat mereka terlibat dalam serangan tawa intens yang sangat menyenangkan dan mampu menciptakan perasaan kuat akibat dari kohesi kelompok.[10]

Mimik Saat Tertawa

Proses pemahaman humor mirip seperti proses pemecahan masalah yang kompleks dan terdiri dari tiga tahap, yaitu: constructing, reckoning, dan resolving.[8] Teori kedua menyebutkan ada tiga tahap juga, tetapi sedikit berbeda dalam hal penyebutan, yaitu: incongruity detection, incongruity resolution, dan feelings of amusement during humor elaboration.[1] Teori yang lain menyebutkan bahwa pengolahan humor terdiri dari dua tahap: incongruity detection (tahap pertama) dan incongruity resolution (tahap kedua).[6] Oleh karena itu, humor membutuhkan proses yang kompleks dan proses berpikir tingkat tinggi yang melibatkan kognitif, perilaku, fisiologis, emosional, dan sosial.[4]

Menurut Weems (2014), humor merupakan proses berpikir yang kompleks dan tercipta melalui tiga tahapan yang terjadi di dalam otak, yaitu:

  1. Constructing

Tahap ini menunjukkan seberapa aktif kita dalam memproses lingkungan sekitar. Saat memecahkan masalah, kita tidak hanya mencari ingatan tentang kemungkinan solusi yang sudah ada. Sebaliknya, otak akan bekerja menghasilkan banyak kemungkinan jawaban, beberapa solusi berguna (membahagiakan) dan yang lainnya tidak (menyakitkan). Hal serupa terjadi saat kita berusaha memahami lelucon. Dalam tahap ini, otak akan membangun teori, persepsi, atau harapan dari informasi yang diterimanya. Anterior cingulate cortex (ACC) sangat berperan penting dalam tahap ini.[8]

Anterior Cingulate Cortex

Anterior cingulate cortex di dalam otak berfungsi sebagai pengawas seluruh kegiatan otak, lokasinya di atas corpus callosum dan menggabungkan dua hemisfer cerebral. Di bagian depan ACC adalah lobus frontal, pusat penalaran utama dan area yang bertanggung jawab untuk mengendalikan gerakan tubuh. Bagian belakang ada lobus parietal dan temporal, yang membantu penalaran, serta fungsi bahasa dan memori, dan sebagai bagian dari wilayah limbik otak, ACC terhubung erat dengan amigdala, nucleus accumbens, dan ventral tegmented area (VTA), yaitu daerah yang merupakan inti dari dopamine reward circuit. Anterior cingulate cortex akan lebih aktif daripada bagian-bagian otak yang lain ketika ada suatu masalah, karena ia tidak akan terstimulus untuk mencari solusi seketika, namun lebih berorientasi untuk mengontrol atau menangani masalah.[8]

Spesialisasi tugas anterior cingulate cortex tergambar melalui fenomena stroop effect. Fenomena ini membuktikan bahwa kita masih mampu mengenali warna dalam sebuah kata-kata yang dicetak dengan tinta yang berbeda, misalnya: B-I-R-U, dicetak dengan tinta merah. Pikiran alami manusia selalu berkeinginan untuk membaca. Maka, kita menjadi lebih lambat dan kurang akurat dalam menginterpretasi warna yang tercetak dalam kata tersebut. Anterior cingulate cortex bertugas mengontrol regio otak, supaya saat membaca menjadi tetap tenang. Kemudian, ACC akan membiarkan bagian otak lain yang berfungsi untuk mengenali sebuah warna dan menganalisis warna dalam kata tersebut. Namun, dalam suasana hati yang kurang baik, stroop effect akan menghilang karena kinerja ACC dipengaruhi mood (suasana hati) dan happiness (kebahagiaan). Suasana hati yang positif akan membantu ACC untuk menolak respons yang tidak diinginkan.[8]

Manusia tidak hanya menerima informasi begitu saja, namun lebih condong membuat informasi dengan cara membuat teori-teori baru dengan informasi yang sudah ada, kemudian merevisi kembali informasi tersebut jika diperlukan. Semua kejadian ini berhubungan dengan pemahaman humor tentang bagaimana persepsi kita terhadap suatu hal atau informasi yang kita miliki tentang suatu hal atau teori. Oleh karena itu, jika ada suatu hal yang muncul dengan sudut pandang yang tidak sesuai dengan persepsi kita, maka terciptalah humor. Dalam tahap ini, humor mempengaruhi persepsi maupun informasi yang sudah kita simpan di dalam otak kita.[8]

2. Reckoning

Bagian terpenting dari humor adalah kejutan. Kesenangan muncul ketika kita memulai persepsi tentang sesuatu dengan asumsi yang salah, kemudian argumen kita dipatahkan dengan punch line yang mengejutkan. Reckoning adalah proses evaluasi kembali mispersepsi, yang menggiring ke sebuah kejutan yang menggembirakan. Kejutan merupakan suatu emosi yang bernilai, sebagai dasar dari kebahagiaan atau kebanggaan. Dopamin dan ACC sangat aktif di tahap ini. Humor membutuhkan punch line untuk membuatnya menjadi sesuatu yang lucu. Pada tahap ini, otak memperhitungkan semua kemungkinan kesalahan yang mungkin dibuat dalam interpretasi suatu informasi.[8]

3. Resolving

Humor tidak cukup hanya memuat kejutan, namun juga dibutuhkan perubahan perspektif. Dalam tahap ini, seseorang akan menyelesaikan suatu pemahaman humor dengan perspektif yang berbeda. Otak berusaha mencari tahu mengapa informasi yang sebenarnya atau yang ada dalam persepsinya tidak sesuai dengan kerangka acuan aslinya. Penyelesaian dari pengolahan informasi ini adalah sebuah kejutan yang melibatkan kemampuan kognitif. Pada akhirnya, sesuatu yang kita anggap lucu akan membuat kita tertawa dan kita juga merasa bahagia akibat dopamin yang dihasilkan dalam proses memahami humor.[8]

Wah, ternyata tertawa merupakan hasil dari pengolahan segala informasi yang sangat rumit di dalam otak kita. Menarik bukan?

Baca juga : Film Joker (2019): Analisis Penyebab Gangguan Jiwa Pada Arthur Fleck

Referensi:

[1] Chan YC, Chou TL, Chen HC, Yeh YC, Lavallee JP, Liang KC, dan Chang KE, 2013, Towards a Neural Circuit Model of Verbal Humor Processing: An fMRI Study of The Neural Substrates of Incongruity Detection and Resolution, Neuroimage.

[2] Chan YC, Liao YJ, Tu CH, dan Chen HC, 2016, Neural Correlates of Hostile Jokes: Cognitive and Motivational Processes in Humor Appreciation, Frontier in Human Neuroscience, Vol.10.

[3] Kao JT, Levy R, dan Goodman ND, 2015, A Computational Model of Linguistic Humor in Puns, Cognitive Science.

[4] Martin RA, 2007, Introduction to the Psychology of Humor, In : Martin RA, The Psychology of Humor: An Integrative Approach, 1st edn, Elsevier Academic Press, United States of America.

[5] Savage BM, Lujan HL, Thipparthi RR, dan DiCarlo SE, 2017, Humor, Laughter, Learning, and Health! A Brief Review, Advances in Physiology Education, Vol. 41.

[6] Shibata M, Terasawa Y, Osumi T, Masui K, Ito Y, Sato A, dan Umeda S, 2016, Time Course and Localization of Brain Activity in Humor Comprehension: an ERP/sLORETA study, Brain Research, Vol. 6.

[7] Vrticka P, Black JM, dan Reiss AL, 2013, The neural basis of humour processing, Nature Reviews Neuroscience, Vol.14.

[8] Weems S, 2014, The Kick of The Discovery, In : Weems S, The Science of Why We Laugh dan Why, 1st edn, Basic Books, United States of America, pp. 39-58.

[9] Wu CL, Zhong S, Chan YC, Chen HC, dan He Y, 2018, White-Matter Structural Connectivity in Relation to Humor Styles: An Exploratory Study, Frontiers in Psychology, Vol. 9, Article : 1654.

[10] Martin R, Kuiper NA, 2016, Three Decades Investigating Humor and Laughter: An Interview With Professor Rod Martin, Europe’s Journal of Psychology. Vol. 12(3), pp. 498–512.

Sumber gambar:

https://id.pinterest.com/pin/170292429646339636/

https://id.pinterest.com/pin/265008759311758340/

https://id.pinterest.com/pin/377528381242058251/

https://id.pinterest.com/pin/633952085031532215/

https://en.wikipedia.org/wiki/Anterior_cingulate_cortex#/media/File:Gray727_anterior_cingulate_cortex.png

Mengapa Seseorang Menolong?

Mengapa Seseorang Menolong?

Menolong merupakan salah satu perilaku prososial yang dilakukan oleh seseorang untuk orang lain. Perilaku menolong juga dikenal dengan istilah altruisme atau altruistik. Tentunya dengan memberikan pertolongan, kita memberi keuntungan kepada pihak yang ditolong. Tidak jarang kita menemukan perilaku menolong dalam kehidupan sehari-hari yang justru memberikan dampak bahaya atau kerugian lainnya pada pihak yang memberikan pertolongan. Sehingga timbul pertanyaan “mengapa seseorang menolong?”.

Baca juga: Bom Atom dan Penyesalan Einstein

Alasan orang menolong sangat beragam. Mulai dari alasan sederhana hingga alasan yang kompleks dan rumit. Sederhananya seseorang menolong karena merasa iba, sehingga muncul motivasi untuk memberi bantuan (menolong). Alasan kompleksnya, seseorang menolong agar dianggap baik demi mendongkrak popularitas atau agar dapat mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya (menang pemilu, misalnya). Melalui tulisan ini, kita akan mengulas secara ilmiah alasan dibalik perilaku menolongnya seseorang.

  1. Seseorang cenderung menolong kerabat atau orang lain yang memiliki kedekatan dengan dirinya.

Menurut salah satu kajian teori evolusi yang bernama “Kin Protection (Perlindungan Kerabat)” tentang perilaku menolong, seseorang memiliki kecenderungan yang tinggi untuk memprioritaskan pertolongan kepada kerabat atau orang-orang terdekatnya. Hal ini masih sejalan dengan konsep teori Darwin, terkait kelangsungan hidup, bahwa dengan memberikan pertolongan pada kerabat atau orang terdekat memiliki peluang yang lebih besar untuk melestarikan gen dari keturunan tersebut.

Lebih dalam, Al-Qur’an tanpa diragukan lagi kebenarannya telah mengajarkan kita untuk senantiasa memberikan pertolongan kepada kerabat-kerabat atau orang terdekat kita yang membutuhkan pertolongan. Hal ini terdapat dalam Q.S Al-Baqarah (2): 177 dan Q.S. Al Isra’ (17): 26. Juga diperjelas oleh Rasulullah SAW melalui hadist. Hal ini lebih menguatkan alasan kenapa seorang muslim (terutama) memberikan prioritas lebih untuk menolong kerabat atau orang terdekatnya, baru setelahnya orang lain yang memerlukan pertolongan.

  1. Seseorang menolong untuk ditolong kembali.

Wajar saja jika seseorang memberikan pertolongan kepada orang lain dengan harap akan ditolong kembali ketika sewaktu-waktu ia mengalami kesusahan. Konsep perilaku menolong yang satu ini dijelaskan dalam teori timbal-balik biologis (biological resiprocity). Menurut teori ini, seseorang memberikan pertolongan sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu dirinya mengalami kesusahan, orang yang pernah ditolongnya tersebut akan memberi pertolongan.

Dalam konsep perilaku menolong ini, timbul kekhawatiran pada diri seseorang jika ia tidak memberikan pertolongan, kemungkinan orang tersebut juga tidak akan mendaapat pertolongan disaat mengalami kesusahan. Konsep diri yang seperti ini menghadirkan motivasi untuk menolong orang lain yang mengalami kesusahan. Pertolongan yang diberikan juga tidak sebatas hanya menolong kerabat atau orang terdekat saja, tapi lebih mencakup lingkungan secara lebih luas.

 

  1. Seseorang menolong karena melihat orang lain menolong.

Motivasi menolong yang demikian dijelaskan dalam teori belajar sosial (social learning theory).   Sesuai dengan konsep teori ini, bahwa seseorang menolong karena adanya proses belajar melalui observasi terhadap orang lain yang dianggap sebagai tokoh prososial (versi pribadi). Dari proses belajar tersebut, muncullah motivasi dalam diri seseorang untuk meniru perilaku prososial tokoh tersebut. Alhasil seseorang yang melakukan proses belajar tadi, turut berperilaku prososial, salah satunya memberi pertolongan pada orang lain.

Namun perlu digarisbawahi, dalam teori belajar, apa yang tampak sebagai altruis bisa saja mengandung kepentingan pribadi yang terselubung. Kepentingan pribadi ini dapat berupa hal yang positif atau buruknya dapat berupa suatu kepentingan yang mengarah pada hal negatif. (Deaux, Dane, dan Wrightsman, 1993) memberikan contoh bahwa seseorang mungkin merasa lebih baik setelah memberikan pertolongan, atau orang menolong untuk menghindari perasaan bersalah atau bisa jadi karena hal-hal tertentu ia menghindari perasaan malu bila tidak menolong.

  1. Seseorang menolong untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Perilaku menolong yang seperti ini merupakan perilaku prososial yang mengharapkan pamrih. Pamrih yang diharapkan bisa berupa materi (misalnya, uang atau jenis harta lainnya) bisa juga berupa nonmateri (misalnya, penghargaan, pujian, prestise, dan lain-lain). Perilaku ini dijelaskan dalam teori pertukaran sosial (social exchange theory). Teori ini mengatakan bahwa interaksi sosial yang dibangun menekankan pada prinsip untung-rugi.

Dalam hal ini, perilaku menolong sangat mempertimbangkan keuntungan dan kerugian bagi pelakunya. Tokoh prososial yang menganut konsep ini dalam perilaku menolongnya, sangat memperhitungkan keuntungan (ganjaran) yang diterima dengan kerugian yang akan dikeluarkannya. Semaksimal mungkin ia menekan kerugian untuk mendapatkan keuntungan atau ganjaran atas perilakunya yang sebesar-besarnya, mirip seperti prinsip ekonomi. Inti dari motivasi menolong yang satu ini adalah kuat didasari oleh kepentingan pribadi (self-interest).

  1. Seseorang menolong karena empati terhadap penderitaan orang lain.

Hipotesis empati-altruistik dalam teori empati mengungkapkan bahwa salah satu hal yang memotivasi seseorang untuk melakukan perilaku menolong adalah perasaan empati. Melalui perhatian yang diberikan terhadap penderitaan orang lain, menghasilkan tindakan untuk mengurangi penderitaan tersebut. Inti dalam teori ini, seseorang menolong orang lain karena orang lain sedang butuh pertolongan dan dengan berbuat baik, tokoh prososial bisa merasakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

  1. Seseorang menolong untuk menghindari perasaan negatif.

Permodelan perilaku menolong yang seperti ini dinamakan sebagai negative-state-relief model atau model mengurangi perasaan negatif. Ketika melihat penderitaan orang lain mungkin saja seseorang merasakan ketidaknyamaanan, semisal terganggu, risih, atau perasaan tidak nyaman lainnya. Contohnya, ketika ada seorang pengemis di depan rumah, mungkin saja ada seseorang yang merasa tidak nyaman atau terganggu atas kehadiran pengemis tersebut. Sehingga ia memberi sejumlah uang pada pengemis tadi, dengan tujuan agar pengemis tersebut cepat meninggalkan rumahnya.

Perilaku menolong yang dicontohkan dalam ilustrasi di atas merupakan salah satu bentuk pemodelan perilaku menolong untuk mengurangi perasaan negatif. Bagi orang yang ditolong perilaku tersebut termasuk mencerminkan prososial, namun siapa sangka jika terdapat ketidaknyamanan atas kehadiran pengemis dalam hati kecil tokoh prososial tersebut. Sehingga perilaku menolong yang demikian sejatinya adalah untuk menolong dirinya sendiri (self-help) agar terbebas dari suasana hati yang tidak menyenangkan.

  1. Seseorang menolong agar dapat merasakan kebahagiaan.

Seringkali dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, seseorang bisa ikut bahagia. Inilah yang menjadi salah satu alasan seseorang memberikan pertolongan kepada orang lain. Tokoh prososial berharap orang yang ditolongnya tersebut dapat bahagia melalui pertolongannya, sehingga ia pun dapat merasakan kebahagiaan yang serupa. Hal seperti ini dinamakan sebagai hipotesis kesenangan empatik (emphatic joy hypothesis). Teori ini mengatakan bahwa seseorang menolong karena ia yakin pertolongannya tersebut dapat memberikan hasil positif bagi orang yang ditolong.

  1. Seseorang menolong agar mendapat timbal balik dari pertolongannya tersebut.

Teori yang mengupas alasan dari perilaku menolong yang satu ini adalah teori perkembangan kognisi sosial. Dalam teori ini dijelaskan bahwa perilaku menolong melibatkan banyak proses kognitif, seperti persepsi, penalaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan lain-lain. Sebelum melakukan tindakan menolong, tokoh prososial hendaknya memahami kebutuhan dari orang yang akan ditolong, sehingga pertolongan yang diberikan akan tepat sasaran.

Penelitian yang mengkaji hubungan antara perilaku menolong dengan perkembangan kognisi sosial mendapatkan hasil bahwa perilaku menolong mengharapkan dampak atau timbal balik kepada tokoh perilaku prososial. Lourenco (1993) menampilkan sebuah kasus bahwa seorang ibu memarahi anaknya karena memberikan uang tabungan kepada temannya untuk membeli buku (uang tabungannya tersebut jumlahnya lebih banyak dari harga buku). Hal ini dilakukan anak tersebut semata-mata agar mendapat bantuan untuk mengerjakan PR dari temannya tersebut. Kasus tersebut cukup memberi contoh bagaimana perilaku menolong berhubungan dengan harapan mendapat timbal balik dari orang yang ditolong.

  1. Seseorang menolong karena sebelumnya pernah ditolong.

Ini merupakan salah satu alasan konkrit kenapa seseorang menolong. Dalam hidup ini kita mengenal istilah norma sosial. Salah satu bagian dari norma sosial adalah norma timbal balik. Sosiolog Alvin Gouldner (1960), mengemukakan bahwa salah satu norma yang bersifat universal adalah norma timbal-balik. Dalam norma ini, menganut prinsip bahwa seseorang harus menolong orang yang pernah menolongnya. Prinsip dalam norma timbal balik ini persis dengan prinsip balas budi.

  1. Seseorang menolong karena berkewajiban untuk menolong.

Masih berkaitan erat dengan norma sosial, perilaku menolong yang satu ini didasari oleh norma tanggung jawab sosial (the social-responsibility norm). Norma ini menganut prinsip bahwa kita harus menolong orang yang membutuhkan pertolongan tanpa mengharapkan balasan di masa datang. Norma ini memberi motivasi untuk menolong orang-orang yang lebih lemah dari dirinya, seperti orang yang cacat, orang yang sudah tua, atau seorang kakak yang memberi pertolongan kepada adiknya yang masih kecil ketika terjatuh, Sarwono (2002).

Perilaku menolong sejatinya tidak lepas dari pamrih. Melalui pengkajian beberapa alasan seseorang memberikan pertolongan yang dikupas dari teori-teori perilaku prososial, sebagian besar menyebutkan bahwa perilaku prososial didasari pada kebutuhan atau tujuan pribadi. Hanya saja yang membedakan antara satu orang dengan yang lainnya adalah jenis pamrih atau level pamrih yang diharapkan. Level pamrih terendah adalah untuk membuat kebahagiaan pada diri sendiri atas perilaku menolong yang dilakukan. Sedangkan level pamrih tertinggi adalah untuk memenuhi kebutuhan materi dan nonmateri, seperti yang telah dicontohkan pada paragraf pertama tulisan ini. Dengan demikian, hendaknya kita melakukan tindakan prososial dengan pamrih yang serendah-rendahnya. Menanamkan prinsip bahwa kebahagiaan tertinggi adalah ketika melihat orang lain bahagia.

 

 

REFERENSI

Devita Retno. 4 Oktober 2018. “10 Teori Prososial dalam Psikologi Sosial Secara Singkat” (online), (https://dosenpsikologi.com/teori-prososial-dalam-psikologi-sosial, diakses tanggal 9 November 2019).

Reza. 18 November 2015. “Mana yang Lebih Utama Sedekah pada Orang Miskin atau Kerabat” (online), (https://www.dream.co.id/news/mana-yang-lebih-utama-sedekeh-pada-orang-miskin-atau-kerabat-151117p.html, diakses tanggal 19 November 2019).

Tim Penulis Fakultas Psikologi UI. 2019. Psikologi Sosial Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Tanaman Transgenik dan Ketimpangan Sosial

Tanaman Transgenik dan Ketimpangan Sosial

Tanaman Kapas Transgenik

Tanaman transgenik atau Genetic Modified Crops memang sempat menjadi kontroversi dalam beberapa dekade terakhir. Sebagian menyatakan bahwa krisis pangan akibat peningkatan jumlah penduduk harus diatasi dengan peningkatan hasil pertanian tanpa perluasan lahan atau intensifikasi pertanian. Alih fungsi lahan untuk pertanian hampir tidak memungkinkan untuk dilakukan karena bumi kekurangan hutan sebagai pemasok oksigen dan penjaga biodiversitas. Tanaman transgenik adalah jawaban dari masalah ini. Namun, sebagian pihak justru menolak kehadiran tanaman transgenik karena ditakutkan akan berdampak buruk bagi kesehatan. Hal ini karena belum ada seorang pun yang benar-benar dapat menjamin keamanannya untuk dikonsumsi maupun bagi lingkungan.

Baca juga: Ilmuwan Kembangkan Elektroda Superkapasitor yang Terinspirasi dari Ranting dan Daun

Tanaman hasil rekayasa genetika yang pertama kali dibuat adalah tembakau resisten antibiotik pada tahun 1983. Kemudian dikembangkan spesies tanaman produksi yang tahan terhadap gulma maupun hama menggunakan gen bakteri Bacillus thuringiensis (Bt). Penggunaan gen Bt ini diterapkan pada tanaman kentang, kapas, jagung, kedelai, dan masih banyak lagi. Kemudian rekayasa genetika ditujukan untuk meningkatkan nutrisi pangan seperti Beras Emas (golden rice) yaitu beras yang berwarna kekuningan karena tinggi akan kandungan beta karoten pada tahun 2000.[3]

Hingga kini perdebatan tentang penggunaan tanaman transgenik terus berlanjut. Pendukung tanaman transgenik membantah jika tanaman ini berbahaya. Kalaupun ada, maka kemungkinannya sangatlah kecil. Bahkan menurut penelitian dari University of California at Davis, data yang dikumpulkan dari 100 miliar hewan yang diberi pakan berbahan tanaman transgenik menunjukkan bahwa tidak adanya bukti gangguan kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa sangat tidak beralasan menolak tanaman transgenik dengan pertimbangan kesehatan. [4]

Para pendukung juga mengatakan bahwa rekayasa genetika pada tanaman telah lama dilakukan bahkan sejak zaman nenek moyang. Persilangan antar tanaman dengan varietas yang berbeda juga termasuk rekayasa genetika sederhana. Teknologi rekayasa genetika yang ada kini pun diciptakan berdasarkan teknik persilangan kuno dengan menggunakan metode tertentu sehingga hasilnya lebih presisi. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak tanaman transgenik hanya karena perbedaan metode yang digunakan.[3]

Banyak orang kini telah beralih untuk mendukung tanaman transgenik. Hal ini didukung oleh mencuatnya informasi seputar krisis pangan yang memang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat seputar pentingnya tanaman tersebut. Berbagai media pun berusaha mengklarifikasi narasi anti-sains seputar bahaya tanaman transgenik dengan meyakinkan masyarakat bahwa tanaman transgenik memang benar-benar aman untuk dikonsumsi. Para saintis pun menjamin jika penggunaan tanaman transgenik dengan teknologi mutakhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, kemutakhiran sains ini justru menimbulkan masalah.

Perkembangan tanaman transgenik ini penuh permainan politik. Di tengah kontroversi yang ada di masyarakat, para pengusaha justru melobi dan menekan pemerintah agar mempermudah pemasaran produknya. Hal inilah yang membuat terjadi perbedaan regulasi antara Uni Eropa dan Amerika. Uni Eropa cenderung sangat ketat terhadap tanaman transgenik karena perusahaan agro-kimia besar Bayer dan BASF akan mengalami kerugian jika tanaman transgenik dengan gen kebal hama masuk ke Eropa. Hal yang berbeda terjadi di Amerika. Monsanto sebagai perusahaan penghasil bibit tanaman transgenik berhasil melobi pemerintah sehingga dapat menjual bibitnya dengan bebas. Ke depannya, Uni Eropa juga akan mempermudah masuknya tanaman transgenik karena perusahaan besarnya mencoba membuka diri seperti BASF yang mulai memperkenalkan tanaman transgeniknya dan Bayer mengakuisisi Monsanto.[3]

Perusahaan besar ini juga turut berperan dalam kebijakan internasional, salah satunya dalam perjanjian TRIPS yang disepakati Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO). Perjanjian ini membuat perusahaan domestik bisa berinovasi dengan produknya tanpa khawatir akan dibajak perusahaan asing. Perjanjian ini memberi hak paten kepada berbagai macam produk termasuk produk hidup seperti gen, sel, dan bibit. Sebenarnya, perjanjian ini telah ditolak oleh beberapa kalangan karena makhluk hidup biodiversitas tidak layak untuk dipatenkan. Hal ini akan membuat para petani yang telah lama mengumpulkan bibit terbaik akan dianggap sebagai tindakan ilegal.[1]

Ketika pengembangan tanaman transgenik berkaitan dengan perusahaan besar, maka monopoli sangat sulit untuk dihindarkan. Terbukti setelah perjanjian TRIPS disetujui, sepuluh perusahaan bibit terbesar menguasai sepertiga pasar bibit komersial. Empat puluh persen bibit sayuran di Amerika Serikat dikuasai satu perusahaan saja. Monsanto dan DuPont secara bersama mengontrol 73% pasar bibit jagung Amerika.  Bahkan Monsanto sendiri dengan merknya yaitu Round Up Ready pada tahun 2004 telah ditanami pada 85% lahan kedelai, 45% ladang jagung, dan 76% ladang kapas di Amerika Serikat.[1]

Papan Nama Monsanto

Penguasaan yang besar oleh perusahaan ini membuat petani sulit mencari varietas asli dari tanaman tersebut dan ladangnya tidak jarang tercemar oleh gen tanaman transgenik. Monsanto pernah menuntut seorang petani canola di Kanada yang bernama Schmeiser karena di lahannya terdapat varietas canola transgenik produksi Monsanta. Ia dituduh sebagai pencuri bibit dan melanggar hak paten perusahaan. Padahal cemaran tersbut berasal dari lahan tetangganya yang ternyata menggunakan canola transgenik dari Monsanta. Saat pengadilan, Monsanto pun dimenangkan dalam perkara ini dan beruntung Schmeiser tidak dikenakan ganti rugi. Sejak tahun 1997—2005, tercatat Monsanta telah memenangkan banyak perkara dan mendapat ganti rugi sebesar 15 juta US dolar.[1]

Secara teoretis, penggunaan tanaman transgenik memang meningkatkan hasil dan bisa melawan krisis pangan. Monsanto pun selalu mengatakan bahwa untuk menjamin ketahanan pangan dan melawan kelaparan harus dilakukan dengan mengembangkan tanaman transgenik hasil rekayasa genetika. Namun, pengembangan yang seperti ini justru memaksa petani-petani kecil untuk menggunakan tanaman transgenik agar tidak dituduh mencuri bibit jika terjadi pencemaran gen di lahannya. Penggunaan tanaman transgenik juga memaksa petani kecil untuk mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli bibit beserta kelengkapan khususnya dan akan terus bergantung pada pasokan bibit dari perusahaan.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari pengembangan tanaman transgenik dari segi teknologi dan dampak kesehatannya. Namun jika distribusinya dikuasai oleh para perusahaan-perusahaan besar maka akan menimbulkan monopoli yang kemudian memperparah ketimpangan sosial. Negara mana pun yang mau mengadopsi teknologi ini sudah seharusnya menjamin distribusi yang berkeadilan kepada masyarakatnya.

Referensi

[1] Schanbacher, W.D. 2010. The Politics of Food, The Global Conflict between Food Security and Food Sovereignty. California : Praeger

[2] Swinnen, J. 2018. The Political Economy of Agricultural and Food Policies. New York : Palgrave Macmillan

[3] Yadav, S.S., dkk. 2019. Food Security and Climate Change. West Sussex: John Wiley & Sons Ltd

[4]https://www.washingtonpost.com/lifestyle/food/the-gmo-debate-5-things-to-stop-arguing/2014/10/27/e82bbc10-5a3e-11e4-b812-38518ae74c67_story.html (diakses 12 Oktober 2019)

Sumber gambar :

http://www.scind.org/163/Science/bt-cotton-the-first-genetically-modified-crop-in-india.html (diakses 17 Oktober 2019)

https://news.stlpublicradio.org/post/bayer-completes-monsanto-acquisition#stream/0 (diakses 17 Oktober 2019)