“Berkhayal atau Berhitung Dahulu?” Bentuk Keresahan Terhadap Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini

Bagikan Artikel ini di:

Membaca buku IPA karya Janice van Cleave atau Yohanes Surya, terpikir bahwasanya pelajaran pertama untuk ilmuwan masa depan adalah berkhayal. Sebagaimana ucapan Einsten bahwa khayalan atau imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Tak kalah penting pula penguatan jiwa sebagaimana ucapan Einstein, lagi, bahwa agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Lalu bagaimana isi buku kedua pengajar IPA terkemuka tersebut?

Contoh buku percobaan populer. Sebelah kiri karya Janice van Cleave dan sebelah kanan karya Yohanes Surya.

Pertama, tidak muncul hitung-hitungan dalam setiap percobaan. Bahkan keberadaan angka-angka untuk menjustifikasi keilmiahan karya tersebut seperti sangat dihindari. Petunjuk percobaan cenderung melalui gambar dan sedikit tulisan panduan. Ampuhkah? Terlihat bahwa murid-murid Yohanes Surya sudah tak terhitung yang lolos olimpiade sains, serta buku Janice van Cleave diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dengan pelaksanaan percobaan yang bisa langsung dilihat kenyataannya, maka bocah akan lebih mudah memperkirakan kejadian sesuai hukum alam atau sunnatullah. Maksudnya berkhayal secara ilmiah atas ibrah suatu kejadian. Setidaknya mampu mengira-ngira kapan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil terjadi.

Acara TV Hand Made yang pernah diputar di Trans7 adalah salah satu tayangan yang bagus untuk melatih kreativitas anak-anak.

Salahkah jika pelajaran hitung menghitung diberikan di awal? Tidak mesti! Ada siswa yang langsung menikmati sajian angka-angka dan tanpa beban mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ada siswa yang lebih memilih hidup merdeka dengan mengeksplorasi alam liar bersama bocah sebayanya. Secara umum, bocah lebih suka bermain daripada berpikir serius apalagi membuat perhitungan. Jangankan bocah, perekayasa yang sudah “gede” sekalipun mungkin tidak mau terlibat perhitungan selain menyerahkannya pada juru hitung atau cukup percaya data komputer. Seorang akuntan ahli pun bisa saja tak lagi melakukan pekerjaan kasar kasir tersebut.

Inginnya sih, anak-anak segera mampu berpikir sistematis praktis dan siap pakai alias bisa segera dimanfaatkan supaya dapat diperas otaknya.

Barangkali pembaca sekalian masih ingat masa kecil masing-masing, apakah paham seketika dengan apa yang diajarkan guru di sekolah? Ada kalanya orangtua memerintahkan ini itu kepada anak, sedangkan anak sendiri tidak tahu ini itu apa. lupa bahwa yang dihadapinya adalah bocah polos yang belum tahu banyak makna. Contohnya pada kisah dibuku karya Jamie, mengisahkan tentang si anak berkali-kali diperingatkan jangan berbelok ke tikungan, eh tapi ternyata si anak belum tahu apa itu tikungan [1].

Memang, ada bocah yang mampu saja melampaui pemikiran umumnya bocah seusianya. Siapa tak bangga anaknya dianggap cerdas oleh orang banyak seperti Musa Izzanardi Wijanarko yang masuk MIPA ITB ketika berusia 14 tahun [3] atau Nur Wijaya Kusuma yang masuk UGM ketika berusia 15 tahun [4]? “Siapa dulu yang ngelahirin” begitu mungkin kata ibunya sambil menepuk dada ?.

Jangan ambisius dulu, lihat potensi anak seperti apa! Jika “gesit” seperti orangtua kedua bocah di atas, tentu sangat menyenangkan. Kalau anaknya telmi, anaknya disuruh mengikuti birokrasi sekolah yang panjang dan menjemukan, akhirnya si anak menganggap sekolah hanya kutukan karena melihat banyak ketidakjujuran ketika ujian sekaligus bosan melihat Lembar Jawaban Komputer.[5]

Saya sendiri lebih memilih tidak terburu menuntut anak bisa berpikir layaknya orang dewasa. Apa mau bocah yang belum berani sunat sudah mengerti cara buat anak atau berkomplot kriminal? Jika memang demikian, pantaslah kurikulum sekolah dasar, bahkan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini zaman now yang semakin cepat matangnya dibuat secara high expectated dibanding high order melampaui kewajaran jalan pikiran anak-anak. Einstein yang dijuluki sang jenius pun dianggap sebagai pembelajar yang lambat (slow learner) selama sekolah. Einstein cenderung berpikir dengan caranya sendiri (yang diklaim oleh beberapa peneliti sebagai proses menikmati setiap detail) sedangkan sekolah memberi pemahamanan dengan cara berpikir guru semata yang cenderung cepat [6]. Dalam buku Growth Mindset karya Carol Dweck juga dijelaskan bahwa yang terpenting dalam proses belajar bukanlah kecepatan, tapi kepahaman!

Jadi sangat keliru ketika menjustifikasi seseorang atau anak sebagai orang yang “bodoh” karena lambat dalam belajar. Bisa jadi ia seperti Einstein, menikmati sedikit demi sedikit namun tertancap di otak. Atau seperti Abraham Lincoln sang presiden ke-16 Amerika Serikat yang sangat terkenal. Lincoln mengakui dirinya sebagai pembelajar yang lambat dalam quote yang cukup fenomenal berikut ini:

“Saya lambat dalam belajar dan juga lambat dalam melupakan apa yang telah saya pelajari. Otak saya seperti sepotong baja, sangat sulit untuk diukir di atasnya. Namun ketika telah diukir, maka hampir mustahil Anda untuk menghilangkan ukiran tersebut. ”

Menurut Kak Seto, anak dinyatakan benar-benar siap menghadapi kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya di atas 10 tahun. Sedangkan dari di usia kanak-kanak sampai sembilan tahun, ada baiknya anak diajarkan soal pembentukan karakter diri. Misalnya memantapkan etika dan estetika agar dia berbuat lebih baik dan santun. 

“Sebab kalau materi yang disajikan terlalu padat, yang ada siswa malah stres, etika rusak, menjadi pemarah. Dan sifat-sifat itu kan salah satu dasar prilaku anak berbuat tawuran,” jelasnya.

Pria yang akrab dengan boneka si Komo ini menambahkan, ada baiknya anak kelas I sampai III SD, belajar sambil bermain. Misalnya tempat belajar di alam bebas, sehingga ketika dia berhitung dia akan menghitung apa yang dia lihat bukan yang disajikan di buku, atau menghitung balok.

“Nah ketika kelas IV, sudah lebih serius,” tambahnya. [2]

Diakui atau tidak, pada masa ketatnya persaingan mendapat pekerjaan seperti saat ini menuntut orang dewasa untuk menjadikan anaknya lebih cerdas. Lebih cerdas yang oleh beberapa orang tua diterjemahkan secara konyol sebagai lebih awal disekolahkan, lebih awal dijejali matematika, dan lebih awal disodorkan teknologi. Kekonyolan tersebut membuat anak-anak sedikit atau tidak memiliki waktu untuk bermain. Padahal ketika anak masuk ke suatu lapangan permainan misalkan permainan mandi bola, orangtua tak perlu banyak mengatur. Biarkan mereka berimajinasi dalam dunianya sendiri sehingga kreativitas bisa terpicu dan nalar terbentuk secara simultan, karena ada pelampiasan otak dan otot yang masih panas.

Tidak mesti permainan yang melibatkan aktivitas fisik. Beberapa permainan komputer atau gadget (gawai) dapat pula merangsang kreativitas, meskipun masih ada banyak kekurangannya seperti menyebabkan kecanduan, berdampak buruk bagi kesehatan mata, dll. Adanya televisi dan gawai memerlukan penanganan lebih keras sebagaimana pernah dilakukan salah satu kepala desa di Magetan. Beliau berhasil meningkatkan prestasi anak-anak di wilayahnya dengan menerapkan jam belajar setelah maghrib hingga pukul 21.00 dengan melarang anak-anak menonton televisi atau bermain gawai pada rentang jam tersebut [8]. 

Menurut saya, permainan paling bermakna adalah permainan leluhur kita yang semakin tergerus zaman. Di antaranya adalah dakon, gobag sodor, bentengan, engklek, egrang, 3 daerah, petak umpet, ular-ularan, cublak-cublak suweng, dan masih banyak macam lainnya [7].

Dakonan, salah satu permainan tradisional yang mengajarkan pembagian kekayaan.
Sumber : https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738

Pada sistem pendidikan Indonesia saat ini terutama pendidikan pada masa anak-anak dan remaja, saya rasa masih kurang dalam hal penanaman budi pekerti dan pengendalian diri. Padahal kedua hal tersebut sangatlah penting untuk menjadi manusia dewasa yang cerdas dan bermoral. Tak lupa pula pendidikan aqidah dan akhlak beserta kedisiplinan bagi generasi Islami.

Sia-sia menebang pohon untuk membuka jalan jika jalannya saja ternyata keliru [9]. Percuma berkompeten kalau digunakan untuk hal yang negatif, misalnya DPR yang dipilih oleh rakyat karena dirasa kompeten eh ternyata melakukan korupsi.

Referensi:

[1] Jamie C. Miller, 1998, Mengasah Kecerdasan Moral Anak melalui Permainan 10-menit, diterjemahkan dari judul 10-Minute Life Lessons for Kids:  52 Fun and Simple Games and Activities to Teach Your Child Trust, Honesty, Love, and Other Important Values, Penerbit Kaifa, Bandung.

[2] Lia Harahap, Kak Seto: Pelajaran siswa SD terlalu padat, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/kak-seto-pelajaran-siswa-sd-terlalu-padat.html dibuka tanggal 26 Desember 2018

[3] Putra Prima Perdana, Ini Pola Belajar Bocah Izzan, Bocah 14 Tahun yang Masuk ITB Lewat SNMPTN, dari https://regional.kompas.com/read/2017/06/16/03200061/ini.pola.belajar.izzan.bocah.14.tahun.yang.masuk.itb.lewat.sbmptn dibuka 26 Desember 2018

[4] Ika, Nur Wijaya Kusuma Mahasiswa Termuda UGM Berusia 15 Tahun, dari https://www.ugm.ac.id/id/news/16768-nur.wijaya.kusuma.mahasiswa.termuda.ugm.berusia.15.tahun dibuka 26 Desember 2018

[5] Pengalaman pribadi melihat kesepakatan para guru dan kepala sekolah menyuruh para murid bekerjasama ketika ujian supaya peringkat sekolah tidak jatuh. Tindakan ini lumrah di banyak sekolah sebelum Ujian Nasional Berbasis Komputer diselenggarakan.

[6] Adiya Nor Kurniawan, 2017, Biografi Ilmuwan Modern Barat & Muslim, Azka Presindo, Surakarta.

[7] Luluk, Cara Melestarikan Permainan Tradisional, dari https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/view&id=4738 dibuka 25 Desember 2018

[8] Rijal Mumazziq Zionis, penting kita perhatikan adalah mengontrol akses terhadap televisi, http://www.penerbitimtiyaz.com/blog/penting-kita-perhatikan-adalah-mengontrol-akses-terhadap-televisi/ dibuka 25 Desember 2018

[9] Kisah ini diuraikan Professor Steven Franklin Covey, pengarang “7 Habits” dan “First Thing First” yang saya tonton dalam kuliah Pandangan Dunia yang belum bisa diumumkan. Materi yang serupa terinspirasi dari beliau dapat ditonton di The Clock vs. The Compass by Dan Hawkins | Life Leadership

Bagikan Artikel ini di:

Berencana Beli atau Jual Smartphone? Penelitian ini Ungkap Apa yang Perlu Dipertimbangkan

Bagikan Artikel ini di:

Smartphone bukan lagi menjadi bagian dari kebutuhan tersier. Fungsinya berkembang pesat baik secara sosial, ekonomi dan budaya sehingga gawai (kata baku untuk gadget) ini tak bisa dilepaskan dari pola hidup masyarakat. Maka tak heran, kepemilikan telepon di negara berkembang mendekati 90%. Tingginya angka penetrasi tersebut mengakibatkan ketatnya persaingan antar merek sehingga revolusi smartphone berkembang lebih pesat dibandingkan dengan barang elektronik lainnya. Bisa kita lihat, berapa banyak model smartphone yang keluar setiap bulannya?

Perkembangan smartphone bukan hanya dari sisi model tetapi juga fitur teknologi yang ditawarkan. Saat ini ada dua brand smartphone yang dianggap memiliki pangsa pasar terbesar di dunia yaitu Apple dan Samsung. Jumlah pangsa pasar yang diraih dua brand ini mencapai 70%. Selain kualitas, pangsa pasar yang besar tentu ditunjang dengan strategi pemasaran. Salah satunya dengan selalu mengeluarkan model-model terbaru. Apple akan menghasilkan model baru setiap tahun. Sedangkan Samsung dinilai lebih rajin mengeluarkan model terbarunya daripada Apple. Revolusi model smartphone ini tentu saja juga berimbas pada pergantian smartphone. Mengutip dari analisis Tirto.id rata-rata orang akan mengganti ponselnya setiap 22 bulan sekali.

Ternyata sesering ini seseorang mengganti ponselnya

Hal yang biasanya tidak disadari adalah ada harga yang harus dibayar dari cepatnya pergantian model smartphone. Sama seperti perangkat elektronik lainnya, smartphone mengandung 50 elemen yang berbeda termasuk mineral langka dan toxic seperti timbal dan arsen. Mineral ini mengakibatkan kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat. Meskipun jika dihitung secara matematis, perubahan iklim yang disumbangkan cukup kecil tetapi secara agregat angka yang dihasilkan cukup mengkhawatirkan.

Contohnya 95 kgCO2 dalam iPhone 6 akan menjadi 140 M kgCO2 jika dihitung berdasarkan data penjualan smartphone model tersebut secara agreget sebanyak 1,5 M tahun 2016.  Bisa dibayangkan berapa banyak kgCO2 yang dihasilkan jika semua merek berlomba mengeluarkan model baru. Selain itu, smartphone dinilai menjadi barang elektronik yang paling sering diganti daripada lainnya.

Solusi yang ditawarkan untuk meringankan beban lingkungan berupa peningkatan kualitas dan kemudahan perbaikan smartphone sehingga masa pakai smartphone lebih panjang. Kondisi tersebut bisa menekan pemakaian sumberdaya dan energi produksi smartphone. Artinya dari praktik 3R (Reduce, reuse, recycle), reuse (pemakaian ulang) menjadi langkah paling awal yang bisa dilakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Disadari atau tidak, kegiatan reuse smerupakan bagian dari kegiatan dalam pasar barang bekas. Saat ini, pasar barang bekas berkembang pesat dengan bantuan internet. Internet membantu memangkas batas wilayah perdagangan sehingga konsumen bisa menemukan produk mereka dan secara otomatis masa hidup smartphone mengembang. Perdagangan smartphone bekas bahkan meningkat 4-5 kali lebih tinggi daripada pasar smartphone secara keseluruhan. Artinya, fenomena reuse melalui pasar bekas memainkan peran penting untuk masa hidup smartphone.

Perbaikan untuk upgrade teknologi dalam smartphone berpengaruh pada keputusan pembelian

Jika demikian, lantas apa yang bisa mempengaruhi konsumen membeli smartphone bekas? Penelitian sebelumnya menemukan kebaharuan teknologi dan fungsi smartphone yang sesuai keinginan dinilai menjadi tolok ukur utama keputusan pembelian (Wilson et al (2017), Wieser and Troger (2017)). Selain itu, konsumen dianggap tidak akan mengganti smartphone hanya karena kesalahan fungsi atau fisik yang kecil. Sedangkan Bellezza et al (2017) menemukan bahwa keberadaan perbaikan pada smartphone bekas menyebabkan konsumen cukup acuh pada detail fitur dalam smartphone. Artinya, teknologi dan layanan perbaikan berperan penting dalam meningkatkan keputusan pembeli smartphone bekas.

Hal yang perlu diperhatikan, selain teknologi dan perbaikan yang dilakukan, merek smartphone ternyata juga berpengaruh besar. Smartphone sudah menjelma menjadi simbol eksistensi diri secara sosial sehingga kualitas di luar aspek fungsional seperti merek dapat meningkatkan peluang pembelian. Kita ambil Apple dan Samsung sebagai contoh. Apple dinilai memiliki merek yang stabil karena kontrol harga setiap produk dibandingkan Samsung yang terlalu sering memberikan promosi. Perbedaan strategi juga pemasaran berdampak pada kualitas merek sehingga umur ekonomis dan harga Samsung di pasar bekas berada jauh di bawah Apple. Dari sini kita bisa melihat bahwa kualitas fisik yang tampak bukan hanya penentu tunggal keputusan pembelian smartphone di pasar bekas.

Apple dan Samsung adalah dua merek yang mendominasi pasar

Makov et al (2018) mengambil data penjualan Apple dan Samsung bekas dari paltform online pasar bekas eBay. Beberapa alasan yang pemilihan Apple dan Samsung sebagai fokus brand yang diteliti adalah dominansi keduanya dalam pasar, keduanya tidak memperkenalkan diri sebagai produk dengan masa hidup panjang, kedua brand memiliki model yang sebagian mudah diperbaiki dan tingkat penjualan di Amerika Serikat juga seimbang. Data dikumpulkan dalam dua periode yaitu 4 bulan pertama di tahun 2015 dan 2016. Sebanyak 500.000 listings pengguna Apple dan Samsung yang terjual via eBay.com diolah untuk menjelaskan perbedaan peran masing-masing fitur smartphone terhadap masa hidupnya. Perhitungan nilai yang hilang dengan cara membandingkannya harga saat saat pertama kali diluncurkan dengan harga di pasar bekas eBay. Data kemudian diregresikan menggunakan regresi OLS untuk dapat merumuskan variabel berupa fungsi kualitas yang tidak tampak.

Peneliti merumuskan dua model untuk memahami pergerakan penyusutan nilai. Model pertama digunakan untuk mengetahui nilai depresiasi smartphone dari variabel yang dianggap berpengaruh. Model 1, fokus pada fitur berkaitan dengan daya tahan fungsional (perbaikan dan kapasitas) dan kondisi keausan smartphone dibandingkan dengan fitur tak tampak (merek dan kebaharuan model) sementara variabel kontrol berupa umur perangkat dan spesifikasi teknis lainnya (ukuran layar, kamera dan berat smartphone) dan faktor eksternal lainnya (jenis provider, reputasi penjual, pengiriman gratis, dan jenis penjualan).

Model 1

Ketidaklengkapan informasi kondisi smartphone dan jenis provider di eBay membuat hanya 27% data listings smartphone yang diolah menggunakan Stata dengan test White. Test ini digunakan untuk mengetahui heteroskedasitasnya. Dan didapatkan hasil ada korelasi yang kuat antara variabel yang menerangkan dengan variasi eror, variasi eror terbesar pada perbandingan antara smartphone model baru dan model lama.
Model 1 menunjukkan hasil bahwa kualitas tidak tampak seperti merek dan kebaharuan sama penting dengan kondisi fisik atau fitur yang berkaitan dengan daya tahan fungsional (perbaikan dan kapasitas). Peneliti mempekirakan jika smartphone Apple dan Samsung dengan spesifikasi yang sama berada masuk pasar bekas, maka nilai smartphone Samsung menyusut sebesar 12,3 ± 0,2% daripada Apple. Kondisi tersebut juga terjadi pada aspek kebaharuan model smartphone meskipun angka perbandingan penyusutan lebih kecil. Model baru smartphone secara signfikan kehilangan sekitar 4,5 ± 0,3% lebih sedikit daripada model lama.

Sementara hal sebaliknya justru terjadi pada variabel perbaikan dan kapasitas memori. Semakin besar kapasitas memori dan perbaikan yang dilakukan justru meningkatkan nilai penyusutan di pasar bekas. Apa yang bisa diindikasikan dari hal ini? Ada kecenderungan jika smartphone yang memiliki memori besar dan performanya telah ditingkatkan tidak terlalu mempengaruhi masa hidup smartphone. Artinya konsumen dinilai cenderung abai terhadap kedua variabel ini saat memutuskan membeli smartphone tertentu. Hal ini dapat dilihat dari angka smartphone yang diperbaiki dan memorinya besar (128 GB) justru kehilangan 2,7 ± 0,3% dari smartphone yang tidak diperbaiki dan memori yang besar.

Variabel fisik lainnya yang diestimasi nilai penyusutannya oleh peneliti adalah kondisi smartphone. Gawai yang dideskripsikan dalam kondisi fisik buruk tentu akan kehilangan nilai lebih banyak daripada gawai kondisi terbaik meskipun spesifikasinya sama. Akan tetapi, hal yang mengejutkan adalah nilai penyusutan kondisi fisik hanya sebesar 8,8 ± 0,1%. Nilai ini lebih rendah dari nilai penyusutan akibat variabel tak tampak seperti merek dan kebaharuan model.

Model 2

Model 1 sebenarnya dapat digunakan untuk merumuskan efek dari merek dan estimasi umur merek tidak layak lagi masuk pasar bekas. Akan tetapi, perbedaan spesifikasi fitur yang dimiliki masing-masing smartphone tidak sama persis sehingga tidak semua predictor konstan. Oleh karena itu, untuk memperkirakan estimasi masa hidup smartphone berdasarkan merek dan usia ponsel digunakan model kedua. Untuk memenuhi aturan asumsi klasik dalam regresi OLS maka interaksi merek dan usia ponsel juga dimasukkan dalam model.
Model ini memberikan dua keuntungan. Pertama, pembatasan data pada merek dan usia ponsel menyebabkan data listings yang bisa diolah lebih banyak.

Kedua, model ini mempermudah untuk mengetahui dampak merek dan kuantitas nilai penyusutannya secara spesifik. Sedangkan pada model 1, kuantifikasi data tidak bisa dilakukan karena smartphone Samsung dan Apple di pasar bekas sudah melalui perbaikan sehingga semua variabel selain merek tidak bisa konstan sama. Berdasarkan data tersebut, peneliti menggunakan model kedua untuk menghitung dampak usia smartphone terhadap nilai penyusutannya.

Penyusutan nilai pasar Apple dan Samsung berdasarkan umur

Sesuai model pertama, model kedua juga menunjukkan semakin lama usia smartphone maka nilai penyusutan juga semakin bertambah. Persamaan model ini juga menggambarkan adanya dampak signifikan dari merek dan usia smartphone terhadap merek. Samsung akan kehilangan nilai dari peluncuran pertama sampai dijual kembali setelah 54 ± 0,2 bulan sedangkan Apple mencapai 66,9 ± 0,6 bulan. Walaupun merek tidak berpengaruh pada kualitas fisik, variabel ini tetap menambah masa hidup smartphone rata-rata sebesar 12,5 bulan. Jika dibandingkan, maka satu Apple maka nilainya sama dengan 1,23 Samsung dengan umur, ukuran dan fungsi-sungsi lain yang sama. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa layanan perbaikan hanya akan berdampak kecil pada umur ekonomis dan fase penggunaan smartphone.

Walaupun ada kemungkinan kebutuhan konsumen selalu berubah tetapi dua periode waktu yang dipilih menunjukkan kualitas tidak tampak seperti merek justru lebih berdampak pada umur ekonomis daripada layanan perbaikan. Merek-merek berumur panjang bisa menjaga keberlanjutan konsumsi smartphone tersebut lebih lama sehingga produksi dan biaya pengangkutan bisa ditekan. Artinya, bertambahnya umur ekonomis smartphone bisa mengefisiensikan sumberdaya dan energi.

Hal ini sejalan dengan perubahan gaya hidup yang mengedepankan nilai sosio-ekonomi daripada nilai ekonomis dari suatu produk. Branding dan sosial status yang terbentuk akan menggeser peran harga dalam keputusan pembelian barang elektronik di pasar termasuk pasar bekas. Meskipun berhasil menghitung berapa lama masa ekonomis suatu smartphone, peneliti menganggap beberapa penelitian lebih mendalam tetap diperlukan. Kelemahan yang dimaksud adalah batasan-batasan dalam penelitian yang dilakukan. Pertama, analisis yang dilakukan hanya dari penjualan eBay di Amerika Serikat yang dilakukan hanya dalam dua periode transasksi sehingga belum bisa mempresentasikan keseluruhan. Kedua, peneliti tidak memperhitungkan adanya smartphone yang kemungkinan sudah tua dan tidak bisa lagi ditawarkan di eBay dan smartphone terbaik yang tidak ditawarkan di eBay. Terakhir, beberapa smartphone tidak memiliki informasi lengkap terkait kondisinya setelah perbaikan.

Konsumen juga dinilai tidak sadar bahwa beberapa smartphone mudah untuk diperbaiki dan kemudahan ini tidak dimasukkan dalam variabel. Untuk mengetahui, apakah konsumen benar-benar lebih mementingkan merek dibandingkan layanan konsumen, maka penelitian selanjutnya bisa mengulas efek dari keberadaan informasi perbaikan kepada konsumen dengan baik. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga mempertimbangkan adanya layanan perbaikan tersebut saat akan membeli atau menjual smartphone bekas? Semoga keputusanmu dalam membeli dan menggunakan smartphone lebih bijak setelah membaca penelitian ini, ya.

Referensi

  • Makov, Tamar., Fishman, Tomer., Chertow, Marian R., Blass, Vered. 2018. What Affects the Secondhand Value of Smartphones. Journal of Industrial Ecology. Page : 1-11 Online : https://doi.org/10.1111/jiec.12806
  • Bellezza, S., J. M. Ackerman, and F. Gino. 2017. “Be careless with that!” Availability of product upgrades increases cavalier behavior toward possessions. Journal of Marketing Research 54(5): 768–784.
  • Wieser, H. and N. Tr¨oger. 2017. Exploring the inner loops of the circular economy: Replacement, repair, and reuse of mobile phones in Austria. Journal of Cleaner Production 172: 3042–3055.
  • Wilson, G. T., G. Smalley, J. R. Suckling, D. Lilley, J. Lee, and R. Mawle. 2017. The hibernating mobile phone: Dead storage as a barrier to efficient electronic waste recovery. Waste Management 60: 521–533.
  • Zaenudin, Ahmad. 2017. Berapa lama orang mengganti ponsel?. Online : https://tirto.id/berapa-lama-orang-mengganti-ponsel-clBj
Bagikan Artikel ini di:

Riset Psikologi Terbaru Buktikan Bahwa Perempuan Lebih Baik dalam Hal Baca Tulis dibanding Laki-Laki

Bagikan Artikel ini di:

Oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, keberhasilan siswa di sekolah masih dijadikan sebagai salah satu indikator kesuksesan hidup. Padahal faktanya kesuksesan tidak hanya bergantung pada keberhasilan belajar di sekolah. Perilaku, mentalitas, ketangguhan, networking, dll sangatlah berperan dalam kesuksesan hidup seseorang yang mana hal-hal tersebut tidak diajarkan di bangku sekolah.

Kembali ke dunia sekolah, jika Anda jeli memperhatikan, ternyata siswa perempuan cenderung lebih mudah untuk belajar membaca dan menulis dibandingkan laki-laki, juga cenderung untuk lebih cepat dalam membaca dan menulis. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Sebenarnya seberapa penting perbedaan kemampuan tersebut berdampak pada kegiatan belajar dan mengajar (KBM)?

Tahukah Anda bahwa siswa perempuan menunjukkan kemampuan lebih baik daripada laki-laki dalam hal membaca dan menulis?

Telah kita ketahui bersama bahwa baca tulis termasuk dalam kemampuan kognitif. Beberapa peneliti mencoba mengungkapkan secara empiris perbedaan kemampuan kognitif tersebut. Salah satunya oleh peneliti bidang psikologi dari Glasgow University. Mereka menemukan bahwa  perbedaan kemampuan kognitif siswa perempuan dan laki-laki adalah benar adanya, meskipun penelitian tersebut dilakukan di negara maju. Bahkan, angka perbedaan tersebut semakin mengecil pada negara yang diketahui memiliki kesetaraan gender yang rendah seperti Qatar, Jordan dan Uni Emirat Arab, yang artinya laki-laki diprioritaskan untuk bersekolah dengan optimal dibandingkan perempuan. Hal ini menandakan bahwa perbedaan capaian akademik pada masing-masing jenis kelamin tidak dipengaruhi oleh politik, ekonomi dan kesetaraan sosial. [1]

Secara fungsi, otak laki-laki dan perempuan dinilai tidak berbeda. Oleh karena itu, penelitian dilakukan lebih spesifik. Salah satunya dilakukan oleh peneliti lainnya yang berasal dari Griffith University. Peneliti tersebut mengungkapkan bukti perbedaan kemampuan membaca dan menulis antara laki-laki dan perempuan didasarkan hasil penilaian National Assessment of Educational Progress (NAEP) dari Departemen Edukasi Amerika Serikat yang mengukur capaian siswa dalam membaca, matematika, pengetahuan alam dan area lainnya. Sayangnya, laporan hanya menunjukkan perbedaan signifikan antar capaian jenis kelamin tanpa menampilkan berapa besar perbedaan tersebut. [1]

Sebenarnya, sebelum penelitian tentang kemampuan baca tulis pada siswa laki-laki dan perempuan dilakukan, sudah ada beberapa ahli mencoba mengungkapkan fakta perbedaan tersebut dari berbagai bidang. Alasan-alasan tersebut antara lain:

  1. Perbedaan tingkat kecepatan kedewasaan antara laki-laki dan perempuan.
  2. Perbedaan fungsi lateralisasi fungsi otak laki-laki dan perempuan.
  3. Perbedaan variabilitas antara laki-laki dan perempuan.
  4. Perbedaan adanya gangguan eksternal dalam berperilaku dan berbahasa
  5. Strereotype gender bahwa membaca dan berbahasa termasuk ciri-ciri feminim

Pada artikel ini akan dielaborasikan lebih jauh mengenai penelitian yang dilakukan oleh peneliti Griffith University yang berjudul “Gender Differences in Reading and Writing Achievement: Evidence From the National Assessment of Educational Progress (NAEP)” dan dipublikasikan di jurnal American Psychologist. Penelitian yang dipublikasikan pada 20 September 2018 tersebut dirancang dengan data dari NAEP yang berupa data penilaian secara periodik. Penilaian membaca dilakukan setiap 2-3 tahun sekali sedangkan penilaian menulis dilakukan setiap 4-5 tahun sekali dan biasanya dilakukan pada ukuran sampel yang lebih kecil dari penilaian membaca. Data yang digunakan dari penilaian ini dari tahun 1998-2015 dengan jumlah sampel 3.035.000 siswa untuk data penilaian membaca. Sedangkan data penilaian menulis melibatkan 934.800 siswa pada tahun 1988-2011. Target sampel merupakan siswa tingkat 4 (kelas  4 SD atau usia 9-10 tahun ), 8 (kelas VIII SMP atau usia 13-14 tahun) dan 12 (kelas XII SMA atau usia 17-18)).

Penelitian ini memberikan bukti bahwa siswa perempuan mendapatkan nilai membaca dan menulis lebih tinggi dalam setiap jenis penilaian di setiap tingkat kelas dibandingkan dengan siswa laki-laki. Hasil pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dari tahun ke tahun. Uniknya, tidak ada perbedaan yang signifikan hasil penilaian tersebut.

Peneliti kemudian membandingkan hasil penilaian dengan standar terendah kemampuan membaca dan menulis sehingga siswa dapat digolongkan menjadi siswa dengan kemampuan rendah atau mahir. Secara angka, siswa perempuan lebih banyak masuk dalam kategori pembaca dan penulis yang mahir sedangkan siswa laki-laki lebih banyak masuk kategori berkemampuan rendah. Bahkan pada tingkat 12 (kelas XII SMA), jumlah siswa perempuan yang masuk dalam kategori pembaca mahir lebih banyak 2 kali lipat daripada siswa laki-laki. Hasil lainnya yang menarik adalah siswa perempuan tingkat 8 (kelas VIII SMP) mengungguli siswa laki-laki berada di tingkat 12 (kelas XII SMA).

Peneliti juga menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, perbedaan jumlah siswa kemampuan baca rendah berdasarkan jenis kelamin semakin mengecil tetapi membesar pada tingkat mahir. Perbedaan kemampuan membaca akan berdampak pada kemampuan literasi. Salah satunya adalah kesulitan dalam menjalankan tugas berkaitan dengan kemampuan membaca.

Evaluasi juga dilakukan pada kemampuan menulis siswa. Secara angka, perbedaan kemampuan menulis siswa laki-laki dan perempuan lebih besar daripada kemampuan membaca. Bahkan pada tingkat 12, siswa perempuan lebih banyak 2,54 kali terkategori mahir menulis daripada siswa laki-laki. Semakin tinggi tingkat siswa, semakin besar perbedaan kemampuan menulis berdasarkan jenis kelamin ini. Kemampuan menulis siswa laki-laki sebagian besar berada di bawah standart dan sedikit meningkat pada tingkatan kelas tertentu. Seiring bertambahnya tahun penilaian yang dilakukan, tidak ada perubahan terhadap ratio siswa yang berkemampuan menulis rendah.

Kenapa perbedaan kemampuan menulis lebih besar dibandingkan membaca? Kemampuan menulis merupakan kemampuan aktif yang melibatkan tantangan yang lebih kompleks. Menulis menggabungkan kemampuan verbal dan bahasa. Oleh karena itu, perbedaan yang didapatkan semakin besar. Peningkatan kemampuan menulis bisa dilakukan melalui praktik yang dirancang dalam kurikulum. Meskipun angka statistik menunjukkan signifikan, perbedaan kemampuan baca tulis berdasarkan jenis kelamin dinilai sangat kecil, ada faktor lainnya seperti sosial, budaya, dan tingkat kemajuan masyarakat tersebut.

Lantas, bagaimana implikasinya dalam dunia pendidikan?

Siswa laki-laki yang terlihat memiliki kesulitan belajar

Bentuk komunikasi dalam bentuk verbal akan lebih banyak mengarahkan siswa belajar secara mandiri pada buku teks dan jam belajar di luar sekolah. Sedangkan kesulitan yang dialami sebagian siswa tentu akan menjadi penghalang yang serius dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Kemampuan menulis juga berdampak besar pada penilaian siswa terutama pada tugas-tugas berbentuk esai dan laporan. Rendahnya kemampuan baca akan menghalangi siswa menyerap ilmu lebih banyak sehingga berpengaruh pada kemampuan menulis. Hal ini juga disebabkan defisiensi bahasa karena banyaknya buku teks yang sulit untuk dipahami.

Kemampuan membaca dan menulis menjadi menjadi kritis dalam pengembangan pembelajaran. Masalah terkait rendahnya kemampuan tersebut akan bertambah besar saat pendidikan tinggi di Universitas menjadi salah satu tujuan jenjang pendidikan. Alasannya, kemampuan komunikasi secara verbal dalam bentuk tulisan formal akan menjadi bentuk dari tugas siswa sekolah tinggi. Dampaknya, siswa laki-laki tidak siap untuk sekolah tinggi. Hal ini juga memberikan alasan mengapa lebih banyak siswa perempuan yang mendapatkan nilai lebih baik daripada laki-laki pada jenjang universitas.

Hasil penelitian seolah menunjukkan siswa laki-laki membutuhkan kelas khusus yang dibedakan dengan perempuan. Peneliti dengan tegas membantah hal tersebut. Salah satu penelitian berhasil menjawab secara empiris dampak negatif keberadaan sekolah pemisahan jenis kelamin. Praktik pembedaan perlakuan justru akan melemahkan kepercayaan diri dan melemahkan motivasi untuk berkembang siswa. [2] Oleh karena itu, fokus pengembangan sebaiknya diarahkan pada kurikulum. Hal ini ditawarkan pada semua murid sehingga siswa perempuan juga akan memperoleh manfaat.

Yang perlu diperhatikan dari hasil riset tersebut adalah bahwa keberhasilan siswa di sekolah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan baca tulis. Kemampuan lainnya seperti logika abstrak, visual-spasial, numerik, dll juga turut serta. Penelitian tersebut juga dilakukan di Amerika yang merupakan negara maju, hasilnya tentu akan berbeda pada negara berkembang seperti Indonesia.

Penelitian tersebut patut dikembangkan lebih jauh untuk mengetahui penyebab secara biologis mengapa siswa perempuan lebih baik dalam hal baca tulis dibandingkan siswa laki-laki.

Referensi

[1] Reilly, David., Neumann, David L., Andrews, Glenda. (2018). Gender differences in Reading and Writing Achievement: Evidence from the National Assessment of Educational Progress (NAEP). American Psychologist

[2] Halpern, D. F., Eliot, L., Bigler, R. S., Fabes, R. A., Hanish, L. D., Hyde, J. S., . . . Martin, C. L. (2011). The pseudoscience of single-sex schooling. Science, 333(6050), 1706-1707. doi: 10.1126/science.1205031

Bagikan Artikel ini di: