Menggabungkan Aspal Penyerap Air sekaligus Tahan Kerusakan untuk Jalanan Indonesia

Bagikan Artikel ini di:

Para pengguna jalan raya tentu sering mengeluh jalan yang berlubang lagi becek. Baru-baru ini bahkan beberapa konstruksi ambrol, seperti tanggul Kalidami di jalan raya Kejawan Putih Tambak Surabaya yang pernah ambrol setahun lalu di dua titik.

Selain itu, genangan air yang terkadang tidak tersalur secara sempurna ke pelimbahan memberikan pemandangan tak menyenangkan hingga panas matahari menguapkannya. Atau kasus yang lucu, ketika pintu gorong-gorong malah ‘menolak’ mengalirkan air, justru yang aspalnya rusak sehingga berlubang malah lebih efektif menyalurkannya.

Improvisasi lubang yang dibuat pada titik jalan di mana hujan menggenang seringkali lebih efektif menyalurkan air ke salurannya.

Masalah di atas sebenarnya sudah dapat terselesaikan dengan membuat aspal berpori, dalam hal ini Topmix yang dikembangkan Tarmac TopMix Permeable. Tidak harus di seluruh permukaan jalan, karena konstruksinya lebih mahal, tapi cukup di pinggiran untuk memudahkan penyerapan air.[1]

Aspal Tarmac yang mampu menyerap air karena berporinya

Di Indonesia, Prof. Dr. Ir. Bambang Sunendar Purwasasmita juga menciptakan aspal sejenis yang disebut teknologi Geopori atau Geopolimer. Idenya sudah ada sejak 2003, sedangkan menuju pengerjaan dimulai 2009. Pada 2014, business plan sudah dihitung. Lalu pada 2015, secara teknologi geopori itu sudah bisa dipraktekkan dengan pembuatan konstruksi. Di antara bahannya yaitu kerikil dan limbah batu bara. Selain untuk konstruksi jalan dan paving blok, material geopori itu bisa digunakan untuk pembuatan biopori hingga lantai kamar mandi.[2]

Video berikut mencontohkan pembuatan aspal berpori oleh Maryland Paving, Inc.

Sedangkan terobosan untuk masalah aspal jalan yang sering rusak telah dilakukan Prof. Hendro Subroto, dosen Teknologi Aspal dan Konstruksi Jalan Universitas Narotama Surabaya. Pada 2001 Prof. Hendro mulai serius menjajaki risetnya, mengembangkan jenis stonemastic asphalt yang telah dibuat Jerman. Lalu ditambahkan fiber dan wax. Istimewanya, fiber yang digunakan berasal dari alam, dari semua jenis pohon. Beliau menamakan produknya ‘Double Enforcement in Stonemastic Asphalt‘ atau disingkat DESA.[3]

LEBIH KUAT: Prototipe campuran bahan-bahan aspal ciptaan Hendro Subroto. Foto kanan, Hendro Subroto di Belanda. (Hendro Subroto for Jawa Pos)

Apakah keajaiban dari kedua aspal tersebut akan terjadi pada seluruh jalan di Indonesia?

 

Sumber: 

Bagikan Artikel ini di:

Mengenal Rizal Fajar Hariadi: Ilmuwan Biologi dan Fisika di Arizona State University

Bagikan Artikel ini di:

Rizal Fajar Hariadi adalah ilmuwan biologi dan fisika yang berpengalaman dan berkomitmen tinggi membantu mahasiswa dalam perjalanan penelitian mereka.  Sebagai Asisten Profesor Jurusan Fisika dan Biodesign Institute di Arizona State University sejak 2016, Rizal melakukan penelitian bersama mahasiswanya di BIOMAN Lab (Biomolecular Mechanics And Nanotechnology Laboratory). Kerja keras Rizal dan timnya dalam merencanakan dan menyelesaikan berbagai penelitian telah membawa kemajuan pada BIOMAN Lab.

Dibuktikan dengan diraihnya Penghargaan New Innovator Award dari NIH (National Institutes of Health) pada tahun 2018 untuk penelitian di bidang nanoteknologi, fisika dan biologi[1]. Tema penelitian di BIOMAN Lab adalah untuk mengungkap bagaimana sel-sel berinteraksi, mendeteksi, dan merespon gaya mekanik pada skala molekuler sampai skala organisme[2].

Gambar 1. Rizal dan mahasiswa di BIOMAN Lab. Sumber gambar: http: //hariadilab.strikingly.com

Rizal dilahirkan tahun 1979 di Surabaya. Meraih gelar S1 dibidang fisika serta S2 biokimia dan biofisika dari Washington State University pada tahun 2003. Selanjutnya meraih gelar S3 pada tahun 2011 dibidang Teknik Fisika (Applied Physics) dari Caltech. Setelah meraih gelar S3, Rizal melanjutkan program postdoctoral di dua tempat. Pertama di jurusan Cell and Developmental Biology, University of Michigan hingga tahun 2015. Kedua di Wyss Institute for Biologically-Inspired Engineering, di Harvard University[3].

Meskipun berkarir di luar negeri, Rizal tetap berusaha untuk berkontribusi pada Indonesia. Bekerja sama dengan peneliti-peneliti di dalam negeri. Disela kesibukannya dalam rangka kerja sama dengan Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi (PPNN) ITB (5/6), tim warstek berkesempatan untuk bertemu dan mewawancarai beliau. Simak beberapa hal menarik yang tentunya sangat mengispirasi berikut.

Berkarir sebagai ilmuwan merupakan cita-cita sejak kecil atau karena ada kesempatan?

Saya bukan tipe orang yang merencanakan kehidupan saya dengan detail. Banyak orang yang sejak kecil sudah tau mau jadi apa di masa depan, akan melanjutkan kemana, dst. Salah satunya istri saya. Dari kecil dia bercita-cita menjadi dokter anak dan sekarang dia sudah menjadi dokter anak. Saya selama ini mengerjakan apa yang saya suka dan sesuatu yang menurut saya penting. Segala kesempatan yang ada, meskipun itu sesuai rencana awal atau tidak, saya maksimalkan sebaik-baiknya. Hidup ini singkat dan sulit. Jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin.”

Alasan menekuni bidang Biomolecular Mechanics?

“Pertama bidang ini menarik. Kedua, banyak yang melakukan riset dibidang biomolekuler untuk mempelajari interaksi molekuler, namun sedikit yang mempelajari aspek mekanikanya. Saya suka melakukan sesuatu yang saya anggap penting tapi belum dilakukan orang lain.”

Secara umum Rizal menekuni biomimetika dan desain molekuler. Biomimetika (biomimetics) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan material, mekanisme dan sistem yang dibuat oleh manusia dengan jalan meniru desain dan sistem yang terdapat di alam, terutama untuk bidang-bidang: robotika, teknologi nano, kecerdasan buatan, dan pertahanan. Sedangkan desain molekuler terkait dengan desain dan pengujian sifat molekuler, perilaku dan interaksi untuk mengumpulkan bahan, sistem, dan proses yang lebih baik untuk fungsi tertentu[4].

Sejauh ini karya-karya Rizal menggabungkan biofisika, nanoteknologi DNA, dan teknologi baru untuk menjelaskan bagaimana fungsi seluler muncul dari interaksi antara molekul individu dalam keadaan sehat dan sakit. Rizal juga memiliki keinginan untuk menerjemahkan penelitian dasar ke dalam aplikasi dunia nyata[5]. Hasil penelitian Rizal Bersama kolaboratornya dapat di akses di sini.

Gambar 2. Tampilan Google Schoolar Rizal yang memuat karya beliau. Sumber: Google Schoolar

Siapa ilmuwan yang menjadi sumber inspirasi dalam menekuni ilmu pengetahuan?

Kalau dalam lingkup kerja saya, ilmuwan yang menjadi isnpirasi adalah co-adviser Ph.D saya di Caltech. Bernard Yurke, biasa disapa Bernie. Beliau adalah sosok Fisikawan yang terbuka pada ide apapun, tidak harus Fisika murni. Tidak membatasi diri pada satu bidang tertentu. Apa yang menarik dan disukai maka akan diteliti. Beliau yang menjadi kolaborator saya ketika meneliti asal usul kehidupan (the origin of life). Kekaguman saya pada beliau menginspirasi saya untuk memberi nama anak perempuan saya Biruni.

Gambar 3b. Bernard Yurke Sumber gambar: coen.biosestate.edu

Gambar 3a. Richard Feynman Sumber gambar: Interaliamag.org

“Kalau ilmuwan secara umum, saya mengagumi Richard Feynman. Khsususnya pada keingintahuannya yang tinggi serta kemampuan Feynman menjelaskan fisika yang rumit menjadi sederhana. Selain meneliti elektrodinamika kuantum Feynman juga tertarik dengan dunia seni. Feynman tidak bisa menggambar, jadi ia mencoba mencorat-coret di atas kertas. Ia tidak mengerti musik, sehingga ia asal memukul gendang. Pada akhirnya bisa menjadi ahli melukis dan bermain akustik.”

Baca juga: Biografi Feynman Sang Legenda Fisika

Apakah pernah mengalami kegagalan dalam bidang akademik? Apa yang kemudian dilakukan?

“Kegagalan tentu sering terjadi. Apalagi di dunia riset. Eksperimen gagal hampir terjadi setiap waktu. Ketika sudah gagal berkali-kali salah satu hal yang saya lakukan adalah berdiskusi dengan orang lain. Saya bukan tipe orang yang gengsi dan malu bertanya. Bertanya dan berdiskusi merupakan langkah awal untuk bertukar pikiran dalam menemukan solusi bahkan motivasi. Pernah suatu ketika saya gagal berkali-kali dalam eksperimen. Lalu saya menghubungi professor di Caltech, namanya Carver Mead. Dia dengan santai mengatakan, kalau sudah gagal 100 kali berarti saatnya melakukan percobaan yang ke 101.”

Bagaimana perbandingan kondisi riset biomolekuler saat ini di Indonesia dan Amerika? Apa yang  menjadi penyebab perbandingan kondisi tersebut?

“Saya tidak berani menjawab secara pasti karena saya tidak tahu banyak dan belum merasakan kondisi penelitian di Indonesia secara langsung.”

Apakah akan terus berkarir di luar negeri atau ada kemungkinan untuk kembali ke Indonesia?

Rencana untuk kembali tentu ada. Namun tidak dalam waktu dekat. Saat ini prioritas utama saya selain keluarga adalah masa depan mahasiswa-mahasiswa di lab saya. Anak saya masih bersekolah di US dan yang kecil itu masih TK. Berdasarkan berbagai pertimbangan tidak memungkinkan untuk pindah sekolah ke Indonesia. Minimal ketika dia sudah lulus SMA. Lalu mahasiswa-mahasiswa di lab saya juga sangat penting. Mereka menggantungkan karir nya di BIOMAN Lab. Jadi saya harus bekerja keras untuk mendapatkan dana penelitian untuk mereka dan mendidik mahasiswa saya untuk menjadi peneliti yang dapat berpikir secara kritis.”

Pesan untuk peneliti di Indonesia

“Pesan saya kepada peneliti di Indonesia untuk melibatkan mahasiswa dalam penelitian, baik mahasiswa S1, dan tentu mahasiswa S2, dan S3. Untuk mahasiswa S1 kalau bisa didorong untuk kuliah ke luar negeri.”

Bagaimana sahabat Warstek? Sangat menginspirasi bukan? Semoga profil tokoh kali ini dapat meningkatkan semangat kita untuk memajukan sains dan teknologi di Indonesia. ^^

Referensi:

[1] https://commonfund.nih.gov/newinnovator diakses pada Sabtu, 6 Juli 2019

[2] http://hariadilab.strikingly.com diakses pada Sabtu, 6 Juli 2019

[3] Curriculum Vitae Personal Detail Rizal F. Hariadi, Ph.D

https://isearch.asu.edu/profile/3001319/cv diakses pada Sabtu, 6 Juli 2019

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Biomimetik diakses pada Sabtu, 6 Juli 2019

[5] https://biodesign.asu.edu/rizal-hariadi  diakses pada Sabtu, 6 Juli 2019

 

Bagikan Artikel ini di:

Bocah Sang Pemberi Nama Planet Pluto

Pluto, planet yang dinamakan bocah tersebut
Bagikan Artikel ini di:

Apa yang telah kalian lakukan ketika baru berumur 11 tahun?. Ada sebuah kisah unik dari Venetia Burney, ia memberi nama planet saat masih berumur 11 tahun secara tidak sengaja dan sedikit keberuntungan.

Bermula saat tahun 1846, astronom menemukan ketidakteraturan orbit planet Uranus yang akhirnya disebut “Planet X” . Percival Lowell adalah salah satu orang yang mencari planet ini. Pada Tahun 1905 sampai akhir hayatnya ia melakukan perhitungan matematis dan pengamatan menggunakan observatoriumnya untuk menemukan planet X tersebut. Pada 1915 ia memperkirakan lokasi planet X dalam Memoir on a Trans-Neptunian Planet. Sayangnya pada 1916 ia meninggal sebelum ia menyelesaikan pencarian fotografi di daerah yang ditargetkan di langit.

Percival Lowell

Sebelas tahun setelah kematian Percival Lowell, keponakannya yaitu Roger Lowell Putnam menjadi pengawas satu-satunya observatorium Lowell. Abbott Lawrence Lowell,saudara Percoval yang merupakan presiden Harvard University memberikan $10000 untuk membangun teleskop baru. Untuk pengoperasian teleskop tersebut, ia memperkerjakan seorang pekerja, Clyde Tambough. Clyde melakukan pencarian di lokasi yang telah diprediksi oleh Percival Lowell dan menemukan planet X (yang nantinya dinamakan Pluto) berdasarkan hasil foto 23 dan 29 Januari 1930. Berita penemuan ini selanjutnya dikirim ke Harvard Collage Observatiom.

Clyde Tombaugh

Berita penemuan Planet ini tersebar di seluruh dunia. Pihak observatorium Lowell memiliki hak untuk menamainya dan menerima 1000 saran nama dari seluruh dunia.

Pada 14 Maret 1930, Venetia, seorang bocah yang berasal dari Oxford, Inggris yang saat itu berumur 11 tahun sedang sarapan dengan ibu dan kakeknya. Kakeknya membacakan sebuah berita penemuan planet baru dan bertanya apa nama panggilannya. Kemudian Venetia berkata “kenapa tidak menyebutnya Pluto? “. Venetia mungkin berkata demikian karena ia suka membaca tentang mitologi Yunani dan Romawi.

 

Venetia Burney

Kakeknya ( Falconer Madan) adalah seorang pustakawan yang memiliki banyak teman sebagai astronom. Kemudian kakeknya menyarankan nama itu kepada astronom Herbert Hall Turner yang kemudia menyarankan kepada astronom di observatorium Lowell.

Dari seluruh penjuru dunia menyumbangkan nama hingga 1000. Pada 24 Maret 1930, setiap anggota observatorium Lowell diberi hak untuk memilih diantara 3 nama yaitu Cronus, Minerva, dan Pluto. “Pluto” memperoleh hasil bulat karena didorong oleh dua huruf pertamanya adalah inisial dari pendiri observatorium Lowell, Percival Lowell. Keputusan tersebut diumumkan kepublik pada 1 Mei 1930. Setelah diumumkan, Madan (kakeknya) menghadiahi Venetia sebesar $450.

Namun tahukah kamu? Pada tahun 2006, sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) ke-26 di Praha, Republik Ceko, menetapkan definisi baru tentang planet yang kemudian menyebabkan Pluto dikeluarkan dari daftar planet tata surya.

Dalam definisi IAU, sebuah planet haruslah mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga dapat mempertahankan bentuk bulatnya dan memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak terhalang benda langit lain). Sementara Pluto, ukurannya terlalu kecil untuk disebut sebagai planet dan orbitnya bersinggungan dengan planet lain yakni Uranus.

Baca juga: Penelitian Terbaru Desak agar Pluto Kembali Diklasifikasikan Sebagai Planet

Referensi :

  • Brad Mager. 1994. Pluto: The Discovery of Planet X. Diakses dari http://www.discoveryofpluto.com/pluto04.html pada tanggal 24 Juni 2019.
  • Charles Q. Choi . 2017. Dwarf Planet Pluto: Facts About the Icy Former Planet. Diakses dari https://www.space.com/43-pluto-the-ninth-planet-that-was-a-dwarf.html pada 21 Desember 2018.
  • Brian Dunbar. 2007. NASA – Transcript: The Girl Who Named Pluto. Diakses dari https://www.nasa.gov/multimedia/podcasting/transcript_pluto_naming_podcast.html pada 22 Desember 2018.
Bagikan Artikel ini di: