Sang Pemecah Sandi Enigma

Bagikan Artikel ini di:

Pada kesempatan kali ini penulis ingin menuliskan biografi dari salah satu tokoh yang mungkin saja pembaca belum mengenalnya. Mengapa penulis memilih tokoh ini? apakah penulis dibayar oleh beliau? tentu saja tidak kawan-kawan. Beliau tanpa penulis ceritakan pun sudah terkenal dengan sendirinnya. Menurut penulis tokoh ini sangat hebat dalam bidangnya terutama bagi kalian yang menyukai matematika,komputer dan tentunya AI(artificial intelligence). Perkenalkan nama tokoh ini adalah Alan Turing dengan nama lengkap Alan Mathison Turing.  Alan Turing lahir pada tanggal 23 juni 1912 di London dan wafat pada 7 juni 1954 di Wilmslow.

ALAN TURNING

Pada usia muda, ia memiliki  tanda-tanda kecerdasan tinggi yang diakui oleh beberapa gurunya. Alan turing menyukai pelajaran sains dan matematika pada saat ia berada di sekolah sherbone. Pada saat itu ia berusia 13 tahun. Setelah Sherborne, Turing mendaftar di Universitas Cambridge Inggris, belajar di sana dari tahun 1931 hingga 1934. Sebagai hasil dari skripsinya, ia membuktikan teorema batas pusat.

Pada tahun 1936, Turing menyampaikan makalah berjudul “On computable numbers, with an application to the Entscheidungsproblem” di mana ia menyajikan gagasan tentang mesin universal (kemudian disebut “Mesin Universal Turing,” dan kemudian “mesin Turing”) yang mampu  mengkomputasi apa pun yang dapat dihitung. Mesin ini dianggap sebagai pendahulu komputer modern.

Selama dua tahun berikutnya, Turing belajar matematika dan kriptologi di Institute for Advanced Study di Princeton, New Jersey. Setelah menerima gelar Ph.D. dari Universitas Princeton pada tahun 1938, ia kembali ke Cambridge, dan kemudian mengambil posisi paruh waktu dengan Kode Pemerintah dan Sekolah Cypher, sebuah organisasi pemecah kode Inggris.

Nah kalian semua sudah tau kan siapa sosok Alan Turning ini. Ada satu lagi yang penulis ingin bahas yaitu keberhasilan beliau memecahkan sandi mesin enigma buatan jerman di saat perang dunia ke dua.

Setelah kembali dari Amerika Serikat ke persekutuannya di King’s College (Universitas Cambridge) pada musim panas 1938, Turing kemudian bergabung dengan Kode Pemerintah dan Sekolah Cypher. Saat pecahnya perang dengan Jerman pada bulan September 1939, ia pindah ke markas besar organisasi masa perang organisasi tersebut. di Bletchley Park, Buckinghamshire.

Beberapa minggu sebelumnya, pemerintah Polandia memberi Inggris dan Prancis rincian keberhasilan Polandia melawan Enigma, mesin sandi utama yang digunakan oleh militer Jerman untuk mengenkripsi komunikasi radio. Pada awal 1932, sebuah tim kecil ahli matematika-cryptanalyst Polandia, yang dipimpin oleh Marian Rejewski, telah berhasil menyimpulkan kabel internal Enigma, dan pada tahun 1938 tim Rejewski telah menciptakan mesin pemecah kode yang mereka sebut Bomba (kata Polandia untuk sejenis es krim).

Bomba bergantung pada keberhasilannya pada prosedur operasi Jerman, dan perubahan prosedur tersebut pada Mei 1940 menjadikan Bomba tidak berguna. Selama musim gugur 1939 dan musim semi 1940, Turing dan yang lainnya merancang mesin pemecah kode yang terkait tetapi sangat berbeda yang dikenal sebagai Bombe. Selama sisa perang, Bombe memasok intelijen militer dalam jumlah besar kepada Sekutu. Pada awal 1942, cryptanalysts di Bletchley Park memecahkan kode sekitar 39.000 pesan yang dicegat setiap bulan, sebuah angka yang naik kemudian menjadi lebih dari 84.000 per bulan dua pesan setiap menit, siang dan malam. Pada tahun 1942, Turing juga menemukan metode sistematis pertama untuk memecahkan pesan yang dienkripsi oleh mesin sandi Jerman canggih yang oleh Inggris disebut “Tunny.” Pada akhir perang, Turing diangkat menjadi Perwira Urutan Paling Sempurna Kerajaan Inggris (OBE)untuk pekerjaannya memecahkan kode.

Pada Juni 2007, patung Turing seukuran aslinya diresmikan di Bletchley Park, di Buckinghamshire, Inggris. Patung perunggu Turing juga diresmikan di Universitas Surrey pada 28 Oktober 2004, untuk memperingati 50 tahun wafatnya.  Pada tahun 1999, majalah Time menamainya sebagai salah satu dari “100 Orang Paling Penting di abad ke-20”. Editor majalah Time juga menuliskan “Faktanya tetap bahwa setiap orang yang mengetuk keyboard, membuka spreadsheet atau program pengolah kata, sedang mengerjakan inkarnasi dari mesin Turing.”. Turing juga berada di peringkat 21 dalam jajak pendapat nasional BBC tentang “100 warga Inggris Paling Berpengaruh” pada tahun 2002. Secara umum, Turing telah diakui karena pengaruhnya terhadap ilmu komputer, dengan banyak yang menganggapnya sebagai “pendiri” bidang yang berkaitan dengan komputer.

Bagaimana kawan-kawan,prestasi beliau sangat hebat bukan? Beliau mampu membuat alat yang dapat meretas mesin enigma buatan jerman dan membantu inggris serta sekutunnya untuk menang melawan rezim hitler pada saat perang dunia II. Tapi kalian bertanya-tanya tidak? seperti  apa sih mesin enigma itu dan mengapa sulit sekali dipecahkan kodenya? .

Mesin Enigma

Mesin Enigma (berasal dari kata Latin, aenigma yang bermakna teka-teki) adalah sebuah mesin rotor elektromekanik yang digunakan untuk mengenkripsi suatu pesan dan mendekripsikan kembali pesan tersebut. Mesin Enigma dipatenkan oleh seorang insinyur asal Jerman yang bernama Arthur Scherbius di Berlin tahun 1918, yang kemudian digunakan oleh militer dan pemerintah Jerman Nazi sebelum dan selama Perang Dunia II. Pada awalnya alat yang dibuat oleh Arthur Scherbius berfungsi untuk mengkoversi huruf dalam bentuk tabel. Arthur menjual alat ini untuk masyarakat umum khususnya para pebisnis, tetapi keadaan berkata lain alat ini digunakan dan sudah dimodifikasi oleh militer jerman untuk perang dunia kedua.

Cara Kerja Mesin Enigma

Enkripsi yang dilakukan enigma sebenarnya adalah substitusi, di mana sebuah huruf digantikan dengan tepat sebuah huruf juga, hanya saja substitusi dilakukan beberapa kali. Dan walau hanya dengan substitusi, sebuah pesan akan sulit sekali didekripsi jika tidak dengan alat yang sama, dengan pengaturan posisi yang sama, tipe substitusi yang sama, dan kode kunci yang sama. Sambungan tersebut memakai wiring atau teknik penambungan kabel yang dimana misal A pada rotor kiri terhubung dengan D pada rotor tengah , maka jika A pada rotor kiri teraliri listrik, maka D pada rotor yang ditengah akan teraliri listrik juga.

Sedangkan secara sederhana cara kerja dari mekanisme wiring tersebut adalah subsitusi dari tombol yang ditekan dan terhubung dengan salah satu lampu. Jadi misal sesuai contoh jika tombol  A ditekan, maka lampu D akan menyala. Kemudian hal tersebut dilakukan ulang namun dengan mengganti rotor yang sedang digunakan. Kemudian dilakukan pergeseran pada rotor setiap kali ada tombol yang ditekan. Begitu seterusnya selama pesan diketik. Dengan adanya reflektor, jalannya arus dapat dibalikkan dari rotor ke rotor lainnya, yang efeknya adalah kemungkinan yang meningkat 26 kali dari substitusi huruf.

Relektor ini menyebabkan Enigma tidak perlu mengubah keadaan jika sedang ingin mengenkripsi sebuah pesan atau mendekripsikannya. Namun reflector ini menyebabkan kelemahan pada mesin Enigma ini, di mana terjadi pembalikan, misal huruf M dienkripsikan menjadi T, maka huruf T akan dienkripsikan menjadi huruf M pada rotor yang sama, dan sebuah huruf tidak akan mungkin bisa dienkripsi menjadi dirinya sendiri.

Sedangkan rotor untuk enigma ada beberapa, walaupun yang dapat dipakai dalam satu waktu pada satu enigma adalah 3 buah saja, yang diberi nama L (left), M (middle), dan R (right). Sedangkan jenis-jenis rotor yang ada diberi nama rotor I, rotor II, rotor III, dan seterusnya. Di bawah ini adalah beberapa jenis rotor yang pernah digunakan oleh enigma

Contoh nya :

Rotor ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
I EKMFLGDQVZNTOWYHXUSPAIBRCJ
II AJDKSIRUXBLHWTMCQGZNPYFVOE
III BDFHJLCPRTXVZNYEIWGAKMUSQO
IV ESOVPZJAYQUIRHXLNFTGKDCMWB
V VZBRGITYUPSDNHLXAWMJQOFECK
VI JPGVOUMFYQBENHZRDKASXLICTW
VII NZJHGRCXMYSWBOUFAIVLPEKQDT
VIII FKQHTLXOCBJSPDZRAMEWNIUYGV

Pada setiap rotor tersebut dikenal adanya istilah Turnover, yaitu posisi di mana sebuah rotor mulai bergerak menggeser rotor di sampingnya. Rotor R akan selalu bergerak 1 huruf setiap kali tombol ditekan  dan jika turnover dari rotor R tersebut adalah S, maka rotor R tersebut akan menggeser rotor M sejauh 1 huruf jika sudah mencapai posisi turnovernya (posisi di huruf S). Setiap jenis rotor mempunyai turnover masing-masing.

Cara Pemecahan Mesin Enigma

Jika melihat mekanisme mesin ini kita pasti berpikir bahwa mustahil seseorang bisa memecahkan kode tersebut. Dimana pada saat itu jerman mengubah kunci rotor setiap jam 12 malam dan membuat orang yang memecahkannya merasa putus asa dengan pekerjaannya di siang hari. Kode hasil enkripsi mesin enigma yang telah serumit itu dan bahkan diklaim oleh Jerman tidak mungkin dipecahkan. Tetapi tetap saja mesin tetaplah mesin, benda itu mempunyai kelemahannya.

Baca juga: Paper “Alan Turing” Menjadi Inspirasi Pembuatan Filter Air Terbaru

Kelemahan tersebut antara lain :

  1. Sebuah huruf tidak dapat dipetakan ke huruf itu sendiri, contohnya misal huruf ‘A’ sebagai input tidak mungkin
    menghasilkan huruf ‘A’ juga; sebagai output.
  2. Operator harus melakukan setting untuk mendapatkan nilai awal. Di mana di kasus-kasus tertentu, hal tersebut dapat terprediksi, dan kesalahan yang umum dilakukan oleh operator-operator tersebut adalah dalam memilih nilai yang dapat dengan mudah diprediksi sebagai nilai awal.
  3. Penyandian bersifat berkebalikan, jadi bila huruf ‘A’ disandikan menjadi huruf ‘Z’, maka huruf ‘Z’ akan disandikan      menjadi huruf ‘A’.
  4. Kunci pesan dikirimkan 2 kali.
  5. Posisi turnover pada setiap rotor unik, sehingga memungkinkan untuk ditebak rotor mana saja  yang digunakan

Apa alat yang dibuat oleh Alan turing untuk memecahkan kode enigma?

Alan Turing membuat alat yang mempunyai fungsi untuk meretas kode rotor  walaupun Jerman mengubah standar operasi mereka. Hal yang mendasari kerja bombe adalah sifat yang disebabkan oleh reflektor pada mesin enigma, di mana terjadi enkripsi yang berkebalikan, yang kemudian berhasil diturunkan sehingga posisi dari roda-roda tersebut dapat ditebak dengan memperhitungkan hal tersebut. Hanya saja waktu yang diperlukan cukup lama jika dilakukan secara manual seperti sebelum-sebelumnya.

Hal yang dapat dipelajari dari tokoh ini adalah kerja kerasnnya dalam melawan ketidakmungkinan. Dengan usaha yang keras  ia dapat membuat alat yang dapat memecahkan sandi dari mesin enigma. Kisah hidup Alan Turing dan caranya membuat mesin pemecah enigma telah difilmkan dalam film “The Imitation Game (2014)”.

REFERENSI

  1. https://www.britannica.com/biography/Alan-Turing diakses pada tanggal 30 juli pukul 21.00
  2. https://www.biography.com/scientist/alan-turing diakses pada tanggal 30 juli pukul 21.05
  3. http://informatika.stei.itb.ac.id/~rinaldi.munir/Kriptografi/2008-2009/Makalah1/MakalahIF30581-2009-a016.pdf diakses pada tanggal 30 juli pukul 21.30
Bagikan Artikel ini di:

Kesuksesan Milik Mereka yang Berjuang! Anak Tukang Becak Berhasil Raih Doktor di ITS dengan IPK 4.0

Bagikan Artikel ini di:

Berasal dari latar belakang ekonomi keluarga yang sederhana, tak lantas menyurutkan semangat Lailatul Qomariyah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Meski kondisi yang ada mengharuskan gadis berusia 27 tahun asal Pamekasan, Madura ini berjuang mencari uang sendiri agar bisa melanjutkan kuliah dan menghidupinya hingga berhasil meraih gelar doktor dari Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan akan diwisuda pada hari Minggu ini (15 September 2019).

Di sela-sela studinya, gadis yang biasa disapa Laila ini juga mencari tambahan penghasilan melalui profesi guru les privat. Meskipun ia telah memperoleh beasiswa untuk membantu biaya kuliahnya. Berhubung alat transportasi yang dimiliki Laila hanya berupa sepeda ontel, ia pun hanya mengajar murid tingkat SMP dan SMA di sekitar wilayah kampus ITS.

Anak sulung dari pasangan Saningrat (43) dan Rusmiati (40) ini mengaku bahwa dirinya ingin mengubah nasib keluarganya. Meski pendapatan Saningrat sebagai pengayuh becak dan Rusmiati sebagai buruh tani yang tergolong di bawah rata-rata, tidak cukup untuk membiayai sekolah Laila. Nyatanya, alumnus S-1 Teknik Kimia ITS ini tetap sanggup menyelesaikan studi doktoral (S-3) tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya.

Laila merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang masuk ITS melalui jalur prestasi. Selanjutnya ia meneruskan pendidikannya dengan beasiswa dari program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Yakni beasiswa program percepatan pendidikan yang diberikan kepada lulusan sarjana yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang Doktor dengan masa pendidikan selama empat tahun.

Dalam memberikan les privat, mata pelajaran yang diajarkan Laila kepada muridnya pun variatif. Berkat wawasan akademiknya yang luas, perempuan yang juga mengambil Magister di ITS ini sanggup mengajar matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris, dan pelajaran umum lainnya. Tercatat sejak awal menginjak bangku kuliah di program sarjana, Laila telah melakoni rutinitas ini demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari gadis ini.

Gadis kelahiran Pamekasan, 16 Agustus 1992 ini mengikuti prinsip yang diajarkan dalam kitab Alquran. “Dalam Alquran disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa usaha dari kaum tersebut,” tuturnya mengutip isi salah satu ayat di Alquran. Selain itu, orang tua dan guru sekolah Laila juga rutin memberikan pesan bahwa pendidikan dan pekerjaan yang dijalaninya harus jauh lebih tinggi dibanding yang didapatkan kedua orang tuanya.

Lailatul Qomariyah, lulus dengan IPK 4.0 pada program Doktor Teknik Kimia ITS

Buah kerja keras yang dilakoni Laila tidak dapat dipandang sebelah mata. Tercatat, melalui topik disertasinya, ia berhasil menyelesaikan program doktoral dengan IPK 4.0 dan menghasilkan artikel ilmiah yang telah dimuat di berbagai jurnal seperti di RSC Advances (Q1) dan Chemical Papers (Q3). Sebuah prestasi tersendiri bagi mahasiswi yang rutin meneliti ini karena RSC Advances adalah salah satu jurnal top di bidang kimia dan teknik kimia. Di samping itu, agar seluruh aktivitasnya yang padat dapat terlakoni semua, ia harus tahan tidur hanya empat jam dalam sehari.

Sumber berita:

Putri Pengayuh Becak Berhasil Raih Doktor di ITS dengan IPK 4. Diakses pada 15 September 2019 pukul 11.12 WIB

Bagikan Artikel ini di:

Hutomo Suryo Wasisto: Dari Tidak Bisa Membuat Abstrak Hingga Menjadi Ilmuwan Berprestasi di Jerman

Bagikan Artikel ini di:

Halo sahabat warstek.com, kali ini saya berkesempatan bertemu langsung dengan seorang Ilmuwan diaspora yang sedang pulang kampung sejenak ke Indonesia. Beliau datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri SCKD (Simposium  Cendekia Kelas Dunia) 2019 di Jakarta yang diadakan oleh Kemenristekdikti RI. Setelah menghadiri simposium ilmuwan tersebut, beliau membagikan pengalamannya di luar negeri ke berbagai instansi kampus yang ada di Indonesia. Salah satu acara yang dikunjunginya yaitu Seminar yang diadakan di Universitas Diponegoro Semarang tepatnya di ruang pertemuan di Gedung UNDIP Inn pada tanggal 2 September 2019. Penasaran siapa Ilmuwan diaspora yang berhasil penulis temui? Yuk baca artikel hasil diskusi ini, selamat membaca!

Perjalanan sebagai Peneliti Nano

Tidak pernah menyangka seorang yang bernama lengkap Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng ini menjadi ilmuwan di bidang Nanoteknologi. “Saya tidak menyangka sekarang terjun di bidang nanoteknologi, sebab latar belakang keluarga saya adalah kedokteran” kata Pak Ito, sapaan akrabnya.

“Saya dahulu ketika studi S1 mendaftar jurusan Kedokteran dan Teknik Elekto di Universitas Gajah Mada. Saat melihat pengumuman penerimaan kuliah, saya kaget saat membaca ‘selamat Anda diterima’, kelanjutannya ada kalimat ‘di jurusan teknik elektro’. Hahaha, pada awalnya saya sempat bingung karena ada keinginan di kedokteran. Ya, saya tetap jalani.”

Ketika wisuda pada studi S1 Teknik Elektro, Pak Ito mendapat penghargaan tiga kategori sekaligus yakni Mahasiswa cum laude lulus Tercepat, Terbaik dan Termuda di UGM pada tahun 2008. Merasa membutuhkan pendidikan yang lebih tinggi, selanjutnya Pak Ito melanjutkan studi S2, Master of Engineering (M.Eng.) di Asia University, Taichung, Taiwan. Pada awalnya, beliau hanya mengira Taiwan hanya sebatas negara dengan film terkenal “Meteor Garden” saja. Namun, dari negara ini, Pak Ito mulai bersemangat mendalami teknologi khususnya yang bersinggungan dengan bidang elektronika.

“Yang ada di pikiran saya waktu ke Taiwan, di sana hanya negara penghasil fim ‘Dao Ming Si’ saja. Setelah saya pelajari teknologi orang-orang di sana dan akhirnya negara ini mampu menginspirasi saya dalam mengembangkan teknologi bidang elektronik (Hi-Tech)”

Sekali lagi, beliau kembali lulus berpredikat cum laude di Ilmu Komputer dan Teknik Informasi pada tahun 2010 di Asia University, Taichung, Taiwan. Kemudian, pendidikannya berlanjut ke Jerman untuk menempuh pendidikan S3.

Ada motivasi unik dari seorang Hutomo Suryo Wasisto saat ditanya mengapa memutuskan Jerman sebagai Negara tempatnya berkuliah. “Saya terinspirasi dari sosok Pak Habibie pada waktu itu. Saya awalnya hanya ingin memiliki gelar seperti yang Pak B.J Habibie miliki (Dr.-Ing) dan hal tersebut dapat terwujud jika saya kuliah di Jerman seperti Pak Habibie.” Ujar Pak Ito. Beliau berpendapat bahwa figur atau tokoh yang memotivasi itu sangat perlu untuk kita. Ketika studi di Jerman, beliau memilih berfokus pada bidang Nanoteknologi. Sahabat warstek, sekarang muncul istilah Nanoteknologi, Apa sih Nanoteknologi itu?

The Dream Come True. Pak Ito berfoto dengan Prof. B.J. Habibie (Sumber: Kompas)

Sekilas tentang Nanoteknologi

Nanoteknologi merupakan teknologi yang berkaitan dengan material berukuran nanometer, yang dapat bermanfaat untuk berbagai bidang baik sains, kedokteran, dll. Nanoteknologi dikenal masyarakat umum sebagai teknologi penyusun komponen yang ada di gawai (gadget) dan benda-benda elektronik lainnya seperti chip. Tidak hanya pada bidang elektronik, nanoteknologi sekarang telah banyak digunakan di segala aspek, misalkan pada kosmetik. Kini, kosmetik yang berukuran partikel nano lebih melindungi kulit dari sinar UV secara merata dibanding ukuran yang lebih besar daripada Nanometer. Ada juga pada bidang food packaging, misalkan untuk mengirim (ekspor) buah-buahan ke luar negeri digunakan material organik berukuran nanometer untuk melapisi (coating) ke permukaan kulit buah agar awet (tidak cepat busuk). Pada bidang kedokteran misalnya pada penambalan gigi yang menggunakan material nanometer hasilnya akan lebih padat dan baik. Intinya, nanoteknologi ini dapat dimanfaatkan pada bidang yang sangat luas.

“Sayangnya, banyak pihak yang menggunakan kata ‘Nano’ sebagai trend saja. Padahal, pada kenyataannya tidak terdapat teknologi nano di dalamnya. Istilah  Nano ini semakin ‘sexy’ menurut saya, sebab diminati oleh kebanyakan pebisnis,” Kata Pak Ito.

Pak Ito pada kesempatan diskusi seminar juga menjawab permasalahan-permasalahan dari peserta diskusi yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuwan. Pak Ito menjawab permasalahan Teknik Perkapalan yang saat ini juga sudah mulai bersentuhan dengan nanoteknologi misalkan pada material penyusun kapal. Selanjutnya, beliau juga menjawab permasalahan pada bidang Peternakan dan Pertanian, persoalan pangan dengan pembuatan nano-protein untuk meningkatkan produktivitas ternak. Pak Ito beranggapan bahwa untuk menciptakan hasil riset yang berkualitas dibutuhkan kolaborasi yang apik dari berbagai disiplin ilmu.

“Riset saya, pembuatan gas-sensor ini membutuhkan pengetahuan atau keahlian mengenai susunan material sensor tersebut. Gas Sensor memiliki musuh utama yaitu air atau akan tidak berjalan apabila berinteraksi dengan air. Di sini saya membutuhkan mixed-material antara hidrofobik dan hidrofilik. Tujuannya, agar material itu menyerap target molekul yang kita sensor. Nah, pengetahuan semacam ini saya dapatkan dari orang kimia. Ini sangat penting karena komposisi material mempengaruhi performance dari sebuah sensor”

Pak ito menambahkan penjelasan kerangka berpikirnya bahwa dalam pembuatan sensor misalkan dibuat hidrofobik (anti air) saja, maka gasnya tidak akan terdeteksi. Di satu sisi jika hanya menyusun sensor dengan material hidrofilik saja, maka sensor akan rusak karena berinteraksi dengan air. Kemudian dia berinisiatif mengkombonasikan kedua sifat material tersebut dengan diperhitungkan optimasinya bersama orang kimia.

Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng (sumber gambar: ristekdikti)

 Nanoteknologi di Indonesia

Pak Ito beranggapan bahwa teknologi nano di Indonesia sebenarnya sudah mulai berkembang. Namun, lebih cenderung ke arah materialnya dan jarang ada yang masuk ke ranah teknologi Hi-tech.

“Research tentang nano ada yang bersifat top-down dan buttom-up. Kini Indonesia masih berfokus pada arah pembuatan materialnya saja.”

Ada beberapa Ilmuwan Diaspora Indonesia apabila kembali ke Indonesia membutuhkan adaptasi dalam beraktivitas untuk waktu yang cukup lama, sebab kebutuhan bahan riset dengan ketersediaan fasilitas atau bahan yang ada di Indonesia belum seperti tempat negara asalnya berkuliah dahulu.

Selama di Jerman, Pak Ito sering dipandang sebelah mata oleh orang di sekelilingnya sampai akhirnya dia membuktikan lulus di usia muda (27 tahun) sebagai lulusan predikat summa cum laude di Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Jerman, dan akhirnya mendapatkan gelar Dr.-Ing yang sejak awal diimpikannya. Impiannya tidak selesai sampai di sana, Pak Ito tetap melakukan kerja-kerjanya dengan berkontribusi di bidang nanomaterial dan sensor, dengan menjadi kepala sebuah laboratorium Nano yaitu Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) di Technische Universität Braunschweig.

Berbagi Pengalaman dalam Berkontribusi

Kontribusi seorang Pak Ito dalam dunia riset tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga melibatkan orang lain. Dirinya mengajak peneliti-peneliti Indonesia dalam timnya, beliau juga mendirikan instansi bernama Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano), kini beliau sebagai CEO. Selain aktif dalam laboratorium risetnya, Pak Ito sehari-hari juga membagikan ilmunya dan membimbing mahasiswa S1, S2 dan S3 di Technische Universität Braunschweig. Kontribusinya terhadap dunia teknologi, selain mengajar dan riset di dalam Laboratorium, beliau aktif menulis jurnal internasional dan hampir seluruhnya Q1. Kemudian kini juga ikut me-review berbagai jurnal yang berindeks Q1 milik peneliti-peneliti lainnya. Atas kontribusinya dalam me-review jurnal, beliau mendapat penghargaan karena me-review lebih dari 20 jurnal internasional bereputasi.

Pencapaian Pak Ito, kini tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Pasalnya, pada usia yang relatif muda (30an tahun) sudah mencapai banyak pencapaian, penelitian yang berintegritas tinggi yang saat ini sudah mencapai 700 kutipan, memiliki H indeks 14, 2 hak paten telah didapatkan, dan belasan penghargaan skala internasional pun telah diperoleh.

Seminar General Lecture tentang Nanoteknologi bersama Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng

Dibalik Kesuksesan Pak Ito

Pria yang aktif dalam organisasi I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) ini tidak disangka-sangka memiliki fakta menarik yang dia bagikan kepada peserta seminar. Siapa sangka, Pak Ito mengaku dahulu waktu kuliah S1, kesulitan dalam berbahasa Inggris dan menulis karya tulis ilmiah. Bahkan dalam menulis abstrak berbahasa inggris Pak Ito dahulu membutuhkan waktu satu pekan.

“Saya dahulu pada awal pertama kali menulis, membuat abstrak berbahasa inggris dalam waktu satu pekan. Kemudian, hasil abstrak tersebut saya berikan kepada teman saya yang sudah advanced berbahasa Inggris karena memang dia sudah dari lahir di luar negeri. Hasilnya abstrak saya bagaimana? Saya terkejut, dari satu paragraf yang saya buat, hanya satu kalimat yang dinilai benar. Akhirnya saya memutuskan mulai banyak belajar lagi” Ujarnya

Foto Penulis (kiri) bersama Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng (kanan)

Dahulu Pak Ito yang kesulitan menulis dalam berbahasa Inggris, kemudian belajar keras hingga saat ini dapat menulis artikel Jurnal Internasional dan pernah juga sebagai asisten pengajar di English Center, Foreign Language Department, di Asia University, Taiwan.

Nah, bagaimana sahabat warstek.com, seorang Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto sangat menginspirasi bukan? Semoga sahabat warstek semakin semangat belajar dan berkontribusi untuk menjayakan negeri.

Penulis: Budiman Prastyo

Editor: Nur Abdillah Siddiq

Bagikan Artikel ini di: