Tips Kuliah dan Menjadi Ilmuwan Prestatif di Luar Negeri (Hasil Diskusi Bersama Peneliti Indonesia yang Mendunia)

Bagikan Artikel ini di:

Halo sahabat Warstek, pada artikel ini akan dipaparkan mengenai pengalaman penulis bertemu dengan seorang ilmuwan mendunia asal Indonesia yang memiliki jam terbang riset yang tinggi di luar negeri, baik dalam hal studi (menempuh S3/doktoral), maupun karena pekerjaannya sebagai peneliti (asisten postdoctoral research di Universitas Oxford dan bekerja di CERN).

Pertemuan tersebut berlangsung di acara World Class yang diadakan oleh Profisia.id, bertempat di GoWork Plaza Indonesia, Jakarta. Acara yang dilaksanakan pada Minggu, 13 Januari 2019 tersebut mendapat antuasiasme yang luar biasa dari para peserta dengan berbagai latar belakang pendidikan, berasal dari berbagai daerah bahkan dari beberapa negara.

Pembicara utama pada seminar tersebut adalah Dr. Muhammad Firmansyah Kasim. Beliau lahir di Makassar 26 Januari 1991 dan merupakan alumni Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2009.

Masa kecil pria yang biasa disapa Firman ini sangat mengidolakan seorang B.J Habibie dikarenakan sosok Pak Habibie yang sangat inspiratif. Pada saat itu Firman kecil hobi mengoleksi mainan pesawat terbang. Sejak kecil, Firman menekuni matematika. Namun, lama-kelamaan setelah mengenal Fisika di SMA Islam Athirah, dirinya mulai jatuh cinta kepada Fisika, kemudian mendalaminya sampai kecintaan itu mengantarkan beliau meraih beberapa medali. Medali yang didapatkan di antaranya, medali emas di Olimpiade Fisika Internasional ke-38 pada tahun 2007 dan medali emas di Asian Physic Olympiad pada tahun 2007.

Dr. Firman di masa SMA yang berhasil mengharumkan Indonesia dengan medali emas di Olimpiade Fisika Internasional ke-38 pada tahun 2007.

Saat ini, Dr. Firman bekerja di Departemen Fisika di Oxford (sebagai asisten Postdoctoral Research). Dr. Firman merupakan warga Indonesia pertama yang aktif di lembaga penelitian fisika partikel di Universitas Oxford. Beliau juga memiliki pengalaman bekerja di CERN (Conseil Europèene pour la Recherche Nuclèaire). CERN merupakan laboratorium Fisika Partikel terbesar di dunia yang telah berhasil mengonfirmasi keberadaan “Partikel Tuhan”..

Baca juga: Apakah Partikel Tuhan adalah Partikel Penyusun Tuhan?

Belajar Kehidupan di Luar Negeri

“Saya bersama teman saya satu grup praktik lapangan memilih wilayah praktik di luar negeri, itu tujuannya untuk melatih skill berbahasa saya juga.” Ujar Dr. Firman

Di tahun ketiga perkuliahannya di ITB, beberapa kali ditolak oleh perusahaan tempat kerja praktik tidak menyurutkan semangat Firman, pada akhirnya salah satu perusahaan di Malaysia menerimanya sebagai Mahasiswa kerja praktik. Dr. Firman mengaku telah memiliki tekad yang kuat demi memiliki pengalaman bekerja di luar negeri, walau nanti ada konsekuensi tidak dibayar sekalipun.

Pengalaman kedua hidup di luar negeri Dr. Firman selanjutnya ketika bekerja di CERN Swiss pada tahun 2013. Beliau ditempatkan bekerja di salah satu detektor CERN (ATLAS, CMS, LHCb dan ALICE) dalam mesin lingkaran LHC (Large Hadron Collider) yang berada di ruang bawah tanah dengan diameter 27 km. “Diameter lingkaran LHC ini sampai menembus batas Negara, ini terbesar di dunia” Kata Dr. Firman.

Dr. Muhammad Firmansyah Kasim menyampaikan hasil risetnya selama di CERN

Bekerja di CERN selama setahun, pada tahun 2014 Dr. Firman mendapat beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) sehingga dapat melanjutkan studi hingga jenjang doktoral di Universitas Oxford.

“Saya sangat beruntung, dengan berbekal pengalaman di CERN salah satunya mengantarkan saya untuk dipercaya melanjutkan ke Oxford. Pengalaman yang sangat berharga” ungkap Dr. Firman dengan penuh rasa syukur.

Kehidupan di luar negeri memiliki nilai unik tersendiri bagi seorang Firman, beliau sempat bercerita selama di tempat perantauannya tersebut. Kesannya selama di Oxford bahwa di sana toleransi beragama relatif tinggi, beliau yang seorang Muslim mendapatkan fasilitas (tempat ibadah, makanan halal) dan perlakuan yang baik sehingga dapat melaksanakan kegiatan agama dengan aman dan nyaman.

Dalam hal kinerja sehari-hari, civitas akademika di Oxford sangat kooperatif dan menjaga etika ke satu sama lain. Misalnya, dalam melakukan suatu pekerjaan, hasil pekerjaan diapresiasi dengan baik bagaimanapun hasilnya. Selanjutnya, masalah yang sering kita anggap sepele seperti menanyakan hal privasi, “kapan nikah? Rencana mempunyai anak berapa?” itu juga dihindari, tujuannya untuk menghindari diskriminasi.

Kuliah dan Penelitian di Luar Negeri

Kuliah di luar negeri (Oxford tepatnya) tidak mengenal linieritas, artinya apabila ingin melanjutkan jenjang S1, S2 tidak harus Fisika apabila ingin melanjutkan ke S3 Fisika. Pembiayaan penelitian juga sama, bahkan pembiayaan penelitian yang sangat dipertimbangkan adalah penelitian yang memiliki dampak multidisiplin ilmu, misalnya penelitian A harus berdampak kepada ilmu lingkungan, biologi, fisika, ilmu sosial dan lain-lain.

Selama kuliah di Universitas Oxford, peneliti mendapatkan Safety Control dan Quality Control alat yang baik, misal seseorang untuk melakukan suatu hal harus melewati tahap training. Kalibrasi dan akreditasi instrumen Laboratorium sementara ini dilakukan secara mandiri oleh pihak Laboratorium, sebab terdapat beberapa instrumen yang tidak dijual di toko manapun.

Foto bersama kontributor Warstek bersama pemateri pasca acara. Dari kanan, Afrizal Effendi (ITERA), Muhammad Firmansyah Kasim, Budiman Prastyo (Penulis, UIN Walisongo Semarang) dan Isa Ananta (ITERA)

Kuliah dan penelitian di Universitas Oxford tidak mengenal apakah suatu penelitian berguna atau tidak berguna. Dr. Firman mencontohkan bahwa ada penelitian yang pada masanya belum diketahui kegunaannya tetapi berguna di masa sekarang, misalnya saja JJ Thomson menemukan elektron (1897), pada saat ini berguna bagi peralatan-peralatan yang kita kenal sebagai elektronik. “Basic Sciences merupakan investasi, sekarang belum berguna, bisa jadi di masa mendatang, termasuk penelitian yang saya lakukan ini.” Kata Firman. Hasil penelitian di wilayah CERN misalnya, dipublikasikan kepada masyarakat dengan baik melalui sosialisasi-sosialisasi ke masyarakat sampai ke sekolak-sekolah.

Kebiasaan Seorang Dr. Muhammad Firmansyah Kasim

Dr. Firman menyampaikan dengan penekanan kepada peserta seminar untuk mencari banyak pengalaman. Beliau menyarankan untuk berkontribusi dalam paper ilmiah atau mengikuti International Conference. Hal tersebut beliau rekomendasikan supaya saat nanti mendaftar studi lanjut ke kampus luar negeri, kompetensi kita lebih ‘diakui’.

Selain kebiasaannya meneliti dan menekuni di bidangnya, Dr. Firman memiliki kebiasaan yang banyak orang lain tidak ketahui yaitu beliau lebih senang berjalan kaki. Di kehidupan kuliah saat di Universitas Oxford beliau berjalan kurang lebih dalam sehari sebanyak kurang lebih 2 jam. Dari kegiatan berjalan kaki ternyata beliau dapat menemukan ide-ide brilian.

Ternyata menurut studi dari peneliti Stanford, kreativitas seseorang meningkat rata-rata 60% ketika berjalan. Peneliti dari Journal of Experimental Psychology (2014) menyebutkan berjalan lebih meningkatkan kreativitas daripada duduk.

Sahabat Warstek, semoga dari pemaparan tokoh Ilmuwan Indonesia ini dapat menginspirasi kita semua untuk memajukan sains dan teknologi yang ada di Indonesia. Salam Sains dan Teknologi! Mari kita harumkan bangsa Indonesia dengan prestasi!

Referensi:

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

9 Ilmuwan Terbaik Indonesia di Tahun 2018 (Bagian 2)

Bagikan Artikel ini di:

Pada bagian 1, telah dibahas tentang profil dan prestasi Internasional 3 ilmuwan terbaik Indonesia di tahun 2018 yakni  Suharyo Sumowidagdo, Irwandi Jaswir, dan Khoirul Anwar. Bagi yang belum membaca, silahkan klik link berikut > 9 Ilmuwan Terbaik Indonesia di Tahun 2018, Bagian 1. Nah pada artikel ini, Warstek akan melanjutkan 3 nama berikutnya.

Jika di bagian 1 semuanya adalah laki-laki maka pada bagian 2 ini semua ilmuwannya adalah perempuan. Tiga perempuan ini adalah ilmuwan hebat yang sangat produktif dalam melakukan publikasi (h-indeks) dan juga telah mendapatkan penghargaan Internasional. Siapakah 3 perempuan hebat tersebut?

1. Wiratni Budhijanto

Lahir di Yogyakarta pada 7 Februari 1973, Wiratni adalah dosen dan Associate Professor program studi Teknik Kimia di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pada 21 Juni 2018, beliau meraih penghargaan The 39 Most Powerful Female Engineers of 2018 yang dianugerahkan oleh salah satu media Belanda terkemuka yakni Business Insider (BI) [1]. Dalam list 39 nama tersebut, Wiratni berada pada urutan ke-33 dan bersanding dengan insinyur-insinyur perempuan terkemuka dari perusahaan AirBnB, Tesla, SpaceX, Microsoft, Google Cloud, Apple, NVIDIA, Pinterest, Adobe, General Motors, dan Intel. Beliau terpilih karena mengembangkan teknologi pengolahan air limbah yang 10 kali lebih efisien dari metode konvensional, membutuhkan lebih sedikit lahan untuk pengolahan air limbah, dan tidak mengemisikan gas rumah kaca. Kemudian business insider juga menyatakan bahwa riset Wiratni dapat menjadi game-changer untuk negara berkembang seperti Indonesia [2]. Selama tahun 2018 ini, Wiratni telah menerbitkan 14 artikel ilmiah dan meraih h-indeks sebesar 8 [3]. Keren ya? Meneliti dan berkarya dalam negeri, tapi bisa membuat 1 artikel ilmiah setiap bulannya.


Wiratni Budijhanto.  Beliau hendaknya dijadikan role model oleh perempuan-perempuan muda Indonesia.

2. Rose Amal

Lahir di Medan Sumatera Utara pada tahun 1965, Rose Amal adalah  Scientia Professor dan ARC Laureate Fellow di School of Chemical Engineering University of New South Wales (UNSW),Australia. Ketika mengetikkan frase “Nationality Rose Amal” di kotak pencarian Google, maka yang muncul adalah Australia (bukan Indonesia). Hal tersebut bukanlah suatu kesalahan, karena Rose telah berada di Australia sejak tahun 1983 dan menetap hingga sekarang [4]. Rose pindah ke Australia untuk berkuliah S1 di UNSW setelah menyelesaikan SMA di Indonesia. Meskipun telah berkebangsaan Australia, dalam wawancara yang dilansir di situs UNSW Rose mengaku sangat rindu dengan Indonesia, “I do (miss Indonesia) in a sense” [5]. Atas dasar inilah Warstek memasukkan Rose Amal ke dalam daftar 9 ilmuwan terbaik Indonesia di tahun 2018. Meskipun saat ini beliau berkebangsaan Australia, semoga suatu saat beliau akan kembali ke Indonesia dan berkarir di Indonesia. Prestasi Internasional yang telah beliau raih adalah mendapatkan penghargaan tertinggi dari pemerintah Australia bernama Companion of the Order of Australia atas dedikasinya pada bidang teknik kimia dan telah menjadi role model sekaligus mentor bagi ilmuwan perempuan di Australia[6]. Bidang yang digeluti Rose adalah photocatalysis dan nanoteknologi pada bidang energi terbarukan. Selama tahun 2018, beliau telah menerbitkan lebih dari 50 artikel ilmiah dan telah meraih h-indeks 76 [7].Baca juga: 

Rose Amal. Meskipun telah berkebangsaan Australia, tapi beliau sangat merindukan Indonesia. Semoga kedepannya bisa kembali ke Indonesia ya Prof!

3.Witri Wahyu Lestari

Lahir di Demak Jawa Tengah pada 22 Desember 1980, Witri adalah dosen Universitas Sebelas Maret (UNS). Beliau menjadi pengampu mata kuliah Kimia Anorganik di Fakultas MIPA UNS. Di tahun 2018, Witri memenangkan penghargaan bergengsi the OWSD-Elsevier Foundation Awards for Early-Career Women Scientists in the Developing World 2018. Penghargaan tersebut diraih setelah menang berkompetisi dengan ilmuwan dari berbagai negara berkembang di Asia Pasifik seperti India, Pakistan, China, Iran, Bangladesh, Nepal, Philipina, Turki, Srilanka, Malaysia, Myanmar, Vietnam, Thailand dan Uzbekistan [8]. Penerimaan penghargaan berupa sertifikat dan uang senilai USD 5000 diberikan pada tanggal 17 Februari 2018 kepada Witri dalam rangkaian acara the American Association fot the Advancement of Scinece (AAAS) Annual Meeting di Austin, Texas, Amerika. Namun beliau berhalangan hadir secara langsung karena tengah hamil 37 minggu, sehingga menerima penghargaan via aplikasi Skype di waktu tersebut. Adapun penelitian Witri berfokus pada bidang organologam dan kimia koordinasi khususnya jenis material Metal-Organic Frameworks (MOFs) dengan aplikasinya dalam bidang pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pada tahun 2018, beliau telah menerbitkan 9 artikel ilmiah dan telah meraih h-indeks 5 (9). 


Wiratni Wahyu Lestari. Meskipun sedang dalam kondisi hamil, tidak menyurutkan langkah Witri untuk berkompetisi dengan ilmuwan Internasional lainnya di ajang Elsevier Foundation Awards, bahkan beliau berhasil menjadi pemenangnya

Demikian 3 profil ilmuwan terbaik di tahun 2018 versi Warstek.com yang semuanya adalah perempuan. Nantikan 3 ilmuwan terbaik yang terakhir di artikel bagian 3.

Referensi:

  1. Mengenal Wiratni, Dosen UGM yang Dinobatkan Sebagai 39 Insinyur Perempuan Paling Powerful Tahun 2018. Diakses pada 13 Desember 2018.
  2. The 39 most powerful female engineers of 2018.  Diakses pada 13 Desember 2018.
  3. Google Scholar Wiratni Budhijanto. Diakses pada 13 Desember 2018.
  4. Professor Rose Amal: At The Forefront of Chemical Engineering. Diakses pada 13 Desember 2018.
  5. Rose Amal – In profile. Diakses pada 13 Desember 2018.
  6. Profesor Asal Indonesia Raih Bintang Penghargaan dari Australia. Diakses pada 13 Desember 2018.
  7. Google Scholar Rose Amal. Diakses pada 13 Desember 2018.
  8. Saingi Ilmuwan Dunia, Dosen UNS ini Raih Penghargaan OWSD – Elsevier Foundation Awards 2018. Diakses pada 13 Desember 2018.
  9. Google Scholar Witri Wahyu Lestari. Diakses pada 13 Desember 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

9 Ilmuwan Terbaik Indonesia di Tahun 2018 (Bagian 1)

Bagikan Artikel ini di:

Tidak terasa kita telah masuk ke penghujung tahun 2018. Perkembangan dunia IPTEK di Indonesia selama tahun 2018 berkembang dengan sangat dinamis, dari diterbitkannya artikel ilmiah tentang “keajaiban” Suku Bajau Indonesia di jurnal Cell [1], ditemukannya lukisan tertua di dunia (berusia 52.000 tahun) berbentuk sapi di dinding gua Lubang Jeriji Saleh Kaltim [2], peletakan batu pertama observatorium nasional Timau terbesar di Asia Tenggara [3], hingga berita penemuan fosil stegodon berumur 1.5 juta tahun di Majalengka pada awal Desember 2018 kemarin [4]. Baca: Sebuah Cerita Evolusi Dari Indonesia: Tubuh Penyelam Suku Bajau.

Namun tahukah sahabat Warstek bahwa penemuan-penemuan penting dan besar yang telah disebutkan sebelumnya kebanyakan diketuai oleh orang asing? Seperti penelitian tentang suku Bajau dan ditemukannya lukisan tertua di Kaltim, bukanlah orang Indonesia yang menjadi ketua tim dan penulis pertama pada artikel ilmiahnya. Tentu sangat miris dan sedih jika memikirkan hal tersebut, dunia riset dan akademik di Indonesia seolah masih “terjajah”.

Lantas, apakah Indonesia kekurangan sosok ilmuwan handal? Sampai-sampai riset di dalam negeripun dilakukan oleh orang asing? Tentu saja tidak! Cukup banyak ilmuwan Indonesia yang berkarir dalam negeri maupun luar negeri yang sangat prestatif, meskipun disayangkan bahwa riset-riset strategis dalam negeri ada yang masih diketuai oleh orang asing.

Pada artikel ini, Warstek menghimpun 9 nama ilmuwan Indonesia terbaik di tahun 2018. Adapun parameter penilaiannya ada 2, yakni produktivitas dalam hal publikasi  (h-indeks) dan penghargaan yang diberikan oleh dunia Internasional. Sederhananya, semakin besar nilai h-indeks maka semakin “berdampak” artikel-artikel ilmiah yang telah dipublikasikan. Dipilihnya 2 hal tersebut karena 2 hal tersebut adalah yang paling mudah untuk diukur. Semua orang dapat mengecek secara real time capaian publikasi seorang ilmuwan melalui Google Scholar. Siapa saja 9 ilmuwan tersebut?

1. Suharyo Sumowidagdo

Lahir di Singaraja Bali pada 25 Oktober 1976, Suharyo adalah peneliti LIPI di Pusat Penelitian Fisika dengan fisika partikel eksperimental adalah spesialisasi utamanya [5]. Selain itu, beliau termasuk salah satu perwakilan Indonesia yang menjadi anggota eksperimen ALICE (A Large Ion Collider Experiment) di CERN. Di CERN, Suharyo turut memecahkan misteri tentang partikel Higgs Boson atau yang terkenal dengan sebutan “partikel Tuhan” yang berujung pada diberikan hadiah nobel fisika kepada Peter Higgs di tahun 2013 [6]. Prestasi Internasional di tahun 2018 adalah nama beliau tercantum dalam hampir semua artikel ilmiah yang melibatkan LHC (Large Hadron Collider yang merupakan salah satu instrumen terpenting di CERN) dan beliau adalah satu-satunya perwakilan Indonesia [7]. Atas aktivitas risetnya di CERN, Suharyo menjadi orang dengan peringkat pertama di Indonesia dalam hal produktivitas publikasi dengan nilai h-indeks 131. Selama tahun 2018, Suharyo telah menerbitkan lebih dari 80 artikel ilmiah [8]. Keren banget ya Sahabat Warstek? Jika dirata-rata, maka 1 bulan Suharyo menerbitkan 6 artikel ilmiah.

Suharyo Sumowidagdo. Siapakah generasi muda Indonesia yang akan mengikuti sepak terjangnya yang “gila”? Sumber gambar: LIPI.

2. Irwandi Jaswir

Lahir di Medan Sumatera Utara pada 20 Desember 1970, Irwandi adalah koordinator riset di Halal Industry Research Centre, Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Kuala Lumpur. Nama beliau ramai dibincangkan karena berhasil memenangkan sebuah penghargaan bergengsi King Faisal International Prize 2018. Penghargaan ini merupakan penghargaan terbesar kedua di dunia setelah Nobel Prize [9]. Dalam penghargaan King Faisal International Prize 2018, Irwandi memenangkan penghargaan kategori Pelayanan Kepada Islam (service to Islam) atas dedikasi risetnya pada bidang halal science.  Kategori service to Islam umumnya dimenangkan oleh kepala negara (Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada tahun 2010) atau ulama (Zakir Naik pada tahun 2015). Namun pada 2018, pertama dalam sejarah King Faisal International Prize, kategori ini dimenangkan oleh ilmuwan. Indonesia pernah memenangkan kategori yang sama pada tahun 1980 oleh Dr. Mohammad Natsir [10]. Melalui dedikasinya pada halal science, beliau meraih h-indeks sebesar 21 dan telah menerbitkan 7 artikel ilmiah selama 2018 [11]. Penelitian tentang halal science sudah seharusnya menjadi prioritas riset Indonesia mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbsesar di dunia. Gimana apa kamu nggak tertarik riset di bidang halal science Sahabat Warstek?

Irwandi Jaswir. Sang pendobrak sejarah bahwa ilmuwan juga memiliki misi yang sangat penting seperti kepala negara dan ulama. Sumber foto: Beritagar

3. Khoirul Anwar

Lahir di Kediri Jawa Timur pada 22 Agustus 1978, Khoirul adalah Direktur The Center for Advanced Wireless TechnologiesTelkom University. Khoirul sempat menghebohkan masyarakat Indonesia pada tahun 2014 karena banyak media yang ramai-ramai memberitakan bahwa beliau adalah penemu teknologi 4G [12]. Padahal tak mungkin seseorang atau bahkan satu institusi bisa mengklaim sebagai penemu 4G, karena 4G dihasilkan dalam proyek bernama 3rd Generation Partnership Project (3GPP) yang melibatkan banyak institusi. Namun, Khoirul merupakan penemu dan pemegang paten teknologi pemancar yang menggunakan konsep dua FFT, untuk dipakai pada metode SC-FDMA dalam proses uplink 4G. Di tahun 2018, prestasi Internasional yang beliau raih adalah diundang sebagai salah satu panelis mewakili Indonesia dalam 5G International Symposium 2018 di Jepang dan menyampaikan beberapa permasalahan yang mungkin ada pada penerapan 5G di Indonesia. Terkait impelementasi 5G di Indonesia, Khoirul menargetkan implementasi 5G di Indonesia adalah 20 gigabyte per second dan akan terealisasi pada tahun 2022. Hal tersebut disampaikannya pada Studium Generale yang diadakan ITB 14 November 2018 [13]. Selama tahun 2018, Khoirul telah menerbitkan 17 artikel imiah dan telah meraih nilai h-indeks 15. 


Khoirul Anwar. Jika Sahabat Warstek saat ini dapat menikmati teknologi 4G dan nanti 5G di tahun 2022, maka berterimakasihlah kepada beliau.

Itulah profil 3 ilmuwan terbaik versi Warstek.com, agar artikel tidak terlalu panjang, maka enam ilmuwan lainnya akan diterbitkan secara terpisah pada bagian 2 dan bagian 3.

Baca kelanjutan artikel ini, 9 Ilmuwan Terbaik Indonesia di Tahun 2018 (Bagian 2).

Referensi:

  1. Ilardo, M.A., Moltke, I., Korneliussen, T.S., Cheng, J., Stern, A.J., Racimo, F., de Barros Damgaard, P., Sikora, M., Seguin-Orlando, A., Rasmussen, S. and van den Munckhof, I.C., 2018. Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads. Cell173(3), pp.569-580.
  2. Aubert, M., Setiawan, P., Oktaviana, A.A., Brumm, A., Sulistyarto, P.H., Saptomo, E.W., Istiawan, B., Ma’rifat, T.A., Wahyuono, V.N., Atmoko, F.T. and Zhao, J.X., 2018. Palaeolithic cave art in Borneo. Nature, p.1.
  3. Mumpuni, E.S., Puspitarini, L., Priyatikanto, R., Yatini, C.Y. and Putra, M., 2018. Future astronomy facilities in Indonesia. Nature Astronomy2(12), p.930.
  4. Tim Laboratorium Paleontologi ITB Temukan Gading Stegodon Raksasa di Majalengka. Diakses pada 13 Desember 2018.
  5. Profil Civitas LIPI, Suharyo Sumowidagdo. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  6. Siapa 10 Ilmuwan Indonesia Paling Top? Ini Daftarnya. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  7. Acharya, S., et.al., 2018. Production of 4He and He‾ 4 in Pb–Pb collisions at sNN= 2.76 TeV at the LHC. Nuclear Physics A971, pp.1-20.
  8. Google Scholar Suharyo Sumowidagdo. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  9. Raih King Faisal Prize, Ini Riset Irwandi Jaswir. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  10. Service to Islam King Faisal Prize. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  11. Google Scholar Irwandi Jaswir. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  12. Benarkah Penemu Teknologi 4G LTE Orang Indonesia?. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  13. Khoirul Anwar: Indonesia Baru Siap dengan 5G pada 2022. Diakses pada 13 Desember 2018. 
  14. Google Scholar Khoirul Anwar. Diakses pada 13 Desember 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: