Mengapa Menulis itu Sulit? Pisahkan antara Menulis dan Mengedit

Menulis adalah menuangkan gagasan, pikiran dan ide ke dalam sebuah tulisan. Banyak orang sebenarnya memiliki gagasan dan keinginan untuk menulis, namun terasa sulit ketika hendak menuangkan ke dalam tulisan. Banyak orang yang mengatakan menulis itu membutuhkan talenta. Ada lagi yang mengatakan bahwa menulis itu diperuntukkan bagi orang yang berpendidikan atau setidaknya telah mengenyam perguruan tinggi. Pernyataan ini mungkin wajar mengingat mahasiswa sudah terlalu kenyang disuguhi tugas membuat karya tulis ilmiah, tugas akhir skripsi, tesis maupun disertasi. Melalui karya tulis, mahasiswa belajar mengemas hasil penelitiannya untuk kemudian dapat dipublikasikan. Tentunya hal ini mengajarkan mahasiswa untuk menyusun sebuah karya tulis secara logis dan sistematis.

Menulis sebenarnya tidak mesti memiliki latar belakang perguruan tinggi. Kalau kita sadari, sejak bangku sekolah dasar kita sudah diajarkan untuk mengarang, Faktanya, tidak sedikit penulis terkenal yang mampu menghasilkan karya dalam usia yang sangat muda. Sebut saja Nadia Shafianarahma, gadis cilik kelahiran Yogyakarta tahun 2004 memilih terjun ke dunia sastra sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD. Nadia berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi di dunia internasional pada tahun 2015 silam. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan, bahkan di usianya yang masih belia yakni 11 tahun.

Secara umum, menulis bukanlah pekerjaan yang harus memiliki pendidikan khusus. Tidak perlu embel-embel lulusan perguruan tinggi untuk bisa menulis. Meskipun demikian bukan berarti menulis itu tidak ada teorinya. Ada tekniknya. Makanya banyak sekali kursus atau kelas menulis yang mengajarkan kiat-kiat dan teknik menulis; ataupun komunitas penulis yang saling berbagi pengalaman menulisnya. Intinya menulis itu merupakan ilmu yang bisa dipelajari. Menulis itu adalah talent learned, bakat yang bisa dipelajari. Pilihan kata learned disini sama dengan istilah lifelong learning artinya belajar sepanjang hayat, seumur hidup tidak ada batasnya. Inilah kenyataannya.

Menulis semudah bernafas

Sayangnya masih banyak orang yang berpikir bahwa menulis itu merupakan pekerjaan yang sulit. Padahal menulis itu ibarat bernafas, salah satu jargon yang melekat pada penulis terkenal Cahyadi Takariawan lewat tulisannya “Agar menulis semudah bernafas” (Cahyadi, 2017). Bernafas merupakan suatu proses menghirup oksigen dari udara bebas (inspirasi) dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam tubuh (ekspirasi). Dalam ilmu kedokteran, secara normal bayi yang baru lahir akan bernafas 40-60 kali/menit sementara orang dewasa mempunyai frekuensi bernafas 12-20 kali/menit. Pertanyaan apakah seorang bayi yang baru lahir “berpikir” untuk bernafas? Dalam keadaan normal, usaha bernafas hanya memerlukan 3% dari pemakaian energi total. Dengan kata lain, bernafas bisa dikatakan effortless.

Bernafas itu mudah karena kita tidak perlu berpikir untuk bernafas. Seperti bernafas, menulis akan menjadi sulit kalau kita mulai berpikir. Misalnya terbersit dalam hati apakah tulisan saya sudah bagus atau pilihan kosa kata sudah tepat? Menulis adalah menuangkan pemikiran kita bak mengalir seperti air. Menulis itu tidak ada urusannya dengan kualitas tulisan. Kita sering kali mencampur-adukan tugas menulis dengan mengedit (menyunting). Mengedit adalah pekerjaan yang sulit karena perlu berpikir, kehati-hatian, dan ketelitian sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengedit lebih lama daripada menulis. Mengapa? Ada banyak sekali yang harus diedit mulai dari substansi (isi), gaya bahasa, kosa kata, paragraf, sistematika, tanda baca, dll Jadi mengedit jelas membutuhkan keahlian khusus selain kecermatan dan kesabaran. Makanya penulis dan editor adalah dua profesi yang berbeda. Seorang editor berperan untuk memastikan hanya tulisan berkualitas yang layak untuk diterbitkan.

Penutup

Jadi jika kita menulis sembari mengedit maka kita akan lama menyelesaikan tulisan kita karena akan mudah lelah. Bahkan mengedit dapat menganggu proses penulisan. Tulisan tidak akan selesai tepat pada waktunya karena kita kehabisan ide dan tenaga. Jadi agar menulis itu dianggap semudah bernafas maka kita harus memisahkan antara pekerjaan menulis dan mengedit. Berkonsentrasilah hanya untuk menulis, tidak perlu berpikir dan cukup tuliskan secara alami. Biarkan kesulitan itu terkumpul dan bertumpu pada proses editing selanjutnya.

Daftar Pustaka:

Respon Pendidikan Tinggi Terhadap Revolusi Industri Keempat

Revolusi Industri Keempat (4IR) adalah sebuah kondisi pada abad ke-21 ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi. Laporan terbaru menyebutkan bahwa 4IR akan “membentuk masa depan pendidikan, gender dan pekerjaan” [1] dan 4IR akan membutuhkan “percepatan pelatihan ulang tenaga kerja.” [2] Penjelasan lengkap tentang skema dan kerangka kerja 4IR telah ditulis dalam bentuk buku dengan inventarisasi beberapa teknologi utama yang diduga mendorong 4IR dan beberapa implikasi sosial dari 4IR. Dalam analisis awal evolusi teknologi, 4IR sebagai frase memiliki akar dari Revolusi Industri Pertama yang muncul dari pemanfaatan air dan tenaga uap menuju bentuk manufaktur yang lebih sistematis dan efisien. Gambaran umum Revolusi Industri Pertama menyebutkan bahwa mesin uap diterapkan pada pertambangan di Cornwall dan peran tenaga uap yang meningkatkan skala manufaktur secara besar-besaran. Tenaga uap digambarkan sebagai “jalinan yang terhubung antara batu bara, besi dan kapas.” Asal-usul istilah revolusi industri berasal dari karya tahun 1884 oleh Arnold Toynbee yang berjudul Lectures on the Industrial Revolution. Dalam deskripsi Toynbee tentang revolusi industri, perluasan kekuasaan dan produksi mekanis menjadi sebuah revolusi hanya dari penggabungannya dengan “budaya politis yang menerima perubahan,” termasuk pergeseran dalam pengaturan keuangan serta kemajuan sosial lainnya. Seperti yang dikatakan seorang penulis, “Revolusi Industri tidak hanya mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi mempercepat pertumbuhan karena, dan melalui, transformasi ekonomi dan sosial.” Transformasi sosial dan pendidikan dari tiga revolusi industri pertama memberikan titik awal sebagai pertimbangan tentang transformasi potensial dalam pendidikan tinggi yang timbul dari 4IR.

4IR ditandai dengan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang, khususnya kecerdasan buatan (AI), robot, blockchain, teknologi nano, komputer kuantum, bioteknologi, Internet of Things, percetakan tiga dimensi (3D), dan kendaraan tanpa awak. Dampak dari teknologi 4IR seperti di atas pada masyarakat dan planet ini masih belum diketahui – tetapi fakta bahwa teknologi tersebut akan membawa perubahan besar dan cepat tampaknya akan pasti. Kebutuhan pada pendidikan tinggi untuk merespon kekuatan teknologi 4IR sangat mendesak, karena dampak sosial yang positif atau kerusakan lingkungan ada pada manusia, seperti potensi kehilangan kendali atas jaringan AI yang canggih dengan otonomi yang terus meningkat dalam sektor keuangan dan infrastruktur kota.

Perubahan substansial pada kurikulum sains dan teknologi diperlukan agar siswa dapat mengembangkan kapasitasnya di bidang genomic, ilmu data, AI, robotika, dan nanomaterial yang berkembang pesat. Seperti kurikulum Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), 4IR akan mempertimbangkan kembali kurikulum dalam ilmu-ilmu “primer” tradisional – biologi, kimia dan fisika – dan menempatkan pelatihan pada level tertinggi dalam mata pelajaran ilmu komputer sebagai bentuk kecakapan 4IR. Dalam biologi, pendekatan yang baru termasuk pelatihan dalam kuliah pengantar untuk membahas bidang yang berkembang pesat seperti biologi sintetis dan desain molekuler. Beberapa contoh dari kurikulum ilmu hayati terkini dapat ditemukan di Stanford University, seperti kuliah Problem Solving in Biology: mahasiswa merancang eksperimen pengembangan obat untuk melawan patogen seperti penyakit Lyme dan HIV menggunakan data asli dari literatur ilmiah, atau kuliah rekayasa biologi yang memungkinkan para mahasiswa mendesain bentuk kehidupan mereka sendiri di komputer dan mencetaknya untuk menyelesaikan masalah dalam kedokteran, kesehatan masyarakat dan manajemen lingkungan. Kedua kuliah di atas merupakan respon terhadap kemunculan bioekonomi yang melebihi $400 milyar di Amerika Serikat saja. Dalam kurikulum Stanford terdapat program studi (Prodi) baru yaitu bioteknologi yang melatih mahasiswa pada “antarmuka ilmu hayati dan teknik” dan menggabungkan keahlian dan sumber daya di Prodi kedokteran, biologi dan teknik. Inovasi serupa dalam bidang kimia termasuk proliferasi kuliah dan gelar dalam Green Chemistry yang memadukan kimia, biologi, dan ilmu lingkungan yang memungkinkan mahasiswa terlibat dalam masalah lingkungan seperti bahan bakar sintetis, bioplastik dan toksikologi, dan melatih mahasiswa dalam teknik mengurangi polusi. Kurikulum baru fisika menekankan pada keterampilan kolaboratif 4IR yang berdasarkan pada proyek mahasiswa dalam mendesain dan membangun instrumen asli musik, gadget kriptografi dan penemuan lainnya secara kolaboratif. Respon pendidikan terhadap 4IR adalah perlunya restrukturisasi institusi; menyediakan program studi baru di bidang interdisipliner agar dapat menyediakan pekerja terlatih yang lebih efisien; dan memajukan dan mempercepat pengembangan bioteknologi yang semakin canggih, material nanoteknologi dan AI.

Setiap rencana pendidikan 4IR harus dibangun di atas hasil Revolusi Industri Ketiga dengan perkembangan yang muncul dari hibrida antara instruksi online dan privat, dan integrasi konferensi video global dengan beragam sumber daya pendidikan asinkron secara mulus dan efisien. Instruksi dan optimalisasi campuran antara kuliah tatap muka dan online akan membuat lingkungan pembelajaran yang lebih efisien yang dapat beradaptasi dengan keragaman dalam mempersiapkan mahasiswa. Future of Education Report di Massachusetts Institute of Technology (MIT) sangat menekankan pada kebutuhan memanfaatkan kuliah online untuk memperkuat pendidikan rumahan bagi mahasiswa dan juga memberikan fleksibilitas dan modularitas kuliah yang lebih banyak. Contoh-contoh lingkungan campuran yang efektif adalah kuliah CS 50 yang sangat populer di Harvard; kuliah pengantar Teknik Elektro MIT, semua materi kuliah disampaikan secara online dengan komponen tatap muka hanya fokus di laboratorium dan janji temu bagi mahasiswa untuk membangun dan menguji robot; dan kuliah Circuits and Electronics MIT yang telah ditawarkan sebagai kuliah online untuk mahasiswa rumahan, sehingga stres mahasiswa berkurang dan mahasiswa memperoleh kemudahan penjadwalan dan menerima umpan balik lebih cepat terhadap tugas-tugasnya.

Setiap strategi pendidikan 4IR yang efektif harus memasukkan pertimbangan yang mendalam akan kondisi manusia dalam ukuran yang sama, sebab teknologi baru dan pergeseran kekuatan ekonomi berdampak pada masyarakat di semua level sosial ekonomi, dan ancaman yang ada di dunia yang saling terkait, dengan cara menumbuhkan pemahaman antarbudaya yang mendalam dan penghormatan kepada kebebasan dan hak asasi manusia. Pendekatan seperti itu mendukung kurikulum global dan interdisipliner dalam konteks rumahan, seperti yang ditemukan pada banyak institusi liberal art. Pendekatan di atas dapat memaksimalkan pengembangan keterampilan interpersonal dan antarbudaya yang akan menjadi ciri utama masa depan 4IR.

Referensi:

  1. World Economic Forum, “Realizing Human Potential in the Fourth Industrial Revolution – An Agenda for Leaders to Shape the Future of Education, Gender and Work” (World Economic Forum, Geneva, 2017).
  2. World Economic Forum, “Accelerating Workforce Reskilling for the Fourth Industrial Revolution – An Agenda for Leaders to Shape the Future of Education, Gender and Work” (World Economic Forum, Geneva, 2017).

3 Hal yang Mesti Diperhatikan Sebelum Beli Apartemen

Tinggal di apartemen kini memang menjadi pilihan bagi banyak orang. Tak hanya di DKI Jakarta saja, tren ini juga sudah merambah ke kota – kota lain misalnya di Bekasi. Data terbaru bahkan menunjukkan jumlah pencarian apartemen dijual meningkat sebesar tiga puluh persen. Angka tersebut bisa dibilang sangat tinggi dan tentunya menjanjikan.

Tak heran jika para pengembang, baik pengembang berskala nasional, internasional maupun lokal kini tak cuma fokus pada jual rumah saja tetapi juga tertarik tuk melakukan bisnis jual apartemen. Apalagi ditengah gempuran harga tanah dijual yang semakin mahal, harga rumah tapak semakin tak terbeli sehingga apartemen dinilai menjadi solusi terbaik bagi kondisi seperti ini.

Tapi, tentunya sebelum memutuskan buat beli apartemen dijual, Anda sebagai pembeli harus pintar – pintar memilih dan meneliti apakah pengembang yang jual apartemen incaran adalah benar – benar pengembang berkredibilitas. Paling tidak ada 3 hal yang mesti diperhatikan sebelum memutuskan tuk beli apartemen dijual, yakni:

1. Cek Spesifikasi

Tentu pengembang tak hanya menyediakan satu jenis spesifikasi saja saat memutuskan tuk jual apartemen. Ada yang peruntukannya adalah single atau pasangan muda, ada pula yang diperuntukkan kepada keluarga. Sebagai calon pembeli Anda harus benar – benar teliti mana yang dibutuhkan serta sesuai kriteria. Jangan sampai tergiur developer yang jual apartemen murah tapi nyatanya tidak memenuhi kebutuhan Anda.

2. Reputasi Developer

Tidak mau kan mendapat kabar pembangunan apartemen yang sedang Anda tunggu – tunggu berhenti di tengah jalan karena masalah developer atau izin yang tak lengkap? Maka dari itu sebaiknya sebelum memutuskan tuk beli apartemen dijual memang Anda pun harus melihat serta meneliti reputasi serta sepak terjang developer sebelumnya.

Apakah pernah tersangkut kasus atau tidak, apakah pernah mengalami gagal bangun atau tidak. Teliti juga proyek – proyek sebelumnya yang telah berhasil dibangun. Apakah sudah berpengalaman dalam membangun sebuah bangunan berkualitas? Atau apartemen tersebut adalah pilot project dari developer? Jangan sampai Anda tergiur dan tertipu oleh harga murah serta janji manis sales tanpa meneliti lebih lanjut.

3. Fleksibilitas Pembayaran

Dewasa ini, hampir semua bank sudah menyediakan layanan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) dan bekerja sama dengan banyak pengembang. Dengan begitu, promo – promo serta sistem pembayarannya pun beragam. Ada yang uang muka bisa dicicil sebanyak 6x atau bahkan 12x. Sebagai calon buyer, tidak ada salahnya Anda membandingkan mana yang paling menguntungkan. Misalnya dari sisi bunga, unit mana yang menerapkan bunga paling kecil sehingga Anda bisa mendapatkan harga total lebih murah.

Sekarang pun developer penyedia jual apartemen tidak hanya satu atau dua, tetapi banyak. Jadi Anda tak perlu takut atau khawatir tidak kebagian unit sebab bisa dibilang bahkan hampir setiap harinya pasti ada saja proyek hunian vertikal baru yang launching untuk masyarakat.