Bagaimana Jika Membuang Sampah di Bumi ke Black Hole?

Semakin banyak populasi manusia, maka semakin meningkat juga produksi sampah. Karena semakin banyak aktivitas manusia maka semakin banyak pula sampah sisa aktivitas tersebut. Automatis, saat ini sampah menjadi masalah yang tak terelakkan di Bumi. Di sungai, sampah-sampah membendung membuat air berwarna cokelat keruh. Bahkan tak jarang lagi bencana banjir terjadi karena saluran yang seharusnya dapat dilalui air menjadi tersumbat oleh sampah.

Baca juga: Pertanyaan Besar Fisika: Apakah Lubang Hitam Berisi Energi Gelap?

Sering kita jumpai, setiap lahan kosong diisi dengan tumpukan sampah. Masyarakat membuang sampah sehari-hari bahkan sampah rumah tangga di lahan kosong tersebut hingga sampah nampak menggunung dan meimbulkan bau dan nyamuk yang menggangu masyarakat sekitar. Di pinggir jalan raya kita juga sering menemukan sampah berceceran. Apalagi di Tempat Pembuangan Akhir, sampah bak gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Apabila sampah kita buang ke sungai sama saja mencemari kejernihan air, merusak kualitas air, dan bahkan menyebabkan banjir. Apabila sampah kita bakar, tidak semua sampah dapat habis dibakar seperti halnya sampah bekas alat elektronik. Serta polusi dari membakar sampah dapat sangat mencemari udara dan membuat lapisan ozon semakin tipis.

Apalagi sampah plastik, karet, tak jarang menimbulkan bau yang mengganggu apabila dibakar.  Bayangkan di satu kampung ada 10 orang yang membakar sampah setiap harinya? Ada banyak perkampungan di dunia ini. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor. Akan semakin menipis saja lapisan ozon dan membuat Bumi semakin panas.

Ketika lapisan ozon kita semakin menipis, maka Kutub Utara dan Kutub Selatan perlahan akan mencair. Juga, lapisan ozon berfungsi untuk melindungi Bumi dari gangguan benda luar angkasa, seperti asteroid dan meteor.

Banyak dampak dari tindakan akhir yang kita lakukan untuk memberantas sampah. Alternatif yang dapat kita lakukan untuk mengurangi sampah adalah melalui tangan para seniman kita bisa mendaur ulang sampah menjadi barang yang antik dan bermanfaat. Lalu, kita bisa mengganti benda-benda yang bersifat sulit terurai menjadi benda yang mudah terurai. Dan, kita bisa mengubah benda yang sekali pakai dapat digunakan berkali-kali atau bahkan tidak ada batas penggunaannya.

Akan tetapi, bagaimana jika sampah sudah menggunung seperti saat ini?

Black hole, ya lubang hitam ini bisa menjadi alternatif untuk kita membuang sampah yang terlanjur menggunung di Bumi. Bagaimana bisa kita membuang sampah-sampah ini ke black hole?

Ini baru pendapat atau sebuah perencanaan bagaimana prosesnya jika kita membuang sampah ke Lubang Hitam. Pertama-tama, dari seluruh kota harus ada organisasi atau suatu instansi yang mengumpulkan seluruh sampah masyarakat. Di mulai dari tingkat kecamatan, lalu kabupaten, provinsi. Sampah-sampah tersebut di kemas atau dimasukkan ke dalam satu kapsul besar pengangkut sampah dari setiap kota/kabupaten  yang berisi kapsul-kapsul sampah kecil dari setiap kecamatan.

Kapsul tersebut tentunya tidak sembarangan. Kapsul tanpa awak yang dapat dikendalikan dari Bumi, atau kapsul yang sudah di set untuk menuju black hole. Tentu saja, kapsul tersebut tidak dibuat sembarangan. Kapsul tersebut harus dibuat dengan bahan yang anti panas dan anti gesekan. Untuk bahan pembuatan kapsul sebisa mungkin dibuat dengan bahan yang tidak terlalu mahal, sebab sayangnya kapsul pengangkut sampah tersebut akan hancur bersama sampah-sampah yang diangkutnya ke dalam lubang hitam.

Setiap negara diusahakan memiliki astronom yang mampu memberangkatkan kapsul sampah tersebut ke lubang hitam. Untuk pemberangkatan kapsul dari setiap negara bisa kita jadwal pertanggal akhir bulan. Setiap bulannya kita akan membuang sampah-sampah di Bumi ke lubang hitam.

Para astronom dari setiap negara akan mengirimkan kapsul tanpa awak tersebut ke lubang hitam untuk memberantas sampah di Bumi ini. Mengapa tanpa awak? Bagaimana jika dikendalikan oleh astronot? Tidak akan ada yang dapat melewati lubang hitam, kecuali kecepatannya melebihi kecepatan cahaya.

Dan faktanya, tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Maka, para astronom yang akan mengendalikan kapsul tersebut dari Bumi, dengan teknologi yang tentunya harus sudah sangat maju.

Mengapa harus kita kirim ke lubang hitam? Kenapa tidak kita buang saja ke luar angkasa, di luar angkasa tidak ada gravitasi jadi sampah tersebut akan mengambang bebas. Belum lagi luar angkasa yang teramat luas, sampah di Bumi tidak akan menghalangi.

Betul memang di luar angkasa sampah akan mengambang bebas, dan perlu kita ketahui bahwa sebelum kita membuang sampah ke luar angkasa, di luar sana sudah banyak sampah. Sampah bangkai satelit yang mengapung bebas di angkasa. Sampah yang terapung-apung bebas di sana, dikhawatirkan dapat memecahkan kaca ISS (International Space Station) dan kejadian tersebut dapat membahayakan para astronot yang berada di dalam ISS.

Mengapa lubang hitam? Apa itu lubang hitam?

Lubang hitam (black hole) adalah bagian dari ruang waktu yang merupakan gravitasi paling kuat, bahkan cahaya tidak bisa kabur. Teori relativitas umum memprediksi bahwa butuh massa besar untuk menciptakan sebuah lubang hitam yang berada di ruang waktu. Di sekitar lubang hitam disebut horizon peristiwa. Objek ini disebut “hitam” karena menyerap apapun yang berada di sekitarnya dan tidak dapat kembali lagi, bahkan cahaya.

Untuk saat ini yang memiliki kecepatan tercepat adalah cahaya, yaitu 300.000.000 m/s. Cahaya yang memiliki kecepatan tercepat saja tidak bisa melalui lubang hitam, bagaimana dengan benda-benda lainnya yang memiliki kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya.

Mengapa harus lubang hitam?

Dengan sebuah lubang hitam, segala materi yang mendekat akan tercabik-cabik, terurai, hancur, hingga menjadi sub-partikel, dan akhirnya bisa dikatakan terhisap lubang hitam. Tetapi, proses makan dan mencerna lubang hitam tidak sesederhana itu. Partikel bahkan sub-partikel sampah tadi akan dipaksa mengelilingi lubang hitam sangat dekat dengan kecepatan yang sangat tinggi dan energi yang luar biasa yang membentuk piringan akresi.

Piringan partikel yang berputar ini akan menghasilkan suhu dan radiasi elektromagnetik berenergi tinggi ke sekitar yang bisa dimanfaatkan sebagai energi (kalau proyek ini serius dikerjakan). Hanya akan sedikit materi berenergi tinggi yang ditelan lubang hitam, 90% nya akan terlepas dengan kecepatan dan energi yang tinggi yang dipercaya bisa dimanfaatkan jika teknologi kita sudah lebih tinggi dalam hal konversi energi.

Menyelesaikan sampah dengan lubang hitam benar-benar sangat menjanjikan keuntungan yang luar biasa. Energi yang dihasilkan sangat luar biasa hanya dengan sampah yang tersedia di mana-mana. Ini karena lubang hitam mengubah materi menjadi yang paling dasar beserta energi.

Kendala kita saat ini adalah alat yang belum mampu kita ciptakan untuk bisa sampai ke dalam lubang hitam dengan waktu yang cepat, dengan bahan yang tidak terlalu mahal tetapi berkualitas kuat. Tetapi dari berita yang saya dapat, LHC di CERN dapat menciptakan lubang hitam mini. Mungkin ini bisa dimanfaatkan untuk proyek ini.

Referensi:

[1] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Lubang_hitam

[2] https://images.app.goo.gl/H1DfGW4zV29ytjc68

[3] https://id.quora.com/Jika-memungkinkan-di-masa-depan-apakah-sampah-bisa-dibuang-ke-dalam-lubang-hitam

Melihat Sains dari Sejarah

Kenapa Kita Harus Mengenal Sejarah Sains?

Ketika di sekolah, kita diajari untuk menganggap bahwa sains itu sudah benar. Kita menghafal apa yang ada di buku biologi dan menghitung dengan rumus fisika tanpa mempertanyakan darimana asalnya. Kita jarang mengetahui cerita-cerita menarik dibalik teori-teori yang ada di buku. Teori-teori itu memang penting, tetapi kita sebaiknya tidak melupakan sejarahnya. Ada banyak hal baru yang bisa kita temukan ketika kita melihat sains dari sudut pandang sejarah, yaitu dari sudut pandang History of Science.

“Many scientists bypass history and its importance. But learning the scientific method and the history of science is the embodiment of scientific knowledge” (Balkees Abderrahman) [1]

Sejarah sains menunjukan bagaimana suatu hal yang sepele bisa menjadi bencana besar. Kisah yang menarik adalah ketika pasukan Napoleon menggunakan timah sebagai kancing baju mereka. Masalahnya, timah bisa hancur menjadi bubuk pada temperatur rendah. Masalah ini menjadi faktor penting yang menyebabkan kekalahan Napoleon dalam invasinya ke Rusia[1]. Ya, hanya masalah desain kancing baju.

Untuk memberikan sedikit pandangan tentang menarik dan pentingnya sejarah sains, berikut akan disampaikan dua buah “kisah”. “Kisah” mengenai zat yang menyusun semua benda dan “kisah” mengenai pusat dari alam semesta.

 

Sejarah Teori Atom

Sejarah Teori Atom
Gambar 1: Sejarah Teori Atom [https://futurism.com/images/a-brief-history-of-atomic-theory-infographic]

Sejarah sains juga menunjukan bahwa Natural Science yang disebut ilmu eksak bisa mengalami perubahan terus menerus. Suatu teori yang sangat kompleks ternyata dimulai dari teori yang terlihat sangat bodoh. Contoh yang menarik adalah tentang sejarah atom. Dahulu kala, ada Demokritus yang menyatakan bahwa setiap benda tersusun atas atom, berasal dari kata “atomos” yang berarti tidak bisa dibagi. Kemudian ada Aristoteles yang percaya pada teori bahwa dunia ini disusun oleh empat elemen, “Air, Tanah, Api, Udara”. Ratusan tahun kemudian, ada John Dalton yang membenarkan Demokritus dan menyebutkan kriteria atom. Kemudian ada J.J Thomson yang menemukan elektron dan membuktikan bahwa “yang tidak bisa dibagi” bisa dibagi. Lalu ada Rutherford dengan model tata suryanya [2]. Dan ternyata, model yang mereka semua ajukan salah.

Atom ternyata jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Quark membentuk proton dan neutron kemudian proton dan neutron membentuk nukleus. Kemudian ada elektron yang mengitari nukleus dalam suatu awan probabilitas yang posisi elektron tidak bisa dan tidak akan bisa ditentukan secara pasti. Bahkan model atom masih terus berubah dan berkembang sampai sekarang. Hal yang kompleks seperti itu dimulai dari ide yang sederhana, bahkan sangat gila.

 

Sejarah Perdebatan tentang Pusat Alam Semesta

Kisah lain yang tidak kalah menarik adalah tentang teori heliosentris. Sekarang, mungkin anak kecil pun bisa paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, tetapi bumi dan planet-planet lain lah yang mengelilingi matahari. Akan tetapi, sejarah mengenai hal ini sangat menarik, meliputi berbagai zaman dan berbagai peradaban, bahkan menunjukan bahwa sains berkaitan erat dengan agama dan kepercayaan masyarakat.

Geosentris dan Heliosentris

Gambar 2: Model Geosentris dan Heliosentris [https://www.atlantapublicschools.us/Page/42291]

Perdebatan antara geosentris (bumi sebagai pusat) dan heliosentris (matahari sebagai pusat) sebenarnya sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Dua ratus tahun sebelum Masehi, Aristarchus sudah memberikan argumen untuk teori heliosentris dan diterima oleh astronom Babilonia bernama Seleucus. Akan tetapi, ide ini bertentangan dengan teori geosentrisnya Aristoteles dan Ptolemus[3]. Di masa selanjutnya, teori heliosentris ini juga dianggap bertentangan dengan ajaran gereja katolik pada waktu itu[4]. Jadi, yang banyak berkembang di masyarakat pada waktu itu adalah teori geosentris, bahwa matahari dan benda langit lainnya mengelilingi bumi.

Meski bertentangan dengan gereja, Nicholas Copernicus mempublikasikan teori heliosentris sebelum kematiannya pada 1543. Astronom lain seperti Galileo Galilei pun mencoba melanjutkan pekerjaan Copernicus. Pada 1616, Paus Paul V memerintahkan agar Galileo tidak mengajarkan teori heliosentrisnya atau akan berakhir di penjara. Galileo pun memilih menjauh dari penjara. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, Galileo mempublikasikan karyanya yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan teori heliosentris, tetapi cukup untuk membuatnya mendapat hukuman. Galileo pun menjadi tahanan rumah pada 1633 sampai dia meninggal pada 1642[4].

 

Apa yang Kita Dapatkan dari Kisah itu?

Kisah itu menunjukan bahwa Sains tidak selalu dihargai, bahkan seorang ilmuwan bisa dipenjara. Akan tetapi, kebenaran tetap terungkap. Ketika dulu seorang ilmuwan bisa dipenjara karena menolak teori bahwa semua benda langit mengelilingi bumi, sekarang seorang siswa bisa ditertawakan karena menyampaikan teori itu. Sejarah sains menunjukan bahwa dibalik hal yang sepele yang bahkan sekarang menjadi common knowledge, terdapat kisah yang penuh dengan konflik dan perjuangan.

Bagaimanapun juga, ratusan tahun sebelum Copernicus mengemukakan teori heliosentris, teori itu memang sudah menjadi common knowledge di peradaban lain, yaitu peradaban Islam. Awalnya, astronom muslim memang cenderung setuju dengan teori geosentrisnya Ptolemus. Imam Jafar Sadiq mungkin adalah cendekiawan pertama yang menentang model itu dan mendukung teori heliosentris pada abad ke-8. Pada abad ke-9, al-Bakhi mengembangkan lebih lanjut model heliosentris tersebut. Heliosentris pun makin menyebar di kalangan cendekiawan muslim lainnya [3]. Teori heliosentris tidak bertentangan bahkan sesuai dengan Al-Quran, kitab yang sangat diimani seorang muslim. Begitulah sains berinteraksi dengan berbagai peradaban dan agama.

 

Sekilas tentang Metode Ilmiah

Scientific method yang sekarang sangat terkenal pun memiliki sejarahnya sendiri. Dari peradaban Yunani, ada Aristoteles yang disebut sebagai “father of science”. Dia menyebutkan pentingnya pengukuran secara empiris. Kemudian dari peradaban Islam, ada Ibnu al Haytam. Beliau mempelajari cahaya dengan mengembangkan metode yang hampir sama dengan metode ilmiah modern. Ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya juga memberikan andil bagi perkembangan metode ilmiah[5]. Semua itu menjadi dasar bagi scientific revolution di Barat. Dan sekarang, kita bisa merasakan bagaimana sains dan teknologi berkembang dengan sangat cepat.

Begitulah History of Science bisa menunjukan banyak hal yang sangat penting untuk diketahui. Tidak hanya mengetahui apa, tetapi bagaimana suatu teori bisa sampai pada kita. Sejarah sains sebagaimana sejarah pada umumnya, membuat kita bisa belajar dari kesalahan dan keberhasilan orang-orang terdahulu. Sejarah sains menunjukan bahwa sains selalu berkembang, menuntut kita untuk terus bertanya dan mencari jawaban, menuntut kita untuk berpartisipasi dalam mengembangkan sains.

 

Referensi

[1]     Payne, D. (2018, May 15). Why the history of science and medicine is important. Retrieved July 18, 2019, from NatureJobs Blog: https://blogs.nature.com/naturejobs/2018/05/15/why-the-history-of-science-and-medicine-is-important/

[2]     History of Atomic Theory. (n.d.). Retrieved July 18, 2019, from Preceden: www.preceden.com/timelines/71122-history-of-atomic-theory

[3]     Islam, S. (2014, August 8). Heliocentric concepts in the Quran. Retrieved July 18, 2019, from Lamp of Islam: https://lampofislam.wordpress.com/2014/08/08/heliocentric-concepts-in-the-quran

[4]     Winter, L. (2016, February 25). How One Of The World’s Greatest Scientists Was Jailed Over An Idea. Retrieved July 18, 2019, from a plus: https://articles.aplus.com/a/galileo-renounces-heliocentrism

[5]     Shuttleworth, M. (n.d.). History of the Scientific Method. Retrieved July 18, 2019, from Explorable: https://explorable.com/history-of-the-scientific-method

Mempercantik Diri: Upaya Mencemarkan Lingkungan?

Mempercantik Diri: Upaya Mencemarkan Lingkungan?

Salah satu penyebab darurat sampah plastik Indonesia adalah limbah kosmetik. Skincare dan make up tidak bisa dipisahkan dari wanita. Beragam kosmetik dan produk perawatan kulit sudah diakrabi oleh sebagian besar wanita guna meningkatkan kepercayaan diri. Sabun wajah, pelembab, gincu, krim, serum, dan masih banyak lagi produk yang mereka gunakan saat pagi dan malam hari. Bahkan, biasanya mereka juga memperbaiki dandanan mereka setiap sekian jam sekali agar tetap maksimal. Tidak hanya wanita, para pria pun juga ikut bersolek demi menjaga penampilannya. Padahal, tanpa disadari, aktivitas-aktivitas memoles diri mulai bangun tidur hingga tidur lagi tersebut menyumbang sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Apalagi, tidak sedikit perusahaan yang mengemas produknya menggunakan plastik.

Kosmetik

Dilansir dari BBC, industri kosmetik ikut menyumbang limbah yang mencemarkan lingkungan, terutama penggunaan mikroplastik pada produk-produk kosmetik dan perawatan harian mereka. Mikroplastik merupkan partikel plastik yang didefinisikan berdiameter kurang dari 0.2 inci atau 5 mm dan sulit untuk terurai di tanah, sungai, saluran pembuangan, dan laut. Contoh penggunaan mikroplastik pada produk perawatan adalah pembersih wajah, pasta gigi, face scrub, sampo, lulur, sabun, dan lain sebagainya. Selain itu, tidak sedikit produk yang pengemasannya dan/atau bahan pembuatnya menggunakan plastik sekali pakai seperti botol, palet, dan mangkuk. Memang ada produk yang bisa digunakan kembali/diisi ulang, namun tetap saja wadah isi ulangnya pun terbuat dari pastik sekali pakai. “Pengolahan limbah air tidak dirancang menyaring mikroplastik atau plastik dengan ukuran sedikit lebih besar seperti cotton buds. Produk itu lolos dari saringan,” kata Dr Geoff Brighty, Direktur Teknis Plastic Ocean seperti dinukil dari BBC.

Sudah banyak negara di dunia yang belakangan ini mengeluarkan larangan penggunaan mikroplastik/microbeads (bulir-bulir halus dari mikroplastik). Sejak tahun 2013 UNEP telah memulai kampanye melawan penggunaan microbeads dan pada tahun 2015 United States melalui Presiden Obama melarang penggunaannya yang mejadi ancaman untuk lingkungan dan biota laut. United Kingdom pada tahun 2016 juga ikut melarang penggunaan bahan plastik ini. Negara lainnya, Italia, akhir Desember 2018 lalu menyatakan melarang manik-manik halus yang terkandung dalam produk kecantikan, sampai tahun 2020. Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Langkah apa yang sebaiknya dicanangkan pemerintah dalam memberantas darurat sampah plastik di indonesia? Apakah melarang penggunaan plastik merupakan hal yang tepat? Lantas, apa yang dapat kita lakukan terhadap limbah bekas produk kosmetik yang kita gunakan?

Plastik tidak dapat sepenuhnya kita hindari penggunaannya. Dari bangun tidur hingga beraktivitas, plastik merupakan barang yang paling mudah kita temui. Plastik menjadi bagian paling penting dalam peradaban. Selain harganya yang murah, plastik dianggap sebagi komponen yang tahan lama. Saking ketergantungannya manusia pada plastik, di Indonesia, P2OLIPI (Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Pengetahuan Indonesia) memprediksi jumlah sampah plastik akan melebihi jumlah tangkapan ikan dari laut Ibu Pertiwi pada tahun 2050. Peneliti Kimia Laut dan Ekotoksikologi P2OLIPI, Reza Cordova, mengatakan secara global jumlah sampah plastik yang diproduksi ada lebih dari 80 juta ton sesuai perhitungan biomassa. Reza menyebut 10 persen atau 8 juta ton dari total jumlah tersebut mencemari lautan. Apabila tidak ditangani secara intensif, bisa saja tahun 2050 jumlah sampah plastik di lautan melebihi jumlah ikan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Akbar Tahir M.Sc, lebih kurang mengatakan, “Tidak ada yang salah dengan plastik. Plastik adalah anugerah bagi umat manusia. Namun, bila salah kelola akan menjadi bencana”. Plastik merupakan bahan yang dapat didaur ulang terus-menerus sehingga solusinya adalah bukan melarang penggunaan pastik, melainkan bahwa itu digunakan secara bertanggung jawab dan dilakukan daur ulang dengan benar serta dikelola dan menjadi bermanfaat.

Guna mengurangi limbah produk kosmetik, dibutuhkan peran tidak hanya dari pemerintah dan produsen saja, melainkan kita sebagai konsumen juga diharapkan turut andil dalam memberantas darurat sampah plastik Indonesia. Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan aturan terhadap para pelaku industri mengenai produksi dan/atau sampah plastik mereka agar tidak berdampak buruk ke lingkungan. Misalnya, penetapan kebijakan pelarangan penggunaan bulir halus/microbeads dan mikroplastik pada produk kosmetik. Produksi mikroplastik bisa dihindari dengan alternatif penggunaan bahan alami seperti sekam kacang tanah atau pasir. Kemudian, menghentikan penggunaan kemasan produk sekali pakai dan beralih ke kemasan yang dapat didaur ulang/digunakan kembali atau bisa juga dengan penggunaan logam atau kaca. Dengan menggunakan kemasan berbahan kaca atau logam, konsumen bisa mengisi ulang produk di toko sehingga tidak menghasilkan banyak sampah.

Selalu ada alternatif solusi bagi sampah plastik. Upaya mengurangi penggunaan plastik pada produk kosmetik tidak hanya bergantung pada regulasi dan kebijakan pemerintah serta produsen saja. Kita sebagai konsumen pun juga bisa ikut andil dan berperan penting serta bisa kita terapkan di kehidupan sehari-hari. Kita bisa memulai dengan membeli produk yang ramah lingkungan. Tidak membeli produk yang mengandung mikroplastik karena nantinya akan mencemari air dan tanah. Upayakan juga untuk tidak membeli produk yang mengandung bahan kimia yang berbahaya. Kemudian, jika memang membeli produk dengan kemasan plastik, maka hancurkan kemasannya menjadi potongan-potongan kecil guna memudahkan proses daur ulang. Kita juga bisa mendaur ulang kemasan tersebut sendiri dengan kreasi yang unik, bermanfaat, dan bernilai jual tinggi.

Jadi, penanggulangan darurat dampah plastik merupakan tanggung jawab kita semua. Diharapkan seluruh lapisan masyarakat sadar akan darurat sampah plastik di Indonesia ini dan memosisikan diri sesuai peran masing-masing agar tercipta Indonesia “bebas” sampah plastik. Kita, selaku konsumen, pun juga harus memerhatikan konsumsi kita. Tidak akan ada penawaran jika tidak ada permintaan. Para konsumen diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap plastik agar produksi plastik bisa mengendur. Berbagai upaya dapat kita lakukan agar bisa memperelok diri sekaligus memperindah Bumi Pertiwi.

Referensi :

  • Sejak tahun 2013 UNEP telah memulai kampanye melawan penggunaan microbeads,
    dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151001044406-277-82002/tak-ada-bahan-sisa-terbuang-percuma-di-pabrik-kosmetik diakses pada 4 Oktober 2019
  • “Pengolahan limbah air tidak dirancang menyaring mikroplastik,
    dari https://tirto.id/limbah-plastik-produk-produk-kecantikan-yang-tak-kalah-berbahaya-efmA diakses pada 4 Oktober 2019

Alasan Mengapa Saat Kuliah Fisika Sering Kantuk, Bahkan Bisa Tertidur (Nomor 6 Bisa Jadi Ada di Kamu)

Alasan Mengapa Saat Kuliah Fisika Sering Kantuk, Bahkan Bisa Tertidur (Nomor 6 Bisa Jadi Ada di Kamu)

Pertengahan tahun 2019, ialah tahun terakhir saya berkuliah di Departemen Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Sejak awal kuliah hingga sampai saat ini, permasalahan yang sering saya dan mungkin teman-teman alami saat kuliah yakni kantuk bahkan bisa tertidur saat dosen menerangkan materi di kelas. Memang, rasa kantuk merupakan sifat alami yang dapat dirasakan oleh manusia. Tetapi, tahukah mengapa itu dapat terjadi? Berikut pengalaman yang saya dan bisa jadi teman-teman rasakan saat berkuliah di Fisika ITS.

  1. Malas

Rasa malas sejatinya pernah melekat pada diri seseorang, apalagi seorang mahasiswa. Mengapa? Karena mahasiswa masa kini lebih memanfaatkan internet untuk mencari sesuatu daripada mencari sesuatu secara manual atau tradisional. Memang, perkembangan internet sangatlah pesat sehingga kita tidak perlu repot kesana kemari untuk mencari informasi. Cukup mengaktifkan ponsel pintar kita yang sudah terhubung dengan internet, maka kita dapat mengakses dunia dengan browser yang ada di ponsel tersebut.

Namun, penelitain terbaru dari University of Birmingham menjelaskan bahwa internet merupakan ‘otak tambahan’ bagi manusia. Pasalnya, seseorang tidak perlu menghafal tanggal ulang tahun kerabatnya, tetapi cukup dicatat di ponsel pintar[1]. Hal tersebut membuktikan materi-materi kuliah fisika bisa dipelajari tanpa di dalam kelas. Mahasiswa cukup mencatat poin-poin penting yang diterangkan oleh dosen, sisanya mereka pelajari di luar kelas. Maka tidak salah jika mereka kantuk saat kuliah karena malas mendengarkan bahkan mencatat materi kuliah.

  1. Terlalu Lelah

Sebagai mahasiswa, kegiatan kita di kampus tidak bisa melulu hanya berkuliah. Misalnya mengikuti organisasi atau unit kegiatan mahasiswa. Apalagi berkuliah di ITS yang mempertimbangkan kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa sebagai syarat kelulusan.

Mengingat kegiatan mahasiswa di ITS bisa dilaksanakan hingga malam, maka dapat meningkatkan rasa lelah pada mahasiswa saat berkuliah. Apalagi kegiatannya hingga tengah malam dan kuliahnya jam 7 pagi. Maka tidak salah jika saat kuliah terdapat mahasiswa yang tidur di dalam kelas. Itu masih kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa, belum lagi laporan praktikum dan tugas yang diberikan oleh dosen.

Pada tahun 2018 hingga sampai saat ini, Departemen Fisika ITS terdapat praktikum dimulai sejak semester 1 hingga semester 6 atau selama 3 tahun berturut-turut. Jadi, masih tidak percaya terlalu lelah menyebabkan mahasiswa kantuk bahkan sampai tertidur?

  1. Kekurangan atau Kelebihan Energi

Jika motor dapat berjalan karena bensin sebagai energinya, maka manusia harus makan sebagai sumber energi utamanya. Percaya atau tidak, kekurangan atau kelebihan makan dapat menyebabkan mahasiswa kantuk saat kuliah. Saat perut kosong, maka tidak ada energi yang diolah hingga diserap oleh tubuh yang membuat mahasiswa merasa kantuk saat kuliah karena lapar. Sebenarnya, tidak semua mahasiswa yang menahan rasa lapar mengakibatkan mereka kantuk, tetapi hanya beberapa saja.

Begitupun saat kelebihan makan sebelum kuliah. Setelah kita makan, makanan akan diserap oleh tubuh saat sampai ke lambung. Zat gizi yang terkadung di dalam makanan akan disalurkan ke seluruh tubuh yang berubah menjadi energi untuk membuat tubuh bisa bergerak. Sedangkan zat lainnya akan diproduksi menjadi hormon, misalnya glukagon dan kolesistokinin yang membuat rasa kenyang. Rasa kenyang tersebut akan menaikkan kadar gula, serta serotonin dan melatonin yang membuat menjadi kantuk[2].

Dari paparan tersebut, kekurangan atau kelebihan makan sebelum kuliah sangat tidak baik. Jadi, kalau sebelum kuliah disarankan makan secukupnya saja. Agar perut tidak kosong dan tidak merangsang kantuk saat kuliah.

  1. Faktor Dosen

Dosen merupakan komponen penting untuk mencerdaskan mahasiswa. Tetapi, ada saja mahasiswa yang mengantuk jika dosennya sedang menerangkan materi. Meskipun dosen yang mengajar materi telah menyandang gelar profesor atau telah mengajar selama bertahun-tahun, masih ada mahasiswa yang kantuk. Kebanyakan mahasiswa yang kantuk karena kurang tanggap dan kritis akan materi yang disampaikan oleh dosen, karena dosen hanya menerangkan materi saja tanpa berinteraksi dengan mahasiswa. Andai kata di selang-selang mengajar, dosen sering bertanya kepada mahasiswa tentang materi yang disampaikan, maka mahasiswa akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan rasa kantuknya.

  1. Penyajian Materi yang Kurang Tepat

Sampai saat ini, adakah mahasiswa Fisika ITS yang tidak mengenal powerpoint? Jika masih ada, segeralah kembali ke jalan yang modern. Pasalnya, powerpoint merupakan salah satu metode yang digunakan oleh dosen untuk menyampaikan materi. Metode tersebut dinilai cukup efektif dan modern untuk mentransferkan ilmu dari dosen kepada mahasiswa. Meskipun modern, masih ada saja mahasiswa yang kantuk. Hal tersebut dikarenakan dosen menerangkan melulu hanya di powerpoint saja, tanpa menulis di papan tulis. Apalagi materi yang diterangkan sangat berat, misalnya pada mata kuliah Fisika Matematika, Fisika Kuantum, bahkan Fisika Statistik. Jika mata kuliah seperti itu diterangkan hanya menggunakan powerpoint, maka tidak salah mahasiswa bisa kantuk bahkan tertidur meskipun mata kuliahnya dinilai sangat sulit.

  1. Tidak Ada Doi Dalam Sekelas

Doi tidak melulu hanya pacar, tetapi seseorang yang mampu meningkatkan semangat kita dalam berkuliah. Doi tidak melulu terpusat ke jalan yang negatif, tetapi sewajarnya seorang mahasiswa yang sudah dewasa memiliki rasa ketertarikan kepada lawan jenis asalkan tidak terjerumus ke hal-hal yang dilarang oleh agama dan negara. Tidak adanya doi dalam sekelas saat kuliah bisa menjadi alasan mahasiswa bisa kantuk, karena mereka tidak memiliki rasa malu kepada orang yang disuka. Jika doi yang kita suka sekelas kuliah dengan kita, apakah yakin berani kantuk? Tidak terbayang juga jadinya saat doi melihat kita kantuk bahkan tidur di dalam kelas saat dosen menerangkan materi kuliah.

Dari keenam alasan tersebut, kamu termasuk yang mana? Apakah kamu termasuk dari keenam alasan tersebut? Semoga saja tidak.

Sumber Rujukan:

[1] https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20151228162500-199-100753/penelitian-internet-bikin-otak-manusia-malas diakses pada 29 September 2019

[2] https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/04/132827020/kenapa-makan-kekenyangan-bikin-ngantuk diakses pada 29 September 2019

Mengapa Menulis itu Sulit? Pisahkan antara Menulis dan Mengedit

Mengapa Menulis itu Sulit? Pisahkan antara Menulis dan Mengedit

Menulis adalah menuangkan gagasan, pikiran dan ide ke dalam sebuah tulisan. Banyak orang sebenarnya memiliki gagasan dan keinginan untuk menulis, namun terasa sulit ketika hendak menuangkan ke dalam tulisan. Banyak orang yang mengatakan menulis itu membutuhkan talenta. Ada lagi yang mengatakan bahwa menulis itu diperuntukkan bagi orang yang berpendidikan atau setidaknya telah mengenyam perguruan tinggi. Pernyataan ini mungkin wajar mengingat mahasiswa sudah terlalu kenyang disuguhi tugas membuat karya tulis ilmiah, tugas akhir skripsi, tesis maupun disertasi. Melalui karya tulis, mahasiswa belajar mengemas hasil penelitiannya untuk kemudian dapat dipublikasikan. Tentunya hal ini mengajarkan mahasiswa untuk menyusun sebuah karya tulis secara logis dan sistematis.

Menulis sebenarnya tidak mesti memiliki latar belakang perguruan tinggi. Kalau kita sadari, sejak bangku sekolah dasar kita sudah diajarkan untuk mengarang, Faktanya, tidak sedikit penulis terkenal yang mampu menghasilkan karya dalam usia yang sangat muda. Sebut saja Nadia Shafianarahma, gadis cilik kelahiran Yogyakarta tahun 2004 memilih terjun ke dunia sastra sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD. Nadia berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi di dunia internasional pada tahun 2015 silam. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan, bahkan di usianya yang masih belia yakni 11 tahun.

Secara umum, menulis bukanlah pekerjaan yang harus memiliki pendidikan khusus. Tidak perlu embel-embel lulusan perguruan tinggi untuk bisa menulis. Meskipun demikian bukan berarti menulis itu tidak ada teorinya. Ada tekniknya. Makanya banyak sekali kursus atau kelas menulis yang mengajarkan kiat-kiat dan teknik menulis; ataupun komunitas penulis yang saling berbagi pengalaman menulisnya. Intinya menulis itu merupakan ilmu yang bisa dipelajari. Menulis itu adalah talent learned, bakat yang bisa dipelajari. Pilihan kata learned disini sama dengan istilah lifelong learning artinya belajar sepanjang hayat, seumur hidup tidak ada batasnya. Inilah kenyataannya.

Menulis semudah bernafas

Sayangnya masih banyak orang yang berpikir bahwa menulis itu merupakan pekerjaan yang sulit. Padahal menulis itu ibarat bernafas, salah satu jargon yang melekat pada penulis terkenal Cahyadi Takariawan lewat tulisannya “Agar menulis semudah bernafas” (Cahyadi, 2017). Bernafas merupakan suatu proses menghirup oksigen dari udara bebas (inspirasi) dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam tubuh (ekspirasi). Dalam ilmu kedokteran, secara normal bayi yang baru lahir akan bernafas 40-60 kali/menit sementara orang dewasa mempunyai frekuensi bernafas 12-20 kali/menit. Pertanyaan apakah seorang bayi yang baru lahir “berpikir” untuk bernafas? Dalam keadaan normal, usaha bernafas hanya memerlukan 3% dari pemakaian energi total. Dengan kata lain, bernafas bisa dikatakan effortless.

Bernafas itu mudah karena kita tidak perlu berpikir untuk bernafas. Seperti bernafas, menulis akan menjadi sulit kalau kita mulai berpikir. Misalnya terbersit dalam hati apakah tulisan saya sudah bagus atau pilihan kosa kata sudah tepat? Menulis adalah menuangkan pemikiran kita bak mengalir seperti air. Menulis itu tidak ada urusannya dengan kualitas tulisan. Kita sering kali mencampur-adukan tugas menulis dengan mengedit (menyunting). Mengedit adalah pekerjaan yang sulit karena perlu berpikir, kehati-hatian, dan ketelitian sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengedit lebih lama daripada menulis. Mengapa? Ada banyak sekali yang harus diedit mulai dari substansi (isi), gaya bahasa, kosa kata, paragraf, sistematika, tanda baca, dll Jadi mengedit jelas membutuhkan keahlian khusus selain kecermatan dan kesabaran. Makanya penulis dan editor adalah dua profesi yang berbeda. Seorang editor berperan untuk memastikan hanya tulisan berkualitas yang layak untuk diterbitkan.

Penutup

Jadi jika kita menulis sembari mengedit maka kita akan lama menyelesaikan tulisan kita karena akan mudah lelah. Bahkan mengedit dapat menganggu proses penulisan. Tulisan tidak akan selesai tepat pada waktunya karena kita kehabisan ide dan tenaga. Jadi agar menulis itu dianggap semudah bernafas maka kita harus memisahkan antara pekerjaan menulis dan mengedit. Berkonsentrasilah hanya untuk menulis, tidak perlu berpikir dan cukup tuliskan secara alami. Biarkan kesulitan itu terkumpul dan bertumpu pada proses editing selanjutnya.

Daftar Pustaka: