Hormon Oksitosin dan Seks Pranikah (Tinjauan Ayat Familiar dalam Pernikahan)

Bagikan Artikel ini di:

Alvin Faiz sedang melangsungkan akad nikah bersama Larissa Chou (sumber: republika.co.id)

Hormon Oksitosin sebagai Hormon Ketenangan

Oksitosin  (OT) adalah hormon neuromodulator yang ditemukan oleh Sir Henry Dale pada 1906 (dalam kelenjar pituitary posterior), di mana terlibat di dalam pengendalian sifat fisiologi seperti kontraksi uterus, kondisi saat menyusui dan reproduksi antar spesies. Hormon OT  terkandung  sembilan asam amino neuropeptida. Hormon OT ini juga disebut ‘hormon pelukan’ karena cenderung memunculkan kebutuhan kedekatan dan ikatan tetapi bukan bersifat seksual. Di samping itu, secara seksual, hormon OT ini dikeluarkan seiring dengan sekresi hormon lain seperti prolaktin, asam gama amino butirat (GABA) dan endorphin, dimana memberikan efek rasa ketenangan. Hormon ini dikeluarkan oleh  Hypothalamic Corticotropin berupa Peptida β-endorphin (β-E).

Gambar 1. Struktur hormon OT (Sumber: Feldman (2017), Oxytocin: a parenting hormone)

Stani´c (2017) dalam jurnal Psychoneuroendocrinology menjelaskan kondisi Stress (tertekan) kronis merupakan kondisi yang dapat dipertimbangkan pada kinerja fisiologis dan psikologis dan  dari kemunculannya dapat memicu penyakit (hipertensi, diabetes, dan depresi). Pada sisi lain, neuropeptide oxytocin (OT) telah diteliti dapat meningkatkan daya tahan untuk organisme (individu) dari stress dan mengarahkan aktivitas sistem otomatis nervous. Kurang lebih seperti kinerja pada endorphin mengarahkan imun sistem, dan pada penstimulus dari non-spesifik mekanisme pertahanan.

Nah, Sahabat Warstek, ternyata 1400an tahun yang lalu hormon OT tersirat melalui ayat ‘familiar’ di dalam Al-Qur’an. Ayat tersebut biasa terlampir di dalam undangan-undangan pernikahan, ditambah juga dengan doa “semoga menjadi keluarga sakinah (tenang), mawaddah (cinta), rahmah (kasih sayang)”. Sahabat Warstek penasaran dengan  fungsi hormon OT dalam kehidupan? berikut merupakan ayat Al-Qur’an mengenai adanya hormon oksitosin pada manusia.

Tinjauan Ayat Pernikahan mengenai Ketenangan

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Rum[30]: 21).

Di dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan kandungan ayat ini,

Firman-Nya: (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri): Dia Menciptakan bagi kalian kaum wanita dari jenis kalian sendiri yang kelak mereka menjadi istri-istri kalian, (supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya) semakna dengan [Al-A’raf: 189]  yang dimaksud adalah Hawa, Allah Menciptakannya dari Adam dari tulang rusuk yang terpendek dari sebelah kirinya. Seandainya Allah menjadikan semua Bani Adam terdiri dari laki-laki dan menjadikan pasangan mereka dari jenis yang bukan dari jenis manusia, misal jin atau hewan, maka pastilah tidak akan terjadi kerukunan dan kecenderungan di antara mereka dan tidak akan terjadi pula perkawinan. Bahkan sebaliknya yang terjadi adalah saling bertentangan dan saling berpaling, seandainya mereka berpasangan bukan dari makhluk sesama manusia.

Kemudian, termasuk rahmat Allah yang sempurna kepada anak-anak Adam ialah Dia Menjadikan pasangan (istri) mereka dari jenis mereka sendiri, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara pasangan-pasangan itu. Karena adakalanya seorang lelaki itu tetap memegang wanita karena cinta kepadanya atau karena sayang kepadanya, karena mempunyai anak darinya, atau sebaliknya karena si wanita memerlukan perlindungan dari si lelaki atau memerlukan nafkah darinya, atau keduanya saling menyukai, dan alasan lainnya, (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir).

Di dalam Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa Allah Menciptakan seorang pendamping manusia pertama (Nabi Adam) yaitu Siti Hawa dari jenis yang sama seperti Nabi Adam, yakni Manusia. Kata litaskunu atau konsep sakinah dalam ayat tersebut merujuk kepada makna ketenangan dinamis dan aktif, untuk mencapainya harus dilakukan dengan persiapan yang matang dalam hal fisik, mental, ekonomi sebab diperlukan pemenuhan fisik dan ruhani. Ketenangan (sakinah) dalam berkeluarga tidak hanya secara materiil dijelaskan tetapi juga psikis, hal ini termaktub pada Asbabun Nuzul (sebab ayat diturunkan oleh Allah) pada QS. An-Nisa: 34,

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Sa’id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. pernah bersabda: Sebaik-baik wanita ialah seorang istri yang apabila kamu melihat kepadanya, membuatmu gembira; dan apabila kamu memerintahkannya, maka ia menaatimu; dan apabila kamu pergi meninggalkan dia, maka ia memelihara kehormatan dirinya dan hartamu. Abu Hurairah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. membacakan firman-Nya: Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita (An-Nisa: 34), hingga akhir ayat.

Hormon OT ini pada intinya membuat seseorang menjadi tenang secara psikis melalui adanya pasangan. Seperti yang disebutkan pada ayat dan tafsirnya, ketenangan muncul akibat adanya seorang laki-laki yang menikahi wanita sehingga memiliki keturunan (reproduksi, menyusui, dsb.), hal ini selaras dengan fungsi hormon OT pada saat menyusui dan bereproduksi. Allah Menciptakan berpasangan-pasangan satu sama lain dari jenis yang sama (sesama manusia), menurut-Nya dengan seperti ini lebih tenang, tenteram dan akhirnya menciptakan kerukunan pernikahan dalam berpasangan. Namun, dewasa ini ada sebuah trend yang sudah menjamur, di mana menunjukkan perilaku berhubungan di luar dari ikatan pernikahan, atau kita sebut dengan freesex atau seks bebas. Apakah hormon OT ini memiliki peran fungsi yang sama saat sebelum pernikahan (pacaran) dengan setelah pernikahan? Apakah terdapat esensi ‘ketenangan’ dari hormon oksitosin terhadap perilaku freesex?

Antara Penyimpangan  Sosial Seks dengan Ketenangan (Tenteram)

Setiawan (2008) dalam Pengaruh Pacaran Terhadap Perilaku Seks Pranikah, mendefinisikan kata seks,

seks adalah suatu ekspresi fisik di atas komitmen, kepercayaan dan saling ketergantung-an yang membentuk pernikahan. Ketika seseorang tersenyum, me-meluk, meremas tangan dengan pasangannya (suami/istrinya) maka pada dasarnya ia tengah melakukan aktivitas seksual (dikutip dari Stenzel dan Krigiss).

Definisi di atas merupakan gambaran umum perilaku pacaran. Perilaku pacaran menghasilkan korelasi antara pacaran dengan perilaku seksual pranikah (Cc = 0,433) dengan hasil penelitian berdasarkan korelasi analisis Coefficient contingency (Cc), dalam korelasi tersebut menunjukkan bahwa pacaran yang dilakukan remaja akan semakin mengarah pada perilaku/hubungan seksual pranikah.

Kegiatan Pacaran akan menimbulkan capaian suatu perasaan aman (feelings of security) dengan pasangannya. Feelings of security ini dapat menimbulkan suatu keintiman seksual pada diri mereka. Tidak beruntung, ketenangan ini tidak berlanjut dalam kurun waktu lama, melainkan mereka (pelaku kegiatan pacaran) dalam melakukan kegiatan seks akan berusaha mencari jalan lainnya seperti safe sex[1]. Akhirnya, tidak terjadi kenyamanan antar pasangan pacaran sebab melakukan safe sex (kontrasepsi) tanpa dasar medis atau dorongan cinta melainkan libido/dorongan seks. Pada intinya, kegiatan ini mustahil mengharapkan suatu keturunan (reproduksi) dari subjek freesex.

Perilaku pacaran yang mendorong pelakunya dalam kegiatan seks salah satunya adalah berciuman (kissing lips), hal ini disebabkan oleh libido dan juga didorong bahwa perilaku ini juga bermakna ‘tidak berbahaya’ bagi pelakunya . Kissing Lips dapat diterangkan dari segi efek kimiawi, selama ciuman yakni sensitivitas bibir menyebabkan otak kita untuk menstimulus tiga bahan kimia, dopamin, oksitosin, dan serotonin, dari ketiga bahan kimia ini bekerja dengan menyalakan ‘pusat kesenangan’ dalam otak kita. Padahal di dalam kehidupan keluarga, salah satu hormon dari ketiga bahan tersebut, hormon Oksitosin, atau dikenal sebagai ‘hormon cinta’, untuk memupuk perasaan kasih sayang cinta yang dilepaskan saat melahirkan dan menyusui.

Penulis sejauh ini belum menemukan perbedaan kinerja hormon pengendali ketenangan pada masa pranikah dengan pascanikah. Ini bertujuan untuk mencari mengapa dikatakan diciptakannya isteri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram di dalam QS. Ar-Rum: 21 penulis mencari makna ketenangan dari sudut kinerja hormon pada subjek (manusia). Demikian penulis dapatkan bahwa ketenangan dalam ayat QS. Ar-Rum: 21 adalah ketenangan yang didapat dari pernikahan, dimana secara kimiawi berpengaruh pada kinerja hormon—salah satunya adalah oksitosin.

Referensi

  • de Boer, Miriam, Kokal, Idil, Blokpoel, Mark, Liu, Rui, Stolk, Arjen, Roelofs, Karin, van Rooij, Iris, Toni, Ivan, Oxytocin modulates human communication by enhancing cognitive exploration. Psychoneuroendocrinology http://dx.doi.org/10.1016/j.psyneuen.2017.09.010
  • Feldman, R & Marian J. B.K. 2017. Oxytocin: A Parenting Hormone. Current Opinion in Psychology 2017, 15: 13–18
  • Imani, N & V.I.S Pinasti. 2016. Kissing Lips sebagai Gaya Berpacaran Mahasiswa Modern di Yogyakarta. Yogyakarta: UNY
  • Kim, S. H, Phillip R. B, Vasso T. 2017. Advances in the role of oxytocin receptors in human parturition. Molecular and Cellular Endocrinology xxx, 1: 1-8
  • Kisriyati. 2013. Makna Hubungan Seksual dalam Pacaran Bagi Remaja  di Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Surabaya: UNESA
  • Leyner, M. 2006. Why do Men Fall Asleep After Sex. GoogleBooks
  • Nickel, T. et.all. 2009. Modification Of Endothelial Biology By Acute And Chronic Stress Hormones. Microvascular Research, 78: 364–369
  • Oortega, E., M. A. Forner & C. Barriga. 1996. Effect Of Fl-Endorphin On Adherence, Chemotaxis and Phagocytosis of Candida Albicans by Peritoneal Macrophages. Comp. Immun. Microbiol. infect. Dis., 19(4): 267-274
  • Romlah, S. 2006. Konsep Keluarga Sakinah dalam Perspektif Islam dan Pendiidkan Umum. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
  • Setiawan, R & S. Nurhidayah. 2008. Pengaruh Pacaran Terhadap Perilaku Seks Pranikah. Jurnal Soul, 1(2): 62-69
  • Stani´c, et.al. OXYTOCIN IN CORTICOSTERONE-INDUCED CHRONIC STRESS MODEL: FOCUS ON ADRENAL GLAND FUNCTION. Psychoneuroendocrinology http://dx.doi.org/10.1016/j.psyneuen.2017.03.011
  • _______________________
  • Tafsir AL-Qur’an
  • Abu Al-Fida’ Isma’il ibn Umar ibn Katsir Al-Qurays Ad-Dimsyiq. 2000. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim. Beirut: Dar Ibn Hazm.
  • Tafsir Jalalayn from software Ayat v. 1.4, published by King Saud University

_______________________

[1] yaitu melakukan seks aman dengan menggunakan kondom, opsi seks,  baca: Setiawan (2008), Pengaruh Pacaran Terhadap Perilaku Seks Pranikah, hal. 68

Bagikan Artikel ini di:

Konsep Mol yang Sering Dipandang Secara Sempit, Pergulatan dari Zaman SMA sampai Mahasiswa

Bagikan Artikel ini di:

A. Pembenahan Definisi Mol

Singkatnya, banyak mahasiswa kimia di kelas penulis (saat mahasiswa baru) yang hanya mengetahui bahwa mol merupakan “suatu rumus” seperti yang sudah didapatkan di SMA (Sekolah Menengah Atas) dahulu. Adapun rumus mol saat di SMA yakni, mol= gr/mr, atau mol= massa/massa relatif atom, dan sebagainya. Bahkan, banyak mahasiswa kimia pun belum mengerti konsep mol, mungkin hanya sebatas mengetahui rumus mol yang ada di buku SMA dan belum membaca referensi-referensi yang lain terkait konsep mol. Padahal, secara konsep “rumus mol adalah salah”.

Gambar 1. operasi mol antara rumus (atas) dan konversi (bawah).

Lantas, apabila rumus mol=gr/mr itu salah secara konsep, bagaimana yang semestinya konsep mol itu? Banyak para dosen yang sudah menyampaikan kekeliruan ini kepada mahasiswa. Salah satunya dosen saya yang sering mengingatkan tentang konsep ini ialah Bu Atik Rahmawati,S.Pd, M.Si, dosen Kimia Dasar 2 di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang

 “Saya sedikit khawatir sodara-sodara. Saya sudah menyampaikan dan meluruskan konsep kimia pada awal semester ini (konsep mol), tetapi hasilnya sampai semester akhir ini para mahasiswa tetap kembali kepada kebiasaan lamanya yaitu mol= gr/mr.” Pernyataan Bu Atik, disampaikan pada saat kuliah Kimia Dasar 2 di kelas PK 15 A. Para mahasiswa sedikit mengalami susah move on” dengan materi yang “terlanjur” dipelajari saat di SMA—akan tetapi syukurlah, seiring berjalannya waktu para mahasiswa dapat memahami konsep mol secara baik.

Mol dalam kimia dasar merupakan ‘satuan’ yang dimana dapat dikonversikan seperti satuan-satuan lainnya, layaknya satuan ‘hari’ yang bisa dikonversikan menjadi ‘minggu’, ‘bulan’ atau ‘tahun’. Ada yang mengistilahkan The Mole: A Chemist‘s “Dozen”, mol merupakan “satuan lusin orang kimia”, hal ini berarti mol adalah suatu satuan yang dipakai dalam menentukan sejumlah zat (atom atau molekul) pada kimia.

Sudah jelas bahwa atom merupakan satuan secara konsep, yang merupakan sejumlah zat yang memiliki massa. Diketahui, Jika 1 lusin baju sebanyak 12 buah baju, maka sama halnya dalam kimia, 1 mol atom Cu sebanyak 63.55 gram Cu (Lihat: Data pada Sistem periodik unsur). Contoh lain, pada tingkat molekul, satu mol HCl terdapat 36.45 gram molekul-molekul HCl, dsb.

B. Mol sebagai Jembatan antara Mikro dan Makro  

Massa dalam satu mol zat, secara konversi diartikan sebagai penjembatan wujud atom, artinya sebagai penjembatan antara yang mikro dengan makro—atau jembatan antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang terlihat. Dalam konsep atom telah dikenal istilah satuan massa atom (sma) / atom mass unit (amu). Satuan sma/amu, ini adalah jumlah rata-rata yang kelimpahan isotop yang ada di alam, satuan ini secara mikroskopis (tidak terlihat mata).

Gambar2. Ranah makro dan mikro (Sumber gambar: Silberberg, Martin S. 2009. Chemistry The Molecular Nature of Matter and Change, 5th Edition . NY: McGraw-Hill)

Konsep mol ini lebih diperdalam lagi dalam kajian mata kuliah principia kimia oleh Ketua Jurusan Pendidikan Kimia, UIN Walisongo, R. Arizal Firmansyah, M.Si, beliau berkata,

“Karena atom terlalu kecil dan tidak terlihat (mikroskopis). Sehingga, digunakanlah massa molar dalam satuan gram. Artinya, atom-atom itu dikumpulkan bersama menjadi sekumpulan zat (1 mol) dalam satuan gram (makroskopis).”

Simplenya begini, untuk memahami massa molar kita dapat melihat dari satuannya. Massa molar memiliki satuan yaitu gr/mol, artinya banyaknya zat (gram) dalam satu mol. Nah, sekarang Sahabat Warstek lebih paham mengenai perbedaan konsep mol dalam buku SMA dan textbook perkuliahan, bukan? Jika buku SMA lebih mengedepankan rumus tanpa tahu maknanya, di bangku perkuliahan lebih diperdalam, ternyata mol bukan sekedar rumus dan merupakan jembatan antara dunia mikroskopis dan  dunia makroskopis.

Referensi:

  • Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta: Erlangga
  • Jespersen, Neil D. 2010. Chemistry The Molecular Nature of Matter, 6th Edition. US: Wiley
  • Moore, John W. 2010. Chemistry The Molecular Science. Cengage Learning
  • Silberberg, Martin S. 2009. Chemistry The Molecular Nature of Matter and Change, 5th Edition . NY: McGraw-Hill
  • Tro, Nivaldo J. 2009. Principles of Chemistry A Molecular Approach. US: Pearson
Bagikan Artikel ini di:

Syubhat Fisika dan Bid’ah Teknologi

Bagikan Artikel ini di:

“Jangan pelajari Teknik Fisika! Banyak syubhat di dalamnya. Pelajari fisika yang masih murni saja!”

Pernyataan koplak di atas tidak mungkin pernah keluar dari profesor fisika teori kelas tinggi seperti mendiang Prof. Stephen Hawking atau Allahuyarham Prof. Muhammad Abdussalam, bahkan oleh fanatik terkoplaknya sekalipun. Mana mungkin ada sains tanpa terapan kalau tidak disebut Al ilmu bi la amal alias jarkoni (ujar tok ora nglakoni atau bicara saja tanpa tindakan) kasarnya,“membual tanpa bukti”. Memang tidak semua sains bisa langsung diterapkan seperti pengetahuan gravitasi atau Deret Fourier yang ketika dirumuskan tidak jelas faedahnya, baru berpuluh atau beratus tahun kemudian tersingkap rahasianya.

Fisika termasuk ilmu tua karena muncul seiring interpretasi manusia terhadap alam nyata. Segala sesuatu yang mampu terjangkau penginderaan manusia menjadi titenan (penelitian) yang terus dicari makna dan maksudnya. Berbagai cabang pembelajarannya ditekuni banyak ilmuwan dengan berbagai penalaran dan pemikiran. Namun pencapaian dari satu ilmuwan bisa serupa dengan pencapaian ilmuwan lain sehingga menimbulkan madzhabmadzhab akibat perbedaan “akidah” [1]. 

Sedikit berbeda dengan  pengertian madzhab dan akidah dalam lingkup keilmuan Islam, di mana akidah adalah ilmu yang tidak bisa dikompromi, Sedangkan madzhab sendiri adalah kompromi dalam ilmu fiqh yang memang tidak mungkin tidak, bahkan harus, menimbulkan berbagai ijtihad. [2]

Akidah berasal dari Bahasa Arab, maknanya “dasar”. Kalau dasarnya tidak sama, apa yang dikerjakan seterusnya tidak akan bisa disatukan. Jika mau berganti akidah, harus dikonversi dahulu bukan? Sedangkan madzhab diprakarsai oleh seorang ilmuwan yang ijtihadnya diikuti banyak ilmuwan lain, tentu dengan prasyarat sebagai mujtahid yang luar biasa kompleks. 

Contohnya dalam elektromagnetika, madzhab satuan Gaussian yang berakidah cgs serupa tapi (pastinya) tak persis madzhab Satuan Internasional yang berakidah mks. Madzhab Gaussian diambil dari nama Johannes Carl Friedrich Gauss, penemu kemagnetan kutub bumi yang diabadikan sebagai satuan kepadatan flux magnetik. Dalam madzhab Satuan Internasional, satuan sejenis menggunakan Tesla, dari nama penemu listrik Arus Bolak-Balik Nikola Tesla. Tampaknya tak perlu membuat jurusan perbandingan madzhab atau perbandingan akidah tersebut, bisa-bisa menambah beban belajar dan pengangguran terpelajar.

Perbedaan Madzhab Gaussian yang menggunakan satuan cgs dan Madzhab Satuan Internasional yang menggunakan satuan mks. Buku-buku elektromagnetika terbaru lebih banyak menggunakan satuan mks.

Sumber : https://www.qdusa.com/sitedocs/UnitsChart.pdf

Elektromagnetika terus berkembang dan bisa digabungkan oleh gaya fundamental lainnya, salah satunya setelah disadari Prof. Muhammad Abdussalam bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg pada 1968 yang merumuskan Electroweak, gabungan Electromagnetic dan Weak Forces. Suatu kali beliau menulis,

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk merenungkan kebenaran hukum alam yang diciptakan Allah; namun, bahwa generasi kita memiliki hak istimewa untuk melihat sekilas bagian dari rancangan-Nya adalah karunia dan anugerah yang karenanya saya mengucapkan terima kasih dengan rendah hati.”[3]

Sedangkan dalam pidato penganugerahan Nobel Fisika di Karolinska Institute, Swedia, beliau mengawali dengan bismillah dan berkata,

Saya berharap Unifying the Forces dapat memberi landasan ilmiah terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Tunggal.”[4]

Kedua kalimat di atas menjadi penegas bahwa berbagai rumus temuan manusia merupakan hasil mengekstrak dari satu sumber, yaitu Sang Maha Pencipta. Prof. Muhammad Abdussalam sendiri tidak dianggap penganut Islam oleh pemerintah negaranya di Pakistan karena mengikuti firqoh Ahmadiyah.[5]


Professor Muhammad Abdussalam

Sumber : https://www.nobelprize.org/images/salam-13319-portrait-mini-2x.jpg

Mekanika dan elektronika merupakan cabang fisika yang menghasilkan banyak temuan teknologi yang diterapkan secara luas dalam kehidupan manusia. Semakin maju zaman, ternyata banyak penerapan yang tak bisa terpisah di antara keduanya, tidak mungkin saling mengafirkan. Perjodohan keduanya terutama dimakcomblangi induksi elektromagnetis yang dirumuskan Michael Faraday dan penemuan sifat magnetik dari kawat berarus listrik secara tidak sengaja oleh Hans Christian Oersted.[4] Disempurnakan Lorentz dengan aturan tangan kiri untuk perubahan Gaya Gerak Listrik menjadi Gaya Gerak Magnet sedangkan Lenz dengan aturan tangan kanan untuk perubahan Gaya Gerak Magnet menjadi Gaya Gerak Listrik. Kemudian tampil James Clerk Maxwell sebagai penghulu listrik dan magnetik dan lahirnya elektromagnetika. Kelihatannya para Imam Madzhab elektromagnetika tersebut berfatwa hukum yang sama bukan?

Istilah “Mekatronika” dipopulerkan Perusahaan Yaskawa Electric Company, yang mengandungi makna penerapan gabungan dari mekanika dan elektronika.[6] Dalam perkembangannya, masuk unsur teknik pengendalian dan komputer terutama. Lagi-lagi muncul cabang baru yaitu robotika dan otomasi. Di dalam keduanya bisa saja menggunakan cabang fisika fluida, elektronika, mekanika, fotonika, elektromagnetika, dll. 


Ruang Lingkup Mekatronika

Sumber : http://mekatronika.pens.ac.id/wp-content/uploads/2018/12/Mecha_workaround_1.png dengan sedikit perubahan

Pada zaman ini robotika dan otomasi cenderung bekerja menggunakan energi listrik dibanding energi dari unsur lain seperti air dan udara dalam hidrolik dan pneumatik. Salah satunya karena dapat disimpan dalam baterai dan teknik penghantarannya sudah banyak dimengerti. Jika ditemukan cara dan alat penyimpan cahaya, kemudian penghantar elektron pada Printed Circuit Board yang menggunakan tembaga diganti penghantar cahaya seperti serat optik, sangat dapat dipastikan pengoperasian robot menggunakan cahaya. Selain itu, ditemukannya Plasmonics dapat menjembatani sistem elektronika dan fotonika.[7] Adalah soalan lain apabila elektron adalah unsur penyusun setan dan foton adalah unsur penyusun malaikat.

Sebelum Mekatronika lahir, istilah robotika sudah sudah terlebih dahulu populer. Bukan oleh ilmuwan, melainkan seniman teater bernama Karel Capek dari Ceko yang mementaskan “Robot”.[8] Sedangkan ilmuwan yang ditetapkan sebagai pencetus robotika modern ternyata hidup jauh sebelum istilah tersebut. Pendapat pertama menyatakan Leonardo da Vinci, namun ada nama Abu Al Izz Ibnu Ismail Al Jazari yang menciptakan banyak alat yang lebih kompleks dan lebih dahulu ada.

Terlepas dari apa madzhab atau malah firqoh yang dianut Al Jazari, terobosan teknologinya telah menembus zaman. Entah apakah pada zamannya, beliau ditahdzir dengan ucapan,“sudah bikin berhala, mirip makhluk bernyawa, main musik pula! Siksa neraka menumpuk padamu!”? Karya Al Jazari kebanyakan memang demikian adanya, termasuk rancangan dan petunjuk robot-robot tersebut dalam Kitab fi Ma’rifat Hiyalal Handasiyya yang penuh warna. [9]

Kitab tersebut mengandung banyak inovasi/bid’ah teknologi [10]. Katakanlah Jam Gajah, orang-orangan bernyanyi, mesin bekam, pompa air tenaga sapi, keran wudhu otomatis, dan berbagai perangkat yang bekerja memanfaatkan tenaga air. Susunan kendali dan kemudinya terutama terdiri dari roda gigi, piston, dan tuas yang masih digunakan dalam berbagai mekanik hingga sekarang. Tentu berlimpah amal jariyah dari beliau yang bergelar Raisul A’mal [9], yaitu kepala tukang atau kepala insinyur jika dibandingkan pada masa kini [4].

Salah satu halaman dari salinan Kitab fi Ma’rifat Hiyalal Handasiyya yang dipegang Prof. Salim T.S. Al-Hassani dari University of Manchester

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=pnj5UCMKAwo&t=1436s

Bid’ah teknologi semakin menggila terutama setelah revolusi industri akibat semakin ribet dan anehnya kebutuhan manusia. Pertumbuhan penduduk semakin padat, persaingan hidup semakin ketat, dan kemajuan semakin zaman semakin pesat. Akhirnya kebutuhan makin meningkat mengakibatkan berbagai macam cara orang cari makan, dari menjual koran sampai menjual jaringan. 

Menjadi beriman jelas bukan menumpulkan nalar. Karena sudah diberitahu kalau tidak mampu meniru lalat, lantas tak berusaha melampaui ciptaan Nya. Kita dipersilakan menembus gravitasi bahkan ditantang meniru firman-Nya dengan segenap kekuatan, terlihat maupun ghaib.

Bukankah orang beriman adalah orang yang berpikir? [11]

 

Acuan : 

[1] Muhammad Zayyana Abdussalam, Apakah ATM (Amati-Tiru-Modifikasi) itu Plagiat?, diterbitkan 12 Maret 2018 di https://warstek.com/2018/03/12/atm/

[2] Ahmad Zarkasih, Belajar Bijak dalam Berbeda dari Ulama Salaf, https://www.rumahfiqih.com/y.php?id=161 dibuka 30 Desember 2018

[3] Miriam Lewis, Abdus Salam Biographical, https://www.nobelprize.org/prizes/physics/1979/salam/biographical/ dibuka 17 Desember 2018 pukul 21:53

[4] Aditya Nor Kurniawan, 2017, Biografi Ilmuwan Modern Barat Dan Muslim, Azka Pressindo, Surakarta

[5] Arman Dhani, Abdus Salam, Ilmuwan Ahmadiyah yang Diabaikan Negara Muslim, https://tirto.id/abdus-salam-ilmuwan-ahmadiyah-yang-diabaikan-negara-muslim-cqV2 dibuka 26 November 2018

[6] http://mekatronika.pens.ac.id/selayang-pandang/ dibuka 17 Desember 2018

[7] Harry A. Atwater, The Promise of Plasmonics, Scientific American edisi April 2017 hal. 59

[8] Ade Sulaiman, Usut Asal Kata Robot: Budak yang Bukan Manusia,  12 April 2016, http://intisari.grid.id/read/0338938/usut-asal-kata-robot-budak-yang-bukan-manusia?page=all , dibuka 17 Desember 2018 pukul 14:36

[9]  ابو العزّ اسمعيل بن رزّاز الجزري, كتاب في معرفة الحيل الهندسية, مكتبة قطر الوطنية, diunduh dari https://s3-eu-west-1.amazonaws.com/live.archive.pdf/81055_vdc_100023421307.0x000001_ar.pdf 16 Desember 2018

[10] Munandar Harits Wicaksono, Seputar Bid’ah dan Inovasi Beragama, 22 Mei 2018, http://www.nu.or.id/post/read/68388/seputar-bidah-dan-inovasi-beragama dibuka 17 Desember 2018 pukul 14:40

[11] M. Quraish Shihab, Arti Penting Menggunakan Akal Menurut Alquran, https://tirto.id/arti-penting-menggunakan-akal-menurut-alquran-cpUn dibuka 17 Desember 2018 pukul 14:46

Bagikan Artikel ini di: