Psikologi

Bisakah Jahe Membantu Meredakan Kecemasan? Penelitian Ini Memberikan Petunjuk Menarik

Menjalani hidup dengan nyeri yang tidak kunjung hilang dapat mengubah banyak aspek kehidupan seseorang. Rasa sakit yang terus muncul bukan hanya mengganggu aktivitas sehari hari, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional, kualitas tidur, kemampuan berkonsentrasi, hingga hubungan sosial. Banyak penderita…

Bagikan artikel ini
WhatsApp Email

Menjalani hidup dengan nyeri yang tidak kunjung hilang dapat mengubah banyak aspek kehidupan seseorang. Rasa sakit yang terus muncul bukan hanya mengganggu aktivitas sehari hari, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional, kualitas tidur, kemampuan berkonsentrasi, hingga hubungan sosial. Banyak penderita nyeri kronis mengalami kecemasan, mudah merasa tertekan, dan kehilangan semangat menjalani aktivitas. Selama bertahun tahun para ilmuwan menganggap kondisi tersebut hanya berkaitan dengan sistem saraf. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa usus ternyata ikut berperan dalam memengaruhi kesehatan otak melalui hubungan yang dikenal sebagai sumbu usus otak.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam jurnal Molecules mencoba memahami apakah ekstrak jahe yang diperkaya senyawa gingerol mampu memengaruhi hubungan antara usus, sistem kekebalan tubuh, dan otak pada kondisi nyeri saraf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tersebut mengurangi perilaku yang menyerupai kecemasan pada tikus, mengubah komposisi bakteri usus, serta memengaruhi aktivitas berbagai gen yang berhubungan dengan fungsi saraf dan peradangan. Meskipun hasilnya menarik, penelitian ini masih berada pada tahap praklinis sehingga belum dapat langsung diterapkan pada manusia.

Nyeri saraf atau nyeri neuropatik merupakan jenis nyeri yang muncul akibat kerusakan atau gangguan pada sistem saraf. Berbeda dengan nyeri akibat luka biasa, nyeri neuropatik sering berlangsung dalam waktu lama dan sulit diatasi. Penderita dapat merasakan sensasi seperti terbakar, tertusuk, tersengat listrik, atau kesemutan yang tidak kunjung hilang. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan penderitaan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko munculnya gangguan kecemasan dan depresi. Para ilmuwan menduga bahwa hubungan tersebut melibatkan perubahan aktivitas sel saraf, peningkatan peradangan, gangguan komunikasi antar sel otak, serta perubahan keseimbangan mikroorganisme yang hidup di dalam usus.

Baca juga artikel tentang: Merkurius: Planet Di Tata Surya yang Seharusnya Tidak Ada

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian para peneliti semakin tertuju pada mikrobiota usus. Istilah ini mengacu pada kumpulan bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain yang hidup secara alami di saluran pencernaan manusia maupun hewan. Mikroorganisme tersebut membantu mencerna makanan, menghasilkan berbagai senyawa penting, melatih sistem kekebalan tubuh, dan berkomunikasi dengan otak melalui jalur saraf, hormon, serta berbagai molekul kimia. Oleh karena itu, perubahan keseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk suasana hati dan perilaku.

Jahe telah lama dimanfaatkan sebagai bumbu masakan sekaligus tanaman herbal di berbagai negara. Salah satu senyawa aktif terpenting di dalam jahe adalah gingerol. Senyawa ini dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiradang sehingga banyak diteliti dalam berbagai bidang kesehatan. Pada penelitian ini, para ilmuwan menggunakan ekstrak jahe yang diperkaya gingerol sehingga kandungan senyawa aktifnya lebih tinggi dibandingkan ekstrak jahe biasa. Tujuannya adalah mengetahui apakah kandungan gingerol yang lebih tinggi mampu memengaruhi hubungan antara usus dan otak pada kondisi nyeri neuropatik.

Penelitian menggunakan dua puluh tujuh ekor tikus jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri atas tikus sehat. Kelompok kedua mengalami nyeri neuropatik akibat prosedur pengikatan saraf tulang belakang. Kelompok ketiga mengalami kondisi yang sama, tetapi menerima ekstrak jahe kaya gingerol melalui mulut dengan dosis dua ratus miligram per kilogram berat badan setiap hari selama lima minggu. Setelah masa perlakuan selesai, para peneliti mengevaluasi perilaku hewan, memeriksa aktivitas berbagai gen pada beberapa bagian otak, dan menganalisis perubahan komposisi mikrobiota usus.

Untuk mengukur perilaku yang menyerupai kecemasan, para peneliti menggunakan alat yang dikenal sebagai elevated plus maze. Alat tersebut memiliki dua jalur terbuka dan dua jalur tertutup yang membentuk tanda tambah. Tikus yang mengalami kecemasan biasanya lebih banyak berdiam di jalur tertutup karena merasa lebih aman. Sebaliknya, tikus yang lebih tenang akan lebih berani memasuki jalur terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang menerima ekstrak jahe kaya gingerol menghabiskan waktu lebih lama di area terbuka dibandingkan kelompok yang mengalami nyeri neuropatik tanpa perlakuan. Hasil tersebut menunjukkan berkurangnya perilaku yang menyerupai kecemasan pada model hewan yang digunakan.

Para peneliti kemudian mempelajari aktivitas berbagai gen di beberapa bagian otak seperti amigdala, hipokampus, korteks frontal, hipotalamus, dan struktur lain yang berperan dalam mengatur emosi serta respons terhadap nyeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe meningkatkan ekspresi beberapa gen yang berhubungan dengan perlindungan sel terhadap stres oksidatif dan menjaga fungsi saraf. Pada saat yang sama, ekspresi sejumlah gen yang berkaitan dengan peradangan, kerusakan jaringan, dan gangguan fungsi saraf mengalami penurunan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ekstrak jahe kemungkinan membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung kesehatan jaringan otak pada model tikus ini.

Penelitian juga menemukan perubahan pada sistem penghantar sinyal antarsel saraf. Para peneliti mengamati perubahan pada gen yang berkaitan dengan glutamat dan serotonin. Kedua zat tersebut memiliki peran penting dalam mengatur suasana hati, proses belajar, ingatan, dan respons terhadap stres. Gangguan pada sistem glutamat maupun serotonin sering dikaitkan dengan munculnya kecemasan dan depresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe kaya gingerol memengaruhi ekspresi berbagai gen yang terlibat dalam kedua sistem tersebut sehingga diduga ikut berkontribusi terhadap perubahan perilaku yang diamati selama penelitian.

Grafik ini menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara kelimpahan bakteri Bilophila dan durasi perilaku berada di pusat arena (ρ = −0,5; p = 0,015), yang mengindikasikan bahwa peningkatan Bilophila berkaitan dengan berkurangnya durasi perilaku tersebut (Mendóza, dkk. 2026).

Bagian yang paling menarik dari penelitian ini adalah hubungan antara perubahan perilaku dan perubahan mikrobiota usus. Para peneliti menemukan bahwa jumlah bakteri Bilophila wadsworthia meningkat pada tikus yang menunjukkan perilaku mirip kecemasan. Sebaliknya, pemberian ekstrak jahe kaya gingerol mengubah komposisi mikrobiota usus sehingga hubungan antara bakteri tersebut dan perilaku menjadi lebih lemah. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kesehatan usus memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan otak. Namun penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan, bukan membuktikan bahwa bakteri tersebut menjadi penyebab langsung munculnya kecemasan.

Walaupun hasil penelitian terlihat menjanjikan, masyarakat perlu memahami beberapa keterbatasan penting. Penelitian ini dilakukan sepenuhnya pada tikus jantan yang mengalami nyeri neuropatik buatan. Perilaku yang diamati merupakan perilaku yang menyerupai kecemasan pada hewan, bukan diagnosis gangguan kecemasan pada manusia. Selain itu, perubahan ekspresi gen tidak selalu menghasilkan efek yang sama pada manusia karena sistem saraf manusia jauh lebih kompleks dibandingkan model hewan.

Penelitian ini juga tidak membuktikan bahwa mengonsumsi jahe biasa dapat mengobati kecemasan, depresi, ataupun nyeri neuropatik. Para peneliti menggunakan ekstrak khusus yang diperkaya gingerol dengan dosis terukur selama lima minggu. Kandungan gingerol dalam ekstrak tersebut tidak dapat disamakan dengan jahe segar, bubuk jahe, ataupun minuman jahe yang biasa dikonsumsi sehari hari. Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh menganggap hasil penelitian ini sebagai bukti bahwa konsumsi jahe dapat menggantikan pengobatan medis.

Sebelum ekstrak jahe kaya gingerol dapat digunakan sebagai terapi, para ilmuwan masih harus melakukan berbagai penelitian lanjutan. Penelitian tersebut mencakup pengujian keamanan jangka panjang, penelitian pada hewan lain, penentuan dosis yang paling tepat, serta uji klinis pada manusia untuk memastikan efektivitas dan keamanannya. Seluruh tahapan tersebut sangat penting karena banyak hasil penelitian pada hewan yang ternyata tidak memberikan manfaat yang sama ketika diuji pada manusia.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan gambaran baru mengenai hubungan yang sangat kompleks antara usus, sistem kekebalan tubuh, dan otak. Ekstrak jahe yang diperkaya gingerol menunjukkan potensi untuk mengurangi perilaku yang menyerupai kecemasan pada tikus dengan nyeri neuropatik melalui perubahan mikrobiota usus dan aktivitas berbagai gen yang berhubungan dengan fungsi saraf. Namun hasil tersebut masih merupakan penelitian praklinis yang belum dapat dijadikan dasar penggunaan ekstrak jahe sebagai terapi pada manusia. Penelitian lanjutan terutama uji klinis tetap diperlukan agar manfaat, keamanan, serta mekanisme kerja ekstrak jahe kaya gingerol dapat dipahami secara lebih menyeluruh sebelum diterapkan dalam praktik kesehatan.

Baca juga artikel tentang: AI yang Terlihat Pintar Tapi Bisa Keliru, Ini Penjelasan Ilmiahnya

REFERENSI:

Mendóza, Roberto dkk. 2026. Gingerol-Enriched Ginger Extract Effects on Anxiety-like Behavior in a Neuropathic Pain Model via Colonic Microbiome-Neuroimmune Modulation. Molecules 31 (1), 166.

Maratus Sholikah
TENTANG PENULIS

Maratus Sholikah

Green-Tech Writer dengan 7 tahun pengalaman dan 3.000+ artikel Science & Sustainability yang sudah dipublikasikan. Spesialis mengubah riset kompleks menjadi narasi jernih berbasis data. Karyanya menjangkau topik Green Technology, Biodiversity, hingga Climate Science untuk media sains dan platform digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

✳ SAINS DALAM GAMBAR

Warstek di Instagram

@warstek_com ↗
Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Graphical abstract dari Artikel ke 7 JOKOWI. Btw kamu sudah nonton videonya belum di YouTube? Bagaimana perasaanmu setelah nonton? #brokenbydesign

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung…▧ Carousel

Paper ke 7 JOKOWI telah terbit! Abstrak: ndonesia memiliki batas administrasi yang digunakan untuk menentukan kewenangan pemerintahan, anggaran, pelayanan publik, dan tanggung jawab antarwilayah.…

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi

Congratulations! JOKOWI sudah terindeks Google! Scopus nggak sih habis ini? #jurnal #jokowi