Kecoak masuk kamar saja sudah membuat sebagian orang mencari sandal. Apalagi jika kecoaknya terbang, duh merinding sebadan-badan. Sekarang, bayangkan serangga itu memakai baju selam, berjalan di bawah air, lalu kembali ke darat. Adegan ini benar-benar diuji dalam penelitian. Kecoaknya tetap hidup, sementara perlengkapan buatan manusia membantunya bertahan di lingkungan yang biasanya sulit dijelajahi.
Penelitian yang terbit di Nature Communications pada 2026 ini melibatkan tim dari Nanyang Technological University, Singapura, dan Waseda University, Jepang. Mereka mengembangkan pakaian selam mini untuk kecoak desis Madagaskar. Hasilnya adalah kecoak cyborg, gabungan organisme hidup dan perangkat elektronik, yang mampu beraktivitas di darat maupun di bawah air.
Kata cyborg di sini berarti tubuh serangga dipadukan dengan sistem pengendali. Kecoak tetap bergerak menggunakan ototnya sendiri. Operator mengirim perintah ke perangkat elektronik kecil yang memicu gerakan melalui stimulasi listrik. Dengan pendekatan ini, peneliti memanfaatkan kemampuan alami serangga melewati medan rumit, sambil mengarahkan pergerakannya.
Masalahnya, kemampuan merayap tidak otomatis membuat kecoak mampu bernapas di bawah air. Serangga ini mengambil oksigen melalui lubang pernapasan bernama spirakel, yang terhubung dengan jaringan saluran udara di tubuhnya. Agar dapat beroperasi ketika terendam, lubang tersebut perlu terlindung dari air sekaligus tetap mendapat pasokan oksigen.
Pakaian selam buatan peneliti menjalankan dua tugas itu. Cangkang lenturnya membungkus bagian perut dan membentuk ruang yang terlindung dari air. Sementara itu, tabung-tabung kecil menyalurkan oksigen menuju spirakel di bagian dada. Bentuk perlengkapan disesuaikan dengan tubuh serangga agar sambungannya rapat dan kaki tetap bisa bergerak.

Sumber oksigennya berasal dari reaksi kimia di dalam generator mungil. Hidrogen peroksida diuraikan dengan bantuan katalis mangan dioksida, menghasilkan air dan oksigen. Peneliti menempatkan katalis pada spons agar pelepasan gas lebih terkendali. Generator dilengkapi membran yang dapat dilewati gas, sambil menahan cairan di dalamnya.
Memasangkan alat sekecil ini juga memerlukan pengaturan posisi. Generator yang diletakkan di punggung sempat membuat kecoak mudah terbalik. Peneliti kemudian memindahkannya ke bagian belakang perut dan menutupnya dengan cangkang lentur, sehingga tubuh tetap lebih stabil ketika bergerak di bawah permukaan air.
Dengan cara tersebut, sistem menyediakan oksigen berbentuk gas untuk bernapas. Kecoak tetap bergantung pada pasokan yang dibawanya, sehingga durasi menyelam memiliki batas. Keberhasilan rancangan ini terletak pada kemampuan mengemas pelindung air, penghasil oksigen, dan saluran pernapasan menjadi perlengkapan yang cukup kecil untuk dikenakan serangga.
Dalam pengujian, kecoak berperlengkapan tersebut mempertahankan aktivitas dan respons terhadap stimulasi selama dua hingga tiga jam di bawah air. Kemampuannya menurun seiring waktu. Kecepatan maju berkurang dari sekitar 7,8 sentimeter per detik pada awal pengamatan menjadi 5,2 sentimeter per detik setelah tiga jam, menunjukkan keterbatasan akibat kelelahan dan pembiasaan terhadap stimulasi.
Perlu dibayangkan dengan tepat: kecoak ini berjalan di bawah air, bukan berenang bebas seperti ikan. Peneliti memasang pemberat untuk mengimbangi gaya apung. Perlindungan pakaian juga diuji pada kedalaman lima sampai lima puluh sentimeter. Jadi, hasil penelitian ini masih menggambarkan kemampuan pada kondisi uji tertentu, bukan kesiapan menyelami laut dalam.
Demonstrasi berikutnya melibatkan terowongan dengan bagian berisi karbon dioksida dan bagian terendam air. Dalam tiga percobaan, kecoak yang memakai pakaian selam berhasil melewati kedua zona. Perlengkapan tersebut membantu mempertahankan pernapasan saat lingkungan sekitarnya tidak mendukung, sembari memungkinkan serangga terus bergerak mengikuti arahan.
Peneliti juga menunjukkan kemampuan melewati celah bawah air setinggi dua sentimeter. Untuk demonstrasi ini, pengendali dan baterai ditanamkan ke dalam tubuh kecoak agar perangkat di punggung tidak tersangkut. Rancangan tersebut memperlihatkan bahwa mengecilkan robot hibrida dapat melibatkan perubahan yang cukup invasif terhadap organisme hidup.
Mengapa kecoak perlu diberi perlengkapan serumit itu? Salah satu kemungkinan penggunaannya adalah memeriksa ruang sempit yang sulit dimasuki manusia atau robot besar. Dalam pencarian korban, jalur bisa berganti antara puing kering dan genangan. Kemampuan berpindah dari darat ke air berpotensi memperluas wilayah yang dapat diperiksa, meskipun keberhasilan misi penyelamatan belum dibuktikan penelitian ini.
Ada pula pertanyaan tentang kesejahteraan serangga. Peneliti melaporkan lima individu tetap hidup dengan perilaku normal selama tiga hari pengamatan setelah paparan eksperimen. Pengamatan singkat tersebut belum menjawab seluruh dampak jangka panjang pemasangan perangkat dan stimulasi. Karena tubuh yang dipakai masih hidup, pembahasan manfaat teknologi perlu berjalan bersama pertimbangan perlakuan terhadap hewan.
Teknologi ini mungkin mengubah cara kita memandang serangga yang biasanya langsung diusir. Namun, potensinya tetap perlu diuji bersama kemampuan membawa sensor, keandalan kendali, dan keselamatan organisme. Kalau suatu hari kecoak seperti ini membawa kamera untuk membantu mencari korban bencana, kamu bersedia menyebutnya anggota tim penyelamat, atau lebih memilih robot sepenuhnya buatan? Apa alasanmu?
Sumber: Fan dkk. (2026), “Underwater Suit-Wearing Cyborg Insect Capable of Hours-Long Diving and Terra-Aqua Travel”, Nature Communications






