Ditulis oleh Masrina Lubis*
Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa manusia sering dibilang mirip kera, padahal tampilannya jauh berbeda dengan kucing atau ikan? Jawabannya ada pada nenek moyang. Makhluk hidup yang punya nenek moyang bersama yang lebih baru akan lebih dekat kekerabatannya. Para ilmuwan menggambarkan hubungan ini dalam bentuk pohon filogenetik. Lewat tulisan ini, kita coba belajar membacanya dengan contoh yang sederhana.
Pohon filogenetik adalah diagram bercabang yang menunjukkan hubungan evolusi antarkelompok makhluk hidup. Titik percabangan mewakili nenek moyang bersama, sedangkan ujung cabang mewakili organisme yang sedang kita amati. Dua organisme dikatakan berkerabat dekat kalau cabang mereka bertemu di titik yang belum lama berpisah dari leluhurnya. Kedekatan itu tidak ditentukan oleh kemiripan bentuk luar atau posisi organisme di gambar. Kesalahan membaca seperti ini cukup sering dialami mahasiswa, jadi cara membaca pohon memang perlu dilatih (Firneno dkk., 2023; Laurentino dkk., 2024; Jenner, 2025).

Gambar 1. Ilustrasi tiga pola pengelompokan organisme berdasarkan hubungan kekerabatan dalam pohon filogenetik, yaitu monofiletik, parafiletik, dan polifiletik. Sumber: Dokumentasi penulis.
Pada Gambar 1, kelompok berwarna hijau adalah contoh monofiletik. Kelompok ini terdiri dari satu nenek moyang dan semua keturunannya, tanpa ada yang tertinggal. Aves (burung), Mammalia, dan Primata di dalam Mammalia semuanya termasuk jenis ini. Kamu bisa membayangkannya seperti memotong satu cabang pohon, maka semua ranting di cabang itu ikut terpotong. Karena itulah kelompok monofiletik dianggap paling sesuai dengan sejarah evolusi.
Kelompok biru pada gambar, yaitu Pisces atau ikan, adalah contoh parafiletik. Kelompok ini punya satu nenek moyang bersama, tetapi sebagian keturunannya tidak ikut dimasukkan. Keturunan yang dikeluarkan di sini adalah tetrapoda, yaitu amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Ikan paru-paru justru lebih dekat kekerabatannya dengan tetrapoda daripada dengan ikan mas atau lele, meskipun bentuk tubuhnya sama-sama seperti ikan. Contoh lain yang sering dibahas adalah reptil, yang menjadi parafiletik kalau burung tidak ikut dimasukkan.
Lingkaran oranye pada gambar menandai kelompok polifiletik, yaitu hewan terbang seperti elang, kelelawar, dan kupu-kupu. Ketiganya punya sayap, tetapi sayap itu muncul sendiri-sendiri pada garis keturunan yang berbeda. Sayap elang dan kelelawar berasal dari tungkai depan hewan bertulang belakang, sedangkan sayap kupu-kupu adalah struktur serangga yang asal-usulnya lain lagi. Karena nenek moyang bersama mereka tidak bisa terbang, hewan terbang tidak bisa dianggap satu kelompok kekerabatan. Kemiripan akibat fungsi yang sama ini disebut evolusi konvergen, dan kita perlu hati-hati supaya tidak tertipu olehnya.
Dulu ilmuwan menyusun pohon terutama dari bentuk tubuh, sehingga hasilnya kadang keliru. Sekarang urutan DNA dibandingkan untuk melihat seberapa dekat hubungan dua makhluk hidup. Misalnya, penelitian pada kura-kura batok memakai gen cytochrome b untuk melihat kekerabatan populasi dari Ambon, Luwu, dan Gorontalo (Hermawan, 2023). Penelitian pada anggrek dengan gen matK menemukan beberapa kelompok yang berisi campuran genus (Sahadeva & Pertiwi, 2023). Hasil seperti ini menunjukkan bahwa data DNA bisa memberi gambaran kekerabatan yang tidak terlihat dari nama atau bentuk luarnya.
Jadi, satu pohon bisa menunjukkan tiga pola pengelompokan yang berbeda, yaitu monofiletik, parafiletik, dan polifiletik. Yang membedakan ketiganya adalah ada tidaknya nenek moyang bersama dan keturunan yang ikut atau tidak ikut dikelompokkan. Manusia, misalnya, lebih dekat dengan simpanse dan gorila daripada dengan kucing atau sapi. Dengan membaca pohon filogenetik, kita belajar bahwa kekerabatan ditentukan oleh nenek moyang, bukan oleh penampilan. Semoga setelah ini, diagram pohon tidak lagi terasa membingungkan.
Daftar Pustaka
Firneno, T. J., Welsh, G. T., Nimlos, P. J., & Larson, E. L. (2023). “I think”: Integrating project-based learning and case study to teach fundamentals of evolutionary tree-thinking. Evolution: Education and Outreach, 16(1), 1–11. https://doi.org/10.1186/s12052-023-00192-8
Hermawan, C. (2023). Analisis kekerabatan kura-kura batok (Cuora amboinensis) wilayah Indonesia Timur (Ambon, Luwu, dan Gorontalo) berbasis sekuen gen cytochrome b. Jurnal Biosense, 6(1). https://ejournal.unibabwi.ac.id/index.php/BIOSENSE/article/download/2602/1752
Jenner, R. A. (2025). Lineage thinking in evolutionary biology: How to improve the teaching of tree thinking. Science & Education, 34(3), 1601–1618. https://doi.org/10.1007/s11191-024-00531-1
Laurentino, T. G., Scheller, M., Glover, G., Proulx, M. J., & de Sousa, A. A. (2024). Thinking on your feet: Potentially enhancing phylogenetic tree learning accessibility through a kinaesthetic approach. Evolution: Education and Outreach, 17(1), 19. https://doi.org/10.1186/s12052-024-00215-y
Sahadeva, M. L., & Pertiwi, N. P. D. (2023). Konstruksi pohon filogenetik spesies dalam famili Orchidaceae berdasarkan marka gen matK kloroplas: Studi in silico. Wahana Matematika dan Sains, 17(3). https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JPM/article/view/87986/30750
*Program Studi Tadris Biologi, UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan





